NovelToon NovelToon
Jejak Janda Di Jantung Duda

Jejak Janda Di Jantung Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Duda
Popularitas:443
Nilai: 5
Nama Author: Elena A

Elena hanya ingin menguji. Setelah terbuai kata-kata manis dari seorang duda bernama Rd. Arya Arsya yang memiliki nama asli Panji Asmara. Elena melancarkan ujian kesetiaan kecil, yaitu mengirim foto pribadinya yang tak jujur.

Namun, pengakuan tulusnya disambut dengan tindakan memblokir akun whattsaap, juga akun facebook Elena. Meskipun tindakan memblokir itu bagi Elena sia-sia karena ia tetap tahu setiap postingan dan komentar Panji di media sosial.

Bagi Panji Asmara, ketidakjujuran adalah alarm bahaya yang menyakitkan, karena dipicu oleh trauma masa lalunya yang ditinggalkan oleh istri yang menuduhnya berselingkuh dengan ibu mertua. Ia memilih Ratu Widaningsih Asmara, seorang janda anggun yang taktis dan dewasa, juga seorang dosen sebagai pelabuhan baru.

Mengetahui semua itu, luka Elena berubah menjadi bara dendam yang berkobar. Tapi apakah dendam akan terasa lebih manis dari cinta? Dan bisakah seorang janda meninggalkan jejak pembalasan di jantung duda yang traumatis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elena A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permainan Baru Dimulai

Elena terbangun dengan rasa mual yang hebat, seolah otaknya baru saja dicuci dengan air laut yang asin. Pandangannya kabur, hanya ada pendar cahaya lampu kuning yang berkedip di langit-langit beton yang lembap. Baunya bukan lagi bau laut, melainkan bau antiseptik yang bercampur dengan karat.

"Bangun juga akhirnya, Nona Elena."

Suara itu berat, tenang, dan memiliki otoritas yang membuat bulu kuduk Elena meremang. Elena mencoba menggerakkan tangannya, tapi dia menyadari dirinya terikat di sebuah kursi besi. Di hadapannya, pria yang wajahnya menyerupai Adrian namun dengan versi yang lebih tua, pria yang menyebut dirinya pencipta, sedang menuang cairan bening ke dalam tabung reaksi.

"Siapa kamu sebenarnya?" bisik Elena, suaranya parau.

Pria itu menoleh, tersenyum tipis. "Namaku adalah Thomas. Adrian adalah muridku yang paling cemerlang, tapi juga yang paling pengecut. Dia mencuri risetku tentang Neural Integration hanya karena dia jatuh cinta padamu. Dia ingin menggunakan teknologi itu untuk melindungimu,  padahal kegunaan aslinya adalah untuk mengendalikan."

Elena teringat Adrian. Adrian yang selalu lembut, Adrian yang selalu merasa bersalah. "Adrian mencintaiku... dia nggak ingin aku jadi alatmu."

"Dan lihat hasilnya," Thomas tertawa dingin. "Dunia kembali ke zaman batu. Tanpa satelit, tanpa internet, tanpa hukum. Kamu pikir kamu pahlawan karena menghentikan Renata? Kamu hanya merobohkan kandang macan untuk melepaskan naga."

"Di mana Aa Panji?" Elena bertanya, mengabaikan ceramah Thomas.

Thomas berjalan mendekati sebuah tirai plastik besar di sisi ruangan dan menyibakkannya. Di sana, Panji duduk di sebuah kursi serupa, namun kepalanya terhubung dengan ribuan kabel halus yang masuk ke bawah kulit kepalanya. Matanya terbuka, tapi kosong. Tanpa nyawa.

"Aa Panji!" teriak Elena histeris.

Panji tidak merespons. Dia hanya menatap lurus ke depan seperti boneka pajangan.

"Dia adalah karya seni yang belum selesai, Elena," kata Thomas sambil mengusap kepala Panji. "Renata mencoba mengisi otaknya dengan data digital, itu salah besar. Tubuh manusia tidak didesain untuk menyimpan data biner. Tubuh manusia didesain untuk menyimpan insting. Dan insting paling murni adalah... kepatuhan."

Thomas mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk jarum suntik. Di dalamnya ada cairan berwarna perak yang berkilauan.

"Kamu tahu kenapa kamu masih hidup, Elena? Karena di dalam darahmu masih mengalir residu dari Phoenix yang sudah bermutasi. Darahmu adalah jembatan antara mesin dan daging. Jika aku menyuntikkan ini padamu, aku bisa mengunduh seluruh memori operasional Phoenix yang kamu hancurkan tadi langsung ke dalam korteks serebral Panji."

"Kamu mau menjadikannya mesin lagi?" Elena mendesis. "Dia baru saja bebas!"

"Dia nggak akan jadi mesin, Elena. Dia akan jadi Dewa yang bisa aku kendalikan. Bayangkan, seorang manusia dengan kecepatan prosesor komputer, tapi dengan daya tahan biologis yang sempurna. Dia akan memimpin dunia baru ini dari kekacauan yang kamu ciptakan."

Thomas mendekati Elena, jarum perak itu berkilat di bawah lampu kuning. "Jangan takut. Ini akan sedikit... membakar."

"Jangan sentuh dia!"

Tiba-tiba, ledakan kecil terjadi di pintu masuk ruangan. Asap putih memenuhi ruangan. Thomas mundur, sementara beberapa sosok berpakaian hitam menyerbu masuk. Bukan Bram. Bram masih pingsan di kapal tadi, melainkan tim taktis yang Elena tidak kenal.

Di tengah kabut asap, sebuah suara yang sangat familiar berteriak, "Ambil Elena! Hancurkan servernya!"

Itu suara Sari.

Sari muncul dengan senjata otomatis, wajahnya yang biasa tenang kini penuh dengan coretan kamuflase hitam. Dia menembak ke arah pengawal Thomas dengan presisi yang mengerikan.

"Kak Sari?!" Elena tertegun.

"Maaf, Elena. Ada banyak hal yang nggak sempat aku ceritakan. Aku bukan cuma asisten Sari yang culun," kata Sari sambil memotong tali pengikat Elena dengan pisau komando. "Aku bekerja untuk divisi rahasia yang bahkan Adrian nggak tahu."

Kekacauan pecah di dalam laboratorium bawah tanah itu. Thomas mencoba melarikan diri sambil menarik kursi Panji, tapi sebuah tembakan dari Sari mengenai roda kursi tersebut hingga terguling.

Elena berlari menuju ke arah Panji. Dia mencoba mencabut kabel-kabel halus di kepala pria itu. "Aa! Sadar, Aa! Ini aku!"

Tiba-tiba, mata Panji yang tadinya kosong mulai bergetar. Dia mengerang kesakitan. Tubuhnya mengejang hebat saat kabel-kabel itu dicabut paksa.

"Jangan dicabut sekaligus!" teriak Thomas dari kejauhan. "Sarafnya akan terbakar!"

Tapi Elena tidak peduli. Dia memeluk kepala Panji, mencoba memberikan kehangatan yang dia miliki. "Aa, kumohon... kembalilah padaku. Jangan biarkan mereka mengambilmu lagi."

Di tengah pelukan itu, sesuatu yang aneh terjadi. Elena merasakan denyut di perutnya kembali hadir. Bukan denyut Phoenix yang panas, tapi sesuatu yang lebih lembut. Sesuatu yang terasa seperti... Adrian.

Sebuah suara berbisik di pikiran Elena. Bukan suara digital, tapi suara Adrian yang asli.

"Elena... ada satu protokol terakhir. Protokol yang tidak ada di dalam mesin, tapi di dalam hatimu. Lepaskan dia... dengan cara yang benar."

Elena menyadari apa yang harus dia lakukan. Dia harus menggunakan sisa-sisa energi di tubuhnya bukan untuk menghancurkan, tapi untuk menyembuhkan saraf Panji yang rusak akibat eksperimen Thomas.

"Sari! Beri aku waktu!" teriak Elena.

Sari terus membalas tembakan dari anak buah Thomas yang mulai datang lebih banyak. "Lakukan apa pun yang harus kamu lakukan, Elena! Aku nggak bisa menahan mereka lebih lama lagi!"

Elena menempelkan dahinya ke dahi Panji. Dia memejamkan mata dan memberikan segalanya. Seluruh cinta, seluruh kenangan, seluruh rasa sakit yang dia simpan selama ini. Dia membiarkan energi itu mengalir keluar dari nadinya, masuk ke dalam kabel-kabel yang masih tersisa di kepala Panji.

Cahaya putih terang terpancar dari tubuh mereka berdua. Laboratorium itu bergetar hebat.

Saat cahaya itu meredup, Panji menarik napas panjang dan tajam. Matanya kini memiliki binar kembali. Dia menatap Elena, dan untuk pertama kalinya, ada pengenalan yang murni di sana.

"Dek Anin..." bisiknya.

Tapi kebahagiaan itu hanya sesaat. Thomas, yang terluka di lengannya, berhasil mencapai panel kendali utama di dinding.

"Kalau aku nggak bisa memilikinya, maka dunia ini harus benar-benar musnah!" teriak Thomas gila.

Dia menekan tombol merah besar di panel tersebut. Bukan bom nuklir yang aktif, tapi sesuatu yang jauh lebih buruk. Seluruh gedung mulai berguncang dengan frekuensi suara yang sangat tinggi hingga telinga Elena berdarah.

"Apa yang kamu lakukan?!" jerit Sari.

"Protokol Icarus!" tawa Thomas. "Ini akan mengirimkan gelombang elektromagnetik yang akan menghanguskan semua otak manusia di radius sepuluh kilometer yang pernah terhubung dengan Phoenix! Termasuk kamu, Elena! Dan tentu saja, karya agungku, Panji!"

Layar di dinding menunjukkan hitung mundur sepuluh detik.

Elena menatap Panji, lalu menatap Sari. Dia tahu dia tidak bisa lari. Gelombang itu akan menghancurkan otak mereka dalam hitungan detik.

Tapi tiba-tiba, Panji berdiri. Tubuhnya masih dipenuhi kabel, tapi dia melangkah menuju panel kendali dengan kekuatan yang mustahil bagi manusia biasa. Dia tidak mencoba mematikan bomnya. Dia malah memegang kabel-kabel besar di panel itu dengan tangan kosong.

"Aa, apa yang kau lakukan?!" teriak Elena.

"Aku adalah jembatannya, Dek Anin," ujar Panji, suaranya kini terdengar tenang dan sangat dewasa. "Jika aku menyerap gelombang ini ke dalam sistem sarafku sendiri, kalian akan selamat. Tapi aku harus tetap terhubung dengan server pusat ini."

"Nggak! Kamu akan mati!"

"Aku nggak akan mati," Panji tersenyum, sebuah senyum yang sangat manis sekaligus menyayat hati. "Aku hanya akan pulang ke tempat Adrian menunggu. Pergilah, Dek Anin. Hiduplah untukku."

Tepat saat angka di layar mencapai nol, Panji menarik kabel utama. Cahaya biru elektrik membungkus tubuhnya. Elena ditarik paksa oleh Sari keluar dari ruangan saat ledakan energi terjadi. Hal terakhir yang Elena lihat adalah Panji yang hancur menjadi partikel cahaya, terserap ke dalam mesin tersebut.

Namun, saat Elena mencapai permukaan dan menatap langit, dia menyadari sesuatu yang aneh. Semua orang di sekitarnya mendadak berhenti bergerak. Burung-burung di langit membeku di udara. Waktu seolah berhenti.

Dan di hadapan Elena, muncul sesosok pria yang sangat dia kenal. Bukan Adrian. Bukan Panji yang baru saja hilang. Tapi suaminya... Adrian, dalam wujud yang sangat nyata, sedang memegang jam saku yang jarumnya tidak berputar.

"Permainan baru saja dimulai, Elena," kata Adrian sambil tersenyum misterius. "Kamu sudah siap untuk babak yang sesungguhnya?"

1
Elena A
Kamu adalah tubuh baruku.....
Elena A
Je
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!