Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah arwah sang kakek
Di kota Sydney, Australia, pukul sembilan malam.
Lampu-lampu kota berpendar indah di balik kaca jendela apartemen Adam, namun kelelahan membuatnya tak lagi mampu menikmati pemandangan itu. Setelah seharian penuh berkutat dengan urusan pekerjaan, akhirnya ia tiba di apartemennya dengan langkah gontai. Tanpa menunda waktu, Adam langsung masuk ke kamar mandi, berniat membersihkan tubuh dan menjatuhkan diri ke kasur empuk secepat mungkin. Rasa kantuk menyerang begitu hebat seoalah kelopak matanya tak sanggup lagi bertahan. Di tambah lagi kesibukan sebelumnya membuat Adam kurang tidur.
Air hangat dari shower mengguyur sekujur tubuh kekar Adam, perlahan melonggarkan otot-otot yang tegang. Namun bukannya membuat pikirannya tenang, justru ingatan Adam melayang jauh ke masa lalu, saat sang kakek, Sulaiman, masih hidup dan duduk gagah di balik meja kayu jati kebanggaannya.
“Adam,” suara berat itu kembali terngiang jelas di kepalanya, “aku akan menyerahkan semua usaha ini kepadamu. Aku percaya kau sanggup menjadi nakhoda selanjutnya. Tapi ada satu syarat.”
Adam muda kala itu tersenyum santai. “Apa itu, Kek?”
“Menikah dengan cucu perempuan sahabatku, Surip. Namanya Hawa.”
Adam tertawa kecil, nada suaranya terdengar seperti mengejek. “Kenapa jadi main jodoh-jodohan seperti itu, Kek?”
Tiba-tiba suasana berubah.
“Brug!”
Sulaiman memukul meja dengan keras. Wajahnya mengeras, jelas tak menyukai respons sepele dari cucu kesayangannya itu.
“Surip lah orang pertama yang memberiku kayu jati sebagai modal awal, tanpa dibayar sepeser pun!” suara sang kakek bergetar oleh emosi. “Dia juga pernah menyelamatkanku dari terkaman harimau di hutan dan ia terluka parah demi nyawaku. Karena itulah aku bersumpah pada diriku sendiri dan pada surip, aku akan membahagiakan salah satu cucu perempuannya dan dia harus menjadi bagian dari keluarga kita!”
Adam terdiam. Senyum di wajahnya lenyap seketika.
“Tapi bagaimana kalau aku tidak cinta, Kek?” tanyanya ragu.
“Kau harus memaksakan diri, lama kelamaan nanti juga akan cinta!” jawab Sulaiman cepat, tanpa ruang untuk bantahan.
Adam kembali terdiam. Dadanya terasa sesak. Ia belum siap mengambil keputusan sebesar itu tapi ia sangat menginginkan perusahaan sang kakek.
“Kalau kau tidak berkenan,” lanjut sang kakek dengan nada dingin, “besok juga aku akan menjual usaha jati ini kepada orang lain”
Ancaman itu bukan main-main. Adam tahu betul watak kakeknya. Dengan gerakan cepat, Adam berdiri dan mendekat. Tangannya gemetar saat mengambil pulpen dan menandatangani surat wasiat itu.
“Baiklah, Kek. Aku sanggup memenuhi syaratnya,” ucapnya pasrah.
Lamunan panjang itu seketika buyar ketika air shower menghantam wajah Adam lebih deras. Ia tersentak, menarik napas panjang, lalu mematikan keran. Menatap bayangannya sendiri di cermin, Adam menghela napas berat.
“Tapi sekarang semuanya sudah diwakili oleh Harun,” gumamnya pelan, seolah meyakinkan diri sendiri. “Aku rasa sudah aman. Mereka juga mungkin sudah melewati malam pertama… Kakek pasti tidak akan marah lagi padaku”
Usai mandi, Adam berjalan menuju kamar tidur. Baru saja ia merebahkan tubuhnya, tiba-tiba lampu apartemen berkedap-kedip lebih kencang dari yang sebelumnya. Jantung Adam sontak berdegup cepat. Rasa takut yang tak beralasan merayap cepat di dadanya.
Ia sempat ingin memanggil asistennya, namun urung. Ia tak ingin menjadi bahan obrolan esok hari, seorang pria dewasa yang ketakutan oleh hal sepele.
Dengan gerakan cepat, Adam melompat ke atas kasur dan menarik selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya, seolah kain itu mampu melindunginya dari bayangan masa lalu yang terus menghantui. Ketika suasana kembali sunyi dan lampu menyala normal, rasa lelah akhirnya menang.
Tak lama kemudian, Adam pun terlelap, tenggelam dalam tidur yang gelisah, sementara bayang-bayang wasiat sang kakek masih setia mengikuti langkah hidupnya.
*
"Di mana aku?"
Pertanyaan itu bergaung di benak Adam. Dalam mimpinya, ia terdampar di sebuah ruangan tertutup tanpa jendela. Dinding-dindingnya gelap, lembap, dan seolah terus menyempit. Udara terasa berat, menekan dada, membuat napasnya tersengal. Sunyi yang mencekam menyelimuti ruang itu, hingga telinganya berdenging oleh keheningan.
Tiba-tiba, suara menggelegar memecah kesunyian, terdengar suara keras, berat, dan penuh amarah, seperti gemuruh petir di langit runtuh.
“ADAM!!!”
Tubuh Adam tersentak hingga terjatuh. Jantungnya berdegup tak karuan. Dari balik kegelapan, muncul sosok yang begitu ia kenali. Wajah sang kakek, Sulaiman, tampak pucat dan sangat menyeramkan, matanya menyala oleh kemarahan yang mengerikan.
“Ka… ka… kek…” suara Adam bergetar hebat. Lututnya melemas, nyaris tak mampu menyangga tubuhnya sendiri untuk berdiri.
“KAMPRET KAU!”
“ASU!”
Makian itu menggema di seantero ruangan, menghantam Adam seperti cambukan bertubi-tubi.
“KAU MENGINGKARI JANJIMU!” teriak Sulaiman dengan suara yang memekakkan telinga.
“Ta… tapi Ha..ha..harun sudah menggantikan aku, Kek…” Adam mencoba membela diri, suaranya gugup, mulutnya kaku penuh ketakutan.
“AAAAA!! TIDAK!!!”
“ITU HARUS KAU!”
Jeritan sang kakek terdengar mengerikan, dipenuhi amarah dan kekecewaan hingga memekakkan telinga Adam. Sosok itu melangkah maju, semakin mendekat. Kepanikan Adam memuncak. Tanpa berpikir panjang, ia memaksa kakinya bangkit dan berlari tunggang-langgang, meski langkahnya terasa berat, seolah ada sesuatu yang menariknya dari bawah.
“Ampun, Kek… ampuuuun!” jerit Adam sambil terus berlari.
Namun tanah di bawah kakinya tiba-tiba lenyap. Tubuh Adam terhuyung, lalu jatuh. Ia berguling-guling tanpa kendali ke dalam jurang yang gelap dan tak berujung.
“Aaaaaaa!!!”
Jeritan itu berubah menjadi teriakan nyata saat Adam terjatuh dari tempat tidurnya. Tubuhnya menghantam lantai apartemen dengan keras. Rasa perih langsung menjalar di kedua tangan dan kakinya. Anehnya, kulitnya benar-benar tergores dan terbaret, seakan ia sungguh-sungguh jatuh ke dalam jurang dalam mimpinya.
Adam terbangun dengan napas menggebu-gebu. Dadanya naik turun cepat, tenggorokannya kering, sementara keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Meski pendingin ruangan menyala, panas dan lelah justru menyiksa tubuhnya. Mimpi itu terasa terlalu nyata lebih dari sekadar bunga tidur.
Lampu tidur di sudut kamar kembali berkedip-kedip.
“Ampun… ampun, Kek!” jerit Adam ketakutan menutup mukanya, wajah marah sang kakek sangat menyeramkan.
Jantung pria itu berdegup semakin kencang hingga telinganya berdenging. Beberapa detik kemudian, lampu itu berhenti berkedip. Kamar kembali sunyi, namun kesunyian itu justru terasa semakin mencekam. Hanya deru napas Adam yang terdengar, terputus-putus dan berat.
Dengan tubuh gemetar, Adam sangat haus, ia merangkak pelan di lantai. Kakinya masih lemas saat ia meraih segelas air mineral yang terletak tak jauh dari tempat tidurnya. Ia meneguknya dengan tangan bergetar, berharap cairan dingin itu mampu menenangkan pikirannya yang kacau.
Namun rasa takut belum juga pergi. Adam akhirnya meringkuk di sudut kamar apartemennya, memeluk lutut, matanya menatap kosong ke arah ruangan gelap. Bayangan wajah sang kakek masih jelas terpatri di benaknya, seakan mimpi itu belum benar-benar berakhir.