Anshela atau biasa dipanggil Shela, anak bungsu dari empat bersaudara. Lahir sebagai anak perempuan satu-satunya tidak menjadikan Shela di sayang oleh keluarganya, dia malah diperlakukan sebaliknya. Kematian ibunya karena melahirkannya membuat ayah serta tiga kakak laki-lakinya menganggap Shela sebagai penyebabnya, kerap kali ia disebut sebagai anak pembawa sial. Tumbuh dari keluarga yang kurang kasih sayang membuatnya menjadi gadis yang arogan, sombong dan suka semena-mena. Semua itu semata hanya untuk menceritakan perhatian ayah dan kakak-kakaknya. Namun, hal itu justru semakin membuat keluarganya membencinya. Suatu kejadian membuatnya hampir meregang nyawa, namun beruntung Tuhan masih memberi Shela kesempatan untuk hidup. Saat bangun dari tidur panjangnya, Shela tak menemukan satu pun keluarganya, yang ia lihat pertama kali hanya mbok Inah, asisten rumah tangga yang selalu setia merawatnya. Sejak saat itu,Shela sadar jika apapun yang ia lakukan tidak akan pernah dipedulikan. Shela b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
Sudah dua puluh lima menit lamanya Shela terdiam tak beranjak dari kursinya, meskipun bel penanda pulang sekolah telah lama berbunyi. Angin sore yang lembut seakan tak mampu mengusik kesadarannya yang tenggelam dalam kehampaan. Matahari perlahan mulai terbenam, namun pandangannya masih terpaku pada papan tulis yang kini hanya berisi bayang-bayang suram hari yang telah berlalu.
Seharusnya hari ini adalah waktu untuk Shela dan Alvian mengerjakan proyek kelompok, tetapi nuansa kekecewaan menggantung berat di udara, menelan seluruh energi yang seharusnya mereka curahkan. Mood yang seketika buruk, memupus harapan untuk kolaborasi yang produktif, seolah-olah kegagalan itu sudah ditakdirkan sejak awal. Kini, yang tersisa hanyalah keinginan untuk melarikan diri ke pelukan kasur yang empuk, menenggelamkan segala beban pikiran yang menghantui.
Di kelas yang telah kosong, tiada suara selain gema kesunyian yang memekakkan telinga, Shela merasakan beratnya dunia di pundaknya, kehilangan arah dan tujuan dalam sunyi yang mendesak. Ia menyadari keputusasaan membara di dadanya, menyisakan rasa takut yang pelan-pelan merajalela, menyesakkan nafas dan menerkam jiwa muda yang penuh harapan.
Tadi saat jam pelajaran, ada tugas kelompok yang mengharuskan mereka menyusun kelompok masing-masing untuk mengerjakan tugas yang guru berikan. Di saat orang lain sibuk mencari teman kelompok, Shela langsung meminta Alvian untuk menjadi teman kelompoknya. Bukan apa-apa, Shela hanya malas mencari partner baru. Lagipula ia sudah cukup nyaman berteman dengan Alvian dan juga laki-laki itu cukup bisa diandalkan.
Kafe yang selalu menjadi saksi bisu kesibukan mereka setelah sekolah kini hanya bisa memandang sayu dari kejauhan. Hari itu, rencana Shela dan Alvian untuk mengerjakan tugas tampaknya harus kandas. Tubuh Shela terasa tak berdaya, warna wajahnya semakin memudar, bagai senja yang kehilangan cahayanya. Sudah seharian ia hanya bertahan dengan sebungkus roti dan secangkir susu, tanpa sarapan, dan malam sebelumnya pun perutnya terasa hampa.
Kesehatannya semakin menurun, badannya terasa panas dan dingin berselang-seling seperti diterjang hujan di tengah musim kemarau. Dion sempat mengantarnya pulang, namun kelelahannya kala itu membuatnya melewatkan makan malam lagi. Shela hanya bisa merebahkan diri di ranjang, berharap segalanya akan membaik.
Dengan napas yang tersengal, Shela mencoba bangkit dari kursinya. Langkahnya gontai, bagai menyeret beban dunia di bahu kecilnya. Ruang kelas yang biasa dipenuhi gelak tawa itu kini terasa sepi dan hening, menyisakan gema lelah dari langkah kaki Shela yang terdengar sayup-sayup di lorong sekolah.
Shela berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengganti rok sekolahnya dengan celana, setelahnya dia pergi menuju ke parkiran untuk mengambil motornya. Di parkiran hanya tersisa beberapa kendaraan lagi termasuk motornya, suasana sekolah juga sudah cukup sepi dan Shela menyukai suasana seperti ini, hening dan tidak ada keramaian.
Shela melajukan motor besarnya dengan kecepatan rendah dan setelah beberapa menit ia sampai di kediaman Pradipta. Shela memarkirkan motornya di pekarangan rumah. Ia mengerutkan alisnya begitu melihat mobil lain terparkir di garasi rumahnya.
Shela mengedikkan bahunya acuh dan berjalan ke arah pintu masuk. Ia membuka pintu dengan pelan dan tenang, begitu sudah berada di dalam yang pertama kali ia lihat adalah seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan sedang berbincang dengan ketiga kakaknya.
Shela masih memasang wajah andalannya meski ia tau ada papahnya di sana. Ia tidak mengetahui jika hari ini papahnya akan pulang. Sepertinya setelah ini akan banyak drama yang akan terjadi di rumah ini.
"Shela," panggil Sagara dengan suara yang pelan nan sayu, menghantui kesunyian ruangan saat Shela berdiri tegak di dekat pintu. Sepasang mata semua orang yang hadir seketika tertuju padanya, namun Shela hanya terdiam bak patung, ekspresinya datar dan dingin seperti es, membeku dalam diam.
Daniel, ayah mereka, tertegun dan terperanjat menyaksikan transformasi drastis putri bungsunya yang telah berubah sangat berbeda dari yang terakhir kali ia lihat. Kemunculannya tanpa setitik riasan pun menyingkap memori tentang mendiang istri tercinta yang sering tampil apa adanya di rumah.
Dalam kesunyian yang mendadak, Daniel bertanya-tanya mengapa Shela hanya diam mematung, matanya tak berkedip menatap ke arahnya dan juga ketiga anak laki-lakinya dengan tatapan yang tak terbaca. Biasanya, Shela adalah anak yang akan langsung berlari memeluknya dan menempel seperti perangko saat ia pulang ke rumah, namun hari ini semua kehangatan itu seolah terkunci di balik pandangan dinginnya.
Anggara termenung, sepertinya sikap adiknya pada papahnya berubah juga, sama seperti sikap dia pada dirinya dan dia adiknya yang lain. Hati Anggara tersentil begitu menyadari sikap adiknya yang benar-benar berubah,bukan hanya pada mereka juga pada papahnya.
Cukup lama Shela diam sambil memasang wajah datar ke arah mereka, hingga akhirnya dia mulai melangkahkan kaki. Mereka sempat berharap gadis itu melangkah untuk menghampiri mereka, tapi kenyataannya gadis itu hanya melewati mereka dan mulai naiki anak tangga menuju ke kamarnya.
Baru saja menaiki anak tangga ke tiga Dika menghampirinya dan menahan tangan Shela agar tidak meneruskan langkahnya. Sadar sempat terkejut karena merasakan tangan Shela yang panas dan wajahnya yang terlihat pucat.
"Kenapa malam itu lo gak cerita tentang kejadian sebenarnya?" tanya Dika dengan suara yang dingin memotong kesunyian.
Shela menatap Dika dengan pandangan penuh kebencian. "Lepasin gue," bisik Shela dengan suara parau, tubuhnya terasa lunglai, dan panas demam semakin meningkat.
Shela ingin berontak, menepis tangan kakaknya itu yang mengekangnya, namun kekuatannya seakan telah lenyap, terkuras habis oleh perjalanan motor yang menguras tenaga.
Dika, yang tidak melepaskan genggamannya, menatap adiknya dengan tatapan tajam, mendesak jawaban. "Jawab, Shela, kenapa lo diam?" suaranya semakin meningkat kekerasannya.
Dengan wajah pucat dan senyum sinis, Shela membalas, "Itu bukan urusan lo! Lo bukan siapa-siapa dalam hidup gue, jadi gue gak perlu menceritakan apa pun sama lo!" Katanya dengan suara rendah namun memotong seperti pisau.
Ruang antara mereka dipenuhi dengan ketegangan dan kata-kata yang tajam, seperti bilah-bilah yang siap mengiris hati.
Hati Dika tentu saja meras sakit mendengar perkataan Shela yang dilontarkan untuknya,sedangkan Daniel bingung dengan apa yang mereka bicarakan.
Daniel sempat terkejut begitu melihat Shela memandang dingin kakaknya dan juga perkataannya yang terdengar menusuk. Tapi ia juga tidak mengetahui permasalahan apa yang terjadi diantara mereka.
"Seharusnya lo jujur dengan apa yang terjadi malam itu, Shela. Dengan pernyataan lo, lo hanya memperparah salah paham dan membuat lo terlihat hina di mata semua orang," kata Dika, nada suaranya terasa tajam bagai belati.
Shela mendongak, alisnya terangkat dengan sinis. "Oh, dan apa bedanya dengan cara pandang kalian sebelumnya? Kalian, semua orang, selalu menghakimi gue, seolah gue tak lebih dari sampah masyarakat," ujarnya, suaranya penuh kekecewaan yang mendalam. Setiap kata dari Shela menghujam mereka yang mendengarkan, termasuk Daniel, yang mulai memahami betapa rumitnya simpul masalah yang terjalin di antara mereka, anak-anaknya.
"Gue gak peduli bagaimana kalian memandang gue . Gue gak peduli dengan segala rencana jahat yang ada di kepala Lo, gue bahkan gak peduli kalau kalian mau bunuh gue sekali pun," lanjut Shela, suaranya meninggi, penuh keberanian. "Kalian bukan siapa-siapa dalam hidup gue, dan seharusnya kalian juga berpikir demikian," katanya. Dengan setiap kata yang terucap, Dika merasa semakin tercabik, amarahnya mendidih tak terkendali.
"Gue kakak lo," tekan Dika pada Shela yang masih memandangnya datar.
"Kakak? Gue gak salah denger? Gue tanya sekarang, emang ada kakak yang menyalahkan kelahiran adiknya? Emang ada kakak yang selalu merenungkan adiknya? Emang ada seorang kakak yang tega membiarkan adiknya dimaki-maki oleh orang lain? Emang ada kakak yang mengabaikan adiknya yang meminta tolong karena tenggelam dan memilih menyelamatkan orang lain? Emang ada ya seorang kakak yang lebih memilih berkumpul bersama teman-temannya dan tertawa saat adiknya sedang bertaruh nyawa karena perlakuan temannya?" Shela tertawa hambar." Sekarang lo pikir apa yang lo lakuin selama ini pantas disebut sebagai kakak?"
Shela tersenyum pedih dan hal itu membuat para kakaknya seakan ikut merasakan kepedihan itu.
Daniel terenyuh dengan tatapan pedih dan perkataan menusuk Shela. Ia sedikit tidak mengerti dengan pernyataan Shela yang mengatakan jika gadis itu bertaruh nyawa, memangnya apa yang terjadi pada anak-anaknya selama dirinya tidak ada di rumah?
"Dari dulu masa lalu menolak kehadiran gue dimanapun. Lo memperlakukan gue dengan buruk, mempermalukan gue di depan banyak orang dan lo nggak pernah menganggap gue sebenarnya adik di depan teman-teman lo. Maka dari itu gue berbaik hati mewujudkan apa yang lo mau, apakah itu salah?"
Ucapan Shela benar-benar menyayat hati ketiga kakaknya.
"Jadi mulai sekarang berhenti mencampuri urusan gue, berhenti urusin hidup gue. Anggap kita hanyalah orang asing yang memang ditakdirkan untuk hidup dalam satu atap dan sesuai dengan harapan lo dulu gue akan menjaga jarak dari lo," ujar Shela yang berhasil membuat Dika diam. Dika ingin menarik ucapan Shela, tapi semua yang dikatakan gadis itu benar, apa yang Shela lakukan sekarang adalah wujud dari harapannya dulu.
Perlahan Shela menarik tangannya dari laki-laki itu dan Dika pun melepaskan tangannya.
"Gue tekankan sekali lagi, mulai hari ini Lo bukan siapa-siapa gue dan jangan pernah urusi hidup gue,ngerti?" Tanpa menunggu jawaban dari Dika, Shela segera berbalik melanjutkan langkahnya menuju ke kamarnya.
Daniel yang sedari tadi menyaksikan dan mendengar percakapan kedua anaknya itu, membuatnya semakin yakin jika ada masalah besar yang terjadi sehingga mengubah sikap anaknya.