NovelToon NovelToon
Perempuan Pilihan Mertua

Perempuan Pilihan Mertua

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Seroja 86

Adalah Mia, seorang perempuan yang cintanya dibenturkan pada restu, adat, dan pemikiran yang tak pernah benar-benar memberi ruang baginya.
Ia berdiri di persimpangan antara bertahan demi pernikahan yang ia perjuangkan, atau berbalik arah .
Di tengah perjalanan itu, tekanan tak lagi datang dalam bentuk pertanyaan. Sang mertua menghadirkan pihak ketiga, seolah menjadi jawaban atas ambisi yang selama ini dibungkus atas nama tradisi dan kelanjutan garis keluarga.
Mia dipaksa memilih mempertahankan cinta yang kian terhimpit, atau melepaskan semuanya sebelum ia benar-benar kehilangan dirinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seroja 86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Restu

" Calonmu itu dari mana asalnya?. "tanya Ibunya suatu malam saat keduanya tengah bersantai di ruang keluarga.

" Bandung, " sahut Jogan singkat, matnya kembali fokus pada ponsel di tangannya.

"Asli sana, anak keberapa?, berapa saudaranya?. "

" Ya dia anak terakhir dari tiga bersaudara, memangnya kenapa sih Ma?. "

“Jo, sebaiknya kamu pikir ulang keputusanmu menikah dengan Mia. Banyak perbedaan di antara kalian. Mama berharap kamu mencari calon istri dari etnis kita juga,” ujar ibunya dengan suara tenang, tetapi sarat penekanan.

Johan meletakkan ponselnya di atas meja. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat itu, meski bukan kali pertama ia mendengarnya. Ibunya tetap bersikeras menolak memberikan restu atas pilihannya hanya karena Mia bukan berasal dari etnis yang sama.

 Padahal, di mata Johan, Mia adalah perempuan yang selama ini ia idamkan tidak hanya cantik, tetapi juga cerdas dan tulus.

“Ma, sudah berapa kali kita membahas hal ini? Ini sudah tahun 2025, tetapi Mama masih berpegang pada pandangan seperti itu. Apa Mama yakin jika calonnya dari etnis yang sama aku pasti bahagia? Tidak akan ada perbedaan prinsip?” ujar Johan. Suaranya terdengar tenang, meski jelas menahan emosi.

Ibunya terdiam. Tatapannya beralih ke arah jendela, seolah mencari jawaban yang tidak kunjung ia temukan. Keheningan menyelimuti ruangan itu, menandai jarak yang kian nyata antara keinginan seorang ibu dan pilihan hidup anaknya. Johan menarik napas dalam-dalam ia tahu, setelah percakapan ini, jalan yang ia pilih tidak akan lagi mudah.

“Jo, Mama tahu pemikiran Mama mungkin kolot, tapi semua itu ada dasarnya, bukan hanya soal keyakinan, tapi calonmu..dunia juga sudah tahu stigma apa yang menempel pada perempuan dari sana,” lanjut ibunya, mencoba memberi alasan yang terdengar masuk akal baginya.

Johan menoleh. Matanya sedikit memerah ia tahu betul ke mana arah pembicaraan ibunya. “Ma, stop! Aku muak. Mama belum mengenal Mia! Aku yang tahu siapa dia, aku yang tahu karakternya, bukan Mama atau orang lain. Pokoknya, aku akan tetap menikahi Mia,” tegasnya. Ia bangkit dan meninggalkan ibunya yang duduk termangu.

“Silakan! Jangan sampai kamu menyesal karena kamu menuruti egomu!” seru ibunya dengan nada meninggi. Johan tidak menoleh. Dengan cepat ia menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua. Sesampainya di kamar, ia membanting tubuhnya di kasur.

Pikirannya kacau. Di satu sisi ia tidak ingin membantah ibunya, tetapi di sisi lain ia juga tidak bisa kehilangan Mia. Ia sadar, selain perbedaan keyakinan, Mia berasal dari suku dengan stigma buruk, tetapi selama mereka berhubungan, Mia jauh dari stigma itu. Hal inilah yang membuat Johan mati-matian membela Mia.

Johan membiarkan tubuhnya terbaring di kasur, pikiran kacau. Ponselnya bergetar, notifikasi pesan masuk dari Mia. Dengan jari gemetar, ia membuka chat itu.

“Sayang, gimana? Kalau tetap tidak ada perubahan, mungkin ada benarnya kita pikir ulang tentang keputusan kita untuk menikah,” tulis Mia. Kata-katanya sarat dengan rasa frustrasi Johan tahu ia tidak pernah menutupi penolakan ibunya terhadap Mia, dan kini pesan itu menambah beban hatinya.

Ia menyipitkan mata, menimbang kata-kata agar tidak menyakiti hati Mia. Sesaat ragu, ia akhirnya membalas dengan tegas namun lembut. “Sayang… kita akan tetap menika Aku yakin Mama akan luluh pada waktunya sabar ya.”

Johan menekan tombol kirim. Sebuah napas panjang keluar dari dadanya. Di tengah tekanan dan ketegangan dengan ibunya, tekadnya untuk membela dan mempertahankan Mia tetap kuat ia tak bisa membiarkan orang yang dicintainya tersakiti hanya karena perbedaan tradisi dan keyakinan.

Sementara itu, di tempat yang berbeda, usai membaca pesan dari Johan, Mia merasa sedikit lega. Lelaki itu tetap bersikeras melangsungkan pernikahan meski ditentang oleh ibunya.

“Kumaha, Neng? Apa jawaban si Aa?” tanya ibunya, yang sejak awal sudah mengetahui penolakan dari pihak keluarga calon Besan.

“Aa tetap mau menikah, tapi Neng takut, Mi. gimana atuh, Mi?” sahut Mia dengan wajah sendu, suaranya hampir bergetar.

Ibunya mengelus bahu putrinya sambil menghela napas panjang.

“Ya sudah, atuh Neng, pasrah saja ke Allah kalau dia jodohmu, Neng, pasti ada jalannya kalau bukan, ya ikhlas, semoga Neng dapat yang lebih baik, atuh.”

Mia mengangguk perlahan. Nasehat ibunya terasa bagai oase di tengah kekhawatiran dan ketidakpastian yang menyelimuti hatinya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dan memperkuat tekadnya untuk menghadapi semua rintangan yang mungkin datang.

Pagi itu, Mia berdiri di ruang tamu dengan hati berdebar. Ia mengenakan kebaya hijau sage yang anggun, dipadukan dengan kain batik coklat motif truntum, sementara Johan mengenakan batik senada. Keduanya tampak serasi, namun pandangan Mia terus melirik ke arah ibu Johan. Dari raut wajah sang ibu, jelas terlihat bahwa tidak ada kebahagiaan layaknya orang yang sedang menyambut menantu.

Setelah sesi beramah-tamah yang canggung, ayah Johan melangkah maju.

“Assalamu’alaikum. Puji syukur kita panjatkan kepada Tuhan karena hari ini kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk berkumpul bersama. Perkenankan saya mewakili keluarga Johan menyampaikan maksud kedatangan kami. Tujuan kami datang ke sini bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi untuk meminang Mia sebagai calon istri Johan. Kami datang dengan niat tulus dan penuh hormat.”

Ayah Mia menatap ayah Johan dengan serius, menahan segala perasaan sebelum memberi jawaban.

“Alhamdulillah, kami menyambut niat baik ini dengan tangan terbuka, namun keputusannya kami kembalikan pada Putri kami Mia Arumdhani” ujarnya.

Ia menghela napas panjang, lalu menambahkan, “Mia kami ingin mendengar jawaban kamu, apakah kamu menerima? .” Ibu Mia tersenyum lembut, menepuk bahu putrinya

“Saya menerima pinangan ini.”

Mia menunduk, menggenggam tangan ibu dan ayahnya.

“Alhamdullilah” ucapnya para hadirin, lega. Campuran perasaan itu membuat hatinya sedikit tenang ia tahu dukungan keluarga adalah kekuatan utama untuk menghadapi ujian hari itu. Johan mengangguk mantap di sampingnya, menyadari bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai, dan Mia menarik napas dalam, menyiapkan diri menghadapi semua yang menunggu di depan.

Proses lamaran resmi selesai, dan mereka kini menikmati hidangan yang tersaji di ruang makan. Suasana agak canggung, tetapi Mia berusaha tersenyum dan tetap tenang di sisi Johan. Aroma masakan tradisional mengisi ruangan, namun pikirannya tetap fokus pada reaksi keluarga besar Johan.

Ibu Johan tiba-tiba menyela, nada suaranya datar tetapi tajam,

“Jadi, kapan rencana resepsinya? Dan berapa mahar yang diminta Mia?” Mia menahan napas, sedikit gugup, sementara Johan menatap ibunya dengan serius.

Ayah Mia tersenyum lembut, menepuk tangan putrinya sekali, lalu menimpali dengan tenang, “Sebaik-baik perempuan adalah yang maharnya tidak memberatkan, tapi juga tidak merendahkan martabatnya.”

Kata-kata itu membuat ibu Johan menoleh ke arah Johan sejenak. Ia merasa sedikit tertampar; dugaan awalnya tentang keluarga calon besannya ternyata tidak sepenuhnya benar.

Mia menarik napas perlahan, menggenggam tangan Johan .

Hatinya sedikit lega melihat ayahnya menegaskan sikapnya dengan bijak, dan ia merasakan bahwa kehangatan serta sikap tulus keluarga sendiri bisa menjadi perisai menghadapi ketegangan yang mungkin muncul dari keluarga Johan. Suasana tetap formal, tetapi bagi Mia, itu adalah kemenangan kecil yang memberi rasa percaya diri untuk menghadapi langkah selanjutnya.

1
Siti Amyati
orang tua yg terlalu mencampuri rumah tangga anaknya bisa bikin tidak nyaman pasangan
Pelangi senja: itu karena awalnya emaknya tidak suka samaemantunya jadi di cari cari kesalahannya
total 1 replies
Siti Amyati
kalau sdah ngga bisa di pertahanin mending di tinggal apalagi ibunya terlalu mencampuri yg bukan ranahnya lanjut kak
Pelangi senja: iya tapi mertua model begini ada dalam Dunia nyata
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!