NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31. Sketsa yang Membuatku Pulih

Beberapa luka tak bisa dihapus, tapi bisa digambar ulang dengan senyum yang baru.

...Happy Reading!...

...*****...

Suasana taman kota sore ini cukup ramai. Banyak orang menyempatkan waktunya. Ada yang duduk santai, berolahraga, atau sekadar menikmati langit yang mulai menguning di ujung hari.

Mungkin, di antara semua orang itu, hanya aku yang terlihat bersedih. Meskipun aku tahu, setiap dari mereka pasti juga menyimpan masalah di dalam hati masing-masing.

Aku berjalan pelan menuju bangku kayu yang dulu sering aku duduki. Tempat favoritku saat masih rajin datang ke taman ini. Hari ini, aku ingin mengulang kebiasaan lama yang sudah lama sekali aku tinggalkan. Aku ingin kembali pada hobiku. Hobiku yang dulu menjadi pelarian, sebelum semua berubah.

Setelah duduk, aku membuka tote bag dan mengeluarkan buku sketsa. Buku yang dulu selalu aku bawa ke mana pun aku pergi. Rasanya, sudah lama sekali aku tidak berani menyentuhnya.

Sejak impianku gagal bertahun-tahun lalu, aku selalu menghindar dari benda ini. Bukan karena benci. Tapi karena takut. Takut akan menangis setiap kali melihatnya. Jadi selama ini, aku hanya menyimpannya. Diam-diam berharap suatu hari aku punya cukup keberanian untuk membuka kembali.

Seperti hari ini.

Aku belum sepenuhnya siap, tapi entah kenapa, aku merasa membutuhkannya. Rasanya, aku tidak punya tempat bersandar selain menggambar. Hanya itu yang bisa menenangkan saat aku kehilangan arah.

Pelan-pelan, aku menatap sampul buku itu. Sudah kusam. Tapi masih sama. Masih menyimpan semua kenangan yang sengaja aku kubur dalam.

Tanpa sadar, pikiranku terlempar kembali ke masa lalu. Masa ketika impianku kandas bukan karena aku menyerah, tapi karena keadaan yang memaksaku untuk mundur.

Dulu, aku ingin melanjutkan kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual. Tapi masalah besar datang dan semuanya berantakan. Aku tidak bisa melawan. Aku tidak bisa bertahan. Aku hanya bisa mundur dan menelan kecewa dalam diam.

Apakah semua ini adalah karma? Aku tidak tahu. Mungkin memang aku sedang membayar sesuatu dari masa lalu. Entah dari kehidupan yang sekarang, atau bahkan yang sebelumnya.

Aku masih menatap buku sketsa itu saat tiba-tiba suara anak kecil menyadarkanku.

"Permisi, Kak."

Aku mengangkat kepala. Di hadapanku, berdiri lima anak kecil. Dua perempuan dan tiga laki-laki. Pakaian mereka lusuh, tapi bukan itu yang menarik perhatianku. Melainkan senyum mereka. Polos dan tulus.

"Hai," balasku dengan ramah.

"Ada yang bisa Kakak bantu?"

Mereka menggeleng bersamaan. Salah satu anak laki-laki menunjuk buku di pangkuanku.

"Itu buku gambar, ya?"

Aku mengangguk. "Iya. Kenapa?"

Anak perempuan yang paling kecil melangkah maju. "Kakak penggambar hebat, kan? Boleh kami minta digambar?"

Aku tersenyum mendengarnya. Kalimat itu... terdengar tidak asing. Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul di dada.

"Siapa yang bilang Kakak penggambar hebat?" tanyaku sambil membelai rambut anak itu lembut.

"Tadi ada lelaki tampan. Dia bilang begitu. Jadi kami ingin digambar."

Lelaki tampan?

Aku reflek menoleh ke sekeliling. Mencari siapa yang mereka maksud. Tapi tak ada sosok mencurigakan. Hanya ibu-ibu dan anak-anak lainnya. Tidak ada pria dewasa yang tampak aku kenali.

"Baiklah. Kakak akan gambar kalian. Ayo, berdiri di depan Kakak."

Kelima anak itu langsung bersorak senang. Mereka memasang pose masing-masing, berusaha serius walau tetap terlihat menggemaskan.

Aku tersenyum, lalu mulai menggambar. Tanganku bergerak perlahan. Setiap garis yang kutarik, seperti menghapus sedikit demi sedikit duka yang kupendam selama ini.

Semakin lama, suasana hatiku ikut membaik. Raut wajah anak-anak itu, walau lusuh, penuh kebahagiaan. Mereka tertawa, saling melempar canda, dan itu... membuatku ikut tertawa juga.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku menggambar anak-anak. Dulu, sebelum masuk SMA, aku juga pernah melakukannya. Waktu itu karena mereka penasaran dengan apa yang aku lakukan. Aku tawarkan saja untuk menggambar mereka. Dan mereka senang sekali sampai membawa pulang hasilnya.

Bagi aku, kebahagiaan tidak harus mahal. Kadang, cukup dari hal-hal sederhana. Seperti menggambar. Seperti melihat orang lain tersenyum karena hal kecil yang kita lakukan.

Gambarku selesai. Aku memanggil mereka untuk mendekat.

"Wah, gambarnya bagus sekali, Kak!"

"Ini keren banget!"

"Kakak memang hebat!"

Aku tersenyum. Semua pujian itu terasa seperti pelukan hangat. Seolah semesta ingin menghiburku lewat suara anak-anak ini.

"Kak, boleh kami bawa gambarnya?"

"Tentu. Ini untuk kalian."

Aku merobek kertas itu dan memberikannya. Mereka mengambilnya dengan mata berbinar. Seakan itu adalah hadiah terbaik yang pernah mereka terima.

"Terima kasih ya, Kak. Kami pamit dulu."

"Sama-sama. Kakak juga terima kasih ke kalian."

"Untuk apa Kak?" tanya salah satu anak lelaki.

"Kalian sudah membuat Kakak tersenyum. Padahal tadi Kakak sedang sedih."

"Sama-sama," balas mereka bersamaan.

Anak perempuan tadi kembali bicara. "Kami tahu kok kalau Kakak sedih. Lelaki tampan itu yang bilang. Dia yang nyuruh kami ke sini."

Aku terdiam. Lelaki tampan lagi? Siapa sebenarnya dia?

Mereka melambai dan berlari pergi. Aku membalas lambaian itu sambil tersenyum. Senyum yang kali ini... datang dari hati.

Mereka datang seperti utusan semesta. Dan pergi seperti angin sore yang membawa sedikit rasa pulih.

Aku menatap sekeliling taman. Langit sudah mulai berubah warna, jingga perlahan ditelan ungu. Angin sore berhembus lembut, seperti ikut meredakan sesak di dalam dada.

Rasanya hatiku jauh lebih tenang.

Mungkin... memang dia yang menyuruh mereka.

Karena hanya dia yang tahu bagaimana caraku meredakan luka. Hanya dia yang tahu bahwa menggambar adalah jalanku untuk bernapas ketika dunia terasa sempit.

Jadi...dia masih peduli.

Entah itu karena rasa kasihan, atau sekadar perhatian yang ia sendiri tak sadar sedang ia tunjukkan. Tapi entah kenapa, aku merasa... bahagia.

Aku menarik napas panjang. Udara sore ini dingin, tapi hangat di dada.

Lalu aku menoleh ke arah pohon besar di sisi kanan taman. Tempat yang entah kenapa terasa familiar. Tempat yang bisa saja ia pilih untuk mengawasi dari jauh.

Dan dengan suara yang akhirnya pecah dari dadaku, aku berteriak pelan... cukup agar angin sore membawanya pergi.

"Terima kasih."

Kalau dia masih di sini, aku harap dia mendengarnya. Dia bukan hanya tahu caraku tersenyum, tapi juga caraku melupakan.

Karena jujur saja... aku terlalu gengsi untuk mengatakannya langsung. Dia bukan hanya bagian dari masa laluku. Tapi juga klien pentingku sekarang.

Hubungan kami mungkin rumit. Tapi hari ini, aku tahu... dia masih mengingat sisi diriku yang bahkan nyaris hilang oleh waktu. Dan untuk itu, aku berterima kasih.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!