NovelToon NovelToon
Jadi Simpanan Ceo

Jadi Simpanan Ceo

Status: tamat
Genre:Obsesi / CEO / Selingkuh / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Celyzia Putri

Nadia mengira melarikan diri adalah jalan keluar setelah ia terbangun di hotel mewah, hamil, dan membawa benih dari Bramantyo Dirgantara—seorang CEO berkuasa yang sudah beristri. Ia menolak uang bayaran pria itu, tetapi ia tidak bisa menolak takdir yang tumbuh di rahimnya.
Saat kabar kehamilan itu bocor, Bramantyo tidak ragu. Ia menculik Nadia, mengurungnya di sebuah rumah terpencil di tengah hutan, mengubahnya menjadi simpanan yang terpenjara demi mengamankan ahli warisnya.
Ketika Bramantyo dihadapkan pada ancaman perceraian dan kehancuran reputasi, ia mengajukan keputusan dingin: ia akan menceraikan istrinya dan menikahi Nadia. Pernikahan ini bukanlah cinta, melainkan kontrak kejam yang mengangkat Nadia .

‼️warning‼️
jangan mengcopy saya cape mikir soalnya heheh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Celyzia Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Suasana di teras vila yang asri itu seketika menjadi tegang. Pelukan hangat antara Bramantyo dan Arka terhenti ketika Julian melangkah maju dengan wajah yang tak lagi tenang. Sebagai seorang dokter dan pria yang selama ini menjaga Nadia, ia tidak bisa membiarkan Bramantyo itu kembali begitu saja setelah semua kehancuran yang ia perbuat

"Jangan terlalu cepat merayakan kesembuhanmu, Bramantyo," suara Julian terdengar tajam dan berwibawa, memecah momen haru tersebut.

Bramantyo berdiri perlahan, menatap Julian dengan kening berkerut. "Aku sudah meminta maaf pada Nadia, Julian. Ini urusan keluargaku. Terima kasih sudah menjaga mereka, tapi sekarang waktunya mereka pulang."

Julian tertawa getir, sebuah tawa yang jarang sekali ia tunjukkan. "Pulang? Ke mana? Ke pria yang bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya sendiri?"

Julian berjalan mendekati Bramantyo dan menatap matanya dengan intensitas seorang dokter yang sedang mendiagnosis kematian.

"Kau pikir kakimu sembuh karena 'keajaiban' atau 'tekad kuat'?" Julian beralih menatap Nadia. "Nadia, kau harus tahu kebenarannya. Bramantyo tidak sembuh secara alami. Selama dia di bawah pengawasan Larasati, dia diberi stimulan saraf ilegal yang sangat berbahaya."

Nadia mengerutkan kening. "Apa maksudmu, Julian?"

"Stimulan itu memaksanya bisa berjalan kembali dengan membakar cadangan energi saraf pusatnya. Itu seperti memacu mesin mobil hingga meledak," jelas Julian dengan nada dingin. "Bramantyo, kau tidak 'sembuh'. Kau sedang mengalami fase manic terakhir sebelum sistem sarafmu lumpuh total dan permanen—kali ini menyerang otakmu juga."

Bramantyo terdiam, tangannya yang memegang jas tiba-tiba gemetar hebat tanpa bisa ia kendalikan. Rahasia yang diungkap Julian adalah kenyataan pahit: Larasati memberinya obat itu agar Bramantyo bisa menandatangani dokumen-dokumen aset sebelum akhirnya ia benar-benar menjadi "sayur" selamanya.

"Kau punya waktu kurang dari enam bulan sebelum kau kehilangan kemampuan bicaramu, ingatanmu, dan gerakmu sepenuhnya," lanjut Julian tanpa ampun. "Jadi, Nadia, jika kau membawanya kembali sekarang, kau bukan sedang kembali pada suamimu. Kau sedang membawa pulang seorang pria yang akan mati perlahan di depan matamu dan Arka."

Nadia merasakan dunianya berputar. Ia menatap Bramantyo yang kini tampak rapuh meskipun berdiri tegak. Kebencian Nadia seolah menguap, digantikan oleh rasa iba yang menyesakkan.

"Bram... apakah itu benar?" bisik Nadia.

Bramantyo menunduk, melihat tangannya yang gemetar. "Aku merasa ada yang salah dengan tubuhku... tapi aku tidak peduli, Nadia. Jika aku hanya punya enam bulan, aku ingin menghabiskan enam bulan itu untuk menebus kesalahanku pada kalian. Aku ingin Arka ingat ayahnya sebagai pria yang berdiri, bukan pria yang bersembunyi di balik kursi roda."

Julian maju selangkah lagi, memegang bahu Nadia. "Nadia, jangan lakukan ini. Tetaplah di sini. Bersamaku, kau punya masa depan yang stabil. Bersamanya, kau hanya akan menjemput tragedi baru. Jangan biarkan Arka melihat ayahnya hancur untuk kedua kalinya.

Bramantyo menatap Nadia dengan mata yang penuh permohonan, sementara Julian menawarkan pelabuhan yang tenang dan aman.

Nadia menoleh ke arah Arka yang menatap ayahnya dengan penuh harap. Arka tidak mengerti tentang stimulan saraf atau kelumpuhan permanen; dia hanya melihat ayahnya telah kembali.

Nadia menarik napas panjang, matanya kini memancarkan ketegasan yang baru. "Julian, terima kasih karena telah jujur. Tapi cinta bukan hanya soal memilih masa depan yang aman."

Nadia berjalan mendekati Bramantyo, bukan untuk memeluknya, tapi untuk memegang tangannya yang gemetar. "Jika kau hanya punya enam bulan, Bram... maka enam bulan itu akan menjadi neraka bagi siapapun yang mencoba menghalangi kita. Kita tidak akan kembali ke Jakarta. Kita akan pergi ke tempat di mana tak ada Dirgantara, tak ada Larasati, dan tak ada hantu masa lalu.

1
Meyliana Rembonan
lanjutkan donk
Meyliana Rembonan
lanjutkan donk
Thecel Put
karya menarik
membuat saya ingin terus membacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!