Tragedi menimpa Kenanga, dia yang akan ikut suaminya ke kota setelah menikah, justru mengalami kejadian mengerikan.
Kenanga mengalami pelecehan yang di lakukan tujuh orang di sebuah air terjun kampung yang bernama kampung Dara.
Setelah di lecehkan, dia di buang begitu saja ke dalam air terjun dalam keadaan sekarat bersama suaminya yang juga di tusuk di tempat itu, hingga sosoknya terus muncul untuk menuntut balas kepada para pelaku di kampung itu.
Mampukah sosok Kenanga membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kabur
"Aku tidak mau, kuntilanak itu sudah membuat aku tidak bisa kembali ke tubuh lamaku karena tubuhnya sudah di rusak" jawabnya
"Ibunda kami bukan kuntilanak!" bentak Anggadana
"Kalian bocah ingusan, akan aku kalahkan kalian"
"Kamu tidak tahu siapa kami?"
"Aku tidak peduli siapa kalian, aku butuh tubuh baru dan akan aku dapatkan dari gadis itu"
"Kamu akan menyesal karena sudah mengabaikan perintah kami untuk pergi" ucap Anggadana menyeringai
"Mana lantai rumah kak Kenanga jadi kotor, kan harus di bersihkan dengan air tujuh rupa, darah mahluk seperti kamu itu akan membawa masalah di rumah ini!" bentak Argadana
Argadana mengusap darah itu dan menempelkannya pada sehelai daun yang dia petik lalu dia bakar.
"Bagaimana mungkin jin kecil itu bisa membakar darahku, aku harus pergi dari sini" batin kuyang itu terlihat lemah
"Hahaha.... Kamu takut ya, makanya jangan suka meremehkan orang" ledek Anggadana
"Kita bukan orang" bisik Argadana
"Tapi dia juga antara ada dan tiada, dia manusia tapi juga seperti hantu, mana ada manusia bisa memisahkan diri dengan organ dalamnya begitu" jawab Anggadana
"Iya juga, dia bilang mau menjadikan tubuh kak Kenanga sebagai rumah barunya, itu artinya dia mengincar kak Kenanga, tidak bisa kita biarkan pergi" ucap Argadana
Keduanya menatap tajam kuyang itu yang juga sedang waspada dan akan berniat pergi tapi bisa di sadari keduanya yang langsung menyerang kuyang itu dengan bola api yang mereka keluarkan dari mulut mereka.
"Aku akan pergi! Jangan menyerang ku" ucap kuyang itu
"Kamu pikir kami ini bodoh! kamu pasti akan membahayakan kak Kenanga, jangan harap kamu bisa pergi dari wilayah kekuasaan ayahanda kami!"
"Iya, kamu sekarang sedang berada di wilayah kekuasaan kerajaan Gandradana, dan setiap tempat di sini adalah wilayahnya termasuk tanah dan rumah ini"
"Tidak, aku tidak mau mati, aku sudah melakukan ini sejak lama dan aku selalu berhasil, sekarangpun harus berhasil" ucapnya ketakutan dan terbang menjauh pergi dari sana.
Kejar kejaran terjadi, kuyang itu lumayan cepat sampai membuat Argadana dan Anggadana kesulitan untuk mengejarnya, apalagi kuyang itu terbang melesat ke celah celah pohon yang membuat kedua anak Sahara itu kesal, karena setiap kali hampir tertangkap, kuyang itu akan masuk ke celah sempit pepohonan di tempat itu.
"Sial, dia kabur lagi" kesal Argadana
"Aku lihat dia tidak akan bertahan lama, kalau dia tidak menemukan tubuh baru, dia akan mati" ucap Anggadana
"Kalau kita bertemu lagi dengannya, kita pasti akan mengenalinya juga, kan sudah kamu tandai" ucap Anggadana
Argadana mengalah, mereka akhirnya pulang untuk kembali berjaga di rumah Kenanga, karena Dimas dan Kania yang meminta mereka untuk melakukan itu supaya rumah Kenanga tidak di tempati makluk halus lain.
~~~~~
Pagi harinya.
"Selamat pagi" sapa Sigit yang sudah rapi dengan pakaian santainya.
Karena dia bekerja di ladang, Sigit jadi tidak perlu berpakaian terlalu rapi, yang penting bersih dan nyaman, begitupun dengan Kenanga. Kedua tidak melewati malam pertama mereka dengan romantis, karena saat Sigit hendak mengecup bibir Kenanga, Kenanga tiba tiba saja gemetar dan Sigit yakin itu di sebabkan karena kejadian yang menimpanya.
"Selamat pagi, maaf" ungkap Kenanga memeluk Sigit, dia merasa malu karena dia bahkan tidak bisa memberikan meski hanya sekedar kecupan untuk Sigit.
"Tidak apa apa, aku yang salah karena terlalu buru buru, aku yang minta maaf" ucap Sigit karena semalaman Kenanga hanya menangis sampai tertidur di pelukan Sigit
"Tapi harusnya Kenanga bisa memberikan itu pada mas Sigit" ucap Kenanga
"Mau memberikan apa, kamu saja baru selesai nifas kan, aku ingin kamu pulih dulu, dokter juga mengatakan kalau kamu harus menunda kehamilan setidaknya satu tahun, jadi sebaiknya kamu di KB saja" ucap Sigit
"Tidak mau, Kenanga tidak mau di suntik" Ucap Kenanga
"Siapa bilang di suntik, aku hanya akan beli pil KB saja, itupun nanti saja setelah tiga bulan, aku takut menyakiti kamu" ucap Sigit
"Kalau Kenanga masih seperti ini?" tanya Kenanga
"Tidak akan, akan aku buat kamu lupa dengan sentuhan orang orang itu, dan hanya akan ingat padaku saja" jawab Sigit
Kenanga meremas ujung atasan yang dia pakai, dia kembali merasa kalau dirinya tidak layak untuk Sigit tapi Sigit segera merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya.
"Jangan pikirkan apapun, kamu itu berharga untukku Kenanga itu sebabnya aku memperjuangkan kamu" bujuk Sigit
"Aku tidak bisa melupakan kekejaman mereka mas" ucap Kenanga
"Apa kamu ingin melupakan semuanya?" tanya Sigit dan Kenanga mengangguk
"Saat sebelum kamu masuk ke dalam ragamu, kak Dimas memberikan aku berry hitam, katanya itu adalah buah gaib dari rawa congkrang, khasiatnya adalah supaya kamu bisa melupakan semua yang terjadi padamu, hanya kejadian buruk saja, kalau kamu mau, kamu bisa memakannya" ucap Sigit
"Apa Kenanga juga akan lupa pada kak Sigit?" tanya Kenanga
"Aku juga tidak tahu, katanya tergantung orang yang memakannya ingin sebanyak apa dia melupakan masa lalunya" jawab Sigit
Kenanga berpikir cukup serius, dia memang ingin melupakan semuanya, tapi jika di lupakan, otomatis dia juga akan lupa kalau dia sudah menikah dengan Sigit dan Kenanga tidak mau melupakan semua kebaikan Sigit.
"Tidak perlu mas, Kenanga akan berusaha sebisa Kenanga supaya trauma itu tidak membuat Kenanga lemah" jawab Kenanga yakin.
"Kalau begitu aku akan sabar mendampingi kamu dan juga menunggu kamu sampai siap" balas Sigit
"Terima kasih"
"Tapi apa kamu akan bekerja dengan mata sembab seperti itu?" tanya Sigit meledek
"Kenanga malu, tapi masa baru beberapa hari kerja Kenanga sudah ijin" rengek Kenanga
"Pakai kaca mata saja"
"Tambah malu"
Cup. Cup.
"Tuh sudah aku kecup, harusnya kamu jangan malu lagi" ucap Sigit langsung kabur keluar kamar setelah mencuri kecupan di kedua mata Kenanga yang anehnya membuat mata Kenanga tak lagi sembab.
"Mas Sigit!" pekik Kenanga mengejar Sigit
Dimas dan Kania yang berpapasan dengan dua pengantin baru itu hanya bisa geleng-geleng kepala karena keduanya mirip Dirga dan Delisha saat berada di dalam rumah, pasti ribut kalau tidak cekikikan berdua di rumah.
"Jadi rindu dua kembar itu" gumam Dimas yang masih menggendong anaknya
"Iya, aku juga rindu Ghafar dan Ghifari" sambung Kania.
"Mereka pasti baik-baik saja, aku meminta ayah Hala untuk mengikuti pak Endang" ucap Dimas
"Kenapa bukan Sahara?" tanya Kania
"Ayah Hala bisa menjelma jadi manusia lebih lama karena dia sudah lama ikut papa Galuh, kalau Sahara perempuan, yang ada dia malah di goda orang orang kalau menyamar jadi manusia, dia kan biangnya genit" jawab Dimas
"Bima punya ibu angkat hantu genit, Bima suka Ibunda Sahara?" tanya Kania dan bayi yang baru berusia satu bulan itu tersenyum manis ke arah Sahara yang sedang menempel di dinding rumah Bintang.
"Mereka tidak tahu saja kalau ada yang lebih genit dari Sahara, dan sekarang dia jadi penunggu air terjun Dara"
"Putri yang wajahnya mirip Kenanga plek ketiplek, yang jadi pengantin gaib si Gama, dia itu lebih genit dari Sahara, semua pengendara di sana dia gangguan kalau malam" gerutu Sahara
"Bohong" ledek Dimas
"Ish, Dimas nyebelin sekarang, nggak asik lagi, Sahara nggak like Dimas"
"Aku kan like nya sama Kania wlee" ledek Dimas menjulurkan lidahnya