Follow ig author @tulisan_bee 😚
Menggantikan posisi anak majikannya untuk menikah dengan seorang lelaki bangsawan, sungguh tidak pernah terlintas dalam benak Luana Casavia.
Karena lelaki itu menatapnya dengan sorot mata dingin, bahkan ketika ia memasangkan cincin ke jari manis Luana.
My Fake Bride: Jika aku ini palsu, akankah kau bisa mencintaiku meski sedikit saja?
Terima kasih sudah mampir dan selamat jatuh cinta~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NadiraBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Alasan
"Membawamu ke hadapan keluarga besar tidak pernah terlintas di pikiranku. Tetapi lagi-lagi, aku tidak punya pilihan." ~Rey Lueic.
.
.
.
Jika Rey terbang ke Leipzig dengan pesawat komersil, maka Luana menaiki pesawat pribadi yang dimiliki Rey.
Pesawat yang sama, yang mereka tumpangi saat berangkat dari Munich ke Heidelberg beberapa hari lalu, kini telah membelah langit untuk membawa Luana menuju landasan pacu di Dresden.
Rey mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik dari saku celana, bersandar pada dinding mobil seraya mencuri pandang ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangan.
BENTAR, INI LHO YANG DIHUJAT KMREN. COBA DIPANDANG LAGI, AHAHAHA
Waktunya hampir tiba, dan seharusnya Luana bersama Jovi dan Mare akan datang tidak lama lagi.
Persis ketika api di batang rokok itu hampir habis, bola mata Rey menangkap sosok yang telah ditunggunya dari setengah jam terakhir.
Luana berjalan dengan Mare dan Jovi yang berada di sisi kanan dan kirinya, saat tatapan mereka telah bertemu beberapa detik lalu.
Tidak lagi tampak menangis, Rey mendapati pancaran sinar berbeda yang menyala di mata perempuan itu. Berdegup jantung Rey di dalam sana, sebab masih ada banyak hal yang harus ia sampaikan pada istrinya itu.
Mengayun langkah, Luana berhenti dengan jarak cukup aman persis di hadapan Rey.
"Kau sudah datang?" sapa lelaki itu berbasa-basi.
Luana hanya memberikan satu deheman, malah menoleh ke sekitar untuk memperhatikan suasana di bandara yang tidak tampak begitu ramai ini.
Rey tau dengan jelas bagaimana Luana berusaha menghindarinya. Menarik napas, Rey kini membuang puntung rokok dan menginjaknya dengan ujung sepatu.
"Masuklah," kata lelaki itu. "Aku yakin kita perlu berbicara selama perjalanan, maka kali ini aku yang akan mengemudi."
Tangan lelaki itu bergerak untuk meraih gagang pintu, membukakan pintu itu seakan sedang mempersilakan Luana untuk masuk ke dalam sana.
Menoleh ke arah Jovi dan Mare, Rey memberikan perintah lewat satu tatapan mata. Jovi menangkap apa yang dimaksud oleh tuan mereka, ketika kini lelaki muda itu menggeret dan memasukkan koper Luana ke bagasi belakang.
"Berjagalah di mansion," titah Rey jelas sekali. "Aku akan menghubungi ketika kami kembali, dan urus masalah perusahaan seperti biasanya."
Luana menangkap apa yang dikatakan oleh Rey, saat ia refleks berbalik untuk melirik ke arah Mare. Asistennya itu masih berdiri tidak jauh dari tempat mereka, mengulas senyum tetapi tidak tampak akan bergerak.
"Mari tidak akan ikut kita?" tanya perempuan itu terburu-buru.
Rey memberikan satu gelengan sebagai jawaban, yang begitu saja membuat Luana hampir jatuh lemas.
"Tidak boleh ada asisten lain di keluarga Lueic," jelas lelaki itu. "Kau akan bersamaku beberapa hari ke depan, sedangkan Mare dan Jovi akan kembali ke Munich."
Baru saja Luana ingin mengajukan protes, tetapi suara Rey sudah lebih dulu terdengar.
"Masuklah," katanya lagi.
Luana masih bertahan di posisinya, berpikir apakah dia harus masuk ke dalam mobil itu atau tidak. Apa yang akan dilakukannya nanti di tengah-tengah keluarga besar Lueic, saat Mare tidak berada di sana untuk menjadi temannya.
"Tidak bisakah kita membawa Mare bersama?" ucap perempuan itu berusaha bernegosiasi.
"Tidak diperkenankan," jawab Rey datar. Lelaki itu maju dua langkah, memangkas habis jarak antara dia dan istri palsunya.
"Aku tahu ini mengejutkan untukmu," bisik lelaki itu. "Tetapi akan aku upayakan agar kita bisa kembali secepat mungkin."
Kalimat itu terdengar menenangkan, dan lagi-lagi Luana tahu dia tidak punya pilihan.
Menoleh sekali lagi ke belakang, Luana mendapati Mare yang masih setia dengan senyuman. Perempuan muda itu menganggukkan kepala, seakan sedang memberi dukungan pada nyonya mereka.
Dengan berat hati Luana masuk ke dalam mobil, disusul dengan Rey yang langsung menutup pintu itu.
Sekali lagi tampak berkoordinasi dengan Jovi, Rey akhirnya berlari kecil mengitari mobil dan masuk untuk duduk di kursi pengemudi.
Luana tidak ingin menatap lelaki itu, saat kini ia memilih untuk memandangi ke arah luar. Jika biasanya dia duduk di kursi belakang, ini adalah pertama kalinya bagi Luana duduk di kursi depan, dan dengan Rey yang menjadi supir.
Tidak langsung menginjak gas, Rey tampak mengulur waktu.
"Aku... minta maaf."
Suara sang bangsawan sudah menggema ke seluruh penjuru, refleks membuat Luana menolehkan kepala.
Kini sepasang suami istri itu saling berpandangan, dengan perasaan yang bercampur ruah di hati masing-masingnya.
Rey menelan ludah dengan susah payah.
"Maafkan aku, Luana," ulang lelaki itu sekali lagi. "Aku tahu aku mungkin brengsek di matamu, tetapi percayalah aku sama sekali tidak berniat untuk melakukan hal itu."
Degupan jantung Luana melonjak tajam. Dia tidak tahu Rey akan mengambil kesempatan seperti ini, untuk membahas apa yang terjadi di antara mereka.
Ingatan Luana akan peristiwa itu masih menyisakan rasa sakit tentu saja, dan kini Rey tiba-tiba membahasnya tanpa ada angin.
Pandangan Rey berubah sendu, dengan tangan yang mencengkram setir kemudi.
"Aku begitu mabuk malam tadi," katanya berusaha menjelaskan. "Kami bermain game dan mereka sepertinya menaruh obat ke dalam minumanku. Aku tidak tahu pasti, tetapi semua itu telah terjadi."
Lagi-lagi Rey menelan ludah dengan susah payah, sebab rasanya begitu sulit untuk dia mengungkapkan semua.
Gemuruh di dada Luana semakin menjadi-jadi, saat perempuan itu kini berupaya untuk menyuarakan apa yang dia rasakan.
"Kau benar, kau memang brengsek," kata perempuan itu perlahan. "Dan semua umpatan yang kukatakan padamu malam tadi, memang adalah kenyataan."
Terdengar Rey menarik napas, terasa sesak bahkan hanya untuk bernapas dengan baik.
Kejadian malam tadi adalah kesalahan terbesar yang pernah dia lakukan, dan sebagai seorang laki-laki dia tahu dia harus bertanggungawab.
"Aku tidak meninggalkanmu malam tadi untuk melarikan diri, jika saja kau berpikir demikian," kata lelaki itu kemudian. "Aku menunggumu di luar pintu, tetapi kau tidak kunjung keluar dari kamar mandi."
Bola mata Luana membesar.
"Aku menunggu, untuk mengucapkan kata maaf. Tetapi lalu aku berpikir kau mungkin butuh waktu, sama seperti aku yang begitu menyesali apa yang terjadi di antara kita."
Seakan waktu berhenti, satu per satu hal mulai terkuak perlahan-lahan kini.
"Seharusnya aku menunggumu hingga kau keluar," ujar Rey lagi. "Tetapi kemudian satu telepon datang, hingga aku dengan berat hati beranjak dari sana tanpa berhasil mengucapkan kata maaf malam itu."
Luana membiarkan setiap kata yang terlontar dari bibir suaminya memasuki gendang telinga, hingga bermuara di hatinya yang paling dalam.
Karena sekuat apa pun dia mencoba menghindari, takdir sudah terlanjur mengikatnya bersama lelaki ini. Meskipun dia menyalahkan Rey atas apa yang terjadi pada mereka malam tadi, tetap saja semuanya telah terjadi dan tidak bisa diulang kembali.
(Kecuali Bee merevisi episode yang terdahulu wakwakwakwak)
Luana masih hening, memilih untuk tidak bersuara sebab hatinya sedang teraduk-aduk di dalam sana.
"Kali ini aku kembali membutuhkan pertolonganmu, Luana," ujar Rey jujur. "Membawamu ke tengah-tengah keluarga besarku tidak pernah terpikirkan, tapi lagi-lagi aku tidak punya pilihan. Kondisi ayahku melemah, tetapi ibuku tidak mengizinkan aku masuk ke rumah jika aku tidak membawamu ikut serta."
Bagaimana Rey menjelaskan semuanya terdengar tulus, saat nada suara dan cara lelaki itu berbicara kini juga tampak berbeda.
Luana mengerjap dua kali, tidak menyangka ibu mertuanya akan melakukan hal seperti itu pada Rey.
"Aku tahu aku telah mengacaukan kehidupanmu," sambung sang bangsawan lagi. "Tetapi kumohon bantulah aku kali ini, dan aku berjanji akan memberikan apa pun yang kau minta."
Luana masih berpikir, meski bola matanya belum beralih dari Rey. Ada pancaran sinar memohon dari manik lelaki itu, dan hati Luana yang tadinya mengeras kini perlahan-lahan melunak.
Meski tidak membuka pintu maaf selebar-lebarnya untuk Rey, lagi-lagi Luana tahu dia masih harus tetap bertahan hingga Beatric ditemukan.
"Apakah kau akan memberikan semua yang aku inginkan?" Luana membuka suara.
Rey menganggukan kepala tanpa ragu.
"Apa pun," katanya. "Apa pun yang kau inginkan, aku akan memberikannya untukmu."
Luana mengembuskan napas pelan, hingga kemudian perempuan itu kembali bersuara.
"Kalau begitu temukanlah Beatric. Dan biarkan aku pergi, saat perempuan itu kembali."
Ada sesuatu yang menohok tajam ke dalam hati Rey, meski lelaki itu tidak tahu apa itu sebenarnya. Bola mata Luana menyorot dalam tanpa keraguan, saat perempuan itu mengucapkan permintaannya baru saja.
Hening beberapa saat di antara mereka, dengan degupan jantung yang sama-sama di luar batas normal.
"Aku akan melakukannya," kata Rey. "Jika itu yang kau inginkan, aku akan melakukannya."
Tidak lagi menunggu balasan dari Luana, Rey sudah beralih untuk menginjak gas dan melaju dari sana.
Sengaja memutus percakapan itu begitu saja, Rey mematrikan pandangan untuk berfokus pada jalan yang terbentang di depannya.
Keduanya kembali hening, sedang tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.
Apakah hal yang malam tadi terjadi tidak berarti apa-apa untukmu, Luana? Dan bagaimana kau menanggung resikonya nanti, bila tidak bersamaku?
.
.
.
~Bersambung~
sekarang tanya pada diri kalian jika ada sosok Pedro versi wanita dan menyukai suami kalian, apakah kalian juga akan kagum wanita lain yang itu
pakai ajala biar tidak jadi wanita jablay yang lebih melebih pria lain dari pada suami sendiri
coba dibalik Thor suami mu nyaman duduk dan ngobrol berduaan dengan wanita lain apakah kau anggap itu hal benar juga
pakai akal sehat biar bisa bedakan mana salah mana benar