Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Saran sahabat.
Saras merasa simpati akan nasib sahabat lamanya itu. Dia tidak menduga kalau kehidupannya begitu sarat penderitaan. Terbelenggu oleh rantai kasat mata yang disebut rumah tangga.
Sebagai istri seorang manajer di sebuah perusahaan besar yang bergerak dibidang fashion siapa sangka hidupnya penuh penderitaan.
Suami yang lebih peduli pada keluarganya dari pada istri dan anaknya. Bahkan suaminya menyerahkan semua gajinya pada ibunya. Sementara mertua dan ipar juga bukan manusia yang punya hati.
Dengan dalih hidup hemat tega menjatah menantu dengan uang belanja lima puluh ribu sehari sementara diam-diam menikmati gaji anaknya untuk hidup mewah.
"Sekarang apa rencana kamu, Ame setelah keluar dari rumah itu?" Saras mengurai pelukannya. Menatap Ameera penuh perhatian.
"Sebenarnya aku belum punya rencana apa-apa. Tapi aku harus cari rumah kontrakan dulu, terus cari pekerjaan. Untuk satu dua bulan aku mungkin bisa bertahan dengan tabunganku, hasil menulis online selama ini." beber Ameera tentang rencana hidupnya untuk selanjutnya.
"Hem, dengan Celia yang masih kecil akan sulit sekali bagimu mencari pekerjaan diluar sana. Tapi gak perlu khawatir, Ame, kamu bisa bekerja dengan aku. Kebetulan sekali aku butuh karyawan di konveksi. Kamu mau kan?" ucap Saras.
"Beneran Ras? Kamu mau mempekerjakan aku?" beliak Ameera riang. Binar matanya nampak berkilau seolah lupa kalau beban hidupnya begitu sarat.
"Iya, Ame, aku tidak bercanda. Aku memiliki usaha konveksi selama ini. Tapi masih kecil, namun, lumayanlah aku bisa menampung pekerja yang aku utamakan ibu-ibu rumah tangga."
Saras memang seorang pengusaha konveksi, usahanya itu sudah ia geluti sebelum menikah. Meniti usaha dari nol sepuluh tahun kemudian telah berhasil mengembangkan usahanya.
Uniknya, kebanyakan dari karyawan Saras, adalah orang-orang dari kalangan yang bermasalah. Yang ia bantu untuk bangkit dari keterpurukan. Seperti Ameera misalnya bermasalah dengan rumah tangganya.
Karyawan Saras ada yang mantan residivis yang telah bertobat. Juga yang tadinya seorang pemuda pemakai narkoba. Bahkan wanita yang pernah jadi kupu-kupu malam. Mereka semua itu dibimbing oleh Saras, menjadi pekerja yang ulet. Mereka telah kembali ke jalan benar dan menunjukkan dedikasi dalam bekerja.
"Untuk rumah kontrakan, kamu juga tidak perlu pusing, Ame. Sudah ada aku siapkan tempat tinggal untuk karyawan yang tidak memiliki rumah. Atau kamu tinggal serumah dengan aku pun tidak apa-apa, biar aku bisa setiap hari ketemu Celia. Iya 'kan Celia."
Saras menepuk lembut pipi Celia. Seolah mengerti ucapan Saras, bayi yang belum genap berusia setahun itu melonjak dipangkuan Saras. Membuat Saras begitu bahagia.
Melihat keakraban Saras dan Celia putrinya, tanpa Ameera sadari air mata haru mengenangi pelupuk matanya. Bersyukur masih ada orang baik yang mau menolong dirinya dan mau mengasihi putrinya.
Putrinya tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari papanya atau neneknya. Suami dan mertuanya lebih peduli pada si kembar anaknya Jenni iparnya. Jangankan untuk diajak bercanda digendong saja jarang.
"Kamu kenapa, Ame, ada yang salah?" Saras terhenyak saat melihat Ameera menangis sesegukan. Saras tidak menyadari karena keasyikan bercanda dengan Celia.
"Tidak apa-apa kok, Ras. Aku hanya terharu karena kamu begitu sayang pada Celia, padahal baru beberapa menit bertemu." Ameera mengusap air matanya dan tersenyum.
"Hanya orang gila yang tidak jatuh cinta pada putrimu yang menggemaskan ini, Ame." Saras menciumi wajah Celia, membuat Celia gelagapan. Bayi lucu itu tertawa kegirangan."
"Maaf Saras, apa suami kamu tidak keberatan nanti, kalau aku bekerja di konveksi kamu?" ucap Ameera merasa segan.
"Ah, kamu ini, Ame, jangan suka mikir yang gak-gak. Suami aku tidak mau mencampuri bisnisku. Dia itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya." Ameera mengikuti langkah Saras menuju ruang makan.
"Kita makan siang dulu. Tadi rencana kita batal, makan siang karena kamu gak datang."
Keduanya menikmati makan siang yang tertunda karena batal bertemu di cafe seperti rencana semula. Diselingi cerita semasa sekolah dulu seolah tidak ada jarak antara mereka.
Ameera dapat melupakan masalahnya sejenak dan begitu larut dengan kisah mereka dulu. Terlebih karena Saras begitu fasih bercerita dan menirukan hal-hal yang sangat lucu terkait cerita itu. Tanpa sadar mereka tertawa terpingkal-pingkal sampai air mata keluar.
"Aduh Ame, cukup, stop, aku sudah gak tahan lagi nih. Dah kebelet mau pipis." seru Saras memegangi perutnya saat giliran Ameera bercerita betapa konyolnya kisah cinta monyet Saras dulu.
Keduanya akhirnya berlari ke toilet berebut siapa yang mau masuk duluan, karena keduanya sudah sama-sama kebelet jadi masuk bersamaan.
Celia yang tidak mengerti apa-apa, melihat tingkah mamanya yang mengira meninggalkannya menangis kejer. Dia bingung kenapa kedua orang dewasa yang bersamanya sedari tadi bertingkah konyol.
Mendengar suara tangis Celia, Saras dan Ameera baru menyadari keteledoran mereka yang meninggalkan Celia sendirian.
"Astaga, Ame, Celia nangis tuh. Pasti ketakutan karena kita tinggal." seru Saras panik.
"Iya Ras." Ameera segera menyudahi hajatnya dan segera berlari menemui Celia yang sudah merangkak mencari mamanya. "Ini, mama sayang." Ameera menggendong Celia dan mendekapnya, meredakan tangis putrinya.
"Maafin tante yang sayang," timpal Saras yang sudah keluar dari toilet.
"Kamu gak menyusui bayi kamu, Ame?" Saras heran karena sejak tadi tidak melihat Ameera menyusui, Celia.
"Air susuku sudah kering, Ras. Aku kasih susu formula sama dia. Tapi tadi karena buru-buru aku lupa membawanya."
"Ya, ampun Ame, bayimu pasti sudah kelaparan. Kok gak ngomong dari tadi." Saras sedikit kesal karena Ameera telah mengabaikan Celia. Saras menelepon seseorang setelah menanyakan susu formula apa yang biasa diminum Celia.
Tidak berapa lama seseorang muncul mengantar paket pesanan Saras. Beberapa kotak susu lengkap dengan botol susunya. Saras bergegas membuatkan susu untuk Celia dengan petunjuk yang tertera di kotak susu. Lalu menyerahkan botol susu pada Ameera.
"Maaf ya Ras, telah merepotkanmu," ucap Ameera serba salah.
"Tidak apa-apa. Jangan sungkan, Ame. Tuh, liat Celia minum susunya dengan lahap. Kamu dah kelaparan ya sayang." Saras mengusap kepala Celia dengan lembut. Sisi keibuannya begitu tersentuh melihat Celia. Keinginan punya anak seolah terpenuhi begitu melihat Celia. Rasa sayang yang tidak terduga mengalir begitu saja saat pertama kali melihat wajahnya yang begitu menggemaskan.
Sementara dalam hati Ameera berucap penuh syukur karena bertemu dengan sahabat lamanya itu. Ameera tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan hidupnya, seandainya tidak bertemu dengan Saras. Sahabat yang begitu baik menolongnya dan memberi solusi atas masalah hidupnya.
Jika tidak dia akan terlunta-lunta di jalanan menjadi gelandangan. Mengingat dia yang begitu buta dengan kehidupan luar. Selama lima tahun terakhir ini hidupnya hanya fokus dengan keluarga dan merawat mertua yang lumpuh.
Ameera tidak tau gelombang apa yang akan terjadi melanda rumah itu sepeninggalnya. Suaminya pasti segera menikahi pelakor itu. ***