NovelToon NovelToon
Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Pernikahan Weton Sang Pewaris Tunggal

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Beda Dunia / Cinta Seiring Waktu / Kutukan / Romansa / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Realrf

“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.

Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.

Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.

Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi!!

Nama itu menggantung di udara, beracun dan penuh tuduhan, membuat para direktur yang duduk mengelilingi meja mahoni itu membeku. Wajah-wajah terhormat yang terbiasa dengan angka triliunan dan strategi korporat kini menatap CEO mereka dengan campuran ngeri dan bingung. Radya tidak peduli. Ia mendorong kursinya ke belakang dengan kasar, menimbulkan bunyi derit yang membelah keheningan.

“Rapat selesai,” katanya, suaranya serak dan final.

Tanpa menunggu persetujuan atau pertanyaan, ia berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat. Punggungnya yang kaku adalah pernyataan perang terhadap dunia yang tidak bisa ia kendalikan lagi. Para direktur hanya bisa saling pandang, sementara bisikan mulai merayap seperti ular di lantai marmer.

“Ada apa dengan Radya?” “Dia menyebut nama seorang perempuan?” “Sejak Eyang sakit, dia jadi aneh.”

Radya tidak mendengar, atau lebih tepatnya, memilih untuk tidak mendengar. Ia berjalan lurus ke meja sekretarisnya, wanita paruh baya yang sudah mengabdi pada keluarganya selama dua dekade.

“Mita, hubungi Raras Inten. Aku tidak peduli dia ada di mana, suruh dia datang ke kantorku. Sekarang juga,” perintahnya, nadanya dingin dan tidak menerima bantahan.

“Baik, Pak Radya,” jawab Mita, sedikit gemetar melihat kilat liar di mata atasannya.

***

Getaran ponsel di dalam tas kain bututnya terasa seperti sengatan listrik. Raras, yang sedang duduk di bangku reyot di belakang rumah orang tuanya, tersentak kaget. Ia sedang menatap album foto bersampul kulit rusa itu, mencoba menyusun strategi, mencari jalan di tengah labirin pengkhianatan yang begitu gelap. Panggilan dari nomor tak dikenal membuatnya ragu. Namun, instingnya menyuruhnya mengangkat.

“Halo?”

“Selamat siang, apa benar ini dengan Ibu Raras Inten?” Suara perempuan yang profesional dan sedikit tegang.

“Iya, benar. Dengan siapa saya bicara?”

“Saya Mita, sekretaris Bapak Radya Maheswara. Bapak meminta Anda untuk segera datang ke kantor pusat Cokrodinoto Group. Ada hal yang sangat mendesak.”

Jantung Raras berhenti berdetak sejenak. Radya memanggilnya. Setelah kejadian di ruang rapat itu? Setelah ia menyebut namanya penuh kebencian? Ini jebakan. Pasti. Bayu sudah meracuni pikiran Radya sepenuhnya.

“Untuk apa, ya, Bu?” tanya Raras, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.

“Mohon maaf, saya tidak diberi tahu detailnya. Bapak hanya berpesan ini sangat penting dan harus sekarang juga.”

Raras menutup matanya sejenak. Lari dan bersembunyi adalah pilihan paling aman. Tapi itu berarti membiarkan Radya tenggelam lebih dalam di lumpur hisap yang diciptakan Bayu dan Ayunda. Ia menatap album di pangkuannya. Ini adalah senjatanya. Mungkin ini satu-satunya kesempatan untuk menggunakannya.

“Baik, Bu. Saya akan segera ke sana.”

***

Lantai tiga puluh lima terasa lebih dingin dari biasanya. Para karyawan di area eksekutif bergerak lebih pelan, berbisik lebih lirih, seolah takut membangunkan monster yang sedang tertidur di ruangannya. Saat Raras melangkah keluar dari lift, mengenakan kemeja sederhana dan celana kain, pakaian terbaik yang ia punya, semua mata tertuju padanya. Ia mengabaikannya, berjalan lurus ke meja Mita dengan dagu terangkat.

“Saya Raras Inten.”

Mita menatapnya dengan pandangan campur kasihan dan penasaran, lalu menekan interkom.

“Pak, Ibu Raras sudah tiba.”

“Suruh dia masuk,” jawab suara Radya dari speaker, datar dan tanpa emosi.

Pintu kayu jati yang menjulang tinggi itu terasa seperti gerbang penghakiman. Raras menarik napas dalam-dalam, memeluk tas kainnya yang berisi album foto itu lebih erat, lalu mendorong pintu itu hingga terbuka.

Radya tidak sedang duduk di kursi kebesarannya. Ia berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela kaca raksasa yang menyuguhkan pemandangan kota dari ketinggian. Posturnya tegang, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.

“Tutup pintunya,” perintahnya tanpa menoleh.

Raras menurut, bunyi klik pelan dari pintu yang tertutup terdengar begitu keras di ruangan yang sunyi senyap itu.

“Duduk,” kata Radya lagi, masih belum berbalik.

Raras memilih untuk tetap berdiri.

“Ada apa, Mas? Kenapa tiba-tiba memanggil saya ke sini?”

Akhirnya, Radya berbalik. Wajahnya adalah topeng kelelahan dan amarah yang membara. Lingkaran hitam di bawah matanya terlihat kontras dengan kulitnya yang pucat. Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini merah dan liar.

“Aku ingin bertanya sesuatu padamu, Raras,” ucapnya pelan, setiap kata terasa berat.

“Dan aku mau kamu jawab jujur.”

“Saya akan selalu menjawab jujur.”

Radya tertawa, tawa serak tanpa humor yang membuat bulu kuduk Raras berdiri. Ia berjalan ke mejanya, mengambil sebuah map biru tipis, lalu melemparkannya ke atas meja kopi di depan sofa. Beberapa lembar kertas berhamburan keluar.

“Apa ini perbuatanmu?”

Raras melangkah mendekat, matanya memindai kertas-kertas itu. Laporan revisi, proposal tender, dan beberapa email yang dicetak. Ia tidak mengenali satu pun dari dokumen-dokumen itu.

“Saya tidak mengerti maksudmu, Mas.”

“Jangan pura-pura bodoh!” bentak Radya, suaranya menggema di ruangan kedap suara itu. Ia menunjuk setumpuk kertas itu dengan jari gemetar.

“Ini adalah draf final untuk proyek Delta Energi. Proyek yang bisa menyelamatkan kerugian kita kuartal ini. Seharusnya dokumen ini aman di dalam sistem. Tapi tadi pagi, versi yang salah yang terkirim ke klien. Versi yang penuh dengan data keliru, angka-angka yang dilebih-lebihkan. Versi yang membuat kita terlihat seperti penipu amatiran!”

“Lalu… apa hubungannya dengan saya?” tanya Raras, hatinya mulai mencelos. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

“Hubungannya?” Radya mendekat, tatapannya menusuk.

“Satu-satunya orang yang punya akses ke ruang arsip digital selain aku dan Bayu adalah level manajer. Tapi anehnya, log aktivitas menunjukkan ada akses ilegal tadi malam. Dari terminal komputer yang biasa dipakai para OB. Komputer yang sering kamu pakai saat menyamar jadi ‘Rara’!”

Tuduhan itu begitu telanjang, begitu kejam. Bayu. Ini pasti perbuatan Bayu. Dia yang menyabotase data, lalu dengan cerdik menimpakan jejak digitalnya ke terminal yang biasa Raras gunakan.

“Itu tidak mungkin,” desis Raras.

“Mas, kamu harus percaya padaku. Ini semua ulah Bayu! Dia yang menjebakku!”

“Bayu?” Radya kembali tertawa, lebih keras kali ini.

“Bayu yang sudah mengabdi pada keluarga kita bahkan sebelum aku lahir? Bayu yang menemaniku membangun semua ini dari nol? Kamu mau aku lebih percaya pada seorang penjual jamu yang kunikahi karena paksaan, daripada ajudan kepercayaanku sendiri?”

“Aku punya buktinya!” Raras membuka tasnya dengan tergesa-gesa, mengeluarkan album foto tua itu.

“Lihat ini, Mas! Ini kakeknya Bayu! Namanya Danu Adinegoro! Dia diusir oleh Eyangmu karena dituduh mencuri pusaka. Dendam ini sudah turun-temurun! Dia ingin menghancurkanmu!”

Raras menyodorkan album yang terbuka itu ke hadapan Radya.

Radya melirik foto hitam putih itu sekilas, wajahnya tidak menunjukkan minat sedikit pun. Matanya hanya memancarkan kekecewaan yang begitu dalam.

“Jadi ini senjatamu sekarang?” bisiknya, suaranya bergetar karena amarah yang ditahan.

“Dongeng masa lalu? Cerita klenik tentang pusaka dan dendam? Aku muak, Raras! Aku muak dengan semua omong kosong spiritualmu!”

Dengan satu gerakan cepat, ia menyambar album itu dari tangan Raras dan membantingnya ke lantai. Halaman-halaman tua yang rapuh terlepas, foto-foto kenangan keluarga Cokrodinoto berserakan di atas karpet mahal.

“Mas!” pekik Raras, hatinya terasa seperti ikut tercabik-cabik.

“Dengar,” geram Radya, mencengkeram kedua bahu Raras, memaksa perempuan itu menatapnya.

“Aku sudah mencoba. Demi Eyang, aku sudah mencoba untuk percaya pada semua ini. Weton, takdir, penyeimbang. Tapi lihat hasilnya! Sejak kamu masuk ke dalam hidupku, semuanya hancur! Eyang koma, perusahaanku di ambang kehancuran, dan aku… aku hampir gila!”

Air mata akhirnya mengalir di pipi Raras, bukan karena takut, tapi karena sakit hati melihat pria di hadapannya telah begitu tersesat.

“Kamu tidak gila, Mas. Kamu sedang diracuni. Oleh Ayunda, oleh Bayu…”

“CUKUP!” raung Radya, melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga Raras terhuyung mundur.

“Jangan sebut nama Ayunda dengan mulut kotormu! Satu-satunya racun di sini adalah kamu!”

Ia berjalan mondar-mandir seperti singa di dalam kandang, napasnya memburu. Logikanya telah hancur lebur, digantikan oleh paranoia dan kebencian yang ditanamkan secara sistematis ke dalam jiwanya. Ia berhenti dan menatap Raras dengan tatapan dingin yang belum pernah Raras lihat sebelumnya. Tatapan orang asing.

“Aku mau kamu pergi,” ucapnya, suaranya kini tenang mengerikan.

“Pergi ke mana?” lirih Raras.

“Aku tidak peduli. Pergi dari kantor ini. Kemasi barang-barangmu. Dan pergi dari rumah Cokrodinoto malam ini juga. Menjauh dari Cokrodinoto.”

Dunia Raras seakan runtuh. Diusir. Ia diusir dari satu-satunya tempat yang bisa ia sebut rumah, oleh pria yang seharusnya ia lindungi.

“Kamu tidak bisa melakukan ini, Mas. Eyang…”

“Eyang sedang tidak bisa membuat keputusan! Sekarang aku yang berkuasa di rumah itu, dan aku tidak mau melihat wajahmu lagi di sana! Kamu dengar aku?”

Raras menatap lurus ke dalam mata Radya, mencari sisa-sisa pria logis yang pernah ia kenal, tetapi tidak menemukan apa-apa. Hanya ada jurang gelap yang dipenuhi bayangan. Ia tahu, berdebat lebih jauh tidak ada gunanya. Ia sudah kalah di pertempuran ini. Tapi perang belum usai.

Dengan gerakan yang dipenuhi martabat yang tersisa, Raras berlutut dan mulai memunguti lembaran album yang berserakan. Ia mengumpulkannya satu per satu, merapikannya dengan tangan gemetar, seolah sedang mengumpulkan kepingan hatinya yang hancur.

Setelah semuanya terkumpul, ia bangkit berdiri. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya menatap Radya untuk terakhir kalinya, sebuah tatapan yang menyimpan sejuta kata yang tak terucap. Lalu, ia berbalik dan berjalan menuju pintu.

Saat tangannya menyentuh gagang pintu, suara Radya menghentikannya.

“Raras.”

Raras berhenti, tapi tidak menoleh.

“Perjanjian kita… kontrak itu… anggap saja batal. Aku akan urus sisanya,” kata Radya dingin.

“Ambil uangnya. Anggap itu pesangon untuk semua masalah yang sudah kamu timbulkan.”

Itu adalah penghinaan terakhir. Pukulan pamungkas yang menghancurkan sisa harapan Raras.

Raras tidak menjawab, ia membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menjawab. Ia berjalan melewati Mita yang menatapnya dengan iba, melewati tatapan ingin tahu para karyawan, menuju lift. Sepanjang perjalanan itu, ia tidak meneteskan air mata lagi. Kekosongan di dalam dirinya telah berubah menjadi baja.

Raras akan pergi. Tapi ia bersumpah pada dirinya sendiri, ia akan kembali. Bukan sebagai istri kontrak yang terhina, bukan sebagai penjual jamu yang diremehkan. Ia akan kembali dengan membawa kebenaran, dan ia akan menarik Radya keluar dari kegelapan itu, entah pria itu menginginkannya atau tidak.

Pintu lift terbuka di lobi utama yang ramai. Raras melangkah keluar, memeluk erat tas berisi album foto itu seolah itu adalah satu-satunya harta yang ia miliki di dunia. Ia mendorong pintu kaca yang berat dan melangkah keluar ke trotoar yang bising. Udara Jakarta yang panas dan penuh polusi menerpa wajahnya. Ia sendirian. Benar-benar sendirian.

Tepat saat ia hendak melangkah menyeberang jalan, sebuah sedan hitam legam tanpa plat nomor berhenti mendadak di depannya, begitu dekat hingga ujung sepatunya hampir menyentuh bemper. Jantungnya melonjak ke tenggorokan.

Sebelum ia sempat bereaksi, pintu belakang mobil itu terbuka. Seorang pria berbadan tegap dengan setelan rapi dan wajah tanpa ekspresi menatap lurus ke arahnya.

“Nyonya Raras Inten?” suara pria itu rendah dan berwibawa.

“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda. Mohon ikut kami, sekarang.”

1
juwita
si Raras trs yg kena fitnah
juwita
knpa yg ketahuan si Raras trs pdhl penjahatnya si bayu sm ayu
Vay
♥️♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
💙💙💙💙
Vay
♥️♥️♥️♥️
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
💜💜💜💜
Vay
💙💙💙💙
Vay
💜💜💜💜
juwita
iih ko bayu tau sih
juwita
pdhal g ush di tolong Raras biar bangkrut sekalian perusahaan. klo udh kere ap si ayunda mau sm dia
juwita
waah ternyata bayu org jahat. radya sm. eyangnya miara ular
juwita
semoga g berhasil ada yg lindungi raras
juwita
jahat si bayu mgkn musuh dlm selimut dia
Vay
💜💜💜💜
Vay
❤️❤️❤️❤️
Vay
♥️♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!