Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENYESALAN SOBIRIN
Malam yang gelap mulai menyelimuti desa yang damai. Suara lolongan anjing hutan mulai terdengar.
Tampak suasana malam sangat sepi.
Sobirin yang sendirian berjalan pulang menuju rumahnya, merasakan ada keanehan di malam tersebut.
"Kok, suasananya agak berbeda ya? Hem... tapi apa yang beda. Tiap pulang yasinan juga selalu sepi seperti ini, kalau kemalaman. Gara-gara keasikan ngobrol, malah lupa waktu." Gumam Sobirin sendirian.
Dia terus melangkah menyusuri jalan setapak.
Suasana lengang dengan hembusan angin dingin membuatnya menggigil, dia pun berjalan sambil mendekap tubuhnya. Sampai akhirnya di pertengahan jalan, ujung matanya melihat sesosok wanita berambut panjang menjuntai sampai ke tanah, sedang berdiri di samping kiri jalanan. Sobirin seketika menoleh.
Tapi, tidak tampak sosok yang di lihatnya ujung matanya barusan.
"Heh..., ada-ada saja, bikin jantungku mau copot aja ah! Masa iya ada wanita keluyuran di malam yang mulai larut seperti ini. Apa lagi jalanan ini agak jauh jaraknya dari rumah warga. Heran, Pak Salim bikin rumah kok mencil sekali, sampai nggak punya tetangga satu pun di area rumahnya." Sobirin menggelengkan kepala, sambil berjalan.
Namun, bisikan di telinganya sontak mengagetkannya. Suara itu sangat jelas ia dengar. Urat lehernya menegang, hingga ia tak berani menggerakkan kepalanya walau sedetik. Ia terus berjalan mengabaikan suara itu yang terus saja memanggil namanya di telinganya.
Bulu kuduk Sobirin, tiba-tiba meremang. Wajahnya pun mulai menegang.
SREEKKK...
SREEKKK...
Suara langkah kaki yang terdengar terseret-seret..., tetap Sobirin coba abaikan.
Sampai ia pun tak sanggup lagi menahan ketakutannya. "Emak...! Apa ada dedemit yang lagi ngikutin aku?" Ucapnya lirih.
Dia tak memperdulikan suara yang semakin jelas tersebut mendekatinya. Ia lajukan langkahnya lebih cepat. Namun, pundaknya serasa ada tangan yang menepuk dari belakang. Sobirin mengeluarkan keringat dingin. Dia pun berhenti dengan kesusahan menelan ludahnya sendiri.
"Si-siapa kamu? Jangan menakuti, saya. Saya orang baik-baik." Ucap Sobirin tanpa menoleh. Yang kini tubuhnya mulai mengigil.
Sang empunya tangan tak menyahut.
Sobirin mencoba bergerak, namun entah mengapa tubuhnya sangat sulit di gerakkan. "Saya mohon, lepaskan saya. Saya tidak mengganggu anda. Dan saya pun memohon, tolong jangan ganggu saya." Ucap Sobirin lagi panas dingin.
Tiba-tiba terdengar suara cekikikan jelas sekali di telinganya.
"Hihi...! Dasar pengecut! Kamu memang lelaki yang tak punya nyali. Ayo! Ikut aku, Sobirin. Hihi...!" Sibirin makin mengigil. Suara itu masih jelas sekali di ingatannya.
"Embak Wa-Wardah?! A-apakah itu kamu? Embak Wardah, kita sudah di alam yang berbeda. Ku mohon, jangan ganggu saya. Saya mohon maafkan saya." Sobirin nampak panik.
"Hihi...! Dulu, kamu bilang akan mengantarku pulang, sobirin. Ayolah... antarkan aku pulang. Hihi...!" Bahu sobirin makin berat.
Dia yang ketakutan langsung mencoba lari, dan sungguh dia sangat bersyukur karena tubuhnya tak lagi kaku. Dia pun menancapkan kaki seribu, lari secepat-cepatnya.
"Haarrgghhtt!!!" Sobirin lari tunggang langgang. Dengan di ikuti suara tawa yang mengerikan. Dia pun berbelok ke mushola yang terlihat lampunya masih menyala. Dia duduk tepat di bawah lampu, dengan napas tersengal. Hoosst...!
Hoosst...!
Sobirin menenangkan diri. Begitu lega, demit itu tak mengejarnya lagi, pikirnya.
Sampai tiba-tiba, sebuah tangan kembali menepuk bahunya.
"HAAARRHHHGGG!!!" Teriak Sobirin, terkejut.
"HUAARGHHTT!!!"
"Astagfirullah!!!" Suara lain tak kalah terkejutnya dengan, Sobirin.
Sobirin segera menoleh, kala mengenali suara tersebut. "Pak Imam! Alhamdulillah hirobbilalamin...!" Ucapnya lega.
"Astagfirullahhalazim. Kamu kenapa, Sobirin. Kayak habis di kejar setan saja. Untung jantung saya masih sehat." Tanya Pak Imam, heran.
Sobirin terdiam. "Pak, tadi hantunya Wardah, mengganggu saya di jalan." Ucap Sobirin menunduk merasa kekecewaan yang dulu kembali terasa.
"Orang yang sudah meninggal tidak akan bisa menghantui kita. Mungkin kamu lagi ingat dia saja, lalu terbawa perasaan. Sudah, ayo pulang. Saya mau matikan lampu yang di dalam dulu."
Sobirin mengangguk. "Iya, Pak."
Kemudian mereka melanjutkan berjalan pulang. Karena arahnya sama, membuat Sobirin, merasa tenang.
"Tadi dari mana, Rin?"
"Yasinan di rumahnya Pak Salim, Pak. Tetangga desa. Nggak enak kalau nggak hadir. saya di undang datang langsung oleh Pak Salim sendiri, soalnya."
"Oh, yang anak gadisnya meninggal belum lama itu?"
"Iya, Pak. Pak, saya masih kepikiran tentang kejadian masa lalu itu. Seharusnya kita cari jasad mereka, dan kita kuburkan." Sobirin mulai mengungkit masa lalu.
"Walah, Rin. Masih saja membahas itu. Wardah kan jatuh ke dalam jurang. Sedangkan Azram, dia mati dalam kobaran api. Yo wes to Rin, ikhlaskan. Wong kita ya nggak bisa apa-apa. Doakan saja, agar keduanya tenang di sisi Allah. Wes to, tenangkan hatimu, jangan sampai pikiranmu di kuasai rasa bersalahmu. Akhirnya ya kayak kejadian barusan itu." Papar Pak Imam.
Sobirin mengangguk paham. Tapi, kejadian tadi seolah benar-benar nyata, bukan sekedar halusinasinya semata. Sobirin pun hanya bisa menghela napas dalam.
***
Pagi sekali Rendi terbangun. Terlihat dia begitu semangat pagi itu. Dengan suara lirih, dia melantunkan lagi kasmaran, lalu masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri.
Suara siulan dan nyanyian dari dalam kamar mandi,
membuat Laela, yang sebenarnya masih dalam keadaan kantuk terpaksa terbangun. Otaknya langsung berpikir keras.
Em...! Nggak biasanya Mas Rendi sebahagia itu. Ada apa ya? Dalam hatinya bertanya-tanya. Dia pun mengingat lagi kejadian malam yang panjang di atas ranjang.
Bibirnya mulai tersenyum. "Oh, pasti dia puas banget atas pelayananku semalam. Sampe beronde-ronde lagi. Haduh..., bahagianya." Laela guling-guling di tempat tidur sambil terus tersenyum bahagia.
Rendi akhirnya keluar kamar mandi. Dan Laela dengan senyuman manisnya sudah duduk di kursi menatap Rendi, dengan penuh cinta.
"Mas, pagi banget bangunnya." Sapa Laela dengan suara manjanya.
Rendi sempat salah tingkah kepergok istrinya, namun segera ia menyunggingkan senyum tampak biasa saja. "Iya sayang. Itu semua berkat kamu. Kamu memang hebat." Puji Rendi berbohong.
Laela makin melambung di puji lelaki tercintanya. "Itu sudah kewajibanku, Mas. Ya sudah aku mau mandi dulu ya? Biar wangi kaya, Mas juga." Laela segera menyambar handuknya lalu masuk kamar mandi.
Rendi segera menghembuskan napas leganya. Untung aku segera cepat tanggap. Gawat kalau dia mencurigai sikapku. Hehh! Jangan sampai pokoknya. Baru saja mau memulai.
Rendi segera membuka lemari dan memilih baju.
Hampir 30 menit dia memilih dan mencocokan atasana dengan bawahan yang ia pilih, namun tidak satu pun yang ia rasa cocok.
"Heran! Bajuku kok jadi nggak ada yang matching satu pun." Rendi yang kesal menyilangkan kedua tangannya di pinggang.
Laela yang baru saja keluar dari kamar mandi terheran melihat suaminya yang membuat seisi lemari baju berantakan.
"Mas, ada apa sih?! Sampe bikin lemari berantakan seperti ini?" Laela menatap Rendi penuh tanda tanya.
Rendi langsung terperanjat. "Eh, sayang! Ini, ternyata aku tuh nggak punya baju ya? Bajuku tuh itu-itu saja.
Pantes orang-orang melihatku kayak aku nggak ada pamornya sama sekali di mata mereka. Rencananya... aku hari ini pengen... gitu, terlihat berbeda biar di pandang para bawahan di kebun sebagai bos yang berwibawa. Tapi, kayaknya nggak bakalan bisa deh. Ya sudahlah, aku pakai yang biasanya saja." Rendi mulai memunguti pakaiannya yang berantakan di lantai.
Laela yang awalnya sempat menaruh curiga, kini berubah menjadi terlihat sangat bersedih. "Ya ampun, Mas. Maaf, sangking bahagianya aku bisa menjadi istrimu, aku sampai lupa dengan penampilanmu, maaf Mas, aku yang salah. Seharusnya aku membawamu berbelanja baju baru. Mengingat kamu sekarang adalah suami dari, Laela.
Pemilik perkebunan dan persawahan terbesar sekecematan." Ucap Laela merasa menyesal.
"Sudah sayang, nggak perlu. Aku juga malu lah, masa selalu di beliin istri. Biar aku nabung aja. Kan aku juga termasuk pekerja di perkebunanmu. Uang itu, akan aku ambil 10% dan sisanya akan aku kasih kamu semua. Karena kamu adalah ratuku." Ucap Rendi dengan menatap istrinya lembut.
"Mas! Nggak boleh ngomong gitu! Kamu ini suamiku, kamu juga harus mempunyai penampilan yang keren, supaya kamu seimbang dengan aku. Udah, nanti kamu pulang siang ya? Aku mau bawa kamu ke Mall di kota, buat beli baju bagus." Laela membelai lengan suaminya lembut.
Rendi berpura-pura segan. "Maaf ya sayang, karena aku dari keluarga yang miskin, sehingga selalu merepotkanmu. Dan aku sangat berterima kasih karena kamu menerimaku apa adanya. Aku janji akan selalu setia kepadamu, dan selalu membuatmu bahagia. Hanya itu yang bisa aku berikan kepadamu sayang." Rendi memeluk Leala erat.
Laela begitu terharu. "Iya, Mas. Yang penting kamu selalu membuatku bahagia, setia, itu udah cukup. Jangan khwatirkan tentang nafkah. Aku punya segalanya kok." Keduanya berpelukan. Rendi tersenyum miring.