NovelToon NovelToon
Wajah Tersembunyi

Wajah Tersembunyi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Pengganti / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / TKP / Mafia
Popularitas:248
Nilai: 5
Nama Author: Pertiwi1208

Dara, seorang detektif yang menangani kasus pembunuhan berantai harus menelan kenyataan pahit. Pasalnya semua bukti dan saksi mengarah padanya. Padahal Dara tidak kenal sama sekali dengan korban maupun pelaku, begitu juga dengan anggota keluarga dan saksi-saksi yang lain.


Dalam keadaan yang terpojok dan tanpa bantuan dari siapapun, Dara harus berusaha membuktikan bahwa dirinya tidak terlibat dalam aksi pembunuhan keji tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi1208, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

"Kamu sudah bangun?" tanya Febri saat mendapati Putri membuka matanya dengan perlahan.

Putri tidak menjawab, dia merasa pusing dan sedikit kesulitan untuk membuka mata, sehingga dia harus memejamkan lagi matanya untuk beberapa saat. Febri pun juga diam seraya menunggu Putri bisa menguasai dirinya sendiri.

Saat Putri sudah bisa membuka mata dengan sempurna, dia mengedarkan pandangannya dan melihat bahwa saat ini dia sedang berbaring, ada jarum infus juga yang menancap di punggung tangan kirinya.

"Ada dimana aku? Siapa kamu?" tanya Putri yang belum bisa dengan sempurna melihat wajah Febri.

"Kamu sedang berada di kamar tamu dan sedang dirawat, karena tadi tengah pingsan di halaman belakang," jelas Febri.

"Katakan padaku, apa kamu pernah tinggal di kastil?" Febri langsung memberikan pertanyaan yang menjurus seraya mendekatkan wajahnya pada wajah Putri.

"Kastil apa maksud kamu?" tanya balik Putri sembari menahan tawa, setelah dia terdiam beberapa saat.

"Apa aku salah lihat?" tanya Febri.

"Aku seperti tidak asing dengan wajahmu," ucap Febri yang seakan terus mendesak.

Putri berusaha duduk. "Mungkin wajahku pasaran, sehingga ada dimana-mana," ucap Putri.

"Tidak, seakan wajahmu benar-benar pernah ada di kehidupanku," ucap Febri.

"Mungkin kita pernah bertemu di kehidupan sebelumnya," jawab Putri sekenanya.

"Ngomong-ngomong kamu ini siapa? Kamu bahkan tidak menjawab pertanyaanku dan malah mencecarku dengan banyak pertanyaan," ucap Putri.

"Oh iya, perkenalkan, aku adalah Febri. Aku tinggal di rumah yang paling pojok tapi juga yang paling besar," jelas Febri.

"Kamu juga salah satu bagian dari mereka?" tanya Putri.

"Hmb, aku bagian dari mereka. Mereka yang telah menyelamatkanku dari keterpurukan," jawab Febri.

"Kenapa kamu tadi bisa pingsan?" tanya Febri yang saat ini duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang Putri.

"Entahlah, aku hanya jalan-jalan, lalu melihat makam, dan... tiba-tiba saja aku merasa sangat pusing," jelas Putri.

"Apa mereka tadi memberimu pekerjaan yang berat?" tanya Febri.

"Tidak juga, karena itu adalah keahlianku," jawab Putri.

"Mungkin aku hanya kelelahan saja karena padatnya aktivitas dan juga sering lembur," imbuh Putri.

"Oke, kalau begitu istirahatlah dulu," ucap Febri seraya dia beranjak dari kursinya.

Grep.

Putri segera meraih pergelangan tangan Febri. "Tunggu dulu," ucap Putri yang seketika membuat Febri duduk kembali.

"Ada apa? Apa kamu merasa tubuhmu tidak nyaman? Apa perlu dipanggilkan dokter lagi?" cecar Febri.

"Huft… kenapa kamu terus saja mencecarku dengan banyak pertanyaan seperti itu?" keluh Putri.

"Oh iya, maafkan aku. Karena mereka menyuruhku untuk menjaga dan melayanimu dengan baik. Apa ada yang kamu butuhkan?" tanya Febri.

"Tidak ada, hanya ada yang ingin aku tanyakan saja," ucap Putri.

"Apa?" sahut Febri.

"Saat aku jalan-jalan di halaman belakang tadi, aku melihat banyak makam, tapi hanya 1 batu nisan saja yang ada namanya."

"Clara?" sahut Febri.

"Hmb, Clara, hanya itu saja, yang lainnya kosong," ucap Putri.

"Kenapa kamu sangat penasaran?" tanya Febri.

"Tidak juga, aku hanya ingin tahu saja," dusta Putri.

"Clara juga bagian dari mereka," jawab Febri yang membuat Putri seketika mengerutkan keningnya.

Febri segera mendekatkan wajahnya pada Putri dan berbisik. "Aku telah menikamnya hingga dia meninggal. Aku melakukan itu dengan sengaja dan penuh dengan dendam." 

BLAR.

Seketika Putri membelalakkan mata tanpa diketahui oleh Febri, dia juga tidak berani melakukan gerakan apapun. "Nanti lambat laun kamu juga akan tau semua sejarahnya, jika kamu tetap bergabung di tim ini," ucap Febri setelah sedikit menjauh dari telinga Putri.

"Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu menakutinya?" Tiba-tiba saja ada suara dari arah pintu. Saat mereka berdua menoleh, ternyata suara tersebut berasal dari Maria.

"Apa kamu sudah baikan?" tanya Maria seraya menatap Putri dan mengulas senyum. Sementara Putri hanya mengangguk dan tersenyum tipis.

"Kamu ingin makan malam bersama, atau dibawakan kemari?" tanya Maria. Saat itu sudah jam 7 malam, yang berarti waktunya makan malam, karena juga semua masakan baru saja selesai disajikan di meja makan. 

Saat mengurus Putri yang pingsan tadi, membuat waktu mereka yang seharusnya digunakan untuk memasak sedikit tersita.

"Aku akan pulang saja," jawab Putri dengan sopan.

"Kamu tidak boleh pulang sebelum keadaanmu benar-benar pulih, minimal cairan infus harus habis dahulu," sahut Febri.

"Itu benar, jadi pilihlah, mau makan bersama, atau aku bawakan makananmu kemari?” tanya Maria lagi.

"Aku makan bersama saja kalau begitu, aku tidak mau terus merepotkan," jawab Putri.

"Oke, ayo aku bawakan tongkat infusmu," ucap Febri.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri, ada rodanya juga, jadi aku tidak akan kesulitan," ucap Putri.

"Oke, silahkan," ucap Febri. 

Putri segera menyibakkan selimut dan turun dari ranjang dengan perlahan, lalu dia juga berjalan dengan pelan menuju ke arah ruang makan dengan Febri berjalan di belakangnya.

"Kamu sudah sadar?"

"Apa kamu baik-baik saja?"

"Apa kamu pusing?"

"Apa yang sedang terjadi?"

"Kenapa kamu bisa pingsan?"

Pertanyaan saling bersahut-sahutan dari semua orang yang sudah ada di meja makan terlebih dahulu, terlihat dengan jelas bahwa mereka begitu perhatian pada Putri. "Aku sudah baikan." Hanya itu jawaban Putri untuk mewakili pertanyaan semua orang, sembari dia membungkuk dan suaranya juga lembut.

Natasha segera menghampirinya sembari mengulas senyum dan mengambilkan makan malam untuknya. Putri pun sangat tersentuh dengan semua perlakukan orang yang ada disana, tapi dia berusaha untuk tidak menampakkannya.

Mereka semua pun segera mulai makan malam dan mengobrolkan banyak hal. Kecuali Emily dan Rey, dua anak kecil itu selalu makan di tempat terpisah jika ada orang baru yang tinggal di rumah mereka. Kadang mereka makan di kamar, kadang makan di rumah ketiga, kadang juga mereka makan di tempat rahasia. Mereka benar-benar menyembunyikan identitas anak mereka dari orang asing.

***

Keesokan harinya.

Arum menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan beberapa kali, dia benar-benar sangat gugup saat ini melihat perusahaan Amelia yang sangat mewah tersebut. "Oke, mari kita coba," ucap Arum pada dirinya sendiri.

Arum mulai melangkah masuk ke perusahaan tersebut, sembari menggandeng salah satu anak yang tinggal di badan sosial tempatnya bekerja. Kebetulan saat itu juga sedang ada study tour dari salah satu sekolah di perusahaan tersebut, sehingga Arum pun bisa dengan leluasa melewati satpam, mungkin para satpam mengira bahwa dia salah satu guru dan murid dari sekolah yang saat ini sedang melakukan study tour.

Arum menatap jam besar yang menempel di tembok. Jam tersebut menunjukkan pukul 07.50. "Sebentar lagi," ucap Arum dengan sedikit tegang. Arum pun terus melihat ke arah pintu masuk dan juga ke arah jam dinding beberapa kali dengan gelisah.

Jam 8 tepat, Amelia masuk ke perusahaan, persis seperti yang dikatakan oleh Dara. Arum pun segera memberi instruksi pada anak kecil yang tadi digandengnya.

Beberapa saat kemudian. "Permisi," ucap anak kecil yang terlihat sangat cantik itu pada Amelia. Arum segera berbalik badan saat Amelia menghentikan langkahnya dan melihat anak kecil itu serta melihat ke sekitar. 

"Anak cantik, ada apa?" tanya Amelia dengan suara lembut sembari membungkuk.

"Ini ada pesan," ucap anak kecil tersebut sembari memberikan sapu tangan pada Amelia. Amelia mengedarkan lagi pandangannya dan melihat ke sekeliling, dia tidak mendapati apapun yang aneh. 

Amelia pun segera menerima sapu tangan tersebut dan segera membawanya ke toilet. 

"Apa yang akan kamu lakukan?" 

"Astaga!" pekik Amelia sembari segera menutup sapu tangan dan juga memasukkannya ke saku.

"Hais, kamu ini mengagetkan saja," ucap Amelia, saat mendapati bahwa yang ada di pintu toilet adalah Dani.

"Apa kamu tidak bisa baca, ini adalah toilet perempuan!" sentak Amelia.

"Haruskah kamu mengikutiku sampai kesini!" kesal Amelia.

"Aku tidak sedang mengintip," ucap Dani.

Amelia segera mengeluarkan lagi sapu tangan tersebut dari saku dan memberikannya pada Dani. "Sepertinya ini pesan dari Dara," ucap Amelia.

"Mari kita bawa," ucap Dani, setelah membaca tulisan di dalam sapu tangan tersebut.

"Bawalah sendiri," ucap Amelia dengan malas.

"Jika kamu memberikan ini pada mereka, mungkin mereka tidak akan mengawasimu lagi. Apa kamu tidak bosan kami awasi?" cecar Dani.

"Aku sebenarnya sangat bosan melihat wajah kalian, tidak bisakah kalian melakukan operasi plastik terlebih dahulu sebelum mengawasiku lagi? Bahkan kalian mengawasiku melebihi jam kerja satpam," gerutu Amelia.

"Cepatlah, jangan terus menggerutu," ucap Dani.

"CK." Amelia pun hanya bisa berdecak sembari mencebikkan bibirnya.

Amelia dan Dani akhirnya keluar dari toilet secara bersamaan, lalu mereka berdua pergi ke Pak Tedi dan juga Tara yang masih ada di pintu masuk, serta memberikan sapu tangan yang mana didalamnya ada sebuah tulisan.

"Kakak, tolong aku." Tara membaca tulisan yang ada di dalam sapu tangan tersebut.

"Kalian sudah tahu kan bahwa aku tidak bersekongkol dan aku juga tidak menyembunyikannya," ucap Amelia.

"Siapa yang mengirimnya?" tanya Tara.

"Anak kecil, entah dimana dia sekarang," jawab Amelia singkat.

"Kalau begitu beri balasan, ajak dia ketemu dan kita akan menyergapnya. Kuharap kamu benar-benar bekerja sama dengan kami," ucap Tara.

"Tentu saja," ucap Amelia sembari mengeluarkan bolpoin dan juga buku kecil dari tasnya.

"Hais, benar kata Dara bahwa kakaknya tidak bisa dipercaya," ucap Arum yang saat ini tengah duduk, mengenakan kacamata hitam dan juga memainkan ponselnya. Arum melihat dengan sangat jelas saat Amelia bekerja sama dengan para polisi tersebut.

"Kemana juga anak tadi, kenapa dia belum muncul," gumam Arum seraya mengedarkan pandangannya, mencari anak perempuan kecil yang tadi diberi arahan untuk memberikan sapu tangan.

Terlihat juga para polisi sudah pergi meninggalkan perusahaan Amelia, beberapa saat kemudian.

***

Setelah keluar dari perusahaan Amelia, Arum mengajak jalan-jalan anak kecil tersebut di taman dan membelikannya es krim.

"Ini Kak," ucap Anak kecil tersebut sembari mengeluarkan sesuatu dari saku.

Arum tidak menjawab, dia hanya menerima sapu tangan tersebut sembari menghela nafas panjang. Arum hanya terus melihat jauh ke depan dengan tatapan kosong, sementara anak kecil itu terus menikmati es krim.

Beberapa saat kemudian. "Kakak tadi menyuruhku untuk memberikan ini setelah 1 jam," celetuk anak kecil itu yang seketika menyadarkan Arum dari lamunannya.

"Siapa yang kamu maksud?" tanya Arum.

"Kakak cantik yang ada di sana," ucap anak itu seraya menunjuk ke arah perusahan Amelia.

Arum segera membuka sapu tangan tersebut dan mendapati ada tulisan di dalamnya. Rupanya saat pergi ke toilet, Amelia juga mengajak anak kecil itu dan menyuruhnya untuk bersembunyi terlebih dahulu, Amelia juga melepas jaket anak tersebut dan memasukkannya ke dalam tas, serta juga mengubah tampilan rambut anak itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!