Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
"Ada apa denganmu?" tanya Ares pada Ara yang sedari tadi hanya diam sembari mengaduk minumannya saja. Gadis itu meliriknya dan kembali mengabaikannya sambil mendengus.
Ares menghela napas. "Kau cemburu?"
Ara sontak menatap anak itu tajam. "Jangan sembarangan!"
"Ayolah, kau itu tak pandai berbohong. Katakan saja dengan jujur, kau cemburu, kan?" goda Ares dengan senyuman lebar.
"Ara cemburu dengan siapa?" tanya sebuah suara tiba-tiba. Mereka menoleh bersamaan dan mendapati Vano berdiri sembari memegang minumannya. Kemudian ia tersenyum lebar pada Ara dan duduk di sebelahnya.
"Kau terlihat cantik seperti biasanya, Ara~"
"Berisik! Aku memang selalu cantik jadi tak usah kau perjelas. Habiskan saja minumanmu dan pergi sana!" ketus Ara cuek.
Vano memberengut. "Seperti biasa juga kau sangat dingin padaku~ Ngomong-ngomong, kau cemburu sama siapa?"
"Haish! Sudah kubilang aku tidak—"
"Aracelli! Aracelli! Cepat! Ini gawat!" teriak seorang siswa yang berlari ke arahnya dengan panik. Gadis itu langsung menoleh cepat, menatap temannya itu bingung.
"Ada apa?"
"Itu! di sana! Cepat!"
"Iya, ada apa di sana? Katakan dengan jelas."
"Rendra dan Bagaskara berkelahi dengan Abhi!"
Hah?
Berkelahi? Bukan di hajar oleh mereka?
Tidak ada waktu memikirkan hal itu!
Pantas saja mereka di tunggu dari tadi tidak datang-datang. Setelahnya Ara langsung berdiri dan berlari ke arah yang ditunjuk oleh siswa tadi diikuti Ares juga Vano dari belakang. Namun, saat tiba di sana mereka tidak mendapati siapa pun yang tengah berkelahi. Hanya ada sekumpulan siswa-siswi yang entah sedang apa mereka di sana.
"Woah! Kalian lihat tadi bagaimana Tuan Putri balas memukulnya? Aku tak menyangka tangan kurus itu bisa berguna!"
"Kau benar! Sekarang ia tak terlihat seperti Tuan Putri lagi!"
"Hei, kalau kalian tak hati-hati, selanjutnya mungkin kita yang akan di hajarnya."
"Kau takut?"
"Bah! Jangan sembarangan! Pada si Tuan putri itu?! Mungkin dia hanya beruntung saja!"
Lalu mereka tertawa sendiri dan kembali bergosip tentang kejadian barusan lagi. Ara mendekati sekumpulan siswa itu dengan cepat.
"Di mana Abhi?" tanya Ara.
"Mencari si Tuan putri? Dia di UKS," jawab salah satu dari mereka.
Ara mendesis dan menarik kerah siswa itu kuat hingga menunduk ke arahnya. "Jaga mulutmu. Sudah kubilang jangan memanggilnya begitu lagi, kan? Apa telingamu hanya pajangan?!" geramnya sembari menghempaskan kerah siswa itu kasar. Kemudian pergi begitu saja menuju UKS.
Saat tiba tanpa mengatakan apa pun Ara membuka pintu UKS begitu saja. Hal pertama yang ia lihat adalah Abhi yang sedang diobati oleh gadis yang bersamanya tadi. Tanpa sadar meremat gagang pintunya kuat tapi ia berusaha tidak menunjukkan raut apa pun.
"Oh? Ara," panggil Biyan.
"Iya, aku sudah dengar tadi. Kau tidak apa-apa?" tanya Ara sembari berjalan mendekat.
Biyan mengangguk. "Ya, untungnya. Saat kami datang, tidak ada penjaganya jadi Dean membantuku. Oh, Iya! Aku belum memperkenalkan kalian berdua," katanya lalu menatap mereka bergantian. "Ara perkenalkan ini Deandra sepupuku dan juga murid pindahan di sini."
Oh?
Sepupu?
Tunggu, kenapa dirinya merasa lega mendengar hal itu? Seolah Biyan sengaja ingin mengkonfirmasi hal tersebut sebelum dirinya salah paham. Lupakan itu dulu karena entah kenapa moodnya menjadi bagus seketika. Jadi, Ara maju sembari mengulurkan tangannya.
"Aracelli, kau bisa panggil aku Ara saja."
Dean membalas uluran tangan itu. "Deandra. Sama sepertimu kau bisa memanggilku Dean."
"Baiklah, kak Dean."
Dean berdehem sejenak. "Kalau begitu, tolong kau urus adikku dulu. Aku harus menghadap kantor perkara masalah ini," katanya lalu memberikan obat yang ia pakai tadi pada Ara. Kemudian saat berjalan keluar ia menarik Ares dan Vano juga agar ikut keluar bersamanya. Lalu menutup pintunya begitu saja.
"Aduh! Kenapa menyeretku juga?!" protes Vano tak terima
"Ikut aku ke kantor dan bantu jelaskan. Ayo!" kata Dean seenaknya lalu membawa kedua anak remaja itu menuju ruang guru meski Vano memberontak malas.
Tenaga gadis itu tak main-main!
Sementara itu Ara dan Biyan yang di tinggal berdua sempat saling diam sebelum gadis itu berdehem sejenak dan mendekat.
"Masih ada yang belum di obati?" tanya Ara.
"Ya, bagian sini belum," jawab Biyan sembari menunjuk wajahnya yang sebelah kanan. Maka gadis itu sedikit merengsek maju untuk memberikan obatnya.
Suasana kembali hening. Ara yang fokus dengan tugasnya dan Biyan yang tanpa sadar memperhatikan wajah gadis itu lekat-lekat. Diperhatikan dari jarak sedekat ini ternyata Ara benar-benar manis sekali. Apa adiknya menyukai tipe yang begini? Ternyata selera adiknya tidak buruk juga untuk ukuran kutu buku.
"Bagaimana bisa terlibat perkelahian dengan Rendra dan Bagaskara?"
"Entah. Mereka menggangguku tiba-tiba saat akan menyusul kalian ke kantin."
"Tapi, biasanya kau hanya akan diam karena kau bilang benci kekerasan."
Tidak salah, sih.
Abhinara memang membenci kekerasan dalam bentuk apa pun. Meski ia di sakiti berulang-ulang bahkan dengan cara paling kejam, adiknya itu takkan membalas. Ia bisa dengan mudah memaafkan mereka yang menurutnya tak pantas di beri maaf sama sekali. Pernah ia bertanya kenapa bisa memaafkan semudah itu dan kenapa tidak membalas?
Tahu apa yang Abhi katakan?
Ia bilang tak ada gunanya membalas dan membenci seseorang, itu hanya akan membuatnya lelah sendiri. Lagipula memaafkan bukan berarti melupakan, karena meski ia sudah memberi maaf tapi ia tak pernah lupa semua rasa sakit yang mereka berikan. Abhi tidak mau hidup dengan menyimpan rasa benci dan marah maka ia memilih melepaskan perasaan itu.
Terlalu melodramatis kalau menurut Biyan.
Mungkin lebih tepatnya terlalu bodoh, itulah mengapa Abhinara selalu berakhir disakiti dan menjadi objek untuk di jahati karena sifatnya itu. Bahkan Biyan sendiri sebagai kembarannya benar-benar muak dengan tingkah sang adik. Ingin berteriak di depan wajah anak itu bahwa ia pun hanya manusia yang wajar jika merasa marah atau benci.
"Mungkin aku hanya lelah karena diam saja. Kenapa? Kau tidak suka?"
Ara mengerjap sejenak dan tersenyum lalu menggeleng, ia menyimpan kembali beberapa peralatan P3k yang di pakai tadi.
"Justru aku senang. Akhirnya kau mau berdiri dan membela dirimu sendiri, tapi aku hanya kaget karena kau terasa begitu berubah. Rasanya aku seperti tidak mengenalmu lagi, Abhi."
Tentu saja karena ia bukan Abhinara.
"Berarti kau tidak benci aku yang seperti ini?"
"Tidak. Meski aku senang kau membela dirimu sendiri tapi aku juga tidak suka jika melihatmu terluka begini. Kau tahu, padahal aku berjanji akan melindungimu tapi nyatanya aku tidak berdaya melakukannya. Maafkan aku, kau pasti kecewa padaku," ujar Ara sembari menundukkan wajahnya.
Padahal dulu ia begitu percaya diri mengatakan pada Abhi bahwa ia akan melindunginya. Tapi ia bahkan tak tahu apa pun tentang Abhi dan membuat anak itu terluka. Benar-benar memalukan.
Berikutnya Ara terkejut karena merasakan kepalanya di tepuk-tepuk lembut. Mendongak dan mendapati Abhi/Biyan tengah melakukannya sembari tersenyum seolah ia berterima kasih.
"Aku tahu kau sudah melakukan yang terbaik. Terima kasih, Aracelli."
Terima kasih karena berusaha melindungi Adikku.
***
Pulang Sekolah,
Dean tengah menunggu Biyan di parkiran sembari menatap ponselnya. Mendapat beberapa pesan dari teman-temannya di New York yang menanyakan di mana ia sekarang. Maklum saja, Dean tak mengatakan apa pun saat pindah pada mereka. Masalahnya, jika ia beritahu, mereka akan mengikutinya ke sini dan itu menjengkelkan. Kenapa teman-temannya di sana begitu Clingy padanya?
"Kak, Ayo."
Gadis itu mendongak dengan sebelah alis naik, "Lama sekali."
"Ternyata hari ini giliran Abhi piket dan aku tak mungkin kabur. Kau bilang jangan merusak citranya, kan?"
"Hee~ tumben sekali menurut. Apa karena gadis itu? Katakan, kau menyukainya, kan?" kekeh Dean.
"Dia milik Abhi, aku takkan merebut milik adikku," dengus Biyan.
Dean berdecak. "Belum tentu Abhi menyukainya, jangan membuat spekulasimu sendiri."
"Sudahlah, Ayo pulang," sergah Biyan.
Mereka akan masuk mobil tapi di hadang oleh kelompok Rendra lagi. Kali ini Bagaskara tidak ada dan hanya ada Rendra juga dua orang temannya yang lain. Tanpa basa-basi Rendra menendang mobil Dean sembari mendesis kesal.
"Sialan! Beraninya kau mengadu pada guru! Apa kau pikir kami akan takut?! Berlagak sok hebat sekali sekarang! Kau—" ucapan Rendra dipotong tiba-tiba oleh Dean.
"Hey, bocah. Berani sekali kau menendang mobil kesayanganku. Kau sudah tidak membutuhkan kakimu lagi, ha? Perlu kupatahkan?"
Jujur saja, Rendra sempat merasa takut tapi harga dirinya tidak terima jika harus merasa terintimidasi oleh seorang gadis. Maka ia balik menatap Dean dengan tatapan menantang.
"Siapa kau?! Dari tadi kau terus ikut campur urusan kami! Apa kau kekasih si banci ini?! Apa kau tahu kalau si banci ini—"
PLAK!
Telinga Rendra berdengung saat tamparan sadis mengenai wajahnya cukup kuat bahkan hingga membuatnya pusing. Bukan hanya itu, hidungnya sampai mengeluarkan darah dan membuat kedua temannya jadi kaget.
"Da-darah?! Hi-hidungku berdarah!" pekik Rendra panik sendiri.
"Sepertinya rahangmu perlu ku patahkan juga agar tak sembarangan bicara," ucap Dean.
Rendra langsung menatap gadis itu tajam tapi nyalinya menciut seketika, kemudian ia mundur dengan cepat agar tida terkena tamparannya lagi.
"Be-beraninya kau memukulku! Apa kau tahu aku siapa?! Jika ku laporkan ini pada Ayahku, tamat riwayatmu! Sialan! Lihat saja! Akan ku pastikan kau tak bisa bersekolah lagi, bukan hanya disini tapi di mana pun!" ancam Rendra sembari terus berjalan mundur bersama dengan teman-temannya lalu menghilang di belokan.
Harusnya kau berterimakasih karena aku menyelamatkan nyawamu, bodoh!
Kau pikir monster di sebelahku ini punya hati nurani, hah?! Menjengkelkan!
Sementara Dean hanya menatap datar sembari menghela napas, melirik Biyan yang sepertinya sudah bersiap menerkam remaja tadi jika saja ia tidak bertindak duluan. Karena Arbiyan yang marah akan sangat sulit untuk di berhentikan. Ia belum siap masuk kantor polisi di Negara ini juga.
"Memang siapa Ayahnya? Presiden?" tanya Dean iseng.
"Hanya seorang pemilik Hotel bintang lima terkenal di Ibukota," jawab Biyan datar dan masuk ke dalam mobil begitu saja.
Dean membelalak lalu masuk kedalam mobil dan duduk di jok pengemudi. "Kau sudah cari tahu tentangnya?!"
"Ya, semua orang yang kuduga terlibat dalam kasus Abhi. Kak Dean, sepertinya aku akan Perusahaan besok."
Sekali lagi Dean membelalak syok sembari menatap sepupunya itu horor. Seorang Arbiyan yang keras kepala dan tak pernah serius itu tiba-tiba ingin kesana?!
"Kau takkan melakukan apa yang aku pikirkan 'kan?" tanya Dean hati-hati.
Namun Biyan hanya tersenyum misterius sebagai jawabannya.
Tamatlah riwayat kalian semua.
***
Di Rumah Sakit,
Biyan berjalan masuk ke dalam ruang rawat Abhi kemudian tersenyum saat mendapati sang Ibu yang tengah duduk sembari memangku laptopnya. Meski mengatakan beberapa pekerjaan di handle oleh Aris tapi ternyata tidak membuat ibunya istirahat juga. Ia meletakkan makan siang yang di bawa di atas meja lalu memeluk ibunya dari belakang. Wanita itu sempat terkejut karena terlalu fokus dengan pekerjaannya hinga tak menyadari ada yang masuk.
"Aku pulang, Bu."
Laras tersenyum. "Mengagetkan ibu saja."
Tawa Biyan terdengar, ia mengecup pipi sang Ibu sebelum duduk di sebelahnya juga.
"Sudah makan?"
"Belum. Sebentar lagi."
"Selalu begitu. Bukankah aku sudah bilang agar ibu jangan telat makan? Apa Ibu tidak mendengarkanku saat aku masih di New York?" oceh Biyan.
"Iya, iya, maafkan ibu sayang. Nah, kau bawa makan kan? Ayo, makan!"
Remaja itu terkekeh lagi dan membuka makanan yang ia bawa tadi. Menyiapkan untuk sang ibu lebih dulu baru untuknya. Sebelum ia sempat berdiri dan menghampiri Abhi yang masih belum sadar.
"Bagaimana kondisinya, bu?" tanya Biyan sembari menggenggam jemari kembarannya yang mengurus.
"Masih sama. Padahal Dokter bilang seharusnya ia sudah sadar tapi entah kenapa adikmu tidak bangun juga."
Tatapan Biyan menyendu. "Abhi, apa kau setakut itu untuk bangun? Ada aku, kakakmu. Aku akan melindungimu, jadi cepatlah bangun. Kau membuat Ibu kita sedih," lirihnya pelan sekali. Kemudian menunduk untuk mengecup kening adiknya sayang dan menempelkan kening mereka.
"Aku merindukanmu, Abhinara. Maafkan aku karena meninggalkanmu, bangun dan marah padaku atau memukulku. Aku akan menerima semuanya asal kau buka matamu segera. Kembali padaku, aku mohon."
Laras hanya bisa menahan tangis melihat kedua anak kembarnya. Ini juga termasuk salahnya karena memisahkan mereka. Berpikir mungkin Arbiyan bisa berubah jika mengirimnya ke Luar Negeri. Nyatanya yang ia lakukan malah menyakiti mereka berdua. Bukankah ia ibu yang buruk?
Jika bisa memutar waktu lagi, Laras takkan melakukan hal bodoh itu. Ia takkan memarahi Arbiyan yang selalu membuat masalah asal semuanya dapat di perbaiki.
Semua memang salahnya.
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!