Kerajaan Zorvath, sebuah negeri yang megah dan agung, dipimpin oleh Raja Reynold Arcturus Zorvath dan Ratu Aurelia Elyse Zorvath. Mereka telah mengikat janji suci selama 20 tahun, namun takdir masih belum memperkenankan mereka untuk memiliki penerus. Empat musim berganti, dari panasnya matahari hingga dinginnya salju, namun harapan akan kehadiran pewaris tahta masih belum terwujud.
Zorvath, sebuah kerajaan yang dikelilingi oleh pegunungan yang menjulang tinggi, menjadi saksi bisu atas perjuangan pasangan kerajaan ini. Desakan dari berbagai pihak semakin kuat, menguji kesabaran dan cinta mereka. Namun, Raja Reynold dan Ratu Aurelia tetap teguh, memegang erat janji mereka untuk menjaga kerajaan dan cinta mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chas_chos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
“Dasar kaum rendahan tidak tahu tata krama. Mulutmu terlalu kotor untuk menyebut namaku. Walaupun kalian pakai pakaian mewah, pintar, dan kaya, darah kalian tidak akan menipu. Kalian tetap rendahan—anak babu yang hanya pantas melayani kami, kaum bangsawan,” ujar Melisa kasar sambil menunjuk jari tengahnya ke wajah Valencia.
Plak!
__________
Tidak tahan mendengar perkataan Melisa, tangan Elara melayang menampar pipinya dengan cukup keras sampai bibirnya robek.
"Dengar ya kaum bangsawan yang paling agung, walaupun kami dari kaum rendahan tetapi tingkah kami tidak busuk seperti kalian." Ujar Elara dingin.
"Walaupun kami rendahan, kami tidak bersenang-senang di atas penderitaan orang lain."
"Cih . . . kalian itu hanya monster yang berbalut pakaian mewah." lanjut Elara.
"Kamu," tunjuk Melisa ke Elara dengan marah.
"Akan tau akibatnya karena telah berani berkata seperti itu."
"Aku tidak takut," balas Elara menekan setiap perkataannya.
Mendapatkan respon seperti itu, Melisa langsung pergi dari sana dengan perasaan marah karena secara tidak langsung, telah menghina kaum bangsawan.
Setelah Melisa tidak terlihat lagi, bisik-bisik dari para pengunjung tadi mulai terdengar di telinga Elara dan Valencia.
"Mereka benar-benar tidak punya otak, berani menyinggung keluarga Lord Torvan"
"Kejadian ini pasti akan di bawa sampai ke istana"
"Kayaknya mereka bukan dari sini, lihat fisik mereka berbeda dari kita"
"Mereka salah menyinggung yang seharusnya tidak mereka singgung"
Mendengar perkataan itu, Elara dan Valencia segera membayar belanjaan mereka dan langsung pergi dari mall itu.
__________
Kini mereka berdua duduk berdampingan di kursi taman. Angin yang berhembus sejuk tidak dapat mendinginkan atmosfer tegang di antara mereka berdua.
" Kamu gila ya El, kalau kita ada masalah gimana. Ini bukan Averdom El. Tapi Zorvath, ingat di kepala kecil mu itu, kita di Zorvath," ujar Valencia sedikit emosi.
"Kalau masalah ini dibawa ke istana bagaimana, terus kamu di penjara bagaimana," lanjutnya dengan geram.
"Terus. . . Apa kita harus diam ketika dia menghina kita," ujar Elara sinis.
"Ingat El, kita itu rakyat jelata bukan bangsawan," balas Valencia dengan nada tinggi karena ia takut akibatnya nanti untuk Elara.
" Siapa yang menolong kita . . . Yang ada kita mati di tangan mereka," lanjut Valencia.
Elara hanya memalingkan mukanya mendengar perkataan Valencia.
" Lain kali , jaga sikap dan ucapan mu El. Kita berangkat bersama, pulang pun harus bersama" lanjut Valencia lalu ia meninggalkan Elara sendirian.
Elara menghela napas berat melihat kepergian Valencia. Tangannya mengepal erat, sorot matanya sepintas berubah agak dingin.
__________
Desa Fuhan
Sementara itu di Desa Fuhan, kondisinya sekarang agak genting karena kesehatan para pengungsi banyak yang menurun. Berbagai penyakit silih berganti, dari mulai diare, demam, flu dan sekarang di salah satu pos pengungsian ada yang ingin melahirkan. Membuat suasana menjadi tegang karena di antara mereka tidak ada yang berprofesi sebagai bidan.
"Ini bagaimana yang mulia," tanya Liam dengan bingung.
Raja Reynold memijat keningnya yang terasa pusing memikirkan kejadian ini.
"Yang biasa membantu mereka melahirkan kemana?," tanya Raja Reynold.
"Sudah meninggal yang mulia karena bencana kemarin," jawab Liam.
"Orang sebanyak ini, apa tidak ada yang berani membantunya." dumel Raja Reynold.
Liam hanya bisa menggeleng dengan kepala menunduk.
"Liam, Kamu kan sedikit tahu tentang medis. Lebih baik kamu bantu saja," ujar Ratu Aurelia yang sedari tadi duduk dan bersandar di bahu Raja Reynold.
"Tapi yang mulia, hamba ini perjaka yang belum pernah melihat seperti itu. Dan cuma mengerti medis dasar." jawab Liam lemah.
Ratu Aurelia menghela napas berat, ikut pusing dengan kejadian ini.
"Aku saja kalau begitu." kata Ratu Aurelia tiba-tiba.
"Sayang," protes Raja Reynold.
Ratu Aurelia menyentuh tangan Raja Reynold dengan lembut serta tersenyum manis.
"Aku janji akan baik-baik saja sayang," ujar Ratu Aurelia.
Raja Reynold menatap wajah Ratu Aurelia dalam, sebenarnya ia tidak setuju karena takut traumanya akan kambuh lagi saat melihat orang melahirkan atau bayi yang baru lahir.
"Kalau sudah tidak enak badan, segera keluar," ujar Raja Reynold sambil mengelus pipi Ratu Aurelia.
Ratu Aurelia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Ratu Aurelia masuk ke salah satu tenda pengungsian. Bau anyir darah bercampur keringat langsung menusuk indra penciumannya. Di atas alas kain seadanya, seorang wanita terbaring dengan wajah pucat, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit.
Beberapa ibu-ibu mengelilingi wanita itu, wajah mereka panik tetapi tidak ada yang berani menolongnya.
"Permisi," ujar Ratu Aurelia pelan.
Beberapa pasang mata langsung menoleh saat mendengar suara Ratu Aurelia.
"Salam Yang Mulia, semoga Zorvath selalu diberkati dewa," ujar ibu-ibu yang berada disana. Mereka menyingkir untuk memberikan jalan ke Ratu Aurelia.
Wanita itu menoleh dengan mata berkaca-kaca."Yang... Yang Mulia Ratu,"
Ratu Aurelia berjalan mendekat, ia duduk di sebelah wanita itu sembari memegang tangannya dengan lembut.
"Ijinkan aku membantumu ya, mungkin keahlianku tidak seberapa. Tetapi semoga bisa sedikit meringankanmu dan bayimu," ujar Ratu Aurelia.
"Sebuah kehormatan untuk saya, bisa di tolong Ratu negeri ini," ujar wanita itu dengan air mata yang menetes dan mata yang berkaca-kaca.
"Yang Mulia," ujar seorang di balik ibu-ibu itu yang terlihat malu-malu.
Ratu Aurelia menolehkan kepalanya mendengar suara yang sepertinya tidak asing.
"Oh, Mila," ujar Ratu Aurelia.
"Bolehkah saya dan Lula ikut membantu Yang Mulia. Di desa kami biasa membantu nenek menolong orang melahirkan," ujar Mila.
"Ya, baiklah. Mohon bantuannya ya," ujar Ratu Aurelia tersenyum kearah mereka.
Lula dan Mila pun mengangguk dengan semangat. Mereka segera mendekati Ratu Aurelia dan wanita itu.
Ratu Aurelia menyingsingkan lengan bajunya. Tangannya sedikit bergetar saat menyentuh perut wanita itu, kepalanya sedikit sakit serta kenangan lama menyusup di benaknya.
Selamat, Yang Mulia. Semua telah lahir dengan selamat. Tiga pangeran yang tampan… dan satu putri kecil yang begitu mirip dengan neneknya
Ratu Aurelia terdiam sebentar, tangannya mengepal dengan erat.
_
_
_
_
_
01 Februari 2026
_
_
_
Happy Reading, maaf kalau masih banyak typo
Dan terima kasih yang sudah mau mampir sampai bab ini 🙏
_
_
_
🥰🥰🥰