Di alam semesta, eksistensi terbagi menjadi tiga: Alam Langit (Tempat para Dewa), Alam Manusia, dan Alam Bawah (Tempat Iblis dan Roh). Selama jutaan tahun, ketiga alam ini dipisahkan oleh segel kuno yang kini mulai retak.
Jiangzhu, seorang yatim piatu di desa kecil Alam Manusia, lahir dengan "Nadi Spiritual yang Lumpuh". Namun, ia tidak tahu bahwa di dalam jiwanya tersimpan Segel Tiga Dunia, artefak yang mampu menyerap energi dari ketiga alam sekaligus. Ketika desanya dihancurkan oleh sekte jahat yang mencari artefak tersebut, Jiangzhu bangkit dari kematian dan memulai perjalanan untuk menaklukkan langit, menguasai bumi, dan memimpin neraka. Ia bukan sekadar penguasa; ia adalah jembatan—atau penghancur—tiga dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Perjamuan Berdarah para Penguasa
Lift kayu itu berhenti dengan sentakan yang membuat sendi-sendi lutut Jiangzhu berderak. Begitu pintu geser yang berkarat itu terbuka, pemandangan di depannya berubah 180 derajat. Tidak ada lagi bau sulfur atau dinding batu yang lembap. Lantai enam belas adalah sebuah aula perjamuan raksasa yang dilapisi marmer putih dan karpet beludru merah darah.
Lampu gantung kristal yang ditenagai oleh batu energi tingkat tinggi menggantung di langit-langit, memancarkan cahaya yang menyilaukan mata yang sudah terlalu lama terbiasa dengan kegelapan. Di sepanjang meja panjang yang penuh dengan makanan mewah dan anggur yang beraroma harum, duduk belasan pria dan wanita dengan pakaian sutra yang mahal. Namun, di balik kemewahan itu, Jiangzhu bisa mencium bau yang sangat akrab: bau kematian yang disembunyikan di balik parfum mahal.
"Ah, tamu yang dibicarakan Master Zuo akhirnya tiba," suara berat seorang pria terdengar dari ujung meja.
Pria itu mengenakan jubah hitam dengan bordiran naga merah di pundaknya. Wajahnya tegas, dengan bekas luka melintang di dagu. Inilah Kaisar Bayangan, pemimpin dari Sekte Bayangan Merah.
"Duduklah, Jiangzhu. Jangan biarkan makanan ini dingin. Di menara ini, sangat jarang kita bisa menikmati daging rusa kutub yang belum terkontaminasi racun," ujar Kaisar Bayangan sambil menunjuk ke sebuah kursi kosong.
Jiangzhu tidak bergerak. Ia masih memegang tangan Awan, sementara Yue sudah melangkah ke samping, berdiri di bayangan pilar seolah-olah ia kembali menjadi pengamat yang netral.
"Aku tidak datang untuk makan," kata Jiangzhu datar. Suaranya yang serak terdengar sangat kontras dengan denting sendok perak di aula itu. "Aku ingin tahu apa yang kalian inginkan dariku sehingga Master Zuo harus 'menguji' aku terlebih dahulu."
Kaisar Bayangan tertawa pelan, sebuah tawa yang tidak mencapai matanya yang dingin. "Kau langsung pada intinya. Aku suka itu. Di lantai atas, Sekte Cahaya Suci sedang mengumpulkan kekuatan untuk membersihkan lantai-lantai bawah. Mereka menyebut kita 'sampah' yang harus dibakar. Kami butuh seseorang yang memiliki Darah Raja Iblis untuk mengaktifkan segel pertahanan kuno di lantai tujuh belas."
"Dan jika aku menolak?"
Suasana di aula mendadak menjadi sangat dingin. Belasan pengawal yang tadinya diam di sudut ruangan kini meletakkan tangan di gagang senjata mereka.
"Menolak berarti kau adalah sekutu Cahaya Suci," kata seorang wanita cantik dengan kipas bulu hitam yang duduk di samping Kaisar Bayangan. "Dan kami punya cara yang sangat kreatif untuk mengolah daging sekutu musuh kami."
Jiangzhu melirik ke arah meja. Di sana, di antara piring-piring perak, ia melihat sesuatu yang membuatnya mual. Di dalam sebuah toples kaca besar, terdapat potongan tangan manusia yang masih menggunakan seragam murid Sekte Awan Biru. Mereka benar-benar memakan musuh mereka.
"Bocah, jangan terjebak," bisik Penatua Mo. "Kaisar Bayangan ini berada di Tahap Inti Emas. Jika kau bertarung sekarang, kau hanya akan menjadi hidangan penutup."
Jiangzhu menarik napas panjang. Ia duduk di kursi yang disediakan, namun matanya tetap waspada. Awan meringkuk di sampingnya, matanya yang biru menatap makanan di meja dengan rasa lapar yang tertahan.
"Makanlah, Awan," bisik Jiangzhu sambil mengambil sepotong daging dan memeriksanya dengan energi Iblisnya. Setelah yakin tidak ada racun yang berbahaya, ia memberikannya pada gadis itu.
"Jadi, apa imbalannya jika aku membantu kalian?" tanya Jiangzhu sambil menatap langsung ke mata Kaisar Bayangan.
"Kebebasan untuk naik ke puncak menara tanpa gangguan dari faksi-faksi kecil, dan rahasia tentang di mana ibumu disekap," jawab Kaisar Bayangan tenang.
DEG!
Jiangzhu mencengkeram pinggiran meja hingga marmer di bawah tangannya retak. "Apa kau bilang? Ibumu?"
"Kami tahu siapa kau, Jiangzhu. Dewi Langit yang kau cari tidak berada di Alam Langit. Dia dikurung di Penjara Tanpa Cahaya di lantai seratus menara ini oleh para Tetua Sekte Cahaya Suci karena mencintai seorang Raja Iblis. Hanya kami yang punya kuncinya."
Amarah Jiangzhu mendidih. Informasi ini terasa seperti umpan yang terlalu manis untuk menjadi kenyataan, tapi ia tidak punya pilihan selain menelannya.
Tiba-tiba, salah satu pengawal di pintu masuk berteriak. "Penyusup! Cahaya Suci telah menembus lantai lima belas!"
Aula perjamuan mendadak kacau. Suara ledakan terdengar dari arah lift yang baru saja digunakan Jiangzhu. Cahaya keemasan yang menyilaukan meledak di tengah aula, menghancurkan meja makan dan menerbangkan piring-piring perak.
"Lu Tian!" Kaisar Bayangan berdiri, auranya meledak, menciptakan bayangan hitam raksasa di belakangnya.
Seorang pemuda berjubah putih bersih dengan pedang panjang yang memancarkan api suci muncul dari kepulan asap. "Kaisar Bayangan, hari ini adalah hari pembersihan bagi sekte sesatmu!"
Jiangzhu segera menarik Awan ke belakang pilar. Ia melihat kekacauan ini sebagai peluang. "Pak Tua, ini saatnya!"
"Tunggu, Bocah! Lihat pria berjubah putih itu! Itu adalah kakak dari Lu Chen yang kau bunuh di Lembah Jiwa!"
Jiangzhu menatap Lu Tian. Dendam di mata pria itu sangat nyata. Lu Tian tidak hanya datang untuk membersihkan menara, ia datang untuk membalaskan dendam adiknya.
"Ditemukan! Kau, bajingan kecil pembunuh adikku!" Lu Tian mengarahkan pedangnya ke arah Jiangzhu, mengabaikan Kaisar Bayangan.
Perjamuan itu berubah menjadi ladang pembantaian dalam sekejap. Jiangzhu harus memilih: bertarung bersama Sekte Bayangan Merah yang kejam, atau lari ke tengah peperangan yang akan menghancurkan lantai ini.
"Yue! Di mana jalan ke lantai tujuh belas?!" Jiangzhu berteriak.
Yue muncul dari balik bayangan, wajahnya terluka karena serpihan kristal. "Di bawah singgasana Kaisar Bayangan! Tapi kau harus melewatinya!"
Jiangzhu mengepalkan tangannya. Pedang hitamnya kembali berdengung, kali ini lebih keras dari sebelumnya. "Awan, pegang bajuku kuat-kuat. Kita akan menembus neraka ini!"
Dengan satu hentakan kaki yang menghancurkan lantai marmer, Jiangzhu melesat ke tengah pertempuran, di mana api suci dan bayangan hitam saling bertabrakan, menciptakan badai energi yang siap menelan siapa saja yang lemah.
Jiangzhu mencengkeram pinggiran meja marmer itu hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol seperti akar pohon yang terjepit. Bau makanan mewah ini daging rusa yang dipanggang dengan rempah-rempah mahal justru membuatnya ingin muntah. Di kepalanya, ia masih bisa mendengar suara perutnya yang keroncongan saat mengais sisa makanan di selokan desa, sementara orang-orang seperti mereka duduk di sini, mendiskusikan nyawa manusia seolah-olah itu hanya tumpukan koin perak.
"Kau bicara soal ibuku seolah dia adalah barang dagangan," desis Jiangzhu, suaranya parau dan bergetar karena kemarahan yang tertahan. Ia melirik ke arah toples kaca berisi potongan tangan manusia di meja. "Dan kau bicara soal kebebasan sambil mengunyah daging musuhmu. Kalian tidak ada bedanya dengan sampah di luar sana, hanya saja kalian memakai parfum untuk menutupi bau busuk kalian."
Kaisar Bayangan hanya mengangkat alis, sama sekali tidak tersinggung. Ia justru menyesap anggur merahnya dengan santai. "Kebencian adalah bumbu yang bagus untuk kekuatan, Jiangzhu. Tapi jangan biarkan itu membuatmu buta. Di menara ini, moralitas adalah beban yang akan membuatmu jatuh ke jurang paling dalam."
Bocah, tenanglah! Penatua Mo memperingatkan, suaranya mendesing di dalam saraf Jiangzhu. Lihat pria berjubah putih yang baru masuk itu. Auranya sangat murni, tapi sangat tajam. Dia bukan sekadar murid sekte biasa. Dia membawa 'Pedang Penghukum' yang bisa membelah energi Iblismu menjadi dua!
Jiangzhu tidak sempat menjawab. Ledakan cahaya dari Lu Tian membuat seluruh ruangan bergetar. Serpihan kristal dari lampu gantung berjatuhan seperti hujan pisau, menyayat karpet merah dan memecahkan botol-botol anggur mahal. Jiangzhu merasakan hawa panas yang menyengat di pipinya—sebuah luka gores kecil yang segera mengeluarkan darah hitam.
"Awan, jangan lepaskan bajuku!" teriak Jiangzhu. Ia bisa merasakan jantung Awan berdegup kencang di punggungnya, sebuah ritme ketakutan yang justru memicu insting predator di dalam dirinya.
Ia menatap Lu Tian yang berdiri dengan sombong di tengah kekacauan. Cahaya dari pedang pria itu menyilaukan, seolah-olah ia adalah matahari yang turun ke lubang tikus. Bagi Jiangzhu, cahaya itu tidak terasa suci; itu terasa seperti api yang membakar matanya.
"Kau ingin membalas dendam untuk adikmu?" Jiangzhu melangkah keluar dari balik pilar, pedang hitamnya kini mengeluarkan uap dingin yang membekukan darah di lantai. "Majulah. Akan kubuat kau menyusulnya sebelum perjamuan ini berakhir."
Jiangzhu tidak lagi peduli pada politik menara. Di tengah badai energi cahaya dan bayangan, ia merasa paling hidup. Karena hanya dalam kehancuran, seorang monster seperti dirinya bisa merasa benar-benar bebas.