Angel hidup dengan dendam yang membara. Kakaknya ditemukan tewas mengenaskan, dan semua bukti mengarah pada satu nama
Daren Arsenio, pria berbahaya yang juga merupakan saudara tiri dari Ken, kekasih Angel yang begitu mencintainya.
bagaimana jadinya jika ternyata Pembunuh kakaknya bukan Daren, melainkan Pria yang selama ini diam-diam terobsesi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNUR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ciuman pertama daren
Angel memandang Daren dengan kesal, sedangkan daren tidak bereaksi apapun. Dsdanya naik turun dengan teratur menandakan bahwa tidurnya nyenyak.
Angel terdiam memikirkan bagaimana caranya membangunkan daren dengan kejutan yang tidak akan pernah bisa di lupakan. Angel tersenyum miring, lalu tanpa aba aba ia menampar daren dengan keras menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
Plakk.
Mata daren membuka dengan lebar, wajahnya masih sedikit linglung, otaknya mungkin masih memproses dengan apa yang sebenarnya terjadi.
angel tersenyum puas melihat bekas telapak tangan di pipi daren. Bekas itu cukup merah menandakan kekuatan yang di keluarkan sangat besar.
"Setidaknya aku bisa mengeluarkan sedikit kekesalan ku padanya. " Gumam angel dalam hati.
Raut wajah angel yang semula tersenyum berubah dengan cepat. Disana hanya terpatri raut wajah bingung panik dan khawatir. Sungguh pintar dia memanipulasi.
Setelah pikirannya pulih, daren menatap angel dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Dia.. Dia bisa mengatasi rasa trauma ku? " Tanya daren dalam hatinya. Matanya masih setia menatap angel.
Selama ini belum ada satu orang pun yang mampu mengatasi traumanya, baik itu ibunya bahkan dokter sekalipun. Mereka selalu berkata menyerah, karena selain trauma emosi yang mendalam, saat trauma itu kambuh dirinya tidak bisa di kendalikan tanpa sadar selalu bertindak menyakiti orang lain, melakukan kekerasan pada orang yang mendekatinya bahkan dalam satu waktu dia pernah hampir membunuh orang lain.
Dia tidak sadar akan hal itu karena alam bawah sadar nyalah yang mengambil alih tubuhnya menggantikan rasa ketakutan yang muncul.
"Tuann" Panggil angel dengan lembut. Suara itu membuat daren tersadar dari lamunannya.
Wajahnya kembali datar dan dingin, dengan gerakan cepat dia berdiri. Sifat aslinya kembali keluar, "berdiri! " Titahnya dengan suara keras.
Angel mendengus pelan dalam hatinya dia menggerutu "dasar arogan. Tidak tahu Terima kasih. Cihhh. Untuk apa kakak pernah menyukai laki laki ini, apa hebatnya dia? "
Meski dalam hatinya mendumel tapi wajahnya tetap memasang raut tenang dan lembut.
Tanpa berkata-kata angel berdiri dari posisi jongkoknya, hingga tanpa sadar jarak di antara keduanya hanya tinggal beberapa centimeter.
Daren terpaku menatap wajah angel yang begitu dekat. Darahnya berdesir melihat dengan jarak yang begitu dekat. Hingga wajahnya mendekat secara perlahan pada wajah angel . Cupp.. Bibir keduanya bertemu, mata daren tertutup menikmati rasa manis dan kenyal bibir sekretarisnya. Berbeda dengan Reaksi angel. Kedua bola matanya melebar sempurna, meskipun ini bukanlah pengalaman pertama dirinya tapi dia tidak akan sudi do cium oleh laki laki yang sudah membuat kakaknya meninggal. Dengan kasar dia mendorong dada dsren menjauh, berhasil. Daren mundur beberapa langkah dari posisinya membuat pagutan bibir mereka terlepas.
Angel menatap daren dengan marah, dadanya naik turun dengan cepat menahan emosi yang terasa membakar tubuhnya.
Dalam satu gerakan tangan mulusnya kembali mendarat di pipi daren.
Plakkkk.
Kepala daren tertoleh ke samping. Kali ini sudut bibir laki laki itu mengeluarkan darah. Tidak ada reaksi yang di tunjukan daren, wajahnya tetap datar , tidak ada kemarahan ataupun rasa kesal di sana.
Angel menatap daren dengan nyalang.
"Kurang ajar, bajingan! Brengsek" Teriak angel dengan suara yang keras. Tanpa mempedulikan daren dia melangkah dengan cepat keluar dari ruangan. Brakkk.
Pintu tertutup dengan keras.
Adrian yang masih menunggu di depan pintu terlonjak kaget, "angel--" Ucapannya terhenti di udara saat melihat angel melangkah dengan tergesa. Wajah wanita itu di penuhi air mata, ia hendak berlari menyusul namun ia urungkan. Matanya menatap pintu dan punggung angel secara bergantian.
"Apa yang terjadi di dalam? "
"Ckkk.. Apa yang harus aku lakukan? " Adrian bergumam sendiri, berharap akan mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
Di dalam ruangan daren masih terpaku, dia tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Pipi sebelah kanan masih terasa panas akibat tamparan angel. Tangannya terangkat mengusap sudut bibirnya yang terasa perih lalu senyum tipis muncul di sana.
"Sepertinya dia mengeluarkan seluruh tenaganya. " Daren terkekeh pelan. Ingatannya kembali tertuju pda saat bibirnya bertemu Bibir angel .
"Siall kenapa bibirnya begitu manis. " Gumam daren pelan.
Dia mendudukan dirinya di kursi, senyum tipis kembali terukir mengingat momen ciuman bersama angel.
Tokk.. Tokk.. Tokk..
Suara ketukan pintu mengahapjs senyum tipis daren. Wajah itu kembali dingin seperti biasa.
"Masuk."
Dari balik pintu Adrian muncul dengan wajah khawatir.
Langkah kaki asistennya sedikit tergesa berbeda dari sebelumnya.
"Tuan apa yang terjadi? " Daren mengernyit saat menangkap Nada khawatir terlihat jelas dalam suara Adrian.
"Angel.. Ekhem maksud saya bu angel barusan kuar dari ruangan anda sambil menangis. Bahkan dia tidak menjawab saat saya menyapanya? "
Daren tidak menjawab melainkan memandang Adrian dengan tatapan menelisik. Sejak kapan asistennya dekat dengan sekertaris barunya. Selama ini dia tidak pernh mendengar Adrian dekat dengan seorang wanita lalu sekarang ucapannya seolah menyatakan bahwa dia sudah sangat dekat dengan angel.
"Kenapa kau mengkhawatirkan angel? Bukankah seharusnya kau menghawatirkan ku, atasan mu sendiri? " Tanya daren dengan dingin.
Adrian terpaku sesaat lalu menjawab dengan tenang
"Saya hanya takut terjadi sesuatu karena anda tuan. Jika angel melaporkannya Dan media sampai mengendus sudah pasti reputasi anda akan menjadi buruk. " Namun daren tidak puas akan jawaban dari Adrian. Matanya masih saja menatap Adrian dengan tatapan mengintimidasi.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, karena itu adalah urusanku.
Tugas mu hanya mendampingiku dan menjalankan setiap perintahku"
Adrian mengangguk meski dalam hatinya masih di penuhi kekhawatiran pada angel.
"Saya mengerti tuan. Maaf atas kelancangan saya. " Ucapnya dengan suara tenang.