ISTRI BERCADAR MAFIA
Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.
Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.
Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.
Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ISTRI BERCADAR MAFIA
Bab 32: Racun dalam Madu dan Ujian Kesetiaan.
Fajar di Pesantren Al-Ikhlas biasanya membawa ketenangan yang melarutkan segala gundah. Namun, bagi Alaska, kedamaian adalah kemewahan yang ia jaga dengan kewaspadaan tingkat tinggi. Meski ia telah menanggalkan setelan jas mahalnya dan menggantinya dengan koko sederhana serta sarung, insting seorang mantan pemimpin kartel tidak pernah benar-benar mati. Ia tahu, di balik rimbunnya pohon pinus dan gema zikir para santri, ada mata yang mengintai dari kejauhan.
Pagi itu, Alaska sedang membantu Kyai Yusuf—mertua sekaligus mantan musuhnya—memperbaiki pagar kayu di dekat gerbang belakang. Matahari mulai meninggi, membakar embun yang tersisa di dedaunan.
"Kau terlalu banyak melamun, Alaska," tegur Kyai Yusuf lembut sambil menggergaji kayu. "Tanganmu memegang palu, tapi pikiranmu sedang memegang senjata, bukan?"
Alaska tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang kini lebih sering muncul daripada seringai dinginnya yang dulu.
"Sulit untuk benar-benar merasa aman, Kyai. Saya merasa bayang-bayang masa lalu tidak akan membiarkan saya duduk tenang di atas sajadah ini."
Kyai Yusuf berhenti sejenak, menatap menantunya dengan tatapan kebapakan yang tulus.
"Masa lalu itu seperti bayangan, ia hanya ada jika kau terus membelakangi cahaya. Jika kau menghadap cahaya, bayangan itu akan jatuh di belakangmu. Jangan biarkan ketakutan merusak taubatmu."
Percakapan mereka terhenti ketika sebuah mobil boks tua berhenti di depan gerbang. Seorang pemuda bertubuh kurus dengan wajah yang tampak lelah turun dari mobil. Ia membawa beberapa kardus berisi kitab-kitab dan perlengkapan sekolah.
"Assalamu’alaikum. Saya kurir dari percetakan di kota. Ada kiriman donasi buku untuk perpustakaan pesantren," ucap pemuda itu dengan suara rendah.
Alaska memperhatikan pemuda itu. Ada sesuatu yang janggal pada gerak-geriknya—caranya menghindari kontak mata dan jemarinya yang bergetar saat menyerahkan manifes pengiriman. Namun, Bara yang muncul dari balik gudang segera menyambutnya.
"Ah, ini kiriman yang kita tunggu, Tuan," ujar Bara pada Alaska. "Ini dari yayasan yang baru Anda bentuk."
Alaska mengangguk, namun matanya tetap tertuju pada kurir itu.
"Bara, periksa semua isinya. Jangan ada yang terlewat."
Serigala dalam Selimut.
Malam harinya, pesantren terasa lebih dingin dari biasanya. Kabut turun begitu tebal, menyelimuti asrama santri. Di dalam kamarnya yang sederhana, Sania sedang merapikan beberapa pakaian. Ia melihat Alaska duduk di tepi ranjang, membersihkan sebuah belati kecil yang ia sembunyikan di balik bantalnya.
"Anda berjanji untuk meninggalkan kekerasan," ucap Sania lembut, duduk di samping suaminya.
Alaska menatap belati itu, lalu menatap istrinya.
"Aku berjanji tidak akan memulai kekerasan, Sania. Tapi aku tidak bisa membiarkan kekerasan mendatangimu, Ibu dan Ayahmu tanpa perlawanan. Ada bau yang tidak enak hari ini."
"Maksud Anda kurir tadi?"
"Dia terlalu gemetar untuk seorang pengantar buku. Dan tatonya... di balik lengan bajunya, aku melihat simbol yang sangat kukenal. Simbol 'The Dragons', faksi pembunuh bayaran yang dulu sering bekerja untuk dewan direksi."
Sania terdiam, jemarinya menggenggam tasbih.
"Jika memang badai itu datang lagi, apakah kita akan lari?"
"Tidak. Kita tidak akan lari. Kali ini, aku tidak bertarung untuk wilayah atau uang. Aku bertarung untuk rumah ini. Untukmu."
Tiba-tiba, suara dentingan besi terdengar dari arah gudang logistik. Alaska segera berdiri, memadamkan lampu teplok di kamar mereka. Ia memberi isyarat agar Sania tetap di dalam dan mengunci pintu.
Dengan gerakan seringan kucing, Alaska menyusuri selasar gelap. Di dekat gudang, ia melihat bayangan seseorang sedang menuangkan sesuatu ke dalam tangki air utama pesantren. Jantung Alaska berdegup kencang. Itu bukan serangan senjata api; itu adalah upaya peracunan massal.
"Berhenti!" teriak Alaska sambil melompat keluar dari kegelapan.
Sosok itu berbalik cepat. Benar saja, dia adalah kurir yang datang tadi siang. Namun kini, wajahnya tidak lagi tampak lelah, melainkan dingin dan penuh kebencian. Ia memegang botol kaca kosong yang aromanya sangat menyengat—sianida tingkat tinggi.
"Alaska... Sang Naga yang kini menjadi cacing tanah," ejek pria itu sambil mencabut pisau lipat dari sakunya. "Tuan besar mengirim salam. Dia bilang, jika kau ingin suci, maka kau harus mati dalam keadaan bersih."
"Siapa yang mengirimmu? Dante sudah mendekam di penjara," desis Alaska, memasang kuda-kuda.
"Dante hanyalah pion. Kau lupa pada 'Orion'? Dia yang membangun sistem keuanganmu, dan kau menghancurkannya dalam semalam. Sekarang, seluruh santri di sini akan membayar harga dari pengkhianatanmu."
Perkelahian pecah di bawah guyuran hujan gerimis. Alaska yang masih membalut luka tembak di bahunya merasa perih yang luar biasa saat ia menghindar dan membalas serangan. Pria itu sangat terlatih. Pisau lipatnya berkali-kali menyambar baju koko Alaska hingga robek.
"Kau sudah lemah, Alaska! Doa-doa itu membuatmu lembek!" teriak pembunuh itu sambil mengayunkan pisau ke arah leher Alaska.
Alaska menangkap pergelangan tangan pria itu, memutarnya dengan teknik yang mematikan, lalu menghantamkan lututnya ke perut lawan.
"Doa tidak membuatku lemah," ucap Alaska dengan suara berat, "ia memberiku alasan untuk tidak mati hari ini."
Dengan satu hentakan kuat, Alaska melumpuhkan pria itu dan menekannya ke tanah. Namun, saat Alaska hendak melayangkan pukulan terakhir, sebuah tangan kuat memegang bahunya.
Itu Kyai Yusuf. Ia berdiri di sana dengan obor di tangan, wajahnya tenang meski di depannya ada kekerasan.
"Cukup, Alaska. Jangan biarkan darahnya menodai tanah suci ini lagi," ujar Kyai Yusuf.
Alaska terengah-engah, matanya merah karena amarah yang hampir meledak.
"Dia mencoba meracuni air santri, Kyai! Dia ingin membunuh anak-anak kita!"
Kyai Yusuf berlutut di samping pembunuh yang sudah tidak berdaya itu.
"Tangki air itu sudah aku kuras sore tadi karena aku merasa ada yang tidak beres. Dia hanya menuangkan racun ke dalam tangki yang kosong. Allah melindungi kita lewat firasat."
Alaska perlahan melepaskan cengkeramannya. Ia jatuh terduduk, memegangi bahunya yang kembali berdarah. Bara dan beberapa santri senior segera datang untuk mengamankan pembunuh tersebut.
Benteng Cahaya yang Sesungguhnya.
Setelah kejadian malam itu, suasana pesantren menjadi lebih waspada namun tetap tenang. Pria yang dikirim Orion itu diserahkan kepada pihak berwenang, membawa bukti baru tentang keterlibatan sindikat internasional yang lebih besar.
Keesokan harinya, Alaska berdiri di depan aula pesantren yang sedang dibangun menjadi "Benteng Cahaya". Sania berdiri di sampingnya, memberikan segelas air putih hangat.
"Orion tidak akan berhenti, kan?" tanya Sania pelan.
"Mungkin tidak. Tapi sekarang aku tahu cara menghadapinya," jawab Alaska.
Ia menunjuk ke arah para santri yang sedang bergotong royong membawa semen dan batu bata.
"Mereka bukan prajurit bersenjata, tapi mereka adalah alasan kenapa tempat ini tidak akan pernah runtuh. Kegelapan tidak dilawan dengan kegelapan yang lebih pekat, tapi dengan menyalakan lilin sebanyak mungkin."
Alaska memutuskan untuk menggunakan sisa koneksinya—bukan untuk menyewa tentara bayaran, tetapi untuk mempekerjakan tim keamanan profesional dari mantan narapidana yang sudah bertaubat. Ia ingin memberi mereka kesempatan kedua, sekaligus menjaga tempat yang telah memberinya hidup baru.
Siang itu, Kyai Yusuf memanggil Alaska ke ruangannya. Di atas meja, terdapat sebuah sajadah tua yang sudah usang namun bersih.
"Sajadah ini milik ayahku," kata Kyai Yusuf. "Dulu, saat aku masih menjadi 'Hasan' yang penuh dosa, aku hampir membakarnya karena merasa tak pantas. Tapi aku sadar, sajadah bukan tempat bagi mereka yang suci, melainkan tempat bagi mereka yang kotor untuk memohon kesucian."
Ia menyerahkan sajadah itu kepada Alaska. "Pimpinlah shalat ashar hari ini. Jadilah imam bagi istrimu dan bagi dirimu sendiri. Musuh di luar sana mungkin hebat, tapi musuh di dalam hatimu—yaitu keraguan—sudah kau kalahkan malam tadi."
Alaska menerima sajadah itu dengan tangan gemetar. Ia keluar dari ruangan dan melihat Sania sudah menunggu di depan masjid, mengenakan mukena putihnya yang bersinar tertimpa cahaya matahari.
Saat adzan berkumandang, Alaska melangkah ke depan. Di belakangnya, berderet shaf para santri, Bara, dan Sania. Untuk pertama kalinya, Alaska merasakan kekuatan yang luar biasa mengalir di nadinya—bukan kekuatan dari genggaman senjata, melainkan kekuatan dari ketundukan total.
Di atas sajadah yang sama dengan istrinya, meski terpisah jarak shaf, Alaska berbisik dalam sujudnya yang panjang:
"Ya Allah, jika masa laluku adalah api yang membakar, jadikanlah masa depanku air yang menyejukkan. Lindungilah cahaya kecil ini dari badai yang belum usai."
Di kejauhan, di balik perbukitan, mata-mata lain mungkin masih mengintai. Namun Alaska tidak lagi takut. Sebab ia kini mengerti, bahwa garis takdir yang ditulis di atas sajadah tidak akan pernah bisa dihapus oleh tangan manusia mana pun, selama hati tetap terpaut pada Sang Pemilik Takdir.
__Taubat bukanlah sebuah garis finis di mana semua masalah selesai seketika, melainkan sebuah garis start untuk berjuang di jalan yang benar meski kerikil masa lalu masih sering melukai kaki__
__Keberanian sejati tidak diukur dari seberapa banyak musuh yang kita jatuhkan, tetapi dari seberapa sering kita mampu menjatuhkan ego dan dendam demi menjaga kedamaian orang-orang yang kita cintai__
__Seorang imam yang baik bukanlah dia yang tidak pernah tersesat, melainkan dia yang setelah tersesat di kegelapan paling dalam, bersedia menuntun orang lain menuju cahaya yang baru ditemukannya__
__Musuh mungkin bisa meracuni sumber air kita, tapi mereka tidak akan pernah bisa meracuni sumber keimanan selama kita yakin bahwa pelindung terbaik adalah Dia yang menggenggam setiap helai napas kita__
Bersambung ....