Sinopsis
Rania, seorang gadis desa yang lembut, harus menanggung getirnya hidup ketika Karmin, suami dari tantenya, berulang kali mencoba merenggut kehormatannya. Belum selesai dari satu penderitaan, nasib kembali mempermainkannya. Karmin yang tenggelam dalam utang menjadikan Rania sebagai pelunasan, menyerahkannya kepada Albert, pemilik sebuah klub malam terkenal karena kelamnya.
Di tempat itu, Rania dipaksa menerima kenyataan pahit, ia dijadikan “barang dagangan” untuk memuaskan para pelanggan Albert. Diberi obat hingga tak sadarkan diri, Dania terbangun hanya untuk menemukan bahwa kesuciannya telah hilang di tangan seorang pria asing.
Dalam keputusasaan dan air mata yang terus mengalir, Rania memohon kepada pria itu, satu-satunya orang yang mungkin memberinya harapan, agar mau membawanya pergi dari neraka yang disebut klub malam tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab: 28
"Saya sudah masak sesuatu untuk Tuan," ucap Rania lembut sembari menghampiri meja suaminya. "Sebaiknya kita makan sekarang, agar makanannya tidak dingin."
Airon meletakkan penanya. Ia menatap Rania lama, lalu tiba-tiba berdiri dan menarik istrinya ke dalam pelukan hangat. "Bisakah kamu berhenti memanggilku 'Tuan'?" bisiknya di telinga Rania.
Rania tertegun, tangannya masih melingkar kaku di pinggang Airon. "Lalu... saya harus memanggil apa?"
Airon melepaskan pelukannya sedikit, hanya untuk menatap mata hitam legam istrinya. "Panggil saya... misalnya, mungkin... 'Sayang'?"
Wajah Rania seketika merona hebat. "Sa... Sayang?" ucapnya terbata, lidahnya terasa kelu. "Rasanya itu sangat aneh, Tuan."
Airon terkekeh melihat kepolosan Rania. Ia tahu butuh waktu bagi gadis desa itu untuk mengubah kebiasaan formalnya. "Mmm, baiklah, cari panggilan yang nyaman untukmu. Tapi jangan 'Tuan' lagi."
Rania hanya tersenyum malu, lalu menarik tangan suaminya yang kini sudah benar-benar "bucin" itu menuju meja makan. Airon menatap deretan hidangan dengan binar bahagia. Ia merasa menjadi pria paling beruntung; memiliki istri yang tak hanya cantik, tapi juga sangat pandai memanjakan lidahnya.
Di sela-sela makan malam, Airon menatap Rania serius. "Bagaimana jika kita pergi berbulan madu?"
Rania tersedak pelan. "Bulan madu?"
"Apa kamu mau?" tanya Airon penuh harap. Rania mengangguk perlahan dengan senyum tulus. "Aku akan mencari waktu luang. Hanya kita berdua, tanpa gangguan kantor atau siapa pun."
Malam itu, saat mereka berbaring bersama di kamar, Airon memeluk Rania erat. "Rania, maafkan saya. Sampai detik ini saya belum bisa mengumumkan pernikahan kita kepada keluarga."
"Tidak apa-apa, Tuan....eh, Airon," sahut Rania tulus. "Seperti ini saja saya sudah sangat senang. Kehadiranmu dalam hidupku adalah keajaiban yang luar biasa."
Airon mengecup pipi Rania dengan penuh kasih. Ia bersyukur Rania begitu mengerti posisinya, meski di dalam hati ia berjanji akan segera menjadikan Rania ratu yang diakui dunia.
Keesokan paginya, suasana di kantor terasa canggung. Airon tiba tepat waktu, namun ia menyadari sesuatu yang janggal. "Merly, apa Ergan belum datang?" tanya Airon pada sekretarisnya yang sudah berdandan menor seperti biasa.
"Belum, Tuan," jawab Merly singkat.
Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah Ergan terlambat. Biasanya, pria itu sudah ada di kantor sebelum matahari sepenuhnya terbit. Di tempat lain, Ergan masih meringkuk di bawah selimut apartemennya. Ia menatap foto Airish di nakasnya—foto masa lalu saat mereka masih saling memiliki. Pikirannya kacau, hatinya terbakar cemburu mengingat Airish bersama pria bernama Harry itu.
Dua jam kemudian, Ergan muncul di kantor dengan wajah pucat dan mata yang lelah.
"Ada apa denganmu? Apa kamu punya masalah?" tanya Airon saat Ergan masuk ke ruangannya.
"Tidak, Tuan. Saya baik-baik saja," jawab Ergan datar, namun suaranya terdengar kosong.
"Kamu mau libur? Kamu terlihat seperti orang sakit," tawar Airon khawatir.
Ergan terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Ya, sepertinya saya memang butuh waktu untuk menjernihkan pikiran."
Siang itu, Airon harus menghadiri pertemuan dengan Pak Farid di Hotel Delemon. Merly mendampinginya dengan sigap, membawa semua berkas yang diperlukan. Namun, saat sedang berjalan menuju ruang pertemuan, Airon melihat sosok yang sangat dikenalnya.
"Ron!" panggil Airish. Ia tampak anggun dengan gaun musim panasnya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Airon.
"Hanya ingin makan siang," sahut Airish singkat. Di sampingnya, berdiri pria yang sama dengan yang dilihat Ergan di bar.
"Saya Harry," ucap pria itu sembari mengulurkan tangan dengan senyum yang terlihat terlalu "manis" di mata Airon.
"Airon," balas Airon dengan jabat tangan yang kuat dan dingin.
Airon segera menyadari alasan di balik kehancuran mental Ergan belakangan ini. Pria bernama Harry ini memiliki aura yang membuat Airon waspada. Ada sesuatu yang disembunyikan di balik tatapan mata Harry. Setelah basa-basi singkat, Airish dan Harry pamit pergi.
"Aku baru tahu kalau Airon itu kakakmu," ucap Harry pada Airish saat mereka menjauh. "Pengusaha sukses itu ternyata saudaramu sendiri."
"Ya, tidak banyak yang tahu," jawab Airish acuh.
Harry menyunggingkan senyum aneh yang licik. Ia seolah baru saja menemukan kunci menuju peti harta karun yang luar biasa besar.
Di dalam sebuah mobil yang terparkir jauh dari keramaian, Ergan bertemu dengan seseorang. Wajah Ergan terlihat sangat dingin, berbeda dari biasanya.
"Untuk apa kamu ingin aku mencari tahu tentang orang ini?" tanya informan itu sembari menerima foto Harry.
"Aku ingin tahu laki-laki seperti apa dia sebenarnya. Jika dia punya niat buruk, dia akan berurusan denganku," desis Ergan. "Lakukan secepatnya. Aku tidak suka menunggu lama."
"Tenang saja, Ergan. Semua latar belakangnya akan ada di mejamu besok pagi."
Ergan melakukan ini bukan semata-mata karena cemburu, tapi karena ia tahu betapa polosnya Airish. Ia tidak akan membiarkan wanita yang pernah ia cintai itu jatuh ke tangan predator.
Sementara itu, Harry mulai melancarkan aksinya lebih jauh. "Airish, bagaimana jika aku bertemu dengan mamamu? Sepertinya hubungan kita sudah cukup serius untuk itu."
Airish terkejut namun merasa senang. "Kamu ingin bertemu Mama? Baik, aku akan tanyakan kapan beliau punya waktu luang."
"Secepatnya lebih baik, Sayang," bisik Harry.
Tanpa Airish sadari, Harry punya niat terselubung yang sangat berbahaya. Namun, Harry belum menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan dua singa sekaligus, Ergan yang sedang terbakar cemburu, dan Airon yang insting pelindungnya sebagai seorang kakak telah bangkit sepenuhnya.
masa tangan kanan ga punya rencana 🤦🤦