NovelToon NovelToon
The Mad Queen'S Secret

The Mad Queen'S Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Tamat
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.

Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.

Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Labirin di Balik Rak Buku

Setelah debu di jalanan dibersihkan oleh anak buah Michael, Shaneen kembali ke apartemennya dengan perasaan lega. Dia pikir dia berhasil melakukan segalanya tanpa diketahui siapapun. Dia baru saja keluar dari kamar mandi dan tampak segar.

Pukul 06.00 pagi, saat Shaneen merasa baru saja terlelap dalam tidurnya tiba-tiba bel pintu apartemennya ditekan secara brutal—berkali-kali seperti orang yang tidak sabaran. Dan siapa lagi kalau bukan Michael Miguel yang berdiri di sana dengan wajah tanpa dosa, membawa satu koper kecil?

"Apa yang kau lakukan di sini, Michael? Ini masih pagi sekali" tanya Shaneen, kembali ke mode "gadis lelah".

Michael melangkah masuk tanpa diundang, matanya menyapu ruangan apartemen Shaneen dengan tatapan pemilik yang sah. "Mension ku sedang dalam perbaikan keamanan. Sebagai tunanganmu yang baru saja diresmikan, bukankah wajar jika aku menginap di tempat calon istriku?"

Shaneen memutar bola matanya. "Wajar? Kan ada rumah ayah dan ibumu Michael!"

"Tapi aku maunya disini, Shaneen!"

Shaneen membuang napas berat, rasa kantuknya lebih besar daripada harus berdebat dulu, "Ada sofa di sana. Pakailah."

"Sofa?" Michael tertawa rendah, ia mendekati Shaneen hingga jarak mereka menipis. Ia mencium aroma sabun stroberi perpaduan dengan vanilla segar yang samar-samar masih bercampur dengan aroma yang Michael tahu persis—aroma adrenalin. "Setelah dansa sehebat tadi, kau tega membiarkan calon suamimu tidur di sofa yang keras?"

Apartemen Shaneen yang biasanya sunyi dan steril kini terasa "sesak". Michael tidak hanya membawa koper, dia seolah membawa seluruh auranya yang mendominasi ke dalam ruang pribadi Shaneen.

Shaneen berdiri di depan pintu kamar tidurnya, menyilangkan tangan di dada. Matanya yang sayu yang mengantuk itu menatap tajam ke arah Michael yang sedang dengan santainya melepas jam tangan mahal dan meletakkannya di atas meja konter dapur.

"Michael, aku serius. Apartemen ini hanya punya satu kamar tidur yang layak. Dan aku tidak terbiasa berbagi oksigen dengan orang lain saat tidur," cetus Shaneen, mencoba tetap pada mode 'gadis mandiri yang galak'.

Michael berbalik, menyugar rambutnya yang sedikit berantakan—tampilan yang membuatnya terlihat sepuluh kali lebih tampan. "Lalu kenapa kau membiarkan Damian masuk sampai jam satu malam tempo hari, tapi keberatan denganku yang adalah tunangan resmimu?"

Skakmat. Shaneen terdiam sebentar, otaknya berputar mencari alasan. "Damian itu, itu urusan bisnis! Dia bawahan yang patuh."

"Dan aku adalah atasan yang tidak suka dibantah," balas Michael tenang sembari melangkah mendekat. "Aku akan tetap di sini, Shaneen. Sampai aku merasa keamananmu benar-benar terjamin. Atau, sampai kau jujur kenapa ada bau mesiu tipis yang menempel di ujung rambutmu pagi ini?"

Jantung Shaneen berdegup kencang. Sial, apa aku kurang bersih saat mandi tadi malam? batinnya.

"Sudahlah, aku masih mengantuk Mich. Tolong, jangan merusak rumahku ya!" Ucapnya berlaku masuk kedalam kamar.

Sebenarnya Shaneen benar-benar sedang tidak tidur. Kantuknya hilang total. Bagaimana bisa dia meninggalkan pria itu diluar sendirian? Shaneen terbangun dengan perasaan was-was. Baginya, apartemen ini bukan sekadar tempat tinggal.

Saat Shaneen keluar kamar dengan piyama sutranya, ia mendapati Michael sedang duduk di ruang tengah dengan laptop di pangkuannya. Namun, mata Michael tidak menatap layar, melainkan sedang memperhatikan sebuah vas bunga di sudut ruangan yang posisinya sedikit miring—titik di mana Shaneen menyembunyikan kamera sensor gerak.

"Kenapa bangun lagi? Katanya mau tidur?" Shaneen hanya terdiam memperhatikan manusia menyebalkan itu dihadapannya.

"Vas yang unik, Shaneen. Posisinya sangat strategis untuk melihat siapa pun yang masuk dari pintu utama," ucap Michael tanpa menoleh.

Shaneen hampir tersedak jus jeruknya. "Itu... itu hanya estetika! Aku suka melihat bunga dari sudut itu."

"Oh ya?" Michael berdiri, berjalan perlahan mengelilingi ruang tengah. Ia menyentuh dinding dekoratif penghubung antara dapur dan perpustakaan. "Dinding ini terdengar... sedikit kosong. Seperti ada ruang tambahan di baliknya. Apakah kau menyimpan koleksi tas mahal di sana? Atau mungkin sesuatu yang lebih berat?"

Shaneen segera berdiri di depan dinding itu, menghalangi Michael. "Hanya panel listrik, Michael! Kau ini kenapa sih? Seperti sedang menggeledah sarang teroris saja!"

Michael tertawa rendah melihat reaksi defensif Shaneen. Ia memajukan tubuhnya, mengunci Shaneen di antara tubuhnya dan dinding "rahasia" itu. Wangi maskulin Michael mulai menyerang pertahanan Shaneen.

"Kau terlihat sangat gugup, Sayang. Padahal aku hanya ingin tahu di mana kau menyimpan kopi," bisik Michael tepat di depan wajah Shaneen.

Shaneen mendongak, menatap mata Michael yang kini tidak lagi dingin, tapi penuh dean kilat jahil yang mematikan. "Kopi ada di lemari atas. Sekarang menjauh, aku mau buat sarapan."

"Biarkan aku yang buat," potong Michael. Ia mengambil alih dapur. Shaneen hanya bisa memperhatikan dari jauh dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, hatinya menghangat melihat pria paling berkuasa di kota ini sedang sibuk mengocok telur di dapurnya. Namun di sisi lain, ia ingin berteriak karena Michael terus-menerus mendekati area "zona merah" markasnya.

"Michael," panggil Shaneen pelan.

"Ya?"

"Sampai kapan kau mau di sini?"

Michael membalikkan omelet dengan sempurna, lalu menoleh dengan senyum miring yang penuh arti. "Sampai kau berhenti berpura-pura, Shaneen. Sampai kau menyadari bahwa aku tidak di sini untuk menangkapmu, tapi untuk memastikan tidak ada orang lain yang berani menyentuh milikku ini."

Shaneen terpaku. Kalimat Michael barusan bukan lagi sebuah kecurigaan, melainkan sebuah pengakuan. Michael tahu, dan Michael memilih untuk tinggal.

"Makanlah," Michael menyodorkan piring. "Setelah ini, temani aku ke kantor. Aku tidak mau kau sendirian di sini sementara musuh masih berkeliaran di luar sana."

Shaneen mendengus, namun ia mengambil garpu itu. "Kau sangat posesif, Tuan Miguel."

"Hanya pada hal-hal yang berharga, Nyonya Miguel," balas Michael mantap.

Apartemen ini bukan sekadar hunian mewah. Ini adalah hadiah ulang tahun ke-21 dari mendiang ayahnya, sebuah ruang yang dirancang khusus dengan sistem keamanan tingkat tinggi yang bahkan tidak terdeteksi oleh satelit SM Corporation.

Pagi itu, Michael tidak puas hanya duduk di ruang tengah. Setelah sarapan, ia mulai menjelajah dengan langkah tenang namun penuh selidik.

"Shaneen," panggil Michael, suaranya menggema di lorong menuju bagian ruangan kedua. "Kenapa apartemen sebesar ini hanya punya satu kamar tidur, tapi punya perpustakaan yang luasnya hampir menyamai aula dansaku?"

Michael berdiri di depan pintu kayu jati besar. Begitu dibuka, deretan rak buku menjulang hingga ke langit-langit menyambut mereka. Ribuan buku tua dan dokumen tersusun rapi, memberikan aroma kertas tua yang menenangkan.

"Ini perpustakaan pribadi, Michael. Ayahku ingin aku banyak membaca, bukan banyak tidur," jawab Shaneen, berusaha menjaga suaranya agar tidak bergetar. Padahal, jantungnya berdegup kencang saat melihat Michael berjalan mendekati rak buku di sudut kiri—pintu masuk menuju lantai bawah tanah.

Michael menyentuh salah satu punggung buku dengan ujung jarinya. "Ini tidak logis. Perpustakaan ini terlalu luas dan dingin. Harusnya ruangan ini dirombak menjadi kamar utama kita. Kita bisa meletakkan tempat tidur king size di tengah sini."

Michael menoleh, menatap Shaneen yang berdiri kaku di ambang pintu. "Kenapa kau terlihat seperti sedang menjaga gerbang suci, Sayang? Apa kau takut aku menemukan buku harian rahasiamu?"

"Bukan begitu," Shaneen melangkah maju, mencoba mengalihkan perhatian Michael. "Aku hanya tidak suka orang asing mengacak-acak urutan bukuku."

"Orang asing?" Michael menaikkan sebelah alisnya. Ia melangkah mendekati rak buku besar di dekat meja kerja. Tanpa disadari Shaneen, Michael memperhatikan bahwa lantai di bawah rak itu memiliki sedikit bekas gesekan yang sangat halus—tanda bahwa rak itu sering bergerak.

Gagal di perpustakaan, Michael berjalan kembali lagi ke arah dapur. Ia merasa ada yang aneh dengan arsitektur ruangan ini.

"Dapurmu juga aneh," gumam Michael sambil mengetuk dinding di balik rak pisau masak. "Dinding ini terlalu tebal untuk sebuah apartemen modern. Ruang kosong di baliknya setidaknya selebar dua meter."

Shaneen hampir menjatuhkan gelas yang ia pegang. Di balik dinding dapur itu, tersusun rapi koleksi senjata pamungkasnya. Mulai dari sniper laras pendek dengan peluru bius instan, hingga belati melengkung berbahan vibranium yang bisa memotong baja. Itu adalah hobi rahasianya, yaitu mengoleksi benda-benda unik yang bisa mengirim lawan ke neraka dalam hitungan detik.

"Itu jalur pipa air utama, Michael! Kalau kau hancurkan dinding itu, apartemen ini akan banjir," kilah Shaneen cepat.

Michael menyeringai. Ia mendekatkan wajahnya ke leher Shaneen, menghirup aroma tubuh istrinya yang kini bercampur dengan aroma kecemasan. "Pipa air? Atau gudang mainan yang tidak boleh aku lihat?"

Michael tahu ada jalan penghubung antara perpustakaan dan dapur melalui dinding-dinding ini. Arsitektur apartemen ini adalah sebuah labirin yang cerdik.

"Kau tahu, Shaneen," bisik Michael, tangannya kini melingkar di pinggang Shaneen, mengunci gadis itu di depan konter dapur. "Ayahmu memberikan hadiah yang sangat luar biasa. Apartemen ini bukan untuk ditinggali, tapi untuk menyembunyikan sesuatu yang besar. Seperti... Seekor naga yang sedang tidur."

Shaneen menelan ludah. Ia merasa Michael sedang bermain-main dengan rahasianya seperti kucing memainkan tikus. "Kau terlalu banyak menonton film detektif, Tuan Miguel."

"Mungkin," Michael mencium kening Shaneen dengan lembut, sebuah gerakan yang sangat kontras dengan intimidasi yang ia lakukan sedetik lalu. "Tapi aku akan tetap di sini. Aku ingin melihat seberapa lama kau bisa menyembunyikan pintu bawah tanah itu dariku. Dan oh, aku suka dapurmu. Sangat 'tajam'."

Michael melepaskan pelukannya dan berjalan menuju sofa dengan santai, meninggalkan Shaneen yang masih terpaku. Shaneen menyadari satu hal. Markasnya bukan lagi tempat yang aman. Michael tidak sedang menyelidiki, Michael sedang menikmati setiap kepingan teka-teki yang Shaneen berikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!