Gadis, sejak kecil hidup dalam bayang-bayang kesengsaraan di rumah keluarga angkatnya yang kaya. Dia dianggap sebagai anak pembawa sial dan diperlakukan tak lebih dari seorang pembantu. Puncaknya, ia dijebak dan difitnah atas pencurian uang yang tidak pernah ia lakukan oleh Elena dan ibu angkatnya, Nyonya Isabella. Gadis tak hanya kehilangan nama baiknya, tetapi juga dicampakkan ke penjara dalam keadaan hancur, menyaksikan masa depannya direnggut paksa.
Bertahun-tahun berlalu, Gadis menghilang dari Jakarta, ditempa oleh kerasnya kehidupan dan didukung oleh sosok misterius yang melihat potensi di dalam dirinya. Ia kembali dengan identitas baru—Alena.. Sosok yang pintar dan sukses.. Alena kembali untuk membalas perbuatan keluarga angkatnya yang pernah menyakitinya. Tapi siapa sangka misinya itu mulai goyah ketika seseorang yang mencintainya ternyata...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius-74, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HATI YANG TERTINGGAL DI BATAS TEMBOK PENJARA
Lihat, Mama Isabella,” ujarnya dengan bangga. “Sekarang kita punya senjata yang kuat. Gadis pasti akan mundur kalau melihat ini.”
Nyonya Isabella tersenyum puas. “Bagus sekali, Elena. Ayo kita ke lapas sekarang. Jangan biarkan dia punya kesempatan lagi untuk merusak keluarga kita.”
Beberapa jam kemudian, Elena dan nyonya Isabella tiba di lapas. Mereka didampingi petugas dan dibawa ke ruang temu. Tidak lama kemudian, Gadis masuk, pakaiannya sederhana, rambutnya terikat rapi, tapi wajahnya masih cantik meskipun kelihatan lelah.
Gadis melihat kedua wanita itu dengan ragu. “Elena? Mama Isabella? Apa yang kalian mau?”
Elena mengambil ponselnya dan membuka video yang sudah dia siapkan. “Kita mau tunjukkan sesuatu padamu, Gadis. Supaya kamu mengerti, bahwa Ferdo sudah tidak milikmu lagi.”
Dia menekan tombol putar. Video hubungan intim Ferdo dan Elena muncul di layar, terlihat jelas dan tidak bisa disangkal. Gadis melihatnya dengan mata yang membesar, air mata langsung menetes di pipinya. Tubuhnya gemetar, dan dia merasa sakit hati seolah-olah ditusuk dengan pisau.
“Tidak… tidak bisa…” bisiknya, menutupi wajah dengan kedua tangan. “Ferdo tidak akan melakukan itu… dia mencintaiku…”
“Lihat baik-baik, Gadis!” teriak nyonya Isabella dengan senyum kejam. “Dia sudah merasakan hasrat dengan Elena. Dia sudah melupakanmu sepenuhnya!”
Elena mendekat, menutup ponselnya. “Jadi, silakan mundur, Gadis. Jangan pernah lagi ganggu kehidupan Ferdo dan aku. Kalau tidak, video ini akan tersebar ke mana-mana, dan anakmu juga akan melihatnya.”
Gadis menangis dengan terisak-isak, hatinya hancur lebur. Dia memandang Elena dan nyonya Isabella yang tersenyum puas, lalu menundukkan kepalanya. Semua harapan yang dia miliki untuk bertemu lagi dengan Ferdo dan hidup bahagia bersamanya hancur sudah.
“Baiklah,” ujarnya dengan suara pelan dan gemetar. “Aku akan mundur. Aku akan melupakan Ferdo untuk selamanya. Hanya satu pintaku, tolong… jangan ganggu anakku.”
Elena tersenyum lebih lebar, puas dengan hasil kerjanya. “Baiklah. Itu yang kita inginkan.”
Petugas kemudian mendekat dan mengajak Gadis kembali ke ruang tahanannya. Gadis berjalan dengan langkah lambat, kepalanya tetap terbenam. Di dalam hati, dia berjanji akan melupakan Ferdo, meskipun itu berarti dia harus merelakan cinta terbesar dalam hidupnya.
Di luar ruang temu, Elena dan nyonya Isabella berjalan ke arah mobil. Mereka tersenyum puas, yakin bahwa masalah Gadis sudah selesai.
Tapi mereka tidak tahu, bahwa di jauh sana, Ferdo sedang mengemudi menuju lapas dengan hati yang penuh kesalahan. Berniat untuk memberitahu Gadis bahwa apa yang terjadi tadi bukan keinginannya, dan bahwa cinta dia padanya masih sama seperti dulu.
Ferdo memejamkan mata sejenak, jari-jarinya melilit ujung kertas berkas yang baru saja dia periksa. Ruangan kantornya terasa terlalu sempit, terlalu sunyi, seolah menahan napas bersama dirinya.
Hari itu, dan seminggu ke depan, dia seharusnya menikmati cuti pernikahan dengan Elena. Tapi kata “nikah” itu terasa seperti duri yang menusuk dalam dada, tidak pernah hilang meskipun dia sudah mencoba menghapusnya berkali-kali.
“Aku tidak mencintai dia,” bisiknya sendiri, suaranya hanya terdengar oleh langit-langit kantor yang berdebu. Benar, dia tidak mencintai Elena.
Ferdo berdiri cepat, menyimpulkan semua berkas dengan tangan yang sedikit gemetar. Dia bertekad akan menemui Gadis hari itu juga. “Aku tidak peduli apa yang dikatakan siapa pun,” gumamnya sambil mengambil jas dan kunci mobil. “Aku harus melihatnya.”
Di jalan menuju lapas, angin pagi menyentuh wajahnya, tapi dia tidak merasakannya. Pikirannya hanya terfokus pada Gadis.
Bagaimana wajahnya pagi ini, apakah dia baik-baik saja di dalam sana, apakah dia masih mencintainya seperti kemarin?..
Dia membayangkan saat mereka bertemu, dia akan memeluknya erat, menangis di pelukannya, dan meminta dia untuk memaafkannya.
“Gadis, nanti aku akan memberitahu semua,” bisiknya sambil memegang setir mobil. “Aku akan katakan bahwa semuanya dipaksakan, bahwa hatiku hanya untuk mu. Kamu akan memahaminya, kan?”
Ketika mobilnya berhenti di depan gerbang lapas yang tinggi dan berwarna abu-abu, Ferdo merasakan detak jantungnya berdebar kencang. Dia turun mobil, menuju gerbang masuk, dan mendekati petugas yang menjaga.
“Permisi, pak,” katanya, mengeluarkan KTP. “Aku mau mengunjungi narapidana bernama Gadis Putri. Ini KTP ku.”
Petugas mengambil KTP nya, memeriksanya dengan cermat, lalu menggelengkan kepala. “Maaf, Pak Ferdo,” katanya, suaranya datar. “Jam kunjungan mulai pukul 13.00. Sekarang baru pukul 10.30. Silakan tunggu di luar atau di ruang tunggu.”
Ferdo melihat jam di perangkatnya, mata sedikit memar. Dia terlalu tergesa-gesa sehingga tidak memperhatikan waktu. “Tapi pak, apakah tidak bisa dibuat pengecualian? Ini sangat penting untukku.”
“Tidak bisa, pak,” jawab petugas dengan tegas. “Aturan adalah aturan. Silakan tunggu saja.”
Ferdo menghela nafas dalam-dalam. Dia tidak mau pulang. Dia akan menunggu, tidak masalah berapa lama. Dia pergi ke ruang tunggu yang sempit, duduk di bangku kayu yang kasar, dan memandang lantai dengan wajah kosong. Di sana, dia bertemu dengan seorang pria tua yang juga menunggu untuk mengunjungi keluarga.
“Menunggu lama ya, pak?” tanya pria tua itu, melihat Ferdo yang tertekan.
Ferdo mengangguk. “Ya, pak. Aku mau ngobrol sama istriku yang ada di dalam sana. Ini sangat penting.”
“Ah, istri,” kata pria tua itu dengan sebaliknya. “Aku mau ngobrol sama anak ku. Dia sudah dua tahun di sini. Kadang kita harus menunggu untuk hal yang berharga, ya?”
Ferdo mengangguk lagi, tidak bisa berkata banyak. Selama tiga jam menunggu, pikirannya berputar-putar. Dia membayangkan apa yang akan dia katakan pada Gadis.
“Gadis, maaf sekali. Pernikahan itu tidak sesuai keinginanku.. Aku tidak mencintainya, Gadis. Hatiku hanya untukmu.” Dia berharap Gadis akan memahaminya, akan memaafkannya, dan akan memberinya kesempatan untuk memperbaiki semua yang salah.
Akhirnya, bunyi bel menandakan bahwa jam kunjungan telah tiba. Ferdo berdiri cepat, langkahnya cepat menuju gerbang kedua yang akan membawanya ke ruang bertemu.
Dia duduk di bangku yang telah disediakan, matanya memandang pintu dengan harapan yang besar. Setiap detik yang lewat terasa seperti abadi.
“Tunggu ya, pak,” kata sipir yang membimbingnya. “Kita akan panggil narapidana yang mau kamu kunjungi.”
Ferdo mengangguk, tangannya bergetar di atas meja. Beberapa menit kemudian, pintu terbuka, tapi bukan Gadis yang muncul, melainkan seorang ah sipir perempuan, memegang selembar kertas putih.
“Pak Ferdo?” panggilnya, suaranya lembut tapi tegas dan berwibawa.
“Ya? Di mana Gadis? Kenapa dia tidak datang?” tanya Ferdo dengan tergesa-gesa.
“Maaf, pak,” jawab sipir itu. “Nona Gadis tidak mau bertemu dengan anda. Dia bilang, dia tak punya keberanian untuk melihatmu langsung. Dia hanya menitip surat ini untukmu.”
Ferdo merasa seolah ada petir yang menyambar dirinya. Dia mengambil surat dengan tangan yang gemetar, jari-jarinya melilit kertas itu seolah itu adalah harapan terakhirnya. “Tidak mungkin… dia pasti mau bertemu denganku. Tolong panggil dia lagi, ya?”
“Sudah saya coba, pak,” jawab sipir itu, ikut prihatin. “Dia bilang, surat ini sudah cukup. Maaf ya, pak.”
Sipir pergi, meninggalkannya sendirian di ruang yang tiba-tiba terasa sangat sepi. Dia membuka surat perlahan-lahan. Tulisan Gadis yang khas, rapi dan indah, muncul di depannya. Dia mulai membacanya, dan setiap kata seolah menusuk hati dia dengan pisau yang runcing..
***Ferdo***,
***Maaf aku tidak bisa bertemu denganmu hari ini. Dan maaf juga jika aku harus berkata ini dengan surat, karena aku tak punya keberanian untuk mengatakan langsung padamu***..
***Aku sudah tahu tentang pernikahanmu dengan Elena. Semua orang di sini berbicara tentang itu. Bagaimana kamu menikahi putri orang kaya, bagaimana mamamu senang sekali. Aku tidak marah padamu, Ferdo. Aku tahu betapa kuat tekanan yang kamu terima dari mamamu. Dia selalu ingin yang terbaik untukmu, bahkan jika itu berarti menyakiti orang lain***..
***Tapi aku mohon, Ferdo. Jangan ganggu aku lagi. Aku tidak mau mengganggu hubungan pernikahanmu dengan Elena. Dia sekarang istri mu, dan kamu harus mencintainya, menjaganya, dan membangun keluarga bersama dia. Jangan biarkan aku menjadi beban untukmu, menjadi hal yang menghalangi kebahagiaanmu***.
***Ferdo menggigit bibirnya hingga berdarah. “Aku tidak bisa melupakan mu, Gadis,” bisiknya***.
***Lupakan aku, Ferdo. Lupakan semua yang pernah kita lalui. Aku tahu itu sulit, tapi itu yang terbaik untuk kita berdua. Aku tidak ingin kamu hidup dalam kesalahan atau penyesalan. Hidupilah hari-hari mu dengan Elena, dan jadikan dia orang yang paling bahagia di dunia***.
***Dan Ferdo, tolong jaga Luna baik-baik. Dia masih kecil, dia butuh ayah yang penuh cinta dan perhatian. Jangan biarkan dia merasakan kesedihan yang sama seperti yang aku rasakan sekarang. Beritahu dia bahwa mama nya selalu mencintainya, meskipun mama nya tidak bisa berada di sampingnya***.
***Aku akan pergi dari hidup mu, Ferdo. Jangan cari aku, jangan tanya-tanya tentangku. Biarkan aku hidup sendirian, jauh dari semua masalah dan kesedihan yang telah kita alami bersama***.
***Semoga kamu bahagia, Ferdo. Semoga Elena bisa memberikan semua yang kamu butuhkan, dan semoga Luna tumbuh menjadi anak yang baik dan bahagia***.
***Aku akan selalu mencintaimu, tapi itu cukup hanya di hatiku***.
***Gadis***