Aluna terjebak dalam pernikahan neraka. Di mata dunia, dia adalah istri Arvino Hardinata. Namun di balik pintu tertutup, dia dianggap sebagai "pembunuh" oleh suaminya sendiri. Aluna bertahan demi Lili, satu-satunya sumber kekuatannya, sambil berharap suatu hari Arvino melihat ketulusan cintanya—sebelum penyakit dan kelelahan batin menggerogoti Aluna sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Sentuhan yang Terluka
Pagi itu, suasana di Rumah terasa asing. Kedamaian telah kembali, tetapi disertai kehati-hatian yang menusuk.
Papa, Mama, dan Nenek datang pagi-pagi, ingin memastikan keputusanku. Aku memberitahu mereka bahwa Arvino telah setuju untuk mengakhiri permusuhan, dan aku memutuskan untuk menarik gugatan cerai.
Di ruang tamu, di depan Papa, Mama, dan Nenek, Arvino, yang duduk di kursi roda dengan kaki berbalut gips, membuat pengakuan yang menyakitkan.
"Pa, Ma, Nek... Aku minta maaf," kata Arvino, suaranya tulus dan penuh penyesalan. "Aku telah menyiksa Aluna. Aku menuduhnya sebagai pembunuh karena aku terlalu pengezqcut untuk menghadapi kebenaran tentang Sarah dan rasa bersalahku sendiri."
Dia menatap Papa. "Aku minta maaf, Pa. Aku telah menghina putri Papa yang telah menyelamatkan nyawaku. Aku tidak layak mendapatkan pengampunan ini."
Papa Hardinata, yang matanya berkaca-kaca, hanya menghela napas dan mengangguk. "Papa hanya ingin kalian bahagia, Nak. Papa ingin Lili tumbuh dalam keluarga yang utuh."
Arvino mengalihkan pandangannya padaku. "Aluna, aku tahu aku tidak bisa menghapus apa yang terjadi. Tapi aku akan membuktikan padamu bahwa aku akan menjadi suami yang layak. Aku akan belajar untuk mencintaimu dan menghormatimu. Aku berjanji."
Sore harinya, saat kami berdua sendirian, Arvino memulai langkah pertamanya. Dia berusaha meraih tanganku yang sedang menyuapinya.
Aku terkesiap, tanpa sadar menarik tanganku menjauh, nyaris menjatuhkan sendok.
Ekspresi Arvino berubah. Kekecewaan, ya, tapi yang lebih dominan adalah kesadaran pahit. Dia melihat insting pertahananku.
"Maafkan aku," bisik Arvino. "Aku tidak bermaksud menakutimu."
"Aku butuh waktu, Kak," kataku, suara pelan. "Sentuhan Kakak... sentuhan itu mengingatkanku pada saat Kakak mencengkeramku dalam amarah. Aku tidak ingin takut padamu lagi."
Arvino mengangguk. "Aku mengerti. Aku akan menunggu. Aku akan memastikan sentuhanku hanya membawa kenyamanan, bukan ketakutan."
Dia kemudian menatap Lili, yang sedang tidur siang di kamarnya. "Lili tumbuh sangat cepat. Dia sangat cerdas. Kau merawatnya dengan luar biasa, Aluna. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa hidup tanpa keahlianmu."
Aku merasakan kehangatan yang asing. Ini adalah kali pertama dia memujiku tanpa nada sinis.
Malam harinya, saatnya tidur. Aku membantu Arvino menyiapkan kamar tidurnya di lantai bawah.
"Aluna," panggil Arvino. "Aku tahu aku tidak bisa naik ke atas, tapi kamar ini cukup besar. Jika kau mau, kau bisa tidur di sini. kau tidur di ranjang, dan aku bisa tidur di sofa. Aku janji, aku tidak akan menyentuhmu."
Aku melihat ranjang yang nyaman dan sofa di sebelahnya. Aku tahu ia menawarkan ini karena ia tidak ingin aku tidur di kamar Lili yang sempit, dan dia ingin aku ada di dekatnya—untuk berjaga dan untuk dirinya sendiri.
Aku menggeleng. "Terima kasih, Kak. Tapi aku akan tetap tidur di kamar Lili. Aku... aku ingin Lili tetap ada di sisiku malam ini. Dan aku akan kembali ke kamar utama besok."
Arvino tampak kecewa, tetapi dia mengangguk. Dia tahu aku sedang membangun kembali batas-batasku.
"Baiklah. Tapi tolong, Aluna. Jangan pernah lari dariku lagi. Jika kau merasa tertekan, datang dan bicaralah padaku. Jangan pergi."
"Aku tidak akan pergi," janjiku. "Aku akan tinggal. Tapi aku butuh ruang. Aku butuh tahu bahwa aku aman, Kak."
Aku pergi ke kamar Lili. Aku tidur di sebelahnya, memeluk tubuh mungilnya. Aku menang. Aku menang dalam perang, tapi aku tahu aku harus memenangkan peperangan yang lebih besar: memulihkan diriku dari trauma dan belajar untuk kembali percaya pada pria yang kini memohon kesempatan.
Aku tahu, jika Arvino benar-benar tulus, kami akan melewati ini.
...**************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca📖💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️