Perhatian–perhatian cerita ini beralur lambat. Harap bersabar menanti ceritanya ya .... 😁
Gea Agatha adalah seorang wanita berusia 21 tahun yang hidup mandiri. Gea berusaha hidup menjauh dari keluarganya yang membencinya. Wanita mandiri itu memiliki seorang kekasih bernama Davin Angkara.
Suatu hari, mereka mengikrarkan janji sehidup semati. Namun naas, Gea malah dikhianati oleh kekasihnya di hari pernikahannya yang membuatnya harus berada pada keadaan yang lebih mengecewakan. Hari itu juga, ia bertemu dengan Briel, seorang laki-laki yang juga harus menikah di hari itu juga yang sama sekali tidak Gea kenal, memaksa Gea untuk menikah dengannya karena suatu kesalahpahaman.
Mereka berdua mengarungi bahtera rumah tangga yang diterpa berbagai macam musim.
Akankah Gea dan Briel bisa melewati semuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asabernisletih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Menikah Dengan Orang Asing 2
"Hei … lepaskan aku!"
Gea berteriak dan memberontak, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Briel pada tangannya. Namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga Briel. Semakin ia memberontak, cengkeraman itu semakin kuat.
"Kau mau bawa aku kem-"
"Sudah, gak usah banyak tanya! Ikuti saya saja!" paksa Briel sembari terus menarik Gea tanpa mau mendengarkan ucapan Gea sampai selesai. Pikirannya yang terbagi-bagi dan suasana hatinya yang buruk, membuat ia ingin segera menyelesaikan semuanya.
"Sudah tahu mau nikah, masih saja tanya mau dibawa kemana … " geruntu Briel sambil terus menarik paksa Gea masuk ke dalam ballroom hotel itu.
Saat memasuki ballroom, Gea terbengong. Ia mengedarkan pandangannya. Banyak bunga-bunga cantik menghiasi ruangan itu. Pernikahan siapa ini? Kenapa aku dibawa ke sini? Pertanyaan itu terbesit di dalam benaknya. Ia dibingungkan dengan apa yang terjadi di depannya saat ini.
"Tunggu!" Gea berusaha menghentikan langkahnya. Ia menahan dirinya untuk bertahan tidak mengikuti pria asing itu.
"Acara pernikahan siapa ini? Kenapa kau membawaku ke sini?"
Briel berhenti. Baginya, kalimat yang terlontar dari mulut Gea itu adalah suatu bentuk penolakan Gea padanya. Ia menghela napas panjang. Berat ia rasakan. Ia berbalik memandang Gea.
"Sebegitu sudikah dirimu untuk menikah denganku, hingga kau sampai ingin melepas paksa nyawamu dengan bunuh diri di jalanan seperti tadi?" tanya Briel dengan suara rendah namun menyiratkan suatu kesedihan sekaligus kekecewaan yang berusaha ia redam.
Gea bingung sendiri. Sebenarnya tidak ada niat baginya untuk bunuh diri. Ia tidak tahu kenapa ia bisa menyebrang jalan tanpa melihat kiri kanan. Bahkan keinginan untuk mati saja terbesit ketika ia sudah ada di pelukan pria tak dikenal.
Ia terdiam sejenak. "Menikah dengannya? Kapan? Kenal saja tidak. Bahkan aku baru bertemu dengannya saat ini."
"Kau salah paham. Bukan begitu maksudku, tapi -- "
"Sudahlah, tidak usah banyak alasan atau tapi-tapian! Ayo, kita tidak punya banyak waktu!"
Lagi-lagi ucapan Gea terpotong oleh ucapan Briel. Briel meraih tangan Gea dan menarik Gea kembali dengan paksa namun tarikan itu tidak menyakiti Gea. Briel membawa Gea masuk. Mau tidak mau Gea pun terseret masuk bersama Briel.
Di sana sudah berdiri seorang pastor berjubah putih yang sudah menunggu kehadiran mereka. Keluarga Briel sengaja melangsungkan pernikahannya di hotel karena gereja yang terletak di dekat hotel juga digunakan untuk melangsungkan pernikahan saat itu juga.
Pastor itu tersenyum melihat sepasang calon pengantin itu. Ia telah menanti kehadiran mereka. Briel menyapa pastor itu dan membungkuk hormat begitupun juga dengan Gea.
"Baiklah Tuan, mari kita langsungkan pemberkatan pernikahan kalian."
Sebutan kata "tuan" untuknya membuat Briel tidak nyaman. Apalagi pastor itulah yang memanggilnya seperti itu. Itulah sebabnya Adam memanggilnya dengan sebutan "bos".
"Maaf, Pastor, jangan memanggilku dengan sebutan "tuan". Cukup Briel saja," ucap Briel sambil tersenyum.
Pastor itu tersenyum, ia mengangguk. "Baiklah, Briel."
Tangan Gea menggenggam erat gaunnya berulang kali. Rasa gelisah telah menelusup di dalam hatinya lebih dalam. Ia berbalik ingin meninggalkan ballroom hotel itu. Namun, baru saja ia melangkah, Briel memegang pundak Gea, menahan Gea untuk tetap berada di sana dan menikah dengannya.
Gea memejamkan matanya. "Apakah aku harus melakukan ini, menikah dengan pria yang tak dikenal? "
Briel memutar tubuh Gea agar kembali menghadap sang pastor. Gea pun mengikuti kemauan Briel meski hatinya terpaksa.
"Dimanakah keluarga kalian?" Pastor itu mengedarkan pandangannya. Namun nihil, tidak ada siapapun yang ada di sana selain mereka bertiga.
"Ada suatu hal yang membuat mereka tidak bisa hadir."
Briel menjawab lebih dulu. Kesedihan tersirat jelas dalam setiap kata yang terucap. Pastor hanya diam, tak meminta penjelasan lebih lanjut. Karena ia tahu, ada duka yang terlihat jelas di mata Briel.
"Kalau Anda, Nyonya..." pastor itu menjeda ucapannya karena tidak mengetahui namanya.
"Panggil saya Gea... " ucapnya lirih namun masih terdengar jelas.
"Dimanakah keluargamu?"
"Saya hidup sendiri," jawab Gea sambil menunduk. Jawabannya tidak sepenuhnya benar namun juga tidak sepenuhnya salah. Ia masih mempunyai seorang ayah kandung serta saudara sedarah ayah dan ibu tirinya namun selama beberapa tahun ini ia memang hidup sendiri, jauh dari mereka.
Pastor itu mengangguk paham. Ia mengira kalau Gea adalah seorang anak yatim piatu. "Baiklah kalau begitu mari kita mulai pemberkatan pernikahan kalian."
Ia memulai pemberkatan itu dengan memberikan bekal pernikahan. Berbagai petuah berumah tangga yang sebagaimana mestinya, sesuai dengan ajaran agama, mereka dengar dari pastor itu. Briel mendengarkan dengan seksama. Tapi tidak dengan Gea. Gea sibuk dengan hati dan pikirannya sendiri. Ratapan demi ratapan menyisip di dalam hatinya untuk meratapi kisah hidupnya.
"Tuhan, apakah aku harus menikah dengan pria asing ini? Sungguh malang nasibku, Tuhan. Baru saja aku ditinggal nikah sama mantan calon suamiku, sekarang malah akan dinikahi oleh pria asing yang bahkan baru beberapa saat lalu aku bertemu. Skenario-Mu sungguh membuatku tak mengerti."
Gea tidak habis pikir dengan jalan hidupnya. Cukup lama ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai-sampai ia tidak sadar pastor itu selesai berbicara.
"Di hadapan Tuhan Yang Maha Kasih, saya, Gabriel Abraham Yohandrian, memilih engkau menjadi istriku. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung atau malang, kaya atau miskin, diwaktu sehat atau sakit. Saya akan tetap mencintai dan menghormatimu sepajang hidupku sampai maut memisahkan."
Ucapan janji Briel yang terdengar di pendengarannya, membuat Gea tersadar dari lamunannya. Hati Gea berdesir tak karuan. Suara Briel yang lantang membuat ia ingin menangis lagi.
"Apakah ini bukan hanya sekadar janji? Atau malah hanya bualan semata?"
Ketakutan dan keraguan menguasai hati Gea. Gea tidak siap untuk dikhianati kembali setelah ia dikhianati oleh pria yang sungguh ia cintai.
Jatung Gea berdegub kencang dikala tiba giliran Gea untuk mengucapkan janji setianya. Debaran itu bukan karena cinta, melainkan karena keraguan yang besar dan takut dikecewakan. Ia sadar, dalam hal ini dia menikah bukan karena cinta.
"Di hadapan Tuhan Yang Maha Kasih, saya, Gea Agatha, memilih engkau menjadi suamiku. Saya berjanji untuk setia kepadamu dalam untung atau malang, kaya atau miskin, di waktu sehat atau sakit. Saya akan tetap mencintai dan menghormatimu sepanjang hidupku sampai maut memisahkan."
Suara Gea bergetar. Ia sudah mengambil keputusan. Namun ia tidak tahu akan seperti apa nasib bahtera rumah tangganya. Briel meraih tangan Gea. Ia mengambil cincin lalu menyematkan cincin itu pada jari manis Gea, begitupun juga dengan Gea.
Briel berdiri mematung. Ia menatap Gea dalam. Sedangkan Gea menunduk, menyembunyikan wajahnya dalam-dalam. Air matanya menetes lagi namun ia segera mengusap agar tidak terlihat oleh Briel maupun pastor itu. Jujur, ia takut dengan keputusan yang ia ambil.
Pastor itu menggeleng ringan sambil tersenyum saat melihat sikap mereka berdua. Baru kali ini ia menikahkan pasangan yang malah terdiam ketika mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri.
"Briel, Anda boleh mencium Gea, wanita yang kini telah resmi menjadi pendamping hidup Anda."
Suara pastor itu terdengar jelas di telinga Gea. Lagi-lagi jantungnya terpacu lebih cepat. Namun ia memilih untuk tetap menundukkan kepalanya.
Selang beberapa detik, ia melihat sepasang sepatu berada di depan kakinya. Briel telah mengikis jarak di antara dia dengan Gea. Briel mendongakkan kepala Gea. Ia memegang dagu Gea. Pandangan mereka saling beradu. Sorot mata Gea memohon Briel untuk tidak melakukannya. Ia belum siap memberikan ciuman pertamanya untuk siapapun.
Namun Briel tidak menghiraukan permintaan Gea. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah Gea. Gea memejamkan matanya untuk menerima apa yang akan terjadi selanjutnya, siap maupun tidak siap.
Cup
Tidak ia duga, Briel mengecup kedua pipi Gea. Kemudian beralih mencium kening Gea cukup lama. Gea mengucap syukur di dalam hatinya. Sungguh, ia lega. Briel tidak memaksakan kehendaknya.
"Baiklah, pemberkatan pernikahan sudah selesai. Selamat untuk kalian berdua. Berbahagialah sampai maut memisahkan kalian."
Ucapan doa yang terlontar itu terasa hambar bagi Gea. Pernikahan ini bukanlah pernikahan impiannya.
"Bagaimana aku bisa bahagia? "
🍂
//
Hai hai haii semuanya, pembaca tercinta. hehehe maafkan Asa yang sampai sekarang belum bisa up teratur. Terkadang rutinitas kehidupan nyata membuatku kesulitan untuk membagi waktu 😥😥. Ada yang bisa berbagi tips kah? Kalau ada akan aku terima dengan senang hati semuanya 🤗🤗
Terimakasih untuk kalian semua yang masih setia membaca maupun memberikan dukungan kalian untukku 😘🙏
🍂
//
Oh iya, sembari menunggu Asa up (jiailah... pede amat kau Sa! 😂) kalian bisa baca karya teman-teman Asa yang kecee badai 😊🤗
🍂
//
Happy reading guys
jangan lupa bahagia 💕💕
Makasi thor ceritanya bagus, meski up nya lama tapi gpp
ditunggu karya selanjutnya
tetap semangat berkarya