Cakra Atlas, seorang pria rupawan yang bekerja di sebuah bar, rela menerima pernikahan dadakan demi membayar hutang janji orang tuanya di masa lalu. Namun, siapa sangka, wanita yang dia nikahi adalah Yubie William, seorang wanita yang baru saja gagal menikah karena calon suaminya memilih menikahi wanita lain.
Yubie, yang masih terluka oleh kegagalan pernikahannya, berjanji untuk menceraikan Cakra dalam setahun ke depan. Cakra, yang tidak berharap ada cinta dalam hubungan mereka, justru merasa marah dan kesal ketika mendengar janji itu. Alih-alih membenci istrinya, Cakra berusaha untuk menaklukan Yubie dan mengambil hatinya agar tidak menceraikannya.
Dalam setahun ke depan, Cakra dan Yubie akan menjalani pernikahan yang tak terduga, di mana perasaan mereka akan diuji oleh rahasia, kesalahpahaman, dan cinta yang tumbuh di antara mereka. Apakah Cakra akan berhasil menaklukan hati Yubie, atau akankah Yubie tetap pada pendiriannya untuk menceraikannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diana Putri Aritonang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26.
Masih di lantai dua, tak jauh dari pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat, Cakra berdiri diam. Suara hentakan sepatu pantofel yang kian mendekat memecah kesunyian, membuat telinganya yang tajam menangkap setiap getaran. Dengan kedua tangan yang tersimpan di dalam saku celana, netra Cakra membidik lurus sosok yang perlahan mulai muncul di tangga.
Kanny menoleh singkat, matanya sempat bersirobok dengan netra biru Cakra. Tapi, ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Kanny baru saja pulang dari bekerja dan terlihat enggan untuk menegur Cakra.
Namun, tatapan Kanny tidak bisa tidak tertuju pada pintu kamar yang tertutup rapat di belakang Cakra. Hari ini, ia sama sekali tidak bertemu dengan Yubie. Mantan kekasihnya itu bahkan libur bekerja dan tidak terlihat ada di perusahaan. Sempat ada keinginan untuk tahu bagaimana kabar Yubie, tapi Kanny menyingkirkannya. Ia melanjutkan langkah, dan melewati Cakra begitu saja, seperti biasa.
"Tunggu." Cakra menghentikan langkah Kanny.
Kanny berbalik seraya memasang ekspresi malasnya. Ingin apa lagi si Cakra ini? Tapi, betapa terkejutnya Kanny saat Cakra mendekat dan langsung melayangkan tendangan ke arahnya. Kanny seketika jatuh terdorong ke belakang tanpa aba-aba.
Kanny meringis, dan sepersekian detik berikutnya tubuhnya sudah ditarik bangkit oleh Cakra, lalu hantaman bertubi-tubi mendarat di area perutnya. Cakra menyerang pria itu dengan melibatkan lututnya.
Kanny kesakitan, ruang gerak sedikitpun tak ia dapatkan untuk bisa membalas Cakra. Serangan Cakra begitu kuat dan akurat, bahkan sama sekali tak terbaca oleh Kanny.
"Sialan!!" umpatan kasar meluncur keras dari bibir Kanny yang tersungkur. "Apa-apaan kau, hah?!" marahnya pada Cakra di tengah-tengah rasa sakitnya, yang tiba-tiba saja diserang seperti orang gila oleh Cakra.
Cakra kembali meraih jas Kanny dan mencengkramnya kuat, wajah pria itu memerah saat menatap tajam Kanny. "Apa, kau tanya?! Ini untuk istriku!"
Bugh!
"Akhhh!!"
Tinju Cakra kembali menghantam perut Kanny.
"Beraninya kalian mengusik ketenangan istriku!"
Bugh!
"Beraninya kalian membuat istriku menangis!"
Bugh!
Kanny kembali menjadi bulan-bulanan Cakra. Seperti brandal, ia menghajar Kanny karena telah berani menghasutnya dan Yubie. Karena telah membuat dirinya diamuk oleh istrinya.
"Kak Kanny?!!!"
Bugh!
Kanny terdorong dan terlempar di atas lantai dengan ringisannya saat Cakra menghantam kuat pria itu dengan tinjunya. Bersamaan dengan pekikan Lusy yang baru saja membuka pintu kamar. Wanita hamil itu langsung berlari dan memeluk suaminya. Betapa terkejutnya Lusy melihat wajah Kanny kembali penuh luka, bahkan lebam sebelumnya juga pun belumlah hilang sepenuhnya.
"Kak? Kau tidak apa-apa?" tanya Lusy pada suaminya penuh kecemasan. Lalu, ia beralih menatap marah Cakra yang masih berdiri dengan napasnya yang berat. "Apa yang kau lakukan, Kakak Ipar?! Kenapa kau memukuli Kak Kanny, hah?!" teriak Lusy pada Cakra.
Matanya melihat sendiri bagaimana Cakra tadi menghajar Kanny. Jelas, Lusy merasa marah. Cakra selalu saja menggunakan kekerasan terhadap Kanny. Apa salah suaminya?!
"Kau tanya kenapa aku memukul suamimu?" Dinginnya suara Cakra begitu menyeramkan. Ia menatap tajam Lusy yang seketika dibuat ciut dan takut. "Itu karena suamimu sedang membayar apa yang sudah dilakukan oleh istrinya pada istriku!"
Deg!
Lusy terkesiap mendengar ucapan Cakra. Tubuhnya bergetar dan bahkan tak mampu melawan saat Cakra kembali maju dan malah menarik Kanny berdiri, suaminya itu sudah sempoyongan tapi tak mengurungkan niat Cakra untuk melayangkan pukulannya lagi.
Lusy seketika berteriak histeris melihat hal itu, suaminya kembali di hajar. Nyaris sepatu Cakra menginjak dada Kanny yang terkapar di atas lantai, tapi Lusy lekas menghentikannya.
"Aku mohon, stop Kak! Hentikan! Aku mohon hentikan!!" Lusy melindungi Kanny, ia memohon dengan suara yang sudah bergetar hendak menangis sekaligus takut melihat mata biru Cakra yang menyala. Kakak iparnya kini sangat marah. Dan itu begitu menyeramkan.
Kaki Cakra yang sempat terhenti karena suara permohonan maaf Lusy itu tak membatalkan niatnya untuk menginjak Kanny. Pria itu hanya mengubah sasarannya, hingga berakhir di tangan Kanny.
"Akhhh... Kak!!" Lusy menangis melihat Kanny yang belingsatan karena kesakitan.
"Hentikan, Kakak ipar. Aku mohon hentikan. Maafkan aku! Aku minta maaf." Lusy menangis meminta maaf pada Cakra, berharap Kakak iparnya itu berhenti memukul suaminya dan melepaskan Kanny.
Cakra menjauhkan kakinya, tapi masih saja sempat menendang Kanny. Ia benar-benar muak melihat wajah mereka yang selalu saja mengusik ketenangan istrinya. Apalagi mencoba meracuni pikiran Yubie agar membencinya. Oh, sialan sekali pasangan ini!
"Sekali lagi kau memprovokasi dan menganggu istriku! Kau akan menerima jauh lebih dari ini!!" ancam Cakra tidak main-main. "Jangan kau pikir aku tidak bisa menyentuh wanita, kau baru saja memancing sisi lain diriku!!"
Mendapatkan peringatan yang begitu mengerikan itu membuat Lusy menangis, ia langsung memohon maaf pada Cakra. "Maafkan aku, Kakak ipar. Aku minta maaf..." tangis Lusy dengan bergetar karena ketakutan.
Tapi, Cakra hanya menjauhkan kakinya, mengabaikan Kanny yang terkapar di lantai. Cakra berbalik meninggalkan pasangan itu. Namun, langkahnya terhenti saat netra birunya kini mendapati sang istri sudah berdiri di depan pintu kamar mereka dengan mata yang tertuju ke arahnya.
Yubie terkejut melihat apa yang terjadi. Cakra lagi-lagi menghajar Kanny. Dan itu semua, suaminya lakukan karena ulah Lusy yang Cakra nilai sudah mengganggu ketenangan istrinya. Yubie mendengar semua ucapan Cakra itu.
"Kasihan melihatnya?"
Dua kata itu membuat Yubie langsung menggulirkan netranya kembali menatap sosok Cakra. Ia tadi sempat melirik Lusy, terutama memperhatikan Kanny yang keadaannya tengah meringis kesakitan.
Yubie menggeleng pada suaminya. Membuat Cakra langsung mengangguk puas dan ekspresi wajahnya seketika berubah, lebih santai dari ketika Cakra melontarkan pertanyaan bergaya dingin pada istrinya.
"Sudah malam, waktunya kita beristirahat, Bie." Cakra maju dan Yubie menurut. Perlahan wanita itu pun berbalik, hendak masuk kembali ke kamar mereka.
Namun, alangkah terkejutnya Yubie saat tubuhnya tiba-tiba melayang dan masuk ke dalam dekapan Cakra—suaminya itu ternyata langsung menggendongnya. Yubie tidak bisa berkutik, ia hanya bisa membiarkan Cakra membawanya kembali masuk ke dalam kamar.
Meninggalkan dua pasang mata yang menatap mereka dengan perasaan penuh amarah yang tersimpan. Kepergian Yubie dan Cakra menyisakan kekesalan sekaligus tak berdayanya dari Lusy dan Kanny.
semangat trus kak author ,, dtggu pakee banget update selanjut ny ,,
Bismillah langsung 5 bab🤭🤣🤣 ,,
sehat selalu kak ,,
🤭🤣
Istri mu gelisah nungguin kamu yang nggak pualng-pulang loh ...
mau di bungkus pake ap ni duo ulet sagu ,,
bikin rusuh aja ,,,
🤣🤣🤣🤣
kak author gmn cerita ny sih ,,
si ikan kembung lusy bisa ad di keluarga William ,,
ap tuan William selingkuh ap gmn ,,
/Smug//Smug/