NovelToon NovelToon
BANGKITNYA GADIS YANG TERTINDAS

BANGKITNYA GADIS YANG TERTINDAS

Status: tamat
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:140
Nilai: 5
Nama Author: Sagitarius-74

Gadis, sejak kecil hidup dalam bayang-bayang kesengsaraan di rumah keluarga angkatnya yang kaya. Dia dianggap sebagai anak pembawa sial dan diperlakukan tak lebih dari seorang pembantu. Puncaknya, ia dijebak dan difitnah atas pencurian uang yang tidak pernah ia lakukan oleh Elena dan ibu angkatnya, Nyonya Isabella. Gadis tak hanya kehilangan nama baiknya, tetapi juga dicampakkan ke penjara dalam keadaan hancur, menyaksikan masa depannya direnggut paksa.
Bertahun-tahun berlalu, Gadis menghilang dari Jakarta, ditempa oleh kerasnya kehidupan dan didukung oleh sosok misterius yang melihat potensi di dalam dirinya. Ia kembali dengan identitas baru—Alena.. Sosok yang pintar dan sukses.. Alena kembali untuk membalas perbuatan keluarga angkatnya yang pernah menyakitinya. Tapi siapa sangka misinya itu mulai goyah ketika seseorang yang mencintainya ternyata...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sagitarius-74, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JALAN BARU SETELAH KEBEBASAN DARI LAPAS

Udara luar terasa segar di paru-paru Gadis ketika dia melangkah keluar dari gerbang lapas yang telah memburukkan kehidupannya selama tiga setengah tahun.

"Alhamdulillah.. Akhirnya aku bebas!" teriak Gadis, dia begitu senang karena kini dirinya telah terbebas dari belenggu lapas yang penuh penderitaan dan penindasan.

 Langkahnya terasa lemah dan bingung – matanya berkeliling, mencari tanda-tanda apapun tentang ke mana dia harus pergi.

"Tapi.. Aku harus kemana pergi? Aku sama sekali tak mempunyai rumah." Pikiran Gadis berkecamuk, dia bingung hendak melangkah kemana.

Rumah sewanya sudah dibatalkan pemiliknya karena dia tidak bisa membayar sewa beberapa tahun.

Dia berjalan perlahan di tepi jalan, kaki terasa berat menaiki trotoar yang bergelombang. Di belakangnya, Ferdiansyah, mengikuti diam-diam.

Dia melihat kebingungan Gadis dengan mata yang penuh perhatian, seolah sudah memprediksi bahwa ini akan terjadi. Dia telah menyiapkan segala sesuatu, tapi tidak mau terlihat tergesa-gesa.

Gadis berhenti di sudut jalan, menatap lalu lintas yang bergejolak. Air mata mulai menggenangi matanya lagi. “Aku tidak punya tempat lagi,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.

Tiba-tiba, bunyi mobil yang melambat terdengar di depannya. Sebuah mobil sedan hitam yang mengkilap berhenti tepat di hadapannya. Pintu sopir terbuka, dan Ferdiansyah keluar dengan wajah yang tenang.

“Kamu kebingungan kemana, ya?” tanyanya dengan suara yang lembut.

Gadis terkejut, tidak menyadari bahwa dia telah diikuti. Dia menundukkan kepala, malu karena Ferdiansyah melihat dia dalam keadaan sesulit ini. “Maaf, Bapak… aku memang tidak tahu kemana harus pergi,” jawabnya dengan suara yang gemetar.

Ferdiansyah tersenyum lembut. “Sudah kubilang, rumahku adalah rumahmu. Ayo, naik saja. Aku sudah menyiapkan kamar untukmu di sana.”

Gadis mengangkat kepala, melihat mata Ferdiansyah yang sangat teduh di matanya. Dia tidak punya alasan untuk menolak. Ini adalah satu-satunya harapan yang dia punya sekarang. Dia mengangguk perlahan dan masuk ke dalam mobil.

Perjalanan ke rumah Ferdiansyah memakan waktu sekitar empat jam. Mobil melaju tenang melalui jalan raya yang ramai, lalu memasuki jalanan terjal yang berkelok-kelok, naik dan turun, masuk ke kawasan pegunungan.

Setelah empat jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di puncak gunung.

"Waaah.. pemandangannya bagus Pak," ujar Gadis, ia turun dari mobil mengikuti Ferdiansyah.

"Iya Gadis, aku beli lahan ini setelah aku berpisah dari Isabella. Jika aku mumet, aku akan menyendiri disini," jawab Ferdiansyah.

"Pak, bukankah Bapak bilang waktu dulu Bapak orang dengan kondisi ekonomi kurang? tapi ko bisa beli villa disini?" tanya Gadis heran.

Ferdiansyah tersenyum, "Ya itulah kehidupan, penuh misteri. Ketika aku sudah bercerai, aku hidup gak tentu arah, suatu hari, aku menolong seseorang dari pencopet, hingga aku tertusuk. orang tersebut ternyata konglomerat, dia mengangkat aku sebagai anaknya karena dia hirup sebatang kara." Ferdiansyah berhenti sesaat.

"Dan ketika dia meninggal, semua asetnya diwariskan padaku. Beberapa perusahaan, hotel, mall.. Dan beberapa villa. Aku kini bisa di bilang crazy rich. Tapi aku tak punya siapa-siapa. Kadang aku pikir, untuk apa aku kaya tapi anakku tidak ada?" Ferdiansyah terhenti, dia menyesali nasibnya yang hidup menyendiri.

" Yang sabar Pak, suatu hari nanti, Bapak akan mendapatkan kebahagiaan." Gadis mencoba menghibur.

Ferdiansyah mengangguk, dia tersenyum hambar.

Udara di puncak Gunung terasa sejuk dan jernih, menyedot napas gadis yang baru saja melangkah keluar dari mobil hitam mewah.

 Matanya terbuka lebar, memandang rumah bergaya mediterania yang berdiri megah di tengah hamparan rumput hijau dan pohon pinus.

" Bagus banget," seru Gadis, mengagumi pemandangan di sekitarnya. Seumur hidupnya, ini pertama kalinya ia pergi ke pegunungan dengan pemandangan indah. Karena seumur hidup, dia hanya tahu rumah, sekolah, dan penindasan keluarga nyonya Isabella.

"Nah, Gadis, inilah rumahku. Aku beri nama villa ini dengan nama Villa Mutiara. Jadi, jika ada perempuan pertama yang menginjakkan kakinya di villa ini, dia bagaikan mutiara.. Dan kamulah mutiara itu," kata Ferdiansyah dengan senyum puas, memandangi wajah Gadis yang imut dan polos tanpa polesan.

" Ya ampun, makasih Bapak," sahut Gadis, tersanjung.

Ferdiansyah menghentikan langkahnya, dia berdiri menghadap Gadis..

"Gadis, nama kamu sekarang adalah Alena," ujar Ferdiansyah, menepuk bahu Gadis.

"Lupakan semua penderitaanmu yang lalu, Alena. Yang penting adalah hari esok, akan lebih baik!"

Alena menunduk, jari-jarinya memegang tali tas yang dia bawa. Hanya tas kecil berisi baju-baju sederhana yang diberikan dari penjara.

Empat tahun lamanya dia terkurung di dalam sel sempit, disebabkan tuduhan yang dibikin oleh keluarga Nyonya Isabella, pencurian yang tidak ia lakukan.

"Makasih, Pak, aku sangat terharu. Ternyata di balik musibah aku dipenjara, Tuhan merencanakan sesuatu yang indah, mempertemukan aku dengan Bapak, orang baik.." Suara Gadis tersekat di tenggorokan. Dia menahan tangis, tangis kebahagiaan.

"Sudahlah, kamu jangan bersedih, saya harus menebus kesalahan Ferdo, Alena. Dia mengkhianati kamu dan juga aku akan mengganti apa yang Isabella sudah lakukan padamu, dia menindasmu sampai kamu terjebak di penjara. Di sini, kamu aman. Saya akan mengangkat kamu menjadi anak saya, memberikan yang terbaik untukmu."

Hati Gadis bergetar. Selama ini, hanya Ferdiansyah yang pernah memperlakukannya dengan baik lain dari yang lain..

Isabella, selalu memandangnya sebagai "gadis hina" yang tidak pantas menikah dengan Ferdo.

Renata dan Rafael, adik-adik Ferdo, selalu menyakitinya dengan kata-kata yang menyakitkan.

Dan Elena, wanita sombong yang merebut Ferdo, selalu menyindirnya sebagai "perempuan yang tidak tahu diri."

"Makasih, Pak," Gadis yang kini berubah jadi Alena itu memeluk Ferdiansyah yang kini menjadi ayahnya.

Ferdiansyah balas memeluk Alena, dia mengusap rambut Alena, "Panggil aku Ayah.. Aku ingin kamu anggap aku ini ayah kandungmu. Aku mencintaimu dari pertama melihatmu.. layaknya cinta seorang ayah pada anaknya."

Tangis Alena makin keras, dia menenggelamkan kepalanya dipelukan Ferdiansyah.

"Makasih, Ayah.." ujar Alena, terbata-bata.

Di dalam rumah, segala sesuatu terasa asing dan mewah. Lantai marmer yang mengkilap, furnitur kayu berkualitas, dan lukisan-lukisan indah di dinding. Seorang pembantu perempuan muda mendatangi mereka, tersenyum ramah. "Selamat datang, Nona Alena. Saya Siti, akan membantu kamu di sini."

"Makasih, Bi Siti," jawab Alena dengan sopan.

Selama beberapa bulan pertama, Alena dirawat dengan baik. Ferdiansyah menyewa guru privat untuknya, karena dia hanya tamat SMA.

Alena di kuliah kan secara privat, dosennya datang ke Villa Mutiara, untuk mempelajari hukum dan manajemen bisnis. Dia belajar dengan giat, semangatnya terbangun kembali setelah lama tertekan.

 Setiap pagi, dia bangun pagi untuk berjalan-jalan di sekitar gunung, menikmati pemandangan asri yang membuat hatinya tenang.

"Saya tahu kamu ingin balas dendam, Alena," ujar Ferdiansyah satu hari ketika mereka minum teh di teras. "Tapi pikirkan lagi. Balas dendam hanya akan membuatmu terjebak di masa lalu."

Alena mengangkat muka, matanya menyala dengan api kemarahan. "Mereka membuat saya kehilangan segalanya, Yah. Anak saya Luna, yang kini sudah berumur enam tahun, tidak bisa aku temui. Aku ingin bertemu dia, menyaksikannya tumbuh besar."

Ferdiansyah menghela napas panjang. "Isabella menyembunyikan dia dari kamu, Alena. Dia kini tinggal bersama Elena. Tapi Ayah melarangmu bertemu dia. Bukan karena Ayah tidak mau, tapi karena itu akan membahayakan kamu. Isabella dan keluarganya akan melakukan apa saja untuk menghancurkan kamu lagi."

Hatinya sedikit goyah. Pesan Ferdiansyah terasa tulus, tapi keinginan untuk bertemu Luna dan memberikan pelajaran pada mereka yang menyakitkannya terlalu kuat. "Aku tidak akan menyerah, Yah. Aku hanya ingin mereka merasa apa yang saya rasakan dulu"

**LIMA TAHUN KEMUDIAN**..

Alena berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya yang mewah. Penampilannya sudah sama sekali berbeda. Rambut hitamnya yang dulu lurus kini dibuat bergelombang lembut, di cat dengan warna coklat keemasan.

 Kulitnya yang dulu kusam, kini terawat bersih bersinar. Alena mengenakan gaun biru laut yang elegan, dengan sepasang sepatu hak tinggi yang membuat badannya terlihat lebih ramping dan sexy.

Gelar sarjana hukum cum laude terpasang di dinding kamar tidurnya, bukti kerja kerasnya selama ini.

"Saya siap, Bi Siti," ujarnya, memutar badan untuk melihat penampilannya sekali lagi.

Bi Siti tersenyum bangga. "Kamu sangat cantik, Nona Alena. Tak ada yang akan mengenali kamu lagi."

Hari itu mereka berangkat ke Jakarta. Ferdiansyah telah mengatur agar Alena bekerja di perusahaan hukum besar yang dia miliki, sebagai konsultan hukum. Dia akan masuk ke dalam lingkaran keluarga Isabella tanpa disadari.

Di kantor, suasana sibuk. Alena berjalan dengan langkah percaya diri, menyapa rekan-rekannya yang baru.

Tiba-tiba, matanya bertemu dengan seorang pria berusia tiga puluh tahunan, dengan rambut coklat gelap dan mata yang sama seperti dulu, Ferdo. Dia berdiri di sudut ruangan, memandangnya dengan tatapan kagum akan kecantikan Alena.

Alena tersenyum lembut, mendekatinya. "Halo, saya Alena. Baru saja bergabung di sini."

Ferdo mengangkat tangan untuk bersalaman, tapi tangannya sedikit gemetar. "Ferdo. Senang bertemu kamu, Alena. Kamu... kamu terasa familiar. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?"

Alena menggeleng, senyumnya tetap menghias wajahnya yang cantik mempesona. "Saya tidak berpikir begitu, Pak Ferdo. Mungkin hanya kesamaan penampilan dengan seseorang yang kamu kenal."

Namun, keraguan di mata Ferdo tidak hilang. Dia selalu mengawasinya dari kejauhan, kadang-kadang mendekatinya untuk berbicara.

Alena bisa merasakan bahwa dia masih mencintainya seperti dulu. Tapi dia tidak mau mengingatnya. Semua yang dia inginkan adalah balas dendam..

1
Tie's_74
Haloo.. Minta dukungan untuk ceritaku yang ke 2 ya .. Makasih 😁🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!