Mikael Wijaya, putra milyuner dari Surabaya Wijaya Agra mengalami kecelakaan di Dubai setelah memergoki calon istrinya berselingkuh. Kecelakaan fatal itu membuatnya hilang ingatan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 Mikael Pangestu
Malam ini Hastuti dan Jaya Pangestu-kakek nenek Kael dari almarhummah maminya sedang menghadiri resepsi pernikahan cucu teman mereka.
"Berdua aja, nih."
Jaya Pangestu tersenyum lebar ketika melihat sahabat lamanya yang barusan menegur, sekarang sudah berada di dekatnya.
"Di sini juga," balasnya kemudian tertawa. Sedangkan istrinya tersenyum.
"Apa kabar?" Dewan mengulurkan tangan yang dibalas dengan pelukan hangat Jaya Pangestu.
"Masih belum menikah?" canda Jaya Pangestu.
"Buat apa nikah. Aku sibuk ngurusin cucu cucuku," kilah Dewan santai setelah pelukan mereka terurai.
Hastuti dan Jaya Pangestu tertawa sambil saling tatap.
"Cucu tunggalmu mana? Kenapa jarang dibawa di acara acara penting seperti ini." Dewan sudah tau skandal keluarga temannya. Dia pun sama brengseknya dengan menantu Jaya Pangestu. Hanya bedanya dia melakukannya tidak disengaja.
Tawa keduanya berubah garing.
"Anak itu menghilang. Ngga ada kabar enam bulan ini." Masih Jaya Pangestu yang menyahut. Istrinya pamit, karena merasa kurang nyaman dengan obrolan suaminya. Kebetulan dia melihat temannya juga melambai ke arahnya.
"Ngga dicari?" Dewan menyilangkan kedua tangannya di atas dadanya.
"Sudah. Tapi tau sendiri, kan, dia bisa pergi kemana saja dengan uang tanpa batas itu," keluhnya tanpa bermaksud sombong.
"Dia ngga pake kartu kreditnya."
Jaya Pangestu menghela nafas kasar.
"Kalo dia gunakan, sudah pasti ketahuan sejak lama. Aku ngga bakalan mumet begini memikirkannya. Anak itu terlalu pintar menghilang. Hanya saja kali ini terlalu lama tanpa kabar, membuat aku dan neneknya khawatir," keluh Jaya Pangestu seolah curhat.
Dewan menganggukkan kepalanya.
"Sejak putriku meninggal, cucuku agak susah dikendalikan."
Dewan paham perasaan temannya.
"Pernikahannya batal, ya," cetusnya pelan.
"Dia pergi di hari hari mendekati hari pernikahannya." Jaya Pangestu melepaskan nafas lelahnya.
"Kenapa? Kalian tidak merestui?"
"Awalnya iya. Aku jadi menyesal sekarang."
"Pantasan aku tidak kamu undang," tawa Dewan perlahan.
Jaya Pangestu menghembuskan nafas lagi.
"Dia merencanakan sendiri pernikahannya. Tapi dia juga yang membatalkannya." Nada suara Jaya Pengestu terdengar kesal.
Dewan tertawa lagi. Kehebohan pembatalan itu bahkan sampai di telinganya.
"Begini aja. Nanti kalo cucumu sudah pulang, akan ku kenalkan dengan sepupu sepupu putriku Rihana. Masih ada beberapa yang belum menikah."
"Cucu cucu dari Airlangga Wisesa?" Jaya Pangestu baru merasa menyesal sekarang, kenapa dulu pikirannya tidak sampai ke sana.
Kembali dia merutuki menantu brengseknya. Sejak perselingkuhannya terungkap, hingga putrinya meninggal beberapa tahun kemudian, dia dan istrinya terlalu larut dalam kesedihan dan kemarahan. Ditambah cucu satu satunya ngotot menikah dengan perempuan yang jauh dari kriteria mereka.
"Ngga akan mengecewakan. Mereka cantik cantik dan pintar."
"Aku tau. Ya, aku setuju. Nanti kalo anak nakal itu sudah ketemu, akan aku paksa dia menerima jodoh yang aku pilihkan."
Dewan mengangguk dengan hati senang.
"Oh ya, siapa nama cucumu?"
"Namanya Mikael Pangestu sekarang."
Dewan memicingkan matanya
"Dulu namanya Mikael Wijaya." Jaya Pangestu menjelaskan dengan nada muak.
Dewan tergelak.
Jaya Pangestu mengabaikan respon temannya yang lagi lagi mengejeknya. Dia mengeluarkan ponselnya, mengutak atik sebentar, kemudian mengulurkannya pada Dewan.
"Itu fotonya. Dia tampan, kan?"
Dewan tersenyum melihat foto close up laki laki muda yang sedang mereka bicarakan itu.
"Dia mirip menantumu." Sekarang Dewan tau kenapa temannya mau mengganti nama belakang cucunya.
"Sedikit. Lebih banyak mirip putriku," decaknya sebal.
Dewan tambah tergelak.
"Wan, bantu aku mencari keberadaannya, ya," ucap Jaya Pangestu setelah tawa temannya mereda.
"Oke. Kirimkan ke ponselku."
Dengan cepat Jaya Pangestu mengirimkan foto cucu tunggalnya ke nomor ponsel Dewan.
"Masih lama di Jakarta?"
Jaya Pangestu menganggukkan kepalanya.
"Besok malam istriku akan kontrol ke dokter langganannya di rumah sakit."
Dewan menganggukkan kepalanya lagi.
*
*
*
Malam ini ngantuk Adelia langsung hilang ketika Jetro menelponnya.
"Sudah dapat kabar dari Malik?" tanyanya dengan jantung berdebar kencang.
"Malik baru saja memberi kabar."
"Apa kata Malik."
Terdengar hembusan nafas Jetro.
"Sepertinya Kael menggunakan identitas palsu."
Adelia terdiam.
"Dia mengaku sebagai Redo Ardiman. Dari tiket pesawat, sewa hotel sampai membeli mobil yang menyebabkan dia kecelakaan,dia menggunakan identitas palsu itu."
"Kok, bisa?" Adelia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Malik bahkan sudah menemukan pemilik asli identitas yang digunakan Kael. Katanya dia kehilangan dompetnya di bandara enam bulan yang lalu."
Adelia terdiam. Dia bingung kenapa Kael melakukannya. Laki laki itu seakan tidak ingin diketahui keberadaannya.
"Tapi Kael tidak menggunakan kartu kredit laki laki itu. Mungkin juga sudah langsung diblokir ketika tau dompetnya hilang," sambung Jetro lagi.
"Jadi.... masih abu abu, ya?" Adelia menyahut dengan perasaan kecewa.
"Tidak juga."
Bibir Adelia berkedut, mulai melambungkan harap.
"Ternyata dia berangkat dari bandara Juanda. Tau, kan, ada dimana?"
Adelia tersenyum agak lebar.
"Surabaya," tegas Jetro yang diangguki Adelia.
"Aku dan Baim yang akan mencari tau siapa dia di Surabaya. Semoga cepat ketahuan identitas calon suamimu itu." Terdengar tawa menyebalkan Jetro.
"Dia bukan calon suamiku. Ngaco," sanggah Adelia dengan perasaan malu yang bercampur kesal.
Jetro hanya menanggapinya dengan tawa yang masih berderai.
*
*
*
Besoknya, di ruangannya, Adelia menatap layar ponselnya dengan ragu.
Sejak malam tadi dia menahan dirinya untuk tidak menghubungi Kael.
Dari pagi saat dia sudah tiba di ruangan kerjanya hingga kini sudah menunjukkan pukul sepuluh, dia masih galau.
Tapi info dari Malik yang disampaikan Jetro sangat penting buat Kael.
Akhirnya dengan menguatkan hati, Adelia menelpon Kael.
Semoga dia ngga lagi meeting.
Hingga dering terakhir, Kael tidak mengangkatnya juga.
Walau sudah memaklumi kesibukan laki laki itu, tetap saja Adelia merasa kesal karena tidak dianggap penting.
Hampir setengah jam Adelia sesekali menatap layar ponselnya dengan diliputi perasaan yang semakin kesal.
Laki laki itu mengabaikannya, sewotnya dalam hati.
TOK TOK TOK
Adelia menatap pintu ruangannya yang terbuka. Asta masuk ke dalam dengan wajah cerahnya.
"Nonaaa..... Si ganteng ganteng dingin mau ketemu," ucap Asta dengan wajah sumringah.
Adelia tertegun.
Dia datang? Kenapa sepert jaelangkung terus. Buat apa punya ponsel, omelnya dalam hati
"Di suruh masuk, ya, nonaaa....."
'Hemm...."
Setelah mengerling penuh makna, Asta segera berjalan keluar meninggalkan ruangannya. Tentu saja setelah melebarkan pintu ruangan nonanya.
DEG DEG DEG
Jantung Adelia berdetak makin cepat.
Laki laki itu muncul dengan buket bunga mawar kuning di tangannya.
Kenapa bawa bunga lagi, sih. Yang kemarin aja masih segar.
"Maaf, ya. Aku baru tau kamu telpon," ucapnya sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Adelia.
Adelia berusaha tetap tenang, menyembunyikan perasaan kesalnya.
"Ya, ngga apa apa."
"Kenapa kamu menelpon?" tanya Kael sambil meletakkan buket bunganya ke atas meja kerja Adelia. Di samping buket bunga kemarin yang dia berikan.
"Kamu sendiri? Kenapa datang?" Adelia balik bertanya.
Kael tersenyum simpatik.
"Mau ngajak kamu makan siang. Sudah saatnya, kan?" Tadi dia sudah minta ijin ke Levi sebelum jam kerjanya berakhir.
"Ya, kamu datang tepat waktu. Tapi biasakan kamu kirim pesan dulu, siapa tau aku ngga ada di ruangan ini."
Senyum simpatik Kael masih diulaskan di bibirnya membuat jantung Adelia makin ngga aman.
"Oke, laen kali aku akan menelpon kamu. Oh ya, tadi kamu telpon aku, ada apa?" Kael teringat pertanyaannya yang belum dijawab Adelia tadi.
"Oh ya." Adelia jadi teringat kalo dia harus memberitaukan informasi dari Malik dan Jetro pada Kael.
"Ada info dari Malik dan Jetro."
Kael duduk dengan tenang walau jantungnya jadi ngga beraturan debarnya.
Sudah ketahuan siapa dirinya? Juga istrinya? batinnya resah.
"Info jeleknya kamu menggunakan identitas palsu."
Kael menyimak. Dia sudah menebak.
"Info baiknya, kamu berangkatnya dari Surabaya. Tadi malam Jetro dan Baim sudah terbang ke Surabaya."
Sesuai tebakan Levi, batin Kael.
"Levi juga sudah mengirimkan orang orangnya ke sana. Ke kota kota besar di Jawa Timur."
"Baguslah."
Hening.
"Jadi masih belum ketahuan siapa aku yang sebenarnya?" tanya Kael memecah kesunyian yang tiba tiba tercipta.
Adelia menggeleng.
"Semoga secepatnya ketahuan, ya."
Kael mengangguk. Jantungnya berdetak keras, juga semakin cepat ritmenya.
"Sekarang, bisa kita makan siang?" tanya Kael sambil menatap Adelia.
"Terima kasih bunganya," ucap Adelia canggung.
"Sama sama. Kita pergi sekarang?"
dijamin rencana nafa nggak bakal terlaksana,, apalagi kael di rawat di rs keluarga adelia
aku malahan nggak sabar menanti aksi mak tirinya kael,, biar cpt masuk penjara