Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.
Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.
“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”
Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.
Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.
Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arya yang Terlambat Sadar
Pagi itu, Arya bangun jam enam kayak biasa.
Dia turun ke dapur. Mau bikin sarapan buat dia sama Aruna.
Luna udah masak. Nasi goreng. Telor ceplok.
"Pagi, Bu," sapa Arya sambil duduk.
"Pagi, sayang. Bangunin adik kamu ya. Udah jam setengah tujuh," kata Luna sambil menyendoki nasi goreng ke piring.
Arya ngangguk. Naik ke lantai dua. Jalan ke kamar Aruna.
Ngetuk pintu. "Run, bangun. Udah pagi."
Nggak ada jawaban.
Arya ngetuk lagi. "Run, mandi sono. Nanti telat."
Tetep nggak ada jawaban.
Arya... mulai khawatir. Dia buka pintu pelan.
Dan...
Jantungnya berhenti.
Aruna... tergeletak di lantai. Di samping kasur. Tubuhnya... nggak gerak.
"ARUNA!" teriak Arya sambil lari masuk. Berlutut di samping adiknya.
Dia angkat kepala Aruna. "Run! Run! Bangun! BANGUN!"
Tapi Aruna... nggak sadar. Matanya tertutup. Wajahnya pucat banget. Bibir kering. Napasnya... pelan. Nyaris nggak kedengeran.
"IBU! IBU!" teriak Arya keras.
Luna lari naik tangga. "Kenapa? Ada apa?!"
Begitu ngeliat Aruna...
Luna langsung histeris. "ARUNA! ARUNA, SAYANG! BANGUN!"
"Bu, panggil ambulans! Cepet!" bentak Arya sambil ngangkat Aruna.
Tapi Luna... panik. Tangannya gemetar nggak bisa pegang hape.
Arya... langsung ambil keputusan. "Gue bawa ke rumah sakit sekarang! Bu ikut!"
Dia gendong Aruna. Tubuh adiknya... ringan banget. Terlalu ringan. Kayak... kayak nggak ada isinya.
Arya lari turun tangga. Luna ngikutin sambil nangis.
Mereka masuk mobil. Arya nyetir sekenceng yang dia bisa. Ngebut. Melanggar lampu merah. Nggak peduli.
Yang penting... Aruna selamat.
---
Rumah sakit.
Arya bawa Aruna ke UGD. Dokter jaga langsung menangani.
Aruna dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Arya sama Luna nggak boleh ikut.
Mereka cuma bisa... nunggu di luar.
Arya duduk di kursi tunggu. Tangannya... gemetar. Napasnya... nggak teratur.
Luna... nangis terus. Nggak berhenti.
"Kenapa... kenapa Aruna bisa kayak gini... kenapa Ibu nggak nyadar... kenapa..." ucap Luna putus asa sambil nangis.
Arya... memeluk ibunya. "Tenang, Bu. Aruna bakal baik-baik aja. Dia... dia kuat."
Tapi sebenernya... Arya sendiri nggak yakin.
Dia ngeliat kondisi Aruna tadi. Pucat. Kurus. Lemah.
*Run... kumohon... bertahanlah...*
---
Satu jam kemudian.
Dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Perempuan. Umur sekitar empat puluhan. Pake jas dokter putih. Bawa papan catatan.
Arya langsung berdiri. "Dok, adik saya gimana?"
Dokter... ngeliat Arya sama Luna dengan ekspresi... serius.
"Kondisi adik Anda cukup mengkhawatirkan," kata dokter pelan tapi tegas. "Dia mengalami kelelahan ekstrem, malnutrisi, dan tanda-tanda depresi berat."
Luna... nangis makin keras.
Arya... menatap dokter dengan mata terbuka lebar. "D-depresi...?"
Dokter ngangguk. "Iya. Dari pemeriksaan fisik dan psikologis awal, adik Anda menunjukkan gejala depresi mayor. Apa dia sedang mengalami tekanan psikologis yang besar?"
Arya... mengangguk pelan. Suaranya serak. "D-dia... dia di-bully di sekolah. Tapi... tapi gue pikir dia bisa handle..."
Dokter menggeleng. "Tidak ada yang bisa 'handle' depresi sendirian. Depresi itu penyakit. Bukan sekadar sedih biasa. Dia butuh bantuan profesional."
Dokter ngeliat catatannya lagi. "Saya sangat menyarankan konseling psikologis. Bahkan mungkin terapi intensif. Kalau dibiarkan... kondisinya bisa semakin buruk."
Jeda.
"Bahkan... bisa membahayakan nyawanya sendiri."
Deg.
Kata-kata terakhir itu... kayak pukulan telak ke dada Arya.
Kakinya... lemes. Dia nyaris jatuh tapi nahan diri pegang kursi.
"M-maksud Dokter..." suara Arya nyaris nggak keluar.
"Pasien dengan kondisi seperti ini berisiko tinggi untuk... menyakiti diri sendiri," kata dokter dengan nada hati-hati. "Anda harus mengawasinya dengan ketat. Jangan biarkan dia sendirian terlalu lama. Dan... sebisa mungkin, jauhkan benda-benda yang bisa membahayakan."
Luna... nangis sambil nutup mulut. Tubuhnya gemetar.
Arya... nggak bisa ngomong. Tenggorokannya kering. Dadanya sesak.
*Aruna... adikku... sampai sejauh ini...*
"Kami akan observasi dia dulu selama beberapa jam," lanjut dokter. "Setelah kondisinya stabil, dia bisa pulang. Tapi... saya sangat menyarankan untuk segera konsultasi ke psikolog atau psikiater."
Arya... ngangguk pelan. "T-terima kasih, Dok..."
Dokter tersenyum tipis. Senyum yang... sedih. "Semoga adik Anda cepat pulih. Dia... masih muda. Masih banyak waktu untuk sembuh."
Dokter pergi.
Arya... jatuh duduk di kursi. Kepala di tangan.
Napasnya... berat.
*Gue... gue terlambat nyadar...*
*Gue udah liat tanda-tandanya... tapi gue... gue nggak ngelakuin apa-apa...*
*Gue pikir Aruna cuma sedih biasa... gue pikir dia bakal oke dengan sendirinya...*
*Bodoh... gue bodoh...*
Luna duduk di sebelah Arya. Nangis sambil peluk anaknya.
"Arya... Aruna... kenapa dia nggak cerita... kenapa dia pendam sendiri..." ucap Luna putus asa.
Arya... nggak bisa jawab.
Karena dia juga... nggak tau.
---
Dua jam kemudian.
Aruna dipindahin ke ruang rawat inap biasa. Kondisinya udah lebih stabil. Tapi... masih lemah.
Arya masuk ke ruangan. Ngeliat Aruna yang rebahan di kasur rumah sakit. Infus di tangan. Wajah masih pucat.
Mata Aruna... terbuka pelan.
Ngeliat Arya.
"Kak..." suaranya pelan. Serak.
Arya... langsung duduk di samping kasur. Mengenggam tangan Aruna yang dingin.
"Run... kamu... kamu kenapa nggak cerita ke Kakak? Kenapa kamu pendam sendiri?" suara Arya bergetar. Matanya merah.
Aruna... tersenyum lemah. Senyum yang... menyakitkan buat diliat.
"Aku... aku nggak mau ngeribetin, Kak. Aku udah jadi masalah buat semua orang. Aku... aku nggak mau nambah beban Kakak..."
Deg.
Arya... ngerasain dadanya ditusuk.
"Kamu... kamu nggak pernah jadi beban, Run." Arya meremas tangan adiknya. Erat. Air matanya jatuh. "Kamu keluarga aku. Kamu tanggung jawab aku. Kamu... kamu segalanya buat Kakak."
Tapi Aruna... menggeleng pelan.
"Tapi Kak... aku capek..." bisiknya. "Aku capek banget..."
Kata-kata itu... menusuk jantung Arya lebih dalam dari apapun.
Lebih dalam dari pisau.
Lebih sakit dari luka fisik.
Arya... nangis. Nangis keras sambil peluk tangan Aruna.
"Maafkan Kakak, Run... maafkan Kakak... karena Kakak... terlambat nyadar..."
"Maafkan Kakak... karena Kakak nggak bisa lindungi kamu..."
Aruna... ngeliat kakaknya yang nangis.
Dan hatinya... sakit.
Sakit ngeliat orang yang dia sayang... nangis karena dia.
*Aku... aku jadi beban lagi...*
*Aku... aku bikin Kakak sedih...*
*Aku... aku harusnya nggak ada...*
---
Aruna merasa dia sudah menjadi beban terlalu berat.
Dan semakin hari...
Beban hidup itu... semakin terasa berat untuk dipikul.
Sampai... dia nggak yakin lagi...
Apakah dia masih sanggup... membawanya.
Atau... dia harus... meletakkannya.
Selamanya.
---