"Kau akan dibunuh oleh orang yang paling kau cintai."
Chen Huang, si jenius yang berhenti di puncak. Di usia sembilan tahun ia mencapai Dou Zhi Qi Bintang 5, tetapi sejak usia dua belas tahun, bakatnya membeku, dan gelarnya berubah menjadi 'Sampah'.
Ditinggalkan orang tua dan diselimuti cemoohan, ia hanya menemukan kehangatan di tempat Kepala Desa. Setiap hari adalah pertarungan melawan kata-kata meremehkan yang menusuk.
Titik balik datang di ambang keputusasaan, saat mencari obat, ia menemukan Pedang Merah misterius. Senjata kuno dengan aura aneh ini bukan hanya menjanjikan kekuatan, tetapi juga mengancam untuk merobek takdirnya.
Bagian 1: Gerbang Dimensi Harta ~ 26 Chapter
Bagian 2: Aliansi Xuan Timur vs Wilayah Asing ~ ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Praktek Tapak Kaisar Es Penghancur
Di hadapan gua, Chen Huang kini berdiri dalam wujud aslinya. Tubuhnya yang tinggi dan tegap, bahunya yang lebar, serta otot-otot yang terbentuk dari latihan keras kini terasa familiar dan nyaman. Wajahnya yang tampan, disinari oleh cahaya gunung yang lembut, memancarkan aura maskulinitas yang kuat.
Ia menggerakkan tubuhnya dengan gerakan yang luwes, meregangkan lengan dan memutar leher. Setiap sendi berderak pelan, sebuah melodi kenyamanan yang sudah lama ia rindukan.
"Nah, ini lebih baik."
Gumaman itu keluar dari bibirnya, sebuah pengakuan akan kenyamanan yang tak tertandingi dari tubuh yang telah ia kuasai sejak lahir.
Rasa sesak dan guncangan yang mengganggu telah lenyap, digantikan oleh fondasi kokoh yang ia miliki.
Dari cincin penyimpanannya, ia mengeluarkan sebuah gulungan. Gulungan itu berwarna hitam pekat, terbuat dari bahan yang terasa kuno dan dingin di sentuhan.
Bagi mata biasa, gulungan itu tampak usang dan tidak berharga. Namun, bagi Chen Huang, ia dapat merasakan energi Dou Qi sedingin es yang terkunci di dalamnya—sebuah kekuatan yang menanti untuk dibangkitkan.
Ia membuka gulungan hitam itu. Gulungan itu tidak memancarkan cahaya terang, melainkan hawa dingin yang menusuk, seolah-olah udara di sekitarnya tiba-tiba berubah menjadi kristal es.
Chen Huang memejamkan mata, membiarkan semua pengetahuan yang ditanamkan dalam gulungan itu mengalir deras ke lautan kesadarannya. Ilmu tentang kekuatan yang menghancurkan, tentang perpaduan energi spiritual dan Dou Qi yang dingin, semua meresap dalam sekejap.
Setelah menyerap teknik itu, Chen Huang membuka matanya. Pandangannya beralih pada sebuah batu besar yang berdiri kokoh beberapa meter di depannya. Batu itu tampak tak tergoyahkan, sebuah target yang sempurna untuk menguji batas kekuatannya.
Ia mengangkat tangan kanannya, mengarahkannya lurus ke batu tersebut. Dou Qi miliknya berputar kencang, dan lapisan hawa dingin mulai menyelimuti tubuhnya, memancarkan aura yang mencekik.
Di tengah telapak tangannya, sebuah titik cahaya biru es mulai berkumpul, berdenyut dengan energi destruktif.
"Dengan satu tapak Kaisar, kupinjam kekuatan immortal untuk memecahkannya."
Napasnya tertahan, setiap otot di tubuhnya menegang, menyalurkan energi yang belum pernah ia keluarkan sebelumnya.
"Tapak Kaisar Es Penghancur!"
Bomb—!
Cahaya es biru melesat dari telapak tangannya, bukan sebagai gelombang, melainkan sebagai palu energi yang terkonsentrasi. Ketika energi itu menghantam batu, tidak ada suara gesekan, hanya ledakan yang memekakkan telinga.
Batu besar dan kokoh itu seketika meledak, hancur berkeping-keping, serpihan batu melayang di udara seperti debu. Sebuah lubang besar menganga di tanah tempat batu itu berdiri.
Namun, di tengah kemenangan kekuatan yang mengerikan itu, hukum alam menuntut balasannya.
Seketika setelah serangan itu, rasa sakit yang tak tertahankan meledak di dada Chen Huang. Itu terasa seperti petir dingin yang menyambar dari telapak tangan, merambat melalui meridiannya, dan menghantam jantungnya.
Pembuluh darahnya terasa seperti robek, dan Dou Qi dingin yang tak terkontrol itu menyerang tubuhnya sendiri.
Darah segar menyembur keluar dari mulutnya dalam semburan panas, kontras dengan hawa dingin yang menyelimuti tubuhnya. Ia terhuyung-huyung ke belakang, lututnya ambruk.
"Ugh—Cough."
Batuk darah itu mengiringi tubuhnya yang jatuh ke tanah. Ia terbaring tak berdaya di antara puing-puing batu yang ia hancurkan, setiap otot terasa lemas. Otaknya berputar, rasa sakit membuatnya mual.
"Sial, memang terlalu kuat hingga tidak bisa kutahan," pikirnya, suaranya di dalam benak terdengar lemah dan hancur.
Ia berusaha menggerakkan jari, namun tubuhnya menolak. Ia hanya bisa memejamkan mata, membiarkan kegelapan merayap dan menelan kesadarannya.
Chen Huang pingsan di tempat itu, sendirian, dikelilingi oleh sisa-sisa Dou Qi es yang kejam, sebuah monumen bisu atas harga dari kekuatan yang luar biasa.