Setelah kematian istrinya, Nayla. Raka baru mengetahui kenyataan pahit. Wanita yang ia cintai ternyata bukan hidup sebatang kara tetapi ia dibuang oleh keluarganya karena dianggap lemah dan berpenyakitan. Sementara saudari kembarnya Naira, hidup bahagia dan penuh kasih yang tak pernah Nayla rasakan.
Ketika Naira mengalami kecelakaan dan kehilangan ingatannya, Raka melihat ini sebagai kesempatan untuk membalaskan dendam. ia ingin membalas derita sang istri dengan menjadikannya sebagai pengganti Nayla.
Namun perlahan, dendam itu berubah menjadi cinta..
Dan di antara kebohongan, rasa bersalah dan cinta yang terlarang, manakah yang akan Raka pilih?? menuntaskan dendamnya atau menyerah pada cinta yang tak seharusnya ada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Happy Reading...
.
.
.
Raka tidak ingin lagi menerka-nerka. Ketidakpastian justru membuat dadanya semakin sesak. Ia menarik napas panjang, lalu menegakkan tubuhnya. Tatapannya tertuju lurus pada wajah Naira yang masih memalingkan pandangan dari dirinya.
“Naira,” panggil Raka dengan suara rendah namun tegas. “Jawab aku.”
Naira tidak bergerak. Hanya jemarinya yang menggenggam selimut semakin erat.
“Apa kamu sudah mengingat semuanya?” tanya Raka lagi. “Apa kamu mengingat siapa diri kamu sebenarnya?”
Keheningan kembali tercipta. Detak alat monitor terdengar semakin jelas di telinga Raka. Hanya ada keterdiaman.. Tidak ada jawaban.. Tidak ada sanggahan..
Raka mendengus pelan, rasa kesal perlahan muncul di wajahnya. “Melihat keterdiaman kamu sepertinya iya.” ujarnya dingin. “Apa itu berarti kamu juga sudah mengingat Nayla?”
Pertanyaan itu seolah memiliki daya tarik yang berbeda. Naira akhirnya menoleh. Tatapan matanya bertemu dengan mata Raka. Tidak ada lagi kebingungan di sana. Tidak ada lagi keraguan. Yang ada hanyalah kemarah dan kekecewaan.
Dari sorot mata itu saja, Raka sudah mendapatkan jawabannya.
Raka menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, lalu bersedekap dada. Rahangnya mengeras. Mereka saling memandang dalam diam yang menyesakkan. Tidak ada kata yang terucap, namun dari situ ada ribuan makna beradu di antara tatapan mereka.
“Kamu tidak perlu lagi berpura-pura peduli kepadaku.” Ucap Naira akhirnya. Suaranya tenang, namun terdengar dingin dan datar. “Dan juga pada anakku.”
Raka mengangkat sedikit alisnya, namun tetap diam.
“Bukankah sebelumnya kamu memang sudah berniat untuk menggugurkan kandunganku?” Lanjut Naira. Kali ini suaranya sedikit bergetar, namun ia berusaha mempertahankan ketegaran. Ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya. “Jadi untuk apa semua kepedulian palsu itu?”
Sudut bibir Raka terangkat, membentuk senyum sinis yang sama sekali tidak menyenangkan. “Kamu benar.” ucapnya tanpa ragu. “Kamu benar.. Aku memang berniat melakukannya.”
Naira terdiam. Dadanya terasa sesak, meski ia sudah tahu jawabannya Tapi mendengar langsung dari bibir Raka membuatnya semakin menyakitkan.
“Dan aku juga memang tidak pernah berniat merawat anak yang bukan darah dagingku.” lanjut Raka lagi dengan nada datar. “Sejak awal...”
Ia kembali tersenyum, kali ini terlihat lebih puas. seolah ingin menegaskan kemenangannya. Senyum itu menusuk hati Naira lebih dalam daripada pisau mana pun. Dadanya terasa perih, napasnya tercekat.
Jadi ini wajah asli lelaki yang selama ini berdiri di sisinya. Air mata kembali menggenang di mata Naira, namun kali ini ia menahannya. Ia menegakkan punggungnya meski tubuhnya masih lemah. “Kalau begitu, semua yang kamu lakukan selama ini.. pernikahan itu.. perhatianmu.. semua itu memang hanya sandiwara?”
Raka terdiam sejenak, lalu menghela napas. “Awalnya, iya..” Jawabnya jujur. “Aku tidak akan menyangkalnya.”
Entah kenapa kejujuran itu justru terasa lebih menyakitkan.
Naira menoleh kembali ke arah jendela. Bahunya bergetar, namun ia tidak ingin Raka melihat air matanya jatuh. Di dalam hatinya, ada kehancuran yang semakin lama semakin membesar. Lelaki yang ia kira mulai peduli kepadanya, ternyata masih terjebak dalam kebencian dan ego yang sama.
Ia mengingat wajah Nayla. Senyum hangat kakaknya. Kata-kata terakhirnya. Raka adalah orang baik.
Namun kini, Naira tidak lagi yakin.
Sedangkan Raka dengan senyum sinis yang masih tersisa di wajahnya, sama sekali tidak menyadari bahwa kejujuran yang baru saja ia lontarkan akan menjadi awal dari kehancuran hidupnya yang jauh lebih besar.
.
.
.
Sudah genap dua minggu Naira menjalani perawatan di rumah sakit. Dua minggu yang terasa panjang dan sangat melelahkan untuknya, baik secara fisik maupun mentalnya.
Pagi ini, setelah pemeriksaan terakhir dilakukan, dokter akhirnya mengizinkan Naira untuk pulang. Meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih, kondisinya dinyatakan cukup stabil untuk melanjutkan pemulihan di rumah.
Raka datang bersama Jingga untuk menjemput Naira. Beberapa hari terakhir, Raka memang kerap mengajak Jingga ke rumah sakit, namun selalu memilih waktu ketika Naira tertidur. Ia tidak ingin anaknya melihat kondisi Naira yang masih lemah, dan entah mengapa ia juga berusaha untuk menghindari tatapan Naira. Sejak percakapan terakhir mereka setelah Naira siuman, jarak yang tak terlihat seolah terbentang di antara keduanya. Tidak ada sapaan, tidak ada percakapan. Naira memilih diam, mengabaikan keberadaan Raka seakan lelaki itu hanyalah udara.
Begitu pintu ruang rawat dibuka, Jingga yang sejak tadi berada dalam gendongan Bi Sumi langsung meronta kecil. Kedua tangannya terulur ke depan, matanya berbinar saat melihat sosok yang sangat ia rindukan.
“Mama!” teriak Jingga nyaring, suaranya menggema di dalam ruangan.
Naira yang sedang duduk bersandar di ranjang menoleh. Begitu melihat Jingga, senyum tulus langsung terbit di wajahnya. Senyum yang hangat, lembut dan terlihat penuh kerinduan. Senyum yang tanpa sadar membuat langkah Raka terhenti sejenak. Ia tertegun. Sudah beberapa hari ia tidak melihat Naira tersenyum seperti itu. Senyum yang bukan dibuat-buat, bukan pula senyum terpaksa. Melainkan senyum seorang ibu yang akhirnya kembali bertemu anaknya.
“Sayangnya mama...” lirih Naira, kedua matanya berkaca-kaca.
Begitu berada dalam jangkauan, Jingga langsung memeluk Naira dengan erat. Tangannya melingkar di leher Naira, kepalanya bersandar di bahu sang ibu. Naira mengangkat tubuh kecil itu dan mendekapnya penuh kasih. Pelukan itu begitu kuat, seolah Jingga takut jika ibunya akan kembali menghilang dari hadapannya.
Namun di balik pelukan itu, Naira menahan rasa perih yang menjalar dari perut bagian bawahnya. Jahitan operasi di perutnya belum benar-benar kering. Setiap gerakan terasa menarik dan menyakitkan. Wajahnya sedikit menegang, namun ia berusaha menahannya. Ia tidak ingin Jingga menyadari rasa sakit itu.
Raka yang melihat hal tersebut refleks melangkah mendekat. Tangannya terulur, berniat mengambil alih Jingga dari gendongan naira. “Naira, biar aku saja..” Ucapnya, nada suaranya terdengar khawatir.
Namun sebelum tangannya menyentuh tubuh Jingga, Naira menepisnya dengan cepat. Gerakannya tegas meski terlihat lemah.
“Tidak..” ucap Naira singkat, tanpa menoleh.
Raka terdiam. Tangannya menggantung di udara sebelum akhirnya ia menariknya kembali. Ada rasa asing yang menusuk dadanya. Penolakan itu terasa dingin dan bahkan terlihat jelas. Tanpa berkata apa pun lagi, Raka memilih mengalihkan perhatiannya. Ia meraih tas yang berisi beberapa pakaian dan barang milik Naira yang sudah disiapkan sejak pagi.
Ia membawanya keluar ruangan dengan langkah agak cepat. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Naira pun tidak menahannya. Ia perlahan menurunkan Jingga, lalu berdiri dengan hati-hati. Tubuhnya masih terasa lemah, namun ia memaksakan diri. Ia sungguh tidak ingin terlihat rapuh di hadapan Raka.
Dengan langkah pelan, Naira mengikuti Raka keluar ruangan. Di ikuti bi Sumi di belakangnya. Jingga kembali menggenggam tangannya erat, seolah takut kehilangan lagi. Di lorong rumah sakit itu, mereka berjalan dalam diam. Tidak ada percakapan. Hanya langkah kaki yang bergema, membawa mereka pulang dengan perasaan yang tidak lagi sama seperti saat mereka datang.
.
.
.
Jangan Lupa tinggalkan jejak dong...