Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.
Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Di belahan bumi yang lain
...Waktu berlalu tanpa jeda...
...Detik demi detik...
...Menit demi menit...
...Jam demi jam...
...Hari demi hari...
...Dalam putaran waktu, sungguh aku tak bisa menepikanmu...
...Bagaimana bisa sosokmu terus membayangiku?...
...Bagaimana bisa mengingatmu masih membuatku berdebar?...
...Bahkan saat kau t'lah jadi kepunyaan orang lain...
...Tak bisa kupungkiri...
...Kau memang memiliki ruang khusus di hati...
...Jangan katakan aku tak berusaha....
...Sebab demi Tuhan aku tlah berusaha sekuat tenaga...
...Dari yang dulu kau selalu terselip dalam do'a...
...Dari yang dulu namamu selalu ada di setiap napas berhembus....
...Kini aku tak lagi berani menyebutmu...
...Walau kenyataannya kau tak pernah benar-benar pergi...
...Kau masih peguasa di relung hati...
...Namamu terpatri, abadi dalam kenangan mematikan...
...Wahai rindu ... mencintamu teramat menyiksa...
^^^ ~Sekala Bumi^^^
..._________...
Bumi ... malam kian pekat. Namun, ia malah larut dalam penyesalan. Insomnia yang kian parah, ditambah kenangan masa lalu membuat ia malah berakhir pada renungan panjang tentang alur hidup yang tak pernah sesuai angan.
Awalnya ia hanya berniat mendengar lagu untuk mengantar penatnya pada lelap. Alih-alih terpejam matanya malah berair saat playlistnya memutar lagu yang membuat hati begejolak, mengingatkan pada sosok dalam kenangan. Sial, beginilah jadinya jika menyimpan seseorang dalam lagu.
Setelah kupahami...
Kubukan yang terbaik, yang ada di hatimu
Tak dapat kusangsikan ternyata dirinyalah yang mengerti kamu, bukanlah diriku...
Anindyaswari... Nama itu selalu saja muncul pada tiap lirik yang ia dengar. Entah bagaimana setiap penggalan lagu yang harusnya ia nikmati selalu berujung pada bayang-bayang pemilik nama itu.
Bumi sudah berusaha mati-matian untuk lupa, ia sudah mati-matian untuk membunuh nama itu, tapi entah kenapa selalu muncul dalam setiap detail kecil yang ia lalui.
Rasanya sangat tak adil. Ini sangat menyiksa. Ia tak mau berdosa lantaran terus merindu pada sosok yang telah bertuan, yang bahkan mungkin tak pernah mengingatnya meski hanya sekelabat.
Dadanya kian bergemuruh kala samar-samar memori dari masa lalu berputar bagai film di kepala.
“Di sini aku yang bodoh. Aku yang terlalu berharap, padahal jelas hubungan kita gak ada status yang jelas.”
“Kamu gak jelas. Aku sadar kamu gak seserius itu sama aku.”
“Kamu memperlakukanku seolah kamu mau, tapi di saat yang bersamaan juga kamu bersikap seperti gak pernah menginginkanku, Bumi!”
“Kamu egois.”
Demikian perkataan menyakitkan hampir sekitar hampir empat tahun lalu yang melekat di kepala saat wanita yang tak sengaja ia temui di dunia maya itu akhirnya menyerah dan sampai pada titik jengah pada hubungan mereka yang tak pernah ada kejelasan, dan tak punya arah tujuan walau berhasil mereka jalani beberapa bulan. Ya, orang-orang menyebutnya HTS alias hubungan tanpa status.
Mereka memanglah hanya sebatas dua insan yang tak sengaja bertemu di dunia maya. Yang entah bagaimana awalnya hingga mereka sama-sama memakai rasa. Bahkan bertemu pun belum pernah, hanya sebatas bertatap virtual.
Meski begitu, sungguh Bumi tak pernah main-main pada hubungan tak jelas yang mereka bangun. Singkat, aneh dan sesaat, tapi entah mengapa menyisakan luka yang amat mendalam seperti ini.
Mereka telah lama usai, bahkan tanpa pernah memulai. Tetapi mengapa sakit karena kehilangannya tak kunjung reda.
Bumi akui salahnya yang tak memberi kejelasan, salahnya yang acuh tak acuh. Ia tak pernah mau meyakinkan dan mengusahakan hanya karena hidupnya memang belum jelas sehingga tak berani menjanjikan masa depan.
Ia pun terpaksa melepas dengan niat sambil menjaga dalam diam, tapi sialnya ia dikejutkan dengan sebuah unggahan saat wanita itu tiba-tiba memamerkan foto pernikahan.
Bumi hancur lebur, hatinya porak-poranda. Marah? Kecewa? Oh, jelas. Tapi tak ada yang patut ia salahkan selain diri sendiri, sebab ia sadar pada dasarnya wanita jelas butuh kepastian. Sementara ia hanya seonggok ketidak berdayaan. Bumi tidak pernah menyuguhkan kepastian. Yang ia lakukan kala itu hanya diam dan menarik ulur perasaan. Sungguh ia teramat pecundang! Tiada henti ia mengutuk diri.
Bumi : Kamu beneran nikah?
Bumi : Ini beneran kamu? Aku gak lagi berhalusinasi, kan?
Bumi : Kamu sama dia sejak kapan?
Demikian rentetan pesan yang Bumi kirim setelah melihat unggahan cerita di media sosial wanita itu.
Dan jawaban yang ia dapatkan semakin menghempasnya ke dasar jurang. Habis sudah harapan dan angan yang selama ini ia tautkan
Spesial Strangers : Iya, itu aku. Aku baru nikah seminggu yang lalu.
Kenyataan menampar Bumi, telak. Ini terlalu menyakitkan.
Pada akhirnya dia menyerah...
Kenapa kamu nikah sama orang lain? Kenapa kamu gak mau berusaha ngerti dan tungguin aku sebentar aja?
Kenapa kamu gak berusaha lihat hatiku. Aku menginginkanmu sebesar itu.
Padahal kalau kamu mau nunggu aku akan lebih berusaha.
Dari dulu hingga kini, Bumi masih denial. Masih pada situasi antara percaya dan tak percaya bahwa wanita itu benar-benar telah dipersunting orang lain.
Sebab, setelah melihat foto tersebut kala itu, ia jadi menggila. Bumi yang sebelumnya sempat jarang mengirim pesan kembali intens mengirim pesan hanya untuk mempertanyakan hal yang sudah berulang kali ditegaskan bahwa wanita itu memanh benar-benar sudah menikah, sedang ia masih menolak percaya. Hingga akhirnya membuatnya sampai pada titik buta.
Mereka kembali menjadi asing, benar-benar asing.
Dia memblokir semua akses komunikasi mereka, satu-satunya hal yang membuat mereka terhubung selama ini. Dan kini sudah tiga tahun lebih berlalu, tetapi Bumi masih merindukannya. Bumi ... masih belum lupa.
“Arghh ...!” Bumi mengerang sambil membanting ponselnya setelah mematikan playlist musiknya secara kasar.
Ia memilih berbaring sambil menatap langit-langit kamar sebelum akhirnya menutup wajahnya dengan tangan yang terlipat bersamaan dengan bayang-bayang kenangan yang kembali berputar memberi pertunjukan.
Desember 2021..
Hampir empat tahun yang lalu, kisah mereka bermula dari hal yang sangat sederhana. Hal yang tak terduga terjadi di dalam ruang digital yang riuh nan senyap.
Komentar random dari akun orang asing yang mendapat banyak like dari pengguna sosial media itu membuatnya tertarik.
“Hahahah, kocak.” Bumi yang awalnya terkekeh setelah melihat video yang muncul di fyp sosial medianya lantas semakin ngakak setelah membaca komentar teratas yang mendapat banyak suka dan balasan karena memang related dengan kehidupan, bahkan dipin oleh pemilik akun.
“Si ini udah jadi orang, si ini udah jadi dokter, si ini udah jadi ini. Kamu jadi apa?”
Demikian bunyi keterangan yang disertai ocehan laki-laki tua soal hidup saat sebagian makhluk kerap merasa paling berhasil menaklukkan dunia karena cita-cita orang terdekatnya telah tercapai, sementara ada sebagian yang kehidupannya bahkan tak berjalan mulus sehingga kerap jadi ajang membandingkan kehidupan dengan maksud mengerdilkan oleh segelintir orang yang merasa hidupnya telah di atas awan.
@anndyas_wr : mereka jadi dokter, mereka jadi pramugari, mereka jadi ceo, aku jadi-jadian.
Yang mana komentar dan postingan itu malah Bumi unggah ke Instagram storynya yang otomatis membuat si pemilik akun tahu dan memberikan reaksi berupa emot.
@anndyas_wr : (Emot nangis dengan air mata bercucuran)
@SklBumi: orang-orang kok pinter negelucu ya? Balas seorang Bumi kala itu di dalam ruang obrolan.
@anndyas_wr : Biasanya stres, kak.
@SklBumi : Tapi serius kamu lucu mbak
@anndyas_wr : Tapi itu saya gak lagi ngelucu loh.
@sklBumi : Maksudnya itu beneran lagi ngecurahin isi hati?
Dan entah bagaimana akhirnya mereka malah berujung deeptalk soal betapa beratnya kehidupan dan ketidak jelasan soal masa depan yang tak pernah bisa diterawang.
Bumi bercerita soal hidupnya yang sedang berat–memikirkan soal kuliah dan ketidakpastian masa depan serta banyaknya mimpi yang ingin diwujudkan untuk membanggakan orang tua.
Mereka bertukar cerita. Bumi jadi tahu banyak soal gadis itu dan begitu pun sebaliknya.
Mereka memiliki banyak kesamaan. Mulai dari umur yang tak beda jauh, bahkan mereka sama-sama suka merangkai puisi.
Bukannya berakhir, hubungan mereka malah kian berlanjut. Sering bertukar diksi membuat keduanya semakin tertarik satu sama lain, bahkan hingga berlanjut ke aplikasi chat yang biasanya hanya berisi orang-orang terdekat dan mereka yang punya kepentingan.
Di situlah awal mula kisah klasik mereka terjadi. Bumi ingat, mereka berinteraksi layaknya pasangan sungguhan meski tanpa kejelasan.
Sebenarnya, Bumi ingin sekali mereka terikat tetapi di satu sisi ia sadar tak bisa menjanjikan apa pun. Masa depannya bahkan masih samar-samar. Ia belum mapan untuk menjanjikan kepastian bahkan untuk pertemuan dalam waktu dekat. Namun, nyatanya semua itu malah jadi hal yang membuat mereka berakhir.
..._________...
Aku memang salah ...
Salahku tak mengusahakan
Salahku karena diapit ketidak berdayaan
Tahukah kamu aku terjerat dalam kubangan luka
Kusesali pernah jadi pecundang
Kusesali mengapa aku memilih kalah.
Seharusnya dulu kau lebih kuperjuangkan agar kita bisa menjadi mungkin
Kini ... yang kulakukan hanya meratap dalam pilu
Berteriak pada sunyi
Wahai rindu...
Bisakah kau kembali? Sekali lagi kita bersama melewati hari
Bersama kita mengarungi kisah
Kasih ... Bisakah demikian?
Aku bersumpah, kau akan kuusaahakan...