NovelToon NovelToon
Love, On Pause

Love, On Pause

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:530
Nilai: 5
Nama Author: Nisa Amara

Jovita Diana Juno dikhianati oleh kekasihnya sendiri, Adam Pranadipa tepat tiga bulan sebelum pernikahan mereka. Sementara itu, Devan Manendra lekas dijodohkan dengan seorang anak dari kerabat ibunya, namun ia menolaknya. Ketika sedang melakukan pertemuan keluarga, Devan melihat Jovita lalu menariknya. Ia mengatakan bahwa mereka memiliki hubungan, dan sudah membicarakan untuk ke jenjang yang lebih serius. Jovita yang ingin membalas semua penghinaan juga ketidakadilan, akhirnya setuju untuk berhubungan dengan Devan. Tanpa perasaan, dan tanpa rencana Jovita mengajak Devan untuk menikah.

update setiap hari (kalo gak ada halangan)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisa Amara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Alarm ponsel Jovita meraung tiba-tiba, membuatnya tersentak seperti ditarik paksa keluar dari mimpi. Begitu matanya terbuka, ia mendapati dirinya sudah berada di kamarnya. Dengan pelan ia bangkit duduk, memegangi kepala yang berdenyut.

“Ah… kepalaku…” desisnya lirih.

Ia menutup mata sejenak, berharap rasa pening itu mereda. Namun saat kelopak matanya turun, potongan memori semalam justru muncul.

Ia langsung membuka mata lebar-lebar.

“Apa yang aku…” kalimatnya berhenti di tenggorokan. Panik pertama yang muncul bukan kenangan ciumannya.

Dengan cepat ia menunduk dan meraba tubuhnya sendiri, memeriksa pakaiannya. Masih lengkap. Tidak ada yang berubah sama sekali… kecuali sepatu yang ia tendang sembarangan.

Jovita menghela napas panjang campur frustasi, lalu mengacak rambutnya sendiri.

“Aku pasti udah gila…”

Tiba-tiba terdengar suara berisik dari arah dapur. Jovita spontan menoleh. Devan sudah bangun, atau mungkin dia bahkan tidak tidur sama sekali.

Perlahan, seakan takut ketahuan, Jovita turun dari kasur dan berjalan menuju pintu. Ia membuka sedikit celah, mengintip.

“Gimana aku ngadepin dia sekarang…?” bisiknya panik. Pipinya memanas mengingat apa yang terjadi.

“Kenapa diem di situ? Sini,” suara Devan terdengar tiba-tiba.

Jovita terlonjak. Ia langsung menutup pintu cepat-cepat, menempelkan punggungnya ke sana. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia merasa benar-benar ingin menghilang saja.

Dengan buru-buru ia berjalan ke meja rias, merapikan rambutnya yang berantakan, berusaha menenangkan wajahnya yang memerah.

“Aku mabuk… Jadi pasti gak inget apa-apa…” gumamnya, mencoba menenangkan diri atau membohongi diri sendiri.

Akhirnya, dengan satu tarikan napas panjang, Jovita memantapkan hatinya. Ia mengangkat wajahnya, berusaha terlihat biasa saja.

Saat pintu kembali ia buka, Devan yang sedang berdiri di dapur langsung menoleh sekilas. Reaksinya tenang, lalu kembali memotong telur dadar di talenan.

“Duduk sini,” katanya tanpa nada aneh, seolah tidak ada kejadian yang mengguncang keduanya semalam.

Jovita menuruti, duduk di kursi dengan tubuh kaku. Tatapannya tidak lepas dari Devan yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu. Gerak-geriknya terlihat santai, mengalir, tidak menunjukkan tanda marah ataupun canggung. Justru itu yang membuat Jovita makin tidak nyaman.

Tak lama Devan kembali, membawa semangkuk bubur nasi panas.

Ia meletakkannya di depan Jovita. “Makan. Kepalamu pasti hancur abis minum segitu banyak,” katanya santai, dengan nada menggoda kecil.

Lalu ia kembali lagi ke dapur, mengambil gelas dan teko air.

Jovita tidak langsung menyentuh bubur itu. Ia hanya menatap mangkuknya, Devan… tetap perhatian. Padahal semalam ia merepotkan habis-habisan dan mungkin lebih dari itu. Rasa bersalah mulai merayap perlahan.

Devan kembali ke meja, menuangkan air ke gelas. “Ah, semalam…”

“Maaf.” Jovita memotong cepat.

Devan berhenti menuang. Ia menatap Jovita, jelas terkejut.

“Aku… aku pikir kamu orang lain,” lanjut Jovita pelan, hampir tak terdengar.

Keheningan langsung menggantung. Devan menatapnya penuh tanya, seolah menunggu kelanjutannya. Tapi Jovita tidak sanggup bicara lagi.

“Orang lain?” ulang Devan lirih. Sorot matanya berubah, lebih dalam, lebih tajam. “Siapa orang lain itu?”

Jovita menatapnya sebentar, lalu menunduk lagi.

“Itu…” Lidahnya kelu.

Bagaimana ia menjelaskan kalau alkohol membuatnya kalut… sampai mengira Devan adalah Adam?

Devan tidak butuh jawaban itu diucapkan. Ia bisa menebaknya. Ada perubahan halus di wajahnya, rahangnya mengeras, napasnya teratur tapi berat.

Teko ia letakkan di meja sedikit lebih keras dari biasanya.

Devan mengembuskan napas, panjang dan tertahan. Ia mengambil obat pereda hangover, meletakkannya di samping mangkuk bubur.

“Jangan lupa diminum,” katanya datar, hampir tanpa ekspresi.

Lalu ia berbalik dan berjalan menuju kamar.

Tepat sebelum masuk, ia menambahkan sambil tetap membelakangi Jovita,

“Kakakmu nyuruh kamu gantiin dia beli bahan roti. Dia nemenin Eden tamasya hari ini.”

Pintu kamar menutup rapat.

Jovita membelalak, tak menyangka Devan sama sekali tidak menyinggung ciuman itu. Seolah ia memang tidak ingin membahasnya. Seolah kejadian semalam… tidak ada.

Ia menunduk, wajahnya memanas oleh rasa malu dan sesal yang menyatu jadi satu.

“Apa yang baru aku bilang…” desisnya frustasi, menutup wajah dengan kedua tangan.

Beberapa saat kemudian, Devan keluar lagi dari kamarnya. Di dapur, Jovita sedang mencuci mangkuk yang tadi ia pakai. Begitu mendengar langkah kaki, ia refleks menoleh. Pandangannya langsung tertuju pada Devan.

“Kamu mau pergi?” tanyanya pelan, suaranya masih terdengar kikuk.

Devan sempat berhenti. Ia ingin menjawab, ingin bilang sesuatu, apa saja, tapi rasa kesal itu masih menusuk. Fakta bahwa ciuman itu hanya terjadi karena Jovita mengira ia orang lain… masih terasa seperti pukulan di dadanya.

Ia akhirnya memilih diam. Tanpa satu kalimat pun, ia memalingkan wajah dan berjalan menuju pintu, lalu keluar dari apartemen.

Sudah tiga puluh menit Devan berlari di atas treadmill. Langkahnya menghentak keras, napasnya memburu, keringat menetes dari pelipis hingga rahangnya. Seolah ia mencoba menumpahkan seluruh kekesalannya lewat kecepatan.

Tapi tubuhnya bukan mesin. Napasnya mulai tak teratur. Akhirnya ia memperlambat langkah, lalu berhenti. Tangannya bertumpu di pinggir treadmill sambil mencoba menahan napasnya.

“Dia… belum melupakannya?” bisiknya lirih.

Jovita sudah siap untuk pergi membeli bahan-bahan roti. Namun begitu pintu terbuka, ia langsung terhenti.

Devan berdiri tepat di depan pintu, seolah baru saja ingin masuk. Tangannya masih terangkat setengah, wajahnya redup dan lelah.

“Aku… harus beli bahan-bahan buat roti,” ucap Jovita pelan, suaranya terdengar goyah. Ia menatap Devan yang hanya balas menatap tanpa ekspresi jelas.

“Hm,” gumam Devan singkat. Ia menurunkan tangannya dan berjalan melewati Jovita tanpa banyak bicara, masuk ke dalam apartemen.

Jovita menoleh ke arahnya. “Sore nanti aku mau ke supermarket, mau ikut?” tanyanya hati-hati, mencoba mencari celah, mencoba menembus jarak yang mendadak tercipta di antara mereka.

“Aku sibuk,” jawab Devan cepat, tanpa menoleh. Nada suaranya datar, dingin.

Dalam beberapa langkah, sosoknya sudah menghilang dari pandangan Jovita.

Jovita terdiam di ambang pintu. Ada sesuatu di dadanya yang ikut merosot, perasaan asing yang tidak ia mengerti. Baru kali ini ia melihat Devan bersikap sedingin itu padanya.

Tanpa bisa melakukan apa-apa, akhirnya ia melangkah keluar dari apartemen.

***

“Kamu datang lagi?” suara Rama terdengar dari belakang, membuat Jovita menoleh cepat.

Ia sedang mencari tepung di rak ketika melihat Rama berdiri di sana. Jovita langsung tersenyum lebar.

“Kakakku minta aku gantiin dia beli bahan,” jelasnya ringan.

Rama mengangguk kecil. “Kalau kamu mau, aku bisa antarkan langsung ke tokonya. Tinggal bilang aja.”

“Serius?” Jovita menatapnya antusias, matanya berbinar. “Kenapa gak bilang dari awal?”

Rama hanya terkekeh pelan. Toko bahan langganan Airin memang miliknya, sesuatu yang baru Jovita ketahui saat pertama kali ia datang, tepat di saat Devan melihat mereka siang itu.

“Kalau kamu butuh sesuatu, bilang aja,” ulang Rama dengan nada tenang.

Jovita mengangguk.

“Oh, ngomong-ngomong,” Rama tiba-tiba menambahkan, suaranya sedikit berbinar. “Aku bakal nikah sebentar lagi. Pastikan kamu datang ya. Aku juga bakal undang beberapa teman SMA kita.”

Jovita spontan membelalak kaget, lalu wajahnya langsung berubah cerah. “Seriusan? Wah… selamat!” ucapnya tulus, ikut benar-benar senang mendengar kabar itu.

Setelah mengantar bahan-bahan itu ke toko dan memastikan stok aman, Jovita duduk sebentar untuk istirahat. Hari itu bukan jadwal kerjanya, jadi ia bisa bernapas lebih longgar.

Tanpa sadar, sore datang begitu cepat. Dari tadi, pikirannya terus kembali pada perubahan sikap Devan pagi tadi.

“Kenapa dia tiba-tiba berubah begitu?” gumamnya bingung. Ia bahkan tak tahu apa yang harus ia lakukan saat berhadapan dengan Devan nanti.

Lalu pikirannya mengarah pada momen memalukan itu, bagaimana ia, dalam kondisi mabuk, bisa mengira Devan adalah Adam. Spontan Jovita menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Aku pasti bener-bener udah gila,” keluhnya.

Ia terdiam beberapa detik. Semakin ia memikirkan semuanya, semakin jelas baginya bahwa dua hal itu saling terhubung.

“Apa dia… marah karena itu? Karena aku pikir dia Adam?” tanyanya pelan, terdengar tak percaya pada dirinya sendiri.

Pintu toko tiba-tiba terbuka. Airin datang bersama Noah dan Eden.

“Jovita? Kamu masih di sini?” tanya Airin, sedikit terkejut. Padahal tadi siang Jovita sudah mengabari bahwa ia selesai membeli semua bahan.

“Hm, cuma nyantai sebentar,” jawab Jovita. Padahal kenyataannya ia sudah duduk di kursi itu berjam-jam.

Noah mendekat. “Gimana kabarmu? Abis nikah kamu hilang tanpa kabar.”

“Kamu sendiri yang gak nanya,” balas Jovita ketus, lalu tiba-tiba teringat sesuatu. “Barang-barangku masih ada di rumah gak?”

“Aku sisain beberapa baju. Siapa tau kamu mau nginap,” jawab Airin .

Jovita langsung bernapas lega. “Aku pikir kalian beneran ngusir aku.”

“Hah? Siapa yang bilang kita ngusir kamu?” tanya Noah, bingung.

“Devan yang bilang,” jawab Jovita cepat, seperti anak kecil mengadu.

Noah dan Airin hampir tertawa, membuat Jovita semakin manyun. Matanya lalu beralih pada Eden.

“Eden,” panggilnya. “Kamu jadi keliatan sombong sekarang, cuma karena kita jarang ketemu.”

Eden spontan tertawa kecil, lalu berlari menghampiri Jovita dan memeluk pinggangnya erat-erat.

“Nanti malam kita mau makan di luar. Kamu ikut?” tanya Noah.

Jovita menggeleng pelan. “Aku harus beli keperluan buat di rumah,” jawabnya sambil mengusap kepala Eden.

***

Jovita sedang memilih buah-buahan di supermarket. Dari tadi ia tak bisa berhenti melirik ke belakang, ke kanan, ke kiri, ke mana saja. Hatinya berharap Devan tiba-tiba muncul dan menyusulnya.

Namun hampir satu jam berlalu, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran pria itu.

Saat ia beralih ke rak lain, tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

Jovita langsung membeku. Jantungnya melonjak, sebuah harapan kecil terbit begitu saja di dadanya.

“Devan?” bisiknya dalam hati.

Ia menoleh cepat sambil tersenyum lega, Namun begitu melihat wajah orang itu, senyumnya perlahan memudar, terseret turun bersama rasa kecewanya.

To be continued

1
Muhammad Isha
iklan buatmu dek
knovitriana
iklan buatmu
Kisaragi Chika
bagus sih
Ayleen Moonscale
si arum pahit ini jangan lupaaaaa
Ayleen Moonscale
kesel banget👹
Nindi
Hmm jadi penasaran, itu foto siapa Devan
Fairuz
semangat kak jangan lupa mampir yaa
Blueberry Solenne
🔥🔥🔥
Blueberry Solenne
next Thor!
Blueberry Solenne
Tulisannya rapi Thor, lanjut Thor! o iya aku juga baru join di NT udah up sampe 15 Bab mampir yuk kak, aku juga udah follow kamu ya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!