NovelToon NovelToon
Aku Istrimu Bukan Dia

Aku Istrimu Bukan Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Dijodohkan Orang Tua / Romansa
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Arunika hanyalah seorang mahasiswi biasa yang dunianya seketika runtuh saat kedua orang tuanya menjodohkannya dengan seorang dosen di kampusnya. Abimana Permana—pria dengan tatapan sedingin es dan sikap datar yang selama ini begitu ia segani.
​Sebuah perjodohan paksa mengharuskan Arunika terikat dalam belenggu pernikahan dengan pria itu. Alih-alih menemukan kebahagiaan, ia justru terjebak dalam teka-teki hati sang suami yang sulit ditembus. Akankah kehidupan Arunika membaik setelah menyandang status sebagai istri, ataukah pernikahan ini justru menjadi luka baru yang tak berkesudahan?
​Ikuti kisah perjuangan hati dan martabat dalam... "Aku Istrimu, Bukan Dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Arunika terdiam cukup lama, menatap lekat manik mata Abimana yang tampak sayu namun penuh kesungguhan. Ada perang batin yang berkecamuk di dadanya; antara ingin mempertahankan egonya yang terluka atau memberikan sedikit celah bagi pria yang baru saja mempertaruhkan seluruh martabat dosennya demi dirinya.

​Perlahan, Arunika merogoh tasnya. Ia mengeluarkan sebuah botol air mineral dan selembar obat penurun panas yang sempat ia beli tadi pagi di apotek dekat kos Risa.

​"Minum ini, Mas." ucap Arunika pelan, suaranya tak lagi sedingin es, meski belum sepenuhnya hangat. "Jangan sampai pingsan setelah bertingkah sok pahlawan tadi. Wajahmu masih pucat sekali."

​Abimana tertegun sejenak sebelum sebuah senyum tipis—senyum yang benar-benar lega—terukir di bibirnya. Ia menerima air dan obat itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Perhatian kecil dari Arunika ini terasa jauh lebih berharga daripada permintaan maaf apa pun di dunia.

​"Terima kasih, Nika." bisik Abimana setelah meminum obatnya.

​"Jangan berpikir ini cukup, Mas." potong Arunika cepat saat melihat binar harapan di mata suaminya. "Apa yang kamu lakukan tadi adalah kewajibanmu sebagai suami untuk menjaga harga diri istri. Itu bukan bonus, itu seharusnya sudah kamu lakukan sejak awal."

​Arunika membetulkan letak tasnya, lalu menatap pintu kelas yang mulai didatangi satu-dua mahasiswa.

​"Tapi..." Arunika menjeda kalimatnya, membuat jantung Abimana seolah berhenti berdetak sesaat. "Aku menghargai usahamu pagi ini. Pulanglah setelah kelasmu selesai. Aku tidak ingin orang tuamu meneleponku lagi karena menantunya membiarkan anaknya sakit parah."

​Tanpa menunggu balasan, Arunika berbalik dan melangkah masuk ke dalam kelas. Namun, sebelum benar-benar menghilang di balik pintu, ia menoleh sedikit ke arah Abimana yang masih berdiri terpaku di koridor.

​"Hati-hati di jalan, Mas."

​Hanya empat kata, namun bagi Abimana, itu adalah kemenangan besar. Ia berdiri di sana, mengamati punggung istrinya dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Sebutan 'Pak Dosen' yang menyakitkan itu kini telah kembali menjadi 'Mas'.

​Namun, di ujung koridor, bayangan Claudia yang berdiri dengan mata sembab dan tatapan penuh kebencian masih mengintai. Ia menyaksikan momen lembut itu dengan kepalan tangan yang semakin kuat.

​"Belum selesai, Arunika. Ini baru saja dimulai." desis Claudia sebelum menghilang di belokan gedung fakultas.

​Sementara di tempat lain tiba-tiba Arunika tersentak pelan, hampir saja menjatuhkan buku yang ia dekap di dada saat Risa tiba-tiba muncul dan merangkul bahunya dengan cengiran jahil yang sangat lebar.

​"Bagaimana? Apakah sudah baikan pengantin baru seumur jagung ini?" goda Risa dengan nada yang sengaja dikeraskan, membuat beberapa mahasiswa di dekat mereka menoleh penasaran.

​Wajah Arunika seketika memanas. Ia segera menarik Risa masuk ke dalam kelas, mencari kursi paling pojok yang cukup jauh dari telinga-telinga nakal mahasiswa lainnya.

​"Risa! Pelankan suaramu." bisik Arunika sambil menaruh tasnya dengan gerakan gusar.

​"Eh, kenapa? Tadi satu fakultas juga lihat kok bagaimana 'Pak Dosen' yang biasanya sedingin kulkas itu pasang badan buat istrinya. Wah, Nika, aku sampai merinding! Gentle banget." cerocos Risa tanpa henti, matanya berbinar seolah baru saja menonton adegan klimaks film romantis. "Jadi, sudah dimaafkan, nih? Tadi aku lihat kamu kasih obat juga, kan?"

​Arunika menghela napas panjang. Ia mencoba menata kembali debaran jantungnya yang belum sepenuhnya normal sejak di koridor tadi.

​"Aku cuma melakukan kewajibanku, Ris. Dia sakit, dan kalau terjadi apa-apa, aku juga yang repot." jawab Arunika, mencoba terdengar logis meski tangannya sibuk membetulkan letak kacamata—gestur yang selalu ia lakukan saat sedang gugup atau berbohong.

​Risa menyipitkan mata, menopang dagu sambil memperhatikan sahabatnya itu. "Halah, alasan klasik. Tapi jujur deh, Nika, kamu lihat tidak mata Pak Abi tadi? Dia menatapmu seolah kamu itu satu-satunya oksigen yang tersisa di ruangan ini. Aku rasa dia benar-benar menyesal."

​Arunika terdiam. Kalimat Risa barusan menghantam sisi hatinya yang sedang ia coba keraskan kembali. Ia teringat tatapan Abimana—tatapan yang memang terasa berbeda, tidak ada lagi keangkuhan, yang ada hanya permohonan.

​"Entahlah, Ris. Luka kemarin bukan soal benci, tapi soal rasa percaya yang hancur. Membangunnya lagi tidak segampang membalikkan telapak tangan." gumam Arunika lirih, jemarinya memainkan ujung bukunya.

​"Iya, aku tahu." Risa menepuk tangan Arunika lembut, nada bicaranya berubah serius. "Tapi hati-hati, Nika. Si Claudia itu... tadi aku lihat dia di tangga. Tatapannya bukan lagi tatapan orang patah hati, tapi tatapan orang dendam. Kamu harus tetap waspada."

​Arunika hanya mengangguk pelan. Ucapan Risa sejalan dengan firasat buruknya. Di satu sisi, ia mulai melihat secercah harapan pada Abimana, namun di sisi lain, awan hitam bernama Claudia sepertinya belum akan beranjak dari kehidupan mereka.

​Sore harinya, saat jam perkuliaikan berakhir, hujan kembali turun dengan derasnya. Arunika berdiri di depan lobi gedung fakultas, menatap rintik air yang menghujam bumi. Ia merogoh ponselnya, berniat memesan taksi online, namun sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal membuatnya membeku.

​[Unknown Number]:

"Kamu pikir kamu sudah menang karena dia membelamu di depan umum? Jangan senang dulu, Arunika. Aku punya sesuatu yang akan membuatmu sadar bahwa kamu hanya pengganti sementara. Temui aku di kafe seberang kampus sekarang, atau aku akan menyebarkan ini di mading fakultas besok pagi."

​Di bawah pesan itu, terlampir sebuah foto yang terlihat buram namun cukup jelas memperlihatkan Abimana dan Claudia sedang berpelukan erat di sebuah ruangan yang tampak seperti apartemen.

​Darah Arunika terasa berdesir dingin. Ia tahu itu mungkin foto lama, atau mungkin rekayasa, tapi ancaman untuk menyebarkannya di mading adalah hal yang tidak bisa ia biarkan.

​Arunika dengan jemari gemetar membalas pesan tersebut, "Baik, aku akan ke sana sekarang. Tunggu aku."

​Tanpa mempedulikan hujan yang kian menderu, ia menerjang rintik air yang menusuk kulit, berlari kecil menyeberangi jalan menuju kafe yang dimaksud. Pikirannya kalut. Meskipun hatinya berusaha menyangkal keaslian foto itu, ketakutan akan hancurnya harga diri yang baru saja coba ditegakkan oleh Abimana jauh lebih besar.

​Begitu memasuki kafe, denting lonceng pintu menyambutnya. Suasana remang dan aroma kopi yang kuat tidak mampu menenangkan debaran jantungnya. Di pojok ruangan, seorang wanita duduk dengan kacamata hitam, menyeringai sinis saat melihat Arunika datang dengan pakaian yang setengah basah.

​"Cepat juga kamu sampai." ucap Claudia tanpa melepas kacamata hitamnya. Ia mendorong sebuah amplop cokelat ke tengah meja. "Duduklah, Istri Pengganti. Kita perlu bicara soal masa depan suamimu yang sedang kamu hancurkan itu."

​Arunika duduk dengan punggung tegak, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Apa maumu, Claudia? Foto itu... aku tahu itu hanya cara rendahanmu untuk mengancamku."

​"Rendahan?" Claudia tertawa hambar. "Lihat dulu isinya sebelum kamu bicara soal moral. Abimana tidak akan pernah bisa lepas dariku, karena aku memegang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada surat nikah formalitasmu itu."

​Arunika meraih amplop tersebut, namun sebelum ia membukanya, ponselnya di dalam tas bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari "Mas Abi".

1
🇮🇩 NaYaNiKa 🇵🇸
Ini dia kisah yang paling greget. Semoga gak jadi bego kek kisah Sheila & Vano ya.
Semangaaaaaat.... 💪💪💪
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Utk apa...? Utk dihancurkan LG...? 🤧🤧🤧
🇮🇩 F A i 🇵🇸
Maaaasss...???? Oh No Maaaasss... Please Just Go straight To Hell, Maaaaasss....!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Si anak setan bnr2.... 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Kurang apa di Arun coba. LG sakit hati banget pun masih ngurusi Pak Dosen yg Gobloknya ngalahin boneka angin. Hadeeeuuuuh...
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Baru sadar...? TalaaaaT...!!! 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Diiiiiiiih... Dasar anak setan. ,😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Heleh2... Dramamu Bim2. 😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Biarin ajaaaaa... Menyesal jg gak guna.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Berharap pada manusia itu menyakitkan.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan hina kalo dah putus asa bnr2 gak ngotak. 🤧🤧🤧
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bener..!!! Jgn mau diinjak2!!!
🇮🇩 F E E 🇵🇸
CaKeeeeeP... 💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
GaK SaLaH TuH...? Lo KaLi, Arun mah Gak. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Cantik kaaaaaan... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Ciiiiiih... Kesian beneeeeer. Ngarep laki2 pengecut.
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Tuuuuuh... Dgr Tuh Bim2.. Anak orang tuh. Bukan anak setan mo dimasukin ke neraka. Eeeeeaaaaa... 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Bukan Permata lagi Pak. Tapi Berlian Hitam yg menyilaukan. 😏😏😏
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Hancurkan dia berkeping2... Gaaaaasssss kan Arun.💪💪💪
🇮🇩 F E E 🇵🇸
Perempuan kalo bathinnya SDH tersakiti, bisa LBH tajam dari SiLeT. 😏😏😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!