NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 23

Dua minggu berlalu sejak obrolannya dengan Jonathan, juga percakapan tak terduga bersama Rian malam itu. Dua minggu yang diisi dengan pikiran yang datang dan pergi, ragu yang sempat singgah, lalu keyakinan yang perlahan tumbuh.

Zaidan bukan tipe pria yang gegabah. Ia terbiasa berpikir, menimbang risiko, menghitung kemungkinan terburuk. Namun soal Zahra, semakin ia menahan diri, semakin perasaannya terasa nyata. Bukan sekadar rasa penasaran, apalagi simpati. Ini sesuatu yang lebih dalam yang membuat dadanya terasa penuh hanya dengan mengingat nama perempuan itu.

Malam ini, Zaidan berdiri di depan cermin kamarnya lebih lama dari biasanya. Ia merapikan kerah kemeja, memastikan rambutnya rapi, lalu menghela napas panjang. Ada gugup yang tak bisa ia pungkiri, tapi ada tekad yang jauh lebih kuat.

Ia teringat ucapan Rian. Kalau serius, jangan setengah-setengah.

Juga kata-kata Jonathan tentang Zahra yang kini semakin baik dan semakin kuat.

Zaidan mengambil ponselnya, menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menguncinya kembali. Tidak. Ia tidak ingin bersembunyi di balik pesan singkat. Jika memang ingin mengejar, ia ingin melakukannya dengan cara yang jujur dan berani.

“Mundur terus juga bukan pilihan,” gumamnya pelan.

Malam ini, Zaidan memutuskan satu hal, berhenti dengan hanya menjaga jarak, dan berhenti untuk sekadar memperhatikan dari jauh. Dengan langkah yang mantap, ia meraih kunci motornya.

Malam ini Zaidan mendeklarasikan jika ia benar-benar akan mulai mengejar cintanya—Zahra.

Zaidan baru saja menuruni anak tangga terakhir ketika langkahnya mendadak melambat. Di ruang tengah, Fadi dan Bunga duduk santai dengan tab di masing-masing tangan mereka.

Begitu melihat Zaidan yang tampil rapi dengan kemeja yang disetrika licin, rambut tertata, dan sepatu pun sudah terpasang, Bunga langsung menoleh dan menatapnya lebih lama dari biasanya.

“Loh,” katanya pelan tapi penuh makna. “Anak kita mau kondangan apa wawancara kerja?”

Fadi menurunkan tabnya sedikit dan melirik ke arah sang putra. Alisnya terangkat satu.

“Mau ke mana kamu, Dan?”

“Keluar sebentar, Pa,” jawab Zaidan santai, berusaha terdengar biasa saja.

“Sebentar kok pakai rapi begitu?” Fadi meletakkan tab miliknya di atas meja, lalu berdiri. Ia mengitari Zaidan pelan-pelan seperti satpam sedang memeriksa tamu. “Sepatu kinclong, kemeja disetrika… ini bukan kamu yang biasanya keluar beli matcha.”

Bunga ikut menimpali sambil menahan senyum. “Jangan-jangan mau apel.”

Zaidan berdeham. “Apel apa, Bu. Ini malam.”

“Apel malam juga bisa,” sahut Fadi cepat. “Atau… apel hati.”

Bunga terkekeh. “Wah, Papa bisa aja.”

Zaidan menghela napas, pasrah. “Pa, Ma… aku cuma mau ketemu teman.”

“Teman cewek?” Fadi langsung memotong, matanya berbinar seperti baru menemukan topik favorit.

“Teman ya teman,” elak Zaidan.

Fadi mendekat, menepuk bahu anak laki-lakinya itu pelan. “Dengar ya, sebagai ayah yang sudah berpengalaman puluhan tahun, kalau laki-laki rapi mendadak, ada dua kemungkinan. Satu, mau ketemu atasan. Dua… mau ketemu calon menantu.”

“Pa!” Zaidan menggeram kecil.

Bunga tertawa sambil kembali mengalihkan pandangannya ke arah tablet miliknya “Papa jangan ditekan-tekan begitu. Nanti malah batal perginya.”

“Lah, justru biar semangat,” bela Fadi. Lalu ia mencondongkan badan sedikit, berbisik setengah serius. “Kalau bener mau apel, jangan lama-lama di depan rumah orang. Masuk. Biar Papa cepat naik pangkat jadi besan.”

Zaidan menggeleng, tak bisa menahan senyum kecilnya. “Doain aja yang baik-baik, Pa.”

Fadi menepuk dada. “Tenang. Papa doain. Tapi pulangnya jangan malam banget, apalagi sampai pagi. Papa sama Mamamu jantungnya nggak sekuat dulu.”

Bunga mengangguk setuju. “Hati-hati di jalan, Dan.”

Zaidan tersenyum, lalu melangkah menuju pintu. Di detik terakhir sebelum keluar, ia menoleh.

“Pa…”

“Iya?”

“Doanya yang serius.”

Fadi tersenyum lebar. “Selalu. Tapi kalau gagal, jangan baper. Papa siap nemenin ngopi.”

Zaidan terkekeh pelan, lalu membuka pintu dan melangkah keluar, meninggalkan kedua orang tuanya yang saling pandang. Mereka sama-sama tahu jika anak laki-laki mereka sedang berjuang dengan perasaannya sendiri.

*

*

*

Pukul delapan lewat lima belas menit, Zaidan memarkirkan motornya di area parkir Happy Mart. Mesin dimatikan, helm dilepas. Seperti refleks, matanya langsung menyapu ke arah dalam, tepat ke meja kasir yang selalu menjadi perhatian pertamanya jika datang kesini.

Kosong.

Bukan Zahra.

Dahi Zaidan sedikit berkerut. Ia berdiri beberapa detik lebih lama dari seharusnya, berharap perempuan itu muncul dari balik rak atau dari pintu belakang.

“Apa di belakang?” gumamnya pelan.

Tak mau berlama-lama dengan prasangka, Zaidan melangkah masuk. Pintu kaca didorong pelan, lonceng kecil di atasnya berdenting nyaring.

“Selamat datang di Happy Mart, selamat berbelanja.”

Sapaan itu datang dari seorang pria yang berdiri di balik kasir. Tentu saja bukan wajah ini yang ia cari.

Zaidan langsung mendekat. “Bang, Zahra ada?”

Pria itu menggeleng ringan. “Zahra libur, Bang, hari ini.”

“Hah?” Zaidan refleks meninggikan suara. “Libur? Bukannya hari liburnya Zahra Selasa ya?”

“Iya, Bang. Biasanya Selasa. Tapi hari ini dia minta tukeran. Katanya ada keperluan.”

Belum sempat Zaidan mencerna kalimat itu, suara lain ikut nimbrung.

“Zahra mau malam mingguan dia.”

Zaidan menoleh. Seorang perempuan muda berdiri tak jauh dari kasir, wajahnya terasa familiar. Rere. Ia pernah melihatnya beberapa kali, biasanya satu shift dengan Zahra.

“Malam mingguan?” Zaidan memastikan, nadanya datar, tapi dadanya langsung terasa sesak.

“Serius, Pak,” jawab Rere santai. “Kemarin Zahra cerita ke aku.”

Detik itu juga, Zaidan merasa seperti seseorang yang datang ke stasiun, yang telah berpakaian rapi dan penuh harap, hanya untuk mendapati kereta sudah berangkat.

“Oh… begitu,” gumamnya.

Ia memaksa tersenyum tipis. “Ya sudah. Terima kasih, ya.”

Tanpa menunggu respons, Zaidan berbalik dan melangkah keluar. Pintu kaca kembali berdenting, kali ini terdengar lebih pelan, seolah ikut memahami suasana hatinya.

Di dalam, Bang Zul melirik Rere. “Kamu serius Zahra malam mingguan?”

Rere mengangkat bahu ringan. “Kan memang malam Minggu, Bang.”

“Lah, tapi yang tadi kasihan. Nyangkanya beneran.”

Rere terkekeh kecil. “Justru dari sini keliatan, Bang. Dia beneran peduli apa nggak.”

Di luar, Zaidan sudah mengenakan helmnya kembali. Mesin motor dinyalakan, lalu ia melaju tanpa tujuan yang jelas. Jalanan malam ramai oleh lampu dan suara, tapi semuanya terasa lewat begitu saja.

Ia tidak tahu sudah berapa lama berkendara. Ke kiri, ke kanan, lampu merah, lampu hijau, semua dilalui tanpa benar-benar disadari. Kepalanya penuh, dadanya terasa aneh, seperti ditekan sesuatu yang tak kasat mata.

Hingga akhirnya, ia melambat.

Alisnya berkerut ketika menyadari satu hal.

“Ini… jalan ke rumah Zahra.”

Zaidan terkekeh kecil, pahit. “Hebat. Tanpa sadar aja arahnya ke sini.”

Ia hampir saja berbalik arah, tapi perutnya tiba-tiba berbunyi pelan, mengingatkan satu kebutuhan dasar yang tak bisa ditunda.

Pandangan Zaidan tertumbuk pada sebuah warung sederhana di pinggir jalan. Pecel lele. Tempat yang pernah ia singgahi bersama Zahra beberapa waktu lalu.

Zaidan menepikan motor, mematikan mesin, lalu turun.

“Patah hati boleh,” gumamnya sambil melangkah mendekat, “tapi makan tetap harus.”

Ia duduk di bangku plastik yang sama, memesan menu yang sama, hanya dengan perasaan yang jelas berbeda.

Demi mengusir kejenuhan menunggu pesanannya selesai, Zaidan memainkan ponselnya dan mulai membuka sosial medianya. Tatapannya terus ke ponsel sampai sebuah suara memanggilnya, dan mampu membuat dadanya bergetar.

...****************...

Jangan lupa tinggalin jejak kalian ya, best ❤️❤️

1
Esther
Gak usah berpikir aneh2 Ra, keluarga Zaidan baik gak pernah memandang orang dari status ekonominya.
cahaya adelisha
bagus
mumu: terima kasih 🫶🫶
total 1 replies
Esther
Ada Aqila dan Rian, bikin Zaidan mati kutu di depan Zahra😂😂
mumu: paket kombo banget dah. niat ngenalin ke mama aja, eh pasukan rupanya berkumpul 🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
udah donkkkk,,, kalo di bunga aku baca bolak balik pas naik gunung,,,, kalo di jelita aku bolak balik pas pertunangan Yumna.... ngakak puoooooollllll sumpah.... aku sampe yg malu sendiri bacanya.... tapi seneng tak baca berulang kali.... 🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ih seriusan kak? terhura eh terharu aku 🥲 seneng banget walau masih penulis kecil tp di apresiasi sebesar ini sama pembaca 🥰🥰 pembacaku masih dikit banget, tp kalau baca ini tu bikin makin semangat tau 🫶🫶
total 1 replies
Nabila Nabil
definisi kakak perempuan pertama... mending ibu yg marah ketimbang kakak pertama yg ngamuk.... gonjang ganjing bumi ini... 🤣🤣🤣🤣
mumu: gak kakak aja, kalau abang gitu juga. aku takut kalau abang aku udh bersabda 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
takut banget aku ngetik pake HP baru jadi om edan.... 🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: gpp typo nya jadi om edan juga 🤣🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
nunggu pentolannya kang julid.... zaidan siap siap ngempet ini... 🤣🤣🤣
mumu: selimut mana selimut 😂😂😂
total 1 replies
Nabila Nabil
agak setengah dua belas juga sih.... 🤣🤣🤣
mumu: ssst gak bole gitu 🤫🤫😆😆
total 1 replies
Nabila Nabil
si aqilla mulutnya melebihi admin lambe turah... 🤣🤣🤣🤣🤣
Nabila Nabil
🤣🤣🤣🤣🤣 salah nebak semua....
Yuliarti Hendra
baru mampir
a.i.cahaya
wiiiih siapa tu 🤭🤭🤭
a.i.cahaya
belum tau kamu lagi zahra siapa zaidan sebenarnyaa
a.i.cahaya
kecepatan apa ni thor 😄😄
mumu: typo 🤭🤭 tapi paham lah 😂😂
total 1 replies
cahaya adelisha
mampir
mumu: terima kasih sudah mampir 🥰
total 1 replies
Nabila Nabil
si pak bupati..... 🤣🤣🤣🤣 alias admin lambe turah.... dan dan.... siap siap malu didepan zahra.... wibawa polisi mu bakal langsung down.... 🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: admin cekrek cekrek upload 🤣🤣🤭🤭🤣🤣
total 1 replies
Nabila Nabil
kaaaaaannnnn bener.....🤣🤣🤣🤣
mumu: apaan tuh 🤭😂😂
total 1 replies
Nabila Nabil
ketemu mamer sama pamer donk..... 🤣🤣🤣🤣
Rini
kakak ipar laknat pasti 🤣
Rini: iya bikin darting Zidan 🤣
total 2 replies
Esther
Rian kah itu ? Kalau ada Rian, habislah Zaidan digodain🤭
mumu: combo kali 🤣🤣🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!