NovelToon NovelToon
Paket Cinta

Paket Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Chicklit / Enemy to Lovers
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Imamah Nur

Kabur dari perjodohan toksik, Nokiami terdampar di apartemen dengan kaki terkilir. Satu-satunya harapannya adalah kurir makanan, Reygan yang ternyata lebih menyebalkan dari tunangannya.

   Sebuah ulasan bintang satu memicu perang di ambang pintu, tapi saat masa lalu Nokiami mulai mengejarnya, kurir yang ia benci menjadi satu-satunya orang yang bisa ia percaya.

   Mampukah mereka mengantar hati satu sama lain melewati badai, ataukah hubungan mereka akan batal di tengah jalan?

Yuk simak kisahnya dalam novel berjudul "Paket Cinta" ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imamah Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32. Begitu Dekat

Kehangatan dari telapak tangannya yang sedikit kasar itu terasa seperti jangkar, menahan getaran di tangan Nokiami dan menenangkan badai yang baru saja reda di dalam dadanya. Janji yang diucapkan dengan suara serak itu menggema di keheningan apartemen, lebih kuat daripada tumpukan kertas utang dan ancaman yang mengelilingi mereka.

Untuk sesaat, Nokiami lupa cara bernapas. Ia hanya bisa menatap mata Reygan yang gelap, melihat kesungguhan yang membakar di sana, sebuah janji yang terasa lebih nyata daripada apa pun yang pernah ia dengar seumur hidupnya.

Dunia mereka seolah menyempit hanya pada sentuhan itu.

Lalu, seolah tersadar dari semacam kesurupan, Reygan menarik tangannya kembali dengan gerakan yang kaku dan tiba-tiba, seolah baru saja menyentuh api. Ia berdeham, memutus kontak mata dan dengan cepat mengalihkan perhatiannya kembali ke lautan kertas di lantai.

“Oke,” katanya, suaranya kembali datar, topengnya terpasang lagi. “Jadi, kreditur yang ini… kita bisa laporkan mereka dengan pasal pemerasan terselubung. Bunganya nggak masuk akal.”

Nokiami mengerjap, mencoba mengembalikan detak jantungnya ke ritme normal. Pergeseran suasana itu begitu cepat, begitu canggung, hingga membuatnya sedikit pusing.

“Oh… iya. Benar. Pasal itu,” sahutnya, suaranya sedikit goyah. Ia memaksakan diri untuk kembali fokus pada angka-angka, meskipun sisa kehangatan tangan Reygan masih membekas di kulitnya.

Hari-hari berikutnya melebur menjadi sebuah rutinitas baru yang aneh. Apartemen kecil itu bukan lagi hanya tempat persembunyian Nokiami, melainkan telah berubah menjadi markas besar mereka. Pagi hari, Nokiami akan terbangun oleh deru motor Reygan yang familiar di kejauhan, sebuah suara yang dulu membuatnya jengkel, kini justru memberinya rasa aman yang aneh. Reygan akan datang setelah menyelesaikan beberapa pengiriman paginya, tidak lagi sebagai kurir yang mengantar pesanan, tetapi sebagai rekan strategi yang membawa buku catatan dan pulpen.

Mereka akan duduk berjam-jam di lantai, dikelilingi oleh tumpukan bukti melawan Leo dan tumpukan dokumen utang Reygan. Bahu mereka sering bersentuhan, lutut mereka sesekali beradu saat salah satu dari mereka meraih secangkir kopi. Setiap sentuhan tidak sengaja itu mengirimkan sengatan listrik kecil yang membuat suasana menjadi tegang selama beberapa detik, sebelum mereka berdua berpura-pura tidak terjadi apa-apa dan kembali bekerja.

“Kau yakin ayahmu nggak akan melacak panggilan ke orang tuamu?” tanya Reygan suatu sore, matanya menyipit menatap layar laptop Nokiami.

“Nggak akan. Aku pakai nomor baru dan VPN. Lagipula, mereka terlalu sibuk menyalahkan aku karena kabur daripada berpikir cerdas untuk melacakku,” jawab Nokiami, jarinya menari lincah di atas papan ketik.

“Orang tuamu kedengarannya menyebalkan.”

“Memang,” sahut Nokiami tanpa mengalihkan pandangan. “Sama sepertimu dulu.”

Reygan mendengus. “Aku nggak semenyebalkan itu.”

“Oh, ya? Coba kita tanya ulasan bintang satu pertamaku,” goda Nokiami, meliriknya dari sudut mata dengan senyum tipis.

“Itu ulasan emosional, nggak objektif,” balas Reygan, tapi Nokiami bisa melihat sudut bibirnya sedikit terangkat.

Sore itu, setelah delapan jam tanpa henti menatap angka dan menyusun strategi, perut Nokiami berbunyi keras, memecah kesunyian yang sarat konsentrasi.

Reygan menoleh. “Suara apa itu? Kucing sekarat?”

“Itu perutku, bodoh,” kata Nokiami sambil meregangkan punggungnya yang kaku. “Aku lapar. Mau pesan makanan?”

Reygan melirik tumpukan kertas di sekeliling mereka. “Nggak. Kita harus hemat. Setiap rupiah berharga, ingat?”

Nokiami memutar bola matanya, malas. “Aku tahu. Maksudku, aku yang masak. Ada beberapa bahan sisa di kulkas.”

Reygan menatapnya dengan skeptis. “Kau bisa masak? Kukira hobimu cuma komplain soal masakan orang dan bikin drama.”

Tantangan dalam suaranya menyulut sesuatu dalam diri Nokiami. “Lihat saja nanti,” katanya sambil berdiri. “Kau, bantu aku. Jangan cuma duduk di situ dan jadi sarkastis.”

“Aku nggak bisa masak,” jawab Reygan datar.

“Semua orang bisa mengiris bawang. Ayo!” perintah Nokiami sembari menuju dapur kecilnya.

Dengan helaan napas berat yang dibuat-buat, Reygan mengikutinya. Pemandangan selanjutnya adalah sebuah komedi bencana. Reygan, pria yang bisa menavigasi jalanan kota yang kejam dengan presisi seorang predator, ternyata benar-benar buta arah di dapur. Ia memegang pisau seolah itu adalah senjata asing yang bisa meledak kapan saja.

“Bukan begitu cara pegangnya!” seru Nokiami, menahan tawa. “Kau mau memotong jarimu sendiri, hah?”

“Aku tahu apa yang kulakukan,” gerutu Reygan, wajahnya mengeras karena konsentrasi saat ia mencoba mengiris bawang bombai menjadi potongan-potongan yang bentuknya tidak karuan. Ada yang setebal jari, ada yang setipis kertas.

“Ya, kau tahu cara membuatku menangis karena irisan bawangmu yang menyedihkan,” ledek Nokiami. Ia mengambil alih pisau dari tangan Reygan. “Sudah, kau aduk sausnya saja. Jangan sampai gosong. Itu tugas yang cukup mudah, kan?”

“Aku bukan anak kecil,” sungut Reygan, tapi ia patuh mengambil sendok kayu dan mulai mengaduk saus di wajan dengan gerakan kaku.

Nokiami tersenyum sendiri sambil mengiris sayuran dengan cepat. Aroma tumisan bawang putih dan rempah-rempah mulai memenuhi udara, mengusir bau kertas tua dan kecemasan. Suasana di antara mereka melunak. Tidak ada lagi Leo, tidak ada lagi utang. Hanya ada mereka berdua, di dapur sempit, mencoba membuat makan malam.

“Jadi, kau benar-benar kuliah bisnis?” tanya Reygan, memecah keheningan.

“Manajemen Keuangan, tepatnya,” jawab Nokiami. “Aku suka angka. Mereka jujur. Nggak seperti orang.”

“Ironis,” gumam Reygan.

“Mengingat keluargamu hancur juga karena angka.”

“Keluargaku hancur karena keserakahan, bukan angka,” koreksi Nokiami pelan. “Angka hanya menunjukkan hasilnya.”

Mereka kembali diam, larut dalam tugas masing-masing. Nokiami memasukkan pasta ke dalam air mendidih, sementara Reygan masih setia mengaduk saus.

“Awas!” seru Nokiami tiba-tiba.

Reygan, yang sedikit melamun, tersentak kaget dan secara tidak sengaja menyenggol wadah tepung terigu di sebelahnya. Tepung itu tumpah, sebagian besar mengenai kaus hitamnya dan sedikit menyiprat ke wajahnya, meninggalkan bercak putih lucu di ujung hidungnya.

Ia membeku, menatap kekacauan yang baru saja ia buat dengan ekspresi ngeri.

Nokiami menatapnya. Awalnya ia hanya terkejut, tapi kemudian ia melihat bercak tepung di hidung Reygan yang kontras dengan ekspresi kakunya yang biasa. Sesuatu di dalam dirinya meledak. Ia tidak bisa menahannya.

"Hahaha!"

Tawa pecah dari bibirnya. Bukan tawa kecil atau senyum tipis, tapi tawa lepas yang tulus dan menggema di seluruh ruangan.

Reygan menatapnya, alisnya berkerut. “Apa yang lucu?” tanyanya dengan nada jengkel.

“Kau… hidungmu…” Nokiami tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, ia terlalu sibuk tertawa hingga perutnya sakit.

Reygan mengusap hidungnya, melihat serbuk putih di jarinya. Wajahnya yang biasanya keras dan sinis perlahan berubah. Sudut bibirnya berkedut, berusaha menahan senyum. Tapi melihat tawa Nokiami yang begitu menular, begitu bebas, pertahanannya runtuh.

Sebuah suara aneh keluar dari tenggorokannya. Awalnya hanya seperti dengusan, lalu berubah menjadi tawa kecil yang tertahan, dan akhirnya meledak menjadi tawa yang sesungguhnya. Tawa yang dalam, serak, dan sama sekali tidak dibuat-buat. Itu bukan suara sinisme atau cemoohan yang biasa Nokiami dengar. Itu adalah suara kebahagiaan murni.

Nokiami berhenti tertawa seketika. Ia terpaku. Suara tawa Reygan yang sebenarnya adalah hal paling mengejutkan yang pernah ia dengar. Suara itu mengubah seluruh wajahnya, melunakkan garis-garis keras di rahangnya, dan menyalakan binar jenaka di matanya yang biasanya tajam. Pria di hadapannya bukan lagi kurir pemarah atau sekutu yang penuh perhitungan. Ia hanya… Reygan. Seorang pria yang bisa menertawakan tepung di hidungnya.

Jantung Nokiami berdebar begitu kencang hingga terasa sakit. Kesadaran itu menghantamnya seperti gelombang pasang. Ini bukan lagi sekadar simpati atau ketertarikan. Perasaan yang tumbuh di dadanya jauh lebih dalam, jauh lebih berbahaya.

Tawa Reygan mereda, menyisakan senyum lebar yang masih terpampang di wajahnya. Ia menatap Nokiami, yang kini hanya diam mematung.

“Kenapa berhenti? Tadi kau yang paling kencang tertawa.”

Nokiami tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menatap pria itu, pria yang telah meruntuhkan semua temboknya tanpa ia sadari.

Melihat ekspresi aneh di wajah Nokiami, senyum Reygan perlahan memudar, digantikan oleh tatapan yang lebih intens. Kejenakaan di antara mereka menguap, meninggalkan keheningan yang sarat akan sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berat dan lebih nyata.

Ia melangkah maju, tangannya terulur, bukan untuk membersihkan tepung di wajahnya sendiri, melainkan untuk mengusap sisa air mata tawa di sudut mata Nokiami. Jemarinya yang hangat menyentuh pipinya dengan lembut.

“Kau baik-baik saja?” bisiknya, suaranya kembali rendah.

Nokiami hanya bisa mengangguk, napasnya tercekat. Jarak di antara mereka kini begitu tipis. Ia bisa merasakan hawa hangat dari tubuh Reygan, mencium aroma samar sabun dan saus tomat.

Mata Reygan turun ke bibir Nokiami. Waktu seolah berhenti. Semua strategi, semua ketakutan, semua masa lalu, semuanya lenyap. Hanya ada momen ini. Ia menundukkan kepalanya perlahan, tatapannya tak pernah lepas dari mata Nokiami.

Napasnya yang hangat menerpa bibirnya, dan dunia Nokiami menyempit hanya pada satu titik—pada milimeter terakhir yang memisahkan mereka.

Note: Tolong jangan nabung bab ya Guys agar retensi novel ini tidak hancur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!