Langit Sterling, remaja Jakarta yang bermasalah akibat balap liar, dikirim ke Pondok Pesantren Mambaul Ulum Yogyakarta untuk dibina. Usaha kaburnya justru berujung petaka ketika ia tertangkap di asrama putri bersama Senja Ardhani, putri Kyai Danardi, hingga dipaksa menikah demi menjaga kehormatan pesantren.
Pernikahan itu harus dirahasiakan karena mereka masih bersekolah di SMA yang sama. Di sekolah, Langit dan Senja berpura-pura menjadi musuh, sementara di pesantren Langit berjuang hidup sebagai santri di bawah pengawasan mertuanya, sambil menjaga rapat identitasnya sebagai suami rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu tanpa sinyal
Sore harinya, udara di lingkungan pesantren terasa sangat sejuk setelah sisa-sisa hujan pagi tadi menguap.
Senja merasa badannya sudah jauh lebih segar. Atas desakan Langit yang bosan di dalam kamar, mereka akhirnya keluar menuju teras belakang ndalem yang menghadap langsung ke hamparan sawah hijau.
Langit membawa motor matic-nya ke halaman belakang yang cukup luas dan rata. Ia turun dari motor dan menatap Senja dengan senyum menantang.
"Senja, sini. Saya mau kasih kamu sesuatu yang lebih berguna daripada sekadar duduk manis di belakang," panggil Langit sambil menepuk-nepuk jok motornya.
Senja mendekat dengan ragu. "Apa? Kamu mau pamer motor lagi?"
"Nggak. Saya mau ajarin kamu cara bawa motor ini," jawab Langit mantap.
Mata Senja membelalak. "Hah? Nggak mau! Aku takut, Langit. Nanti kalau nabrak pohon gimana? Terus kalau aku jatuh dan luka, nanti Abah marah sama kamu."
Langit terkekeh, ia menarik tangan Senja agar mendekat ke kemudi.
"Tenang, ada saya di belakang. Saya nggak akan biarin kamu jatuh. Ini penting, Senja. Kalau suatu saat saya nggak ada di dekat kamu atau ada keadaan darurat, kamu harus bisa bawa motor sendiri."
Dengan penuh paksaan halus, Langit mendudukkan Senja di posisi pengemudi. Ia sendiri duduk di jok belakang, namun badannya condong ke depan sehingga tangannya bisa ikut memegang stang motor bersama tangan Senja. Posisi ini membuat punggung Senja menempel erat pada dada Langit.
"Nah, ini gas, ini rem. Tarik pelan-pelan aja," bisik Langit tepat di samping telinga Senja.
Senja menarik gas dengan gemetar. Motor itu melonjak sedikit, membuat Senja menjerit kecil dan spontan meremas tangan Langit. "Tuh kan! Aku bilang juga apa!"
"Pelan-pelan, Sayang... eh, Senja. Fokus," Langit mengoreksi ucapannya dengan cepat, meski wajahnya mendadak sedikit memerah.
"Ikutin tangan saya. Tenang, saya pegangin."
Perlahan, motor itu mulai bergerak stabil memutar di halaman belakang.
Senja yang awalnya tegang mulai bisa menikmati hembusan angin sore di wajahnya. Ia mulai berani menarik gas sendiri, meskipun tangan Langit masih siaga di atas tangannya.
"Eh, aku bisa! Langit, lihat! Aku bisa!" seru Senja senang, wajahnya yang tadinya pucat kini berseri-seri penuh kegembiraan.
Langit memperhatikan wajah Senja dari samping. Melihat tawa lepas istrinya, ia merasa semua rasa lelah dan kantuknya hilang seketika.
"Iya, pinter. Tapi jangan sombong dulu, ini baru di lapangan," goda Langit.
Tiba-tiba, Senja mengerem mendadak karena ada seekor ayam yang melintas. Tubuh Langit terdorong ke depan, membuat mereka kembali berdekapan erat.
Langit refleks memeluk pinggang Senja agar mereka tidak oleng.
Mereka terdiam sejenak dalam posisi itu, menatap matahari yang mulai tenggelam di ufuk barat—menciptakan semburat warna oranye yang cantik, persis seperti nama Senja.
"Langit," panggil Senja pelan, masih dalam dekapan suaminya.
"Hm?"
"Terima kasih sudah sabar ajarin aku. Dan... terima kasih sudah kembali pulang tadi siang."
Langit tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyandarkan dagunya di bahu Senja, menikmati momen matahari terbenam itu bersama-sama. "Sama-sama, Senja-ku."
Malam harinya, suasana kamar terasa tenang, hanya terdengar suara gesekan pena dan lembaran buku yang dibalik.
Mereka berdua duduk lesehan di karpet dengan meja belajar kecil di hadapan masing-masing.
Besok ada ujian simulasi, dan Senja sedang fokus luar biasa menghafal materi, sementara Langit... sudah mulai kehilangan minat pada buku sejarah di depannya.
Langit menopang dagu dengan tangan kiri, matanya bukannya melihat buku, malah terus-menerus melirik ke arah Senja yang sedang mengerutkan kening serius.
"Senja," panggil Langit pelan.
"Hm?" jawab Senja tanpa menoleh, masih asyik dengan stabilo kuningnya.
"Kamu tahu nggak, kenapa buku sejarah ini membosankan banget?"
Senja menghela napas. "Karena kamu nggak baca, Langit. Fokus, bentar lagi selesai kok."
"Bukan. Karena sejarah yang ada di buku ini semuanya tentang masa lalu," Langit menjeda kalimatnya, menunggu Senja menoleh.
Begitu Senja melirik bingung, Langit melanjutkan dengan senyum miringnya, "Padahal yang lebih menarik itu masa depan. Apalagi kalau masa depannya sama kamu."
Senja tertegun, lalu memutar bola matanya. "Gombal. Nggak mempan, Langit. Ayo belajar lagi."
Langit tidak menyerah. Ia menggeser duduknya lebih dekat, hingga lutut mereka bersentuhan. Ia mengambil pulpen Senja, membuat Senja terpaksa berhenti menulis.
"Tahu nggak? Ternyata bener kata orang, belajar itu bikin pusing. Tapi anehnya, lihat wajah kamu malah bikin pusingnya hilang. Kok bisa ya? Kamu pakai jampi-jampi apa?"
"Langit! Berhenti nggak?" Senja mencoba merebut pulpennya, tapi Langit malah mengangkat tangan tinggi-tinggi.
"Aku serius mau belajar, besok kalau nilai aku jelek gimana?"
"Nggak mungkin jelek. Orang paling pintar di kelas ini kan istri saya," goda Langit lagi. Ia menatap Senja dalam-dalam, kali ini tatapannya berubah menjadi lembut dan memuja.
"Serius, Senja. Kamu kalau lagi serius belajar begini, cantiknya nambah sepuluh kali lipat. Kenapa sih harus secantik ini? Kan saya jadi susah konsentrasi ke buku."
Pipi Senja mulai memanas. Ia mencoba kembali menatap bukunya, tapi jantungnya mulai berdebar tak karuan gara-gara pujian jujur dari suaminya itu.
"Kamu tuh... kalau nggak bikin kesel, pasti bikin jantungan ya?"
Langit tertawa renyah, ia meletakkan pulpen itu kembali ke meja, lalu perlahan tangannya bergerak merapikan anak rambut Senja yang menghalangi matanya.
"Ya udah, lanjut belajarnya. Saya nggak ganggu lagi. Tapi... boleh ya saya lihatin terus? Biar semangat belajarnya."
Senja hanya bisa menunduk dalam, mencoba menyembunyikan senyumnya di balik buku.
Meskipun Langit sangat jahil, Senja tidak bisa memungkiri bahwa gangguan-gangguan kecil itu justru membuat malam yang dingin di pesantren terasa sangat hangat dan manis.
Satu bulan telah berlalu sejak pernikahan mereka yang penuh kejutan. Selama sebulan itu, mereka terbiasa bangun di ruangan yang sama, berbagi cerita sebelum tidur, dan saling menjaga saat salah satunya sakit.
Namun, aturan pesantren tetaplah aturan. Sebagai santri yang masih menempuh jenjang pendidikan formal dan diniyah, Langit dan Senja kini harus kembali ke asrama masing-masing: Langit di asrama putra dan Senja di asrama putri.
Malam pertama di asrama putra terasa sangat sunyi bagi Langit.
Suara bising santri lain yang mengaji atau bercanda tidak sanggup mengalihkan pikirannya. Ia berbaring di kasur tipisnya, menatap langit-langit kamar dengan gelisah.
Ia terus berguling ke kanan dan ke kiri, mencoba mencari posisi nyaman yang tak kunjung ia temukan.
Rayyan, yang sedang asyik membaca kitab di kasur sebelah, memperhatikan tingkah sahabatnya itu dengan senyum tertahan.
"Kenapa, Lang? Kasurnya ada pakunya?" sindir Rayyan sambil menutup kitabnya.
Langit menghela napas panjang, lalu duduk tegak dengan wajah frustrasi. "Nggak tahu, Yan. Rasanya aneh banget. Kamar ini berisik, tapi kok kerasa sepi banget ya?"
Rayyan tertawa kecil, ia sudah tahu arah pembicaraan ini.
"Baru juga pisah beberapa jam sejak Isya tadi, udah gelisah begitu. Jangan bilang lo kangen Senja?"
Langit tidak mengelak. Ia justru menjatuhkan kembali tubuhnya ke kasur dan menutupi matanya dengan lengan.
"Iya. Gue kangen istri gue. Biasanya ada yang ngomel kalau gue tidur nggak bener, atau minimal ada aroma parfum melatinya dia. Sekarang? Yang ada cuma bau minyak angin lo sama bau kaos kaki Bilal."
Rayyan terbahak mendengar pengakuan jujur itu. "Hahaha! Mana Langit yang dulu? Mana cowok yang dulu pas dibilang mau dijodohin langsung mau kabur ke Jakarta? Dulu sok-sokan nolak, bilang nggak mau dikekang, eh sekarang baru pisah gedung aja udah mau mati gaya. Bucin lo parah!"
Langit menurunkan lengannya, menatap Rayyan dengan ekspresi santai namun penuh keyakinan. Tidak ada lagi gurat gengsi di wajahnya.
"Ya namanya juga cinta, Yan," jawab Langit pendek. "Dulu gue bego karena belum tahu rasanya punya Senja. Sekarang setelah tahu... rasanya sedetik tanpa dia itu kayak nunggu bedug Maghrib pas lagi haus-hausnya. Lama banget."
Rayyan menggeleng-gelengkan kepala. "Ampun deh, bener-bener ya kekuatan cinta putri Kyai. Ya udah, sabar. Besok kan bisa ketemu lagi pas jam sekolah."
Langit kembali menatap langit-langit asrama dengan perasaan hampa.
Tangannya refleks meraba saku celana, namun ia segera tersadar bahwa ponselnya sudah dititipkan kepada Abah di ndalem sesuai aturan pesantren.
Tidak ada pesan singkat, tidak ada panggilan suara. Ruangan itu terasa makin asing.
Rayyan menggeleng-gelengkan kepala melihat sahabatnya yang biasanya garang kini tampak seperti pungguk merindukan bulan.
"Sudah, Lang. Tidur. Nanti kalau telat bangun Subuh terus dihukum lari keliling lapangan sama pengurus, malah makin nggak bisa ketemu Senja."
Langit menghela napas berat, lalu ia teringat sesuatu. Ia bangkit, mengambil selembar kertas kecil dan sebuah pulpen dari dalam tasnya.
"Mau ngapain lo?" tanya Rayyan heran.
"Titip ya, Yan. Besok pagi pas jadwal piket kebersihan area asrama putri, tolong selipin ini di bawah pintu kelas Senja," bisik Langit sambil menulis dengan cepat.
Rayyan mendekat, mencoba mengintip. "Busyet, zaman begini masih pakai surat-suratan? Benar-benar kembali ke zaman batu lo, Lang."
"Biarin. Di sini nggak ada sinyal, cuma ada rindu yang butuh tempat berlabuh," jawab Langit santai sambil melipat kertas itu menjadi bentuk pesawat kecil.
Rayyan terbahak, "Hahaha! Mana Langit yang dulu? Mana cowok yang dulu pas dibilang mau dijodohin langsung mau kabur ke Jakarta? Dulu sok-sokan nolak, bilang nggak mau dinikahin, eh sekarang baru pisah gedung aja udah mau mati gaya. Bucin lo parah!"
Langit menyandarkan punggungnya ke tembok, menatap lipatan kertas di tangannya dengan tatapan lembut. Tidak ada lagi gurat gengsi di wajahnya.
"Ya namanya juga cinta, Yan," jawab Langit pendek. "Dulu gue bego karena belum tahu rasanya punya Senja. Sekarang setelah tahu... rasanya sedetik tanpa dia itu kayak nunggu bedug Maghrib pas lagi haus-hausnya. Lama banget."
Malam itu, di bawah temaram lampu asrama, Langit akhirnya bisa sedikit tenang setelah menuliskan kerinduannya di atas kertas.
Sementara di asrama putri, Senja ternyata juga sedang duduk di tepi ranjangnya, menatap jendela yang mengarah ke asrama putra, sambil mendekap bantal yang diam-diam aromanya masih tertinggal wangi parfum suaminya.
Pagi itu, suasana jalanan menuju madrasah tampak berbeda. Tidak ada lagi suara deru mesin motor matic merah milik Langit. Sesuai aturan untuk santri yang mukim di asrama, Langit harus bergabung dengan rombongan santri lain, mengayuh sepeda jengki tua miliknya.