NovelToon NovelToon
The Abandoned Wife'S Revenge

The Abandoned Wife'S Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Transmigrasi / Single Mom / Mata-mata/Agen / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.

Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.

Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.

Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Ibarat binatang buas yang baru saja keluar dari kandang, Aurora menghajar pria-pria itu tanpa sedikitpun mendapat pukulan di tubuhnya. Dia mengayunkan kaki dan tangannya dengan gerakan presisi yang mampu mengenai lawannya tepat di titik vital, hanya membutuhkan waktu 15 menit saja Aurora sudah menumbangkan keempat pria tersebut.

"Pergi. Sebelum aku membuat kalian kehilangan kaki masing-masing," ancam Aurora.

Sorot matanya yang buas seperti seorang predator mampu membuat para pria itu menelan ludahnya kasar, mereka buru-buru beranjak meninggalkan Aurora menuju kendaran masing-masing.

Setelah melihat motor mereka menghilang di telan kegelapan malam, Aurora melangkah mendekati remaja yang tengah duduk di trotoar jalan sembari menunduk.

"Lukamu parah?" Tanya Aurora.

Itu bukan pertanyaan melainkan pernyataan, karena Aurora melihat wajah remaja itu babak belur bahkan matanya bengkak dan lebam keunguan sebesar kepala tangan.

"Tante keren banget, makasih sudah menolongku." Kata Calix seraya mendongak.

"Bukan masalah, mau ke rumah sakit?"

Calix menggeleng. Dia benci rumah sakit dan obat, lebih baik dia menahan luka di tubuhnya dari pada pergi ke tempat serba putih seperti itu. "Ini cuma luka kecil."

Paham dengan penolakan remaja itu, Aurora berbalik kembali ke mobilnya lalu mengambil kotak P3K dan membawanya kembali ke arah Calix.

Aurora berjongkok di depan remaja itu, menarik dagunya dan mulai membersihkan luka-luka di wajahnya. Gerakan tangan Aurora terasa halus dan dingin di saat bersamaan.

Calix tanpa sadar menahan napas, dia mengamati wajah Aurora yang berjarak cukup dekat dengannya. Aroma mawar dari tubuh Aurora tercium dengan jarak sedekat itu.

"Di mana rumahmu?" Tanya Aurora.

"Rumah?" Calix tersenyum kecut. "Tidak tahu."

Alis Aurora naik sebelah. "Kau tidak punya rumah?"

"Menurut Tante, definisi rumah itu seperti apa?"

Pertanyaan ambigu, semua orang pasti tahu rumah itu apa. Namun, Aurora menangkap maksud lain dalam pertanyaan tersebut.

"Rumah itu tempat pulang, kembali, dan beristirahat dari penatnya beban dunia."

Calix memaksakan senyumnya. "Aku tidak memilikinya."

Seketika Aurora mendongak, matanya yang gelap bertemu dengan mata biru milik remaja itu. Hening menyelimuti, desiran angin halus menerpa wajah mereka berdua.

Sadar dengan keheningan yang menyesakkan, Aurora menepuk pelan pundak Calix. Sentuhannya singkat, nyaris tanpa emosi, namun cukup untuk membuat remaja itu mengangkat kepala.

Aurora berdiri. Wajahnya tetap datar, sorot matanya tenang dan dingin, seolah apa yang barusan terjadi hanyalah satu peristiwa kecil di antara ribuan hal lain yang pernah dia lewati.

"Kau sudah cukup kuat untuk bertahan sejauh ini," ucapnya akhirnya. Suaranya rendah, namun tegas yang menjadi ciri khasnya. "Itu artinya kau juga cukup kuat untuk terus hidup."

Calix menatapnya bingung. "Tante…?"

"Aku tidak akan membawamu ke rumahku," lanjut Aurora tanpa ragu. "Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena aku tidak ingin kau menggantungkan hidupmu pada orang lain."

Kalimat itu menghantam lebih keras daripada tamparan. Calix mengepalkan jemarinya, rahangnya menegang. Bagaimana bisa wanita di depannya mengatakan hal seperti itu tanpa ekspresi simpati sedikit pun? Apa dia tak memiliki hati?

"Kalau kau tidak punya rumah," sambung Aurora, "maka bangun tempat berpijakmu sendiri. Entah itu kamar sempit, bangku taman, atau sudut kota yang kau anggap aman. Selama kau masih bernapas, kau masih punya pilihan."

Calix menelan ludah. "Tapi… dunia tidak ramah pada orang sepertiku."

Aurora menatapnya lurus. Tatapan yang dingin, namun anehnya terlihat jujur. "Dunia memang tidak ramah. Karena itu jangan menambah penderitaanmu sendiri dengan menyerah."

Dia melangkah mendekat satu langkah, cukup dekat untuk membuat Calix bisa melihat bayangan dirinya di mata wanita itu.

"Kau tidak perlu menjadi baik," lanjut Aurora. "Kau tidak perlu menjadi kuat di mata orang lain. Tapi satu hal yang tidak boleh kau lakukan, merusak dirimu sendiri hanya karena orang lain memperlakukanmu buruk."

Calix terdiam. Dadanya terasa sesak, bukan karena luka, melainkan karena kata-kata yang terlalu lurus dan nyata.

Aurora berbalik menuju mobilnya, lalu berhenti sejenak tanpa menoleh. "Pulanglah ke tempatmu tinggal sekarang. Rawat lukamu, dan teruslah hidup."

Dia masuk ke dalam mobil dan menutup pintu. Mesin menyala, lampu depan menerangi tubuh Calix yang masih berdiri di trotoar.

Sebelum mobil itu pergi, Aurora menurunkan kaca jendela sedikit. Wajahnya tetap tanpa ekspresi.

"Dan satu lagi," katanya dingin. "Jika suatu hari kau ingin mati, pastikan itu karena pilihanmu sendiri. Bukan karena orang-orang yang bahkan tidak layak kau ingat."

Mobil itu melaju, meninggalkan Calix sendirian di bawah lampu jalan.

Dia berdiri cukup lama, menatap jalan kosong, lalu mengusap wajahnya perlahan. Luka di tubuhnya masih terasa perih, tetapi kata-kata Aurora tertinggal lebih dalam dari rasa sakit itu.

"Wanita aneh," gumamnya terkekeh.

***

Aurora tiba di rumahnya pukul delapan malam, terlihat lampu-lampu di sekitar rumahnya sudah menyala terang. Dia turun dari mobil sambil menenteng kue coklat, tadi menyempatkan diri mampir ke toko kue untuk membelikan anak-anaknya hadiah karena dia tinggalkan seharian.

Senyum di wajahnya tak pernah luntur, dia menghirup aroma mawar yang tertiup angin. Ketenangan seperti ini sangat sulit dia dapatkan di kehidupannya yang dulu.

"Mommy pulang!" Teriak Aurora begitu membuka pintu.

Netranya mengelilingi seisi rumah mencari dua sosok anak kecil, hingga dia melihat Riven serta Arjuna yang terlelap di sofa ruang keluarga.

"Selamat malam Nyonya," sapa pelayan di rumah tersebut.

Aurora mengangguk. "Mengapa anak-anak tidur di sofa?"

"Itu, katanya mereka menunggu Anda."

Aurora terdiam. Langkahnya melambat saat pandangannya kembali tertuju pada dua anak kecil yang tertidur berdampingan di sofa. Riven meringkuk sambil memeluk bantal, sementara Arjuna tidur dengan dahi berkerut seolah masih menyimpan sisa kegelisahan bahkan di alam mimpinya.

Dadanya menghangat, lalu terasa sesak dalam waktu bersamaan.

Aurora tidak segera menjawab pelayan itu. Dia melangkah mendekat, menurunkan tas tangannya perlahan, lalu berjongkok di depan sofa. Tangannya terulur, namun terhenti beberapa senti dari rambut Riven. Jari-jarinya gemetar tipis.

"Mereka… menungguku?" gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

"Ya, Nyonya," jawab pelayan itu lembut. "Tuan kecil Arjuna bilang Mommy pasti pulang malam. Mereka tidak mau tidur sebelum memastikan Anda benar-benar kembali."

Aurora menunduk. Untuk sesaat, senyum di wajahnya runtuh. Ada rasa yang mengalir pelan, menghantam dinding dadanya tanpa suara. Rasa yang asing, rapuh, dan hampir menyakitkan.

Dia menelan ludah, lalu menarik napas dalam-dalam agar emosinya tetap terkendali.

"Terima kasih," katanya akhirnya. "Kau bisa beristirahat."

Pelayan itu mengangguk dan mundur dengan tenang, meninggalkan Aurora sendirian bersama kedua anaknya.

Aurora duduk perlahan di tepi sofa. Kue coklat di tangannya diletakkan di atas meja, terlupakan. Dia mengamati wajah Arjuna dan Riven dengan saksama, seolah baru benar-benar melihat mereka untuk pertama kalinya.

Begitu kecil. Begitu rapuh.

"Maaf…" bisiknya lirih.

Bukan hanya karena hari ini dia pulang larut. Bukan hanya karena meninggalkan mereka seharian. Tapi karena tubuh yang dia tempati ini telah gagal melindungi mereka sejak awal.

Aurora mengulurkan tangannya, kali ini benar-benar menyentuh. Dia menyibakkan rambut Riven dari keningnya, sentuhannya hati-hati, seakan takut anak itu akan terbangun dan menjauh lagi.

Riven mengerang pelan, alisnya bergerak, namun tidak terbangun. Tangannya justru refleks meraih ujung lengan baju Aurora dan menggenggamnya lemah.

Tangannya menegang, lalu perlahan membalas genggaman itu. Hangat. Nyata. Ada kepercayaan yang terselip di sana, meski anak itu bahkan tidak sadar.

Aurora menutup mata sejenak.

Arjuna bergerak, kelopak matanya bergetar. Dia terbangun setengah sadar, menatap Aurora dengan mata sayu.

"Mommy…?" suaranya serak karena kantuk.

1
shabiru Al
pendek amat thor,, nungguin nya lama... baru scroll sekali langsung abis aja
shabiru Al
aurora sendiri masih belum bisa menebak siapa mereka,,, apa mungkin pamanya..
Heni Mulyani
lanjut💪
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
siapa yang menyerang aurora,, apa black spider ?
Warni: Kayaknya suruhan si mantan
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
bintang⭐⭐⭐⭐⭐ biar lebih semangat up bab nya karena penasaran 🫶
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
idih selain pengen muntah 🤮
shabiru Al
memang benar laki2 spt delvin tdk layak untuk d kenang tpi d buang ke tempat sampah
shabiru Al
akhirnya sidelvin muncul juga,, tpi kok udah mulai muncul lagi pria lain hhhmmm makin menarik...
mustika ikha
uh, siapakah dia, laki2 arogan, dingin, jgn benci2 amatlah mas arogan nnt kamu kepincut ma aurora, buci loh 🤣🤣semangaaaat 💪💪💪
shabiru Al
tdk mudah membuktikan diri bahwa aurora sudah berubah terutama pada riven
Zee✨: udh kepalang sakit hati makanya susah🤭
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
kenapa ya anak-anak aurora g sekolah
Zee✨: hooh sampe lupa tanggung jawab
total 3 replies
shabiru Al
seru x ya kalo aldric ketemj sama aurora...
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
semangat rora
shabiru Al
ternyata bukan hanya calix tpi aldric pun sama misterius malah berbahaya....
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
lanjut thor
Heni Mulyani
lanjut
shabiru Al
jadi makin penasaran siapa calix sebenarnya ?
Zee✨: ya kan, masih abu2 pokoknya
total 1 replies
ׅ꯱ɑׁׅƙׁׅυׁׅꭈׁׅɑׁׅ
aurora suka karakter nya
shabiru Al
apa aurora mengenal siapa calix... ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!