NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 22

Zaidan masih saja tenggelam dalam pikirannya, mengulang-ulang ucapan Jonathan siang tadi mengenai Zahra. Tentang sesuatu yang lebih besar dan lebih dalam yang selama ini ia kira sudah selesai.

Ingin rasanya ia menghubungi Zahra. Sekedar bertanya kabar, atau memastikan perempuan itu benar-benar baik-baik saja. Atau mungkin… sekadar mendengar suaranya.

Namun tangannya berhenti setiap kali sudah menggenggam ponsel.

Ia menghembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

“Yang ada dia malah ilfeel,” gumamnya lirih, lebih seperti peringatan untuk dirinya sendiri.

Zaidan sadar, ia tidak bisa memaksa apa pun. Tidak bisa datang tiba-tiba. Tidak bisa terlalu maju. Tidak bisa bertindak sebagai polisi, apalagi sebagai penyelamat. Kali ini, kalau ia ingin mendekat, ia harus berdiri sebagai Zaidan Pramadani, seorang laki-laki biasa tanpa pangkat, tanpa profesi.

Masalahnya, ia sendiri belum tahu langkah apa yang paling tepat.

Saat ia masih berkutat dengan pikirannya, pintu kamar tiba-tiba terbuka tanpa diketuk.

Zaidan langsung menoleh, dan detik berikutnya alisnya mengernyit.

“Ngapain sering ke sini sih, Mas?” ketusnya.

Rian, dengan wajah super santai, melangkah masuk lalu langsung merebahkan diri di kasur Zaidan, tepat di sampingnya.

“Lah, orang ke rumah mertua sendiri kok dilarang,” jawab pria berusia empat puluh tahun itu dengan enteng.

“Itu rumah orang tua aku, bukan rumah Mas,” balas Zaidan kesal.

“Mertua aku juga,” sahut Rian cepat, sambil menyilangkan tangan di belakang kepala.

Zaidan mendecak. “Mau ngapain, Mas?”

“Nggak kelihatan ini lagi ngapain?” Rian melirik sekilas. “Rebahan.”

“Maksud aku… ngapain ke Jakarta,” Zaidan menegakkan duduknya. Nada suaranya mulai naik.

“Oh itu,” Rian mengangguk pelan. “Biasa. Ada RAKERNAS partai.”

“Oh,” jawab Zaidan singkat, lalu kembali merebahkan diri, menatap langit-langit kamar.

Beberapa detik hening terjadi di kamar dengan nuansa khas laki-laki itu.

Rian memiringkan kepala, menatap wajah adik iparnya yang tampak tidak setenang biasanya.

“Kok bengong?” tanyanya. “Dari tadi kayak orang kehilangan remote TV.”

Zaidan melirik malas. “Nggak ada apa-apa.”

“Halah,” Rian terkekeh kecil. “Dari ekspresi aja udah kelihatan. Kamu lagi mikirin sesuatu.”

Zaidan diam.

Rian menyeringai. “Atau… seseorang?”

Zaidan memejamkan mata. Salah satu kesalahan terbesarnya malam ini adalah membiarkan Rian masuk ke kamarnya.

“Mikirin cewek, ya?” Rian menepuk ringan lengan Zaidan.

“Mas, tolong deh—”

“Kenapa ceweknya?” potong Rian cepat. “Nggak bales chat? Atau kamu keburu jatuh tapi dianya belum?”

Zaidan menghela napas panjang, lalu membuka mata dan menatap Rian sekilas. “Mas tuh kenapa sih hobi banget ikut campur hidup orang.”

“Karena hidup kamu kelihatan jauh lebih menarik daripada politik,” jawab Rian santai.

Zaidan mendengus pelan.

“Siapa suruh masuk partai,” gumamnya yang masih bisa didengar oleh Rian, namun ia tidak menggubrisnya.

Rian akhirnya duduk, bersandar di kepala ranjang. “Dan… kamu nggak kayak gini kalau cuma soal kerjaan. Jadi ya jelas, ini soal perempuan.”

Ia menatap Zaidan lebih serius kali ini. “Cewek itu penting, ya?”

Zaidan tidak langsung menjawab. Pandangannya kembali kosong.

“…Iya,” katanya akhirnya, pelan tapi jujur.

Rian tersenyum tipis. “Nah. Itu baru Zaidan yang aku kenal. Kenapa memangnya dia? Coba cerita sama mamasmu ini, siapa tahu ada solusinya.”

Zaidan terdiam cukup lama. Matanya terus menatap langit-langit kamarnya dengan jemarinya saling bertaut. Ia benar-benar sedang menimbang, apakah aman membuka diri pada Rian? Atau justru akan menyesal karena dijadikan bahan lelucon semalaman?

“Mas dulu akhirnya bisa dapetin Kak Jelita gimana?” tanyanya akhirnya, hati-hati.

Daripada meminta pendapat langsung, lebih baik mencuri strategi, pikirnya.

Rian menoleh cepat, ekspresinya berubah ketus. “Pake nanya.”

Zaidan mengerutkan dahi.

“Situ kan salah satu saksi hidup betapa memalukannya aku dulu di acara Om Randi,” lanjut Rian.

Zaidan mencoba memutar kembali memori di kepalanya. Ingatan dua belas tahun lalu itu tiba-tiba muncul begitu jelas. Acara pertunangan Yumna. Rian yang datang tanpa diundang dengan suara ributnya dan wajah-wajah keluarga yang tegang.

Dan ya… kekacauan itu.

“Oh,” Zaidan terkekeh kecil. “Yang bikin satu gedung pengen pura-pura nggak kenal itu?”

Rian melirik tajam. “Jangan diperjelas.”

“Emang nggak tahu malu,” gumam Zaidan, kali ini tanpa bisa menyembunyikan nada mengejeknya.

Rian mendengus, tapi tidak marah. “Tapi jangan salah. Gara-gara itu, Jelita langsung tahu satu hal.”

“Apa?”

“Kalau aku serius. Banget.”

Zaidan kembali terdiam. Kali ini bukan karena ragu, tapi karena mencerna. Ia ingat betul bagaimana setelah kejadian memalukan itu, Rian bukannya mundur, malah semakin sering datang. Semakin terang-terangan. Tidak peduli dinilai apa oleh orang lain.

Dan pada akhirnya… Jelita luluh.

“Kenapa?” Rian menyenggol bahu Zaidan pelan. “Kamu malu nunjukin perasaan kamu ke cewek itu?”

Zaidan menghembuskan napas berat. “Belum ditunjukin aja udah ditolak.”

Rian menatapnya lurus. “Terus?”

Zaidan menoleh. “Terus… ya sakit.”

“Habis itu?”

Zaidan diam.

Rian menyeringai kecil. “Mau nyerah?”

Pertanyaan itu menggantung.

“Mas,” Zaidan bersuara pelan, “aku tuh dari dulu mikir… perasaan itu nggak boleh maksa. Kalau dia nggak mau, ya udah.”

“Betul,” sahut Rian cepat. “Nggak boleh maksa.”

Zaidan mengangguk kecil.

“Tapi,” Rian melanjutkan, “nggak maksa itu beda sama nggak berjuang.”

Zaidan menoleh lagi.

“Kalau kamu belum jujur, belum benar-benar bilang, belum berdiri sebagai diri kamu sendiri, itu bukan ditolak,” ujar Rian tenang. “Itu baru… belum sampai.”

Zaidan terdiam. Kalimat itu entah kenapa seperti mengunggah sesuatu di dadanya.

Rian bangkit dari rebahannya, nada suaranya kini lebih santai. “Kamu takut diejek, ya?”

Zaidan tersenyum kecut. “Sedikit.”

“Wajar. Kamu kan adik ipar aku.”

“Nah itu dia,” sahut Zaidan. “Aku pikir Mas bakal ngetawain aku.”

Rian terkekeh. “Kalau soal ini, nggak.”

“Pokoknya, sebelum cewek itu benar-benar beri tanda buat minta kamu mundur, ya kamu jangan mundur. Maju terus. That’s simple.”

Zaidan ikut bangun dan duduk. Ia kemudian mengangguk pelan. “Intinya… jangan nyerah, ya.”

“Aku pikir kamu mau bilang intinya kacamata,” sahut Rian.

“Ah, Bupati tahu aja yang viral,” ejek Zaidan.

“Eh, jadi bupati itu harus selalu up to date. Nggak boleh ketinggalan trend.”

“Ya ya ya…”

Rian menatap Zaidan sebentar, lalu berkata lebih pelan, “Ada untungnya, kan punya abang.”

Kalimat itu membuat Zaidan tercekat sejenak. Ia tersenyum tipis. Dalam keluarganya, memang hanya dia anak laki-laki. Selama ini ia terbiasa memikul semuanya sendiri.

“Kejar,” lanjut Rian singkat. “Kalau gagal, kamu jatuh sebagai laki-laki yang berani. Bukan pengecut yang cuma mikir.”

Zaidan mengangguk pelan. “Mas… makasih.”

Rian langsung berdiri. “Sama-sama.”

Lalu, dengan wajah super santai, ia menepuk pundak Zaidan. “Tapi ingat ya.”

“Apa?”

“Kalau kamu nanti nikah, jangan lupa undanganku yang politisi ini duduk paling depan.”

Zaidan tersenyum kecut. “Udah… keluar dari kamarku!”

Rian keluar dari kamar Zaidan dengan tawa kencangnya, bahkan hingga ia telah benar-benar keluar dari kamar si bujangan itu.

“Ketawa apaan? Jahilin Zaidan lagi?” tanya Jelita begitu keluar dari kamar, alisnya terangkat saat melihat suaminya berdiri di depan pintu kamar adiknya sambil tertawa sendiri.

“Aku bukan jahil, Sayang,” Rian langsung pasang wajah paling polos. “Aku itu baik. Lagi nemenin pria galau.”

Belum sempat Jelita membalas, suara cempreng nan polos terdengar dari pelukannya itu.

“Papa nggak boleh jahatin Om Zaidan!”

Rian langsung menatap Jelita mini itu. “Lho, Papa ngapain emangnya?”

Naira yang ada dalam gendongan Jelita menatap ayahnya dengan wajah serius, seolah sedang memberi peringatan keras. Rian refleks memasang wajah sedih berlebihan, bibirnya manyun, matanya dibuat sendu. Aksi ini jelas-jelas hanya demi menarik simpati putri semata wayangnya.

“Naira sayang siapa sih?” tanya Rian dengan suara dilembut-lembutin. “Papa atau Om Zaidan?”

Tanpa ragu. Tanpa mikir. Tanpa basa-basi.

“Om Zaidan,” jawab Naira cepat.

Rian terpaku. “Lho—”

“Soalnya Om Zaidan ganteng,” lanjut Naira polos. “Papa jelek, udah tua.”

Hening.

Lalu… Jelita tertawa lepas, sampai bahunya ikut berguncang.

Rian menutup dadanya dramatis. “Astaghfirullah… ditikam anak sendiri.”

“Makanya introspeksi,” sahut Jelita masih tertawa.

Ia kemudian melangkah menuju dapur, niat awalnya hendak membuatkan susu untuk Naira. Namun langkahnya terhenti tepat saat melewati Rian. Jelita menoleh sekilas, menatap wajah suaminya dari samping, lalu berkomentar santai tapi mematikan.

“Makanya,” katanya ringan, “itu bulu-bulu dicukur.”

Rian refleks menutup pipinya. “Yah… lengkap sudah penderitaan seorang ayah.”

...****************...

Vote senin udah belum??? Btw author nggak bosen bosennya buat ngingatin untuk like, komentarnya ya. Votenya dengan bintang 5 juga jangan ketinggalan ya best ❤️❤️

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!