NovelToon NovelToon
Mahar 5000

Mahar 5000

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pernikahan Kilat / Nikahmuda / Romantis / Pengantin Pengganti / Duda
Popularitas:132.8k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

"Maharnya cuma lima ribu? Ya ampun, buat beli gorengan aja kurang!"

Karena penghianatan dari Rava, calon suaminya, Citra memaksa Rama, ayah Rava untuk menikahinya. Tak perduli dengan mahar 5000, asalkan dia bisa membalas perbuatan Rava.

"Aku sudah naik pangkat jadi ibumu! jangan macam-macam denganku!"

baca, tekan suka, tinggalin komentar ya.😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 32

Malam itu, keheningan terasa menekan antara Rama dan Citra. Suara serangga malam dan gemericik air kolam menjadi satu-satunya pengisi ruang hening itu. Citra menatap air yang beriak pelan, pikirannya melayang jauh.

“Dia… mau tinggal di sini?” suaranya akhirnya pecah, lirih tapi penuh perasaan.

Rama mengangguk pelan. “Iya, cuma sementara, Cit. Dia pengen tinggal di sini sementara, di sini ada banyak orang, ada mbak narti, ada simbok, ada pak Saman. Jika tengah malam butuh apapun, bakal lebih mudah daripada tinggal di rumah sendiri yang hanya ada Cantika, lagi hamil lagi. Hanya sampai dia pulih, Cit.”

Citra menarik napas panjang, berusaha tetap tenang. “Pak Rama tahu kan, kalau dia dulu mantan pacarku? Kalau kami pernah menjalin hubungan. Tapi tinggal serumah… itu aku merasa...” Tatapannya tak beranjak dari air kolam yang memantulkan cahaya bulan. “Pak Rama yakin ini keputusan yang tepat? Buat kami tinggal serumah...”

Rama menatap wajah istrinya yang tampak tenang, tapi dari sorot matanya, ia tahu ada luka lama yang kembali menganga.

“Justru karena itu aku bicara sama kamu dulu,” katanya lembut. “Aku nggak mau ambil keputusan sepihak. Apalagi kalian pernah punya masa lalu, dan mereka menghianati kamu. Rumah ini juga rumahmu, Cit. Siapa pun yang tinggal di sini, harus dengan izinmu.”

Citra menoleh pelan, sedikit terkejut. “Kenapa Pak Rama harus izin segala? Kan ini rumah Pak Rama.”

Rama tersenyum tipis, tapi ada ketulusan di baliknya. “Karena kamu istriku. Dan karena aku tahu, kedamaian di rumah ini tergantung dari hati kamu. Kalau kamu nggak mau, aku nggak akan maksa. Aku akan pikirkan lagi, gimana baiknya.”

Kata-kata itu pelan tapi menembus ke hati Citra. Ia menunduk, menggigit bibir bawahnya, menahan gelombang emosi yang tiba-tiba muncul.

“Pak, aku nggak tahu bisa setenang itu ngelihat dia tiap hari… apalagi kalau teringat masa lalu. Tapi—” ia berhenti sebentar, menatap Rama yang masih sabar menunggu, “aku juga nggak bisa menahan peran Pak Rama sebagai papa. Dalam kondisi sakit begini, pak Rama pasti ingin jadi papa yang siaga, siap buat dia. Iya, Citra setuju.”

Rama tersenyum lega, matanya berbinar. Ia menggenggam tangan Citra dan menciumnya dengan lembut. “Terima kasih, Cit. Aku tahu ini nggak mudah buat kamu.”

Citra hanya tersenyum samar, menatap wajah suaminya dengan mata yang mulai lembut. “Tapi jangan harap aku yang urus, ya. Aku cuma ngizinin dia tinggal. Titik.”

Rama tertawa kecil. “Iya, iya. Yang penting kamu udah ngizinin.” Ia menunduk, mencium kening istrinya, rasa syukurnya begitu besar malam itu.

Ciumann itu lalu jatuh ke hidung, dan berakhir di bibir mungil Citra.

"Kenapa malam-malam begini malah mainan air?"

Citra tersenyum, "Sebenarnya pengen renang, tapi... Aaaa~"

Tiba-tiba saja Rama turun ke kolam dan menariknya.

"Aaa~ pak! Nanti basah loh."

Rama tertawa, menarik tangan Citra hingga wanita itu tercebur ke dalam pelukannya. Suara cipratan air pecah di antara tawa mereka. Di tengah dinginnya malam, keduanya justru menemukan kehangatan yang lama tak mereka bagi—hangat yang datang bukan hanya dari air, tapi dari hati yang saling mengerti.

"Aku sayang sama kamu cit. Kalau kamu enggak nyaman, kamu bisa bilang."

Kening keduanya menyatu.

"Apaan sih, Pak. Dingin-dingin begini..."

Belum sempat Citra melanjutkan, Rama sudah mencium. Tangannya memeluk lebih erat.

****

Sementara itu, di rumah lain, Cantika sedang menatap wajah suaminya dengan raut serius.

“Jadi kamu beneran mau tinggal di rumah Papa?” tanyanya sambil menyandarkan tubuh ke bantal besar.

Rava mengangguk. “Iya, sementara aja. Aku nggak mau nyusahin kamu, Tik. Kamu kan lagi hamil. Aku butuh bantuan kalau malam, takutnya kamu malah repot.”

Cantika mendengus pelan. “Tapi bisa aja kita pakai pembantu tambahan, Va. Aku juga bisa atur semuanya dari sini.”

Rava menatapnya dengan sabar. “Rumah Papa kan udah ada semua, Tik. Ada sopir, pembantu, satpam. Kalau ada apa-apa, lebih gampang. Aku cuma butuh waktu buat sembuh. Habis itu, aku balik lagi.”

Cantika diam, memperhatikan wajah suaminya yang masih terlihat pucat. Tapi jauh di lubuk hatinya, ada keraguan yang ia simpan sendiri. Kenapa harus di rumah Papa? pikirnya. Atau jangan-jangan karena Citra?

Ia menatap Rava lagi, mencoba mencari jawaban di matanya. Tapi Rava tampak tulus, bahkan lemah.

“Ya sudah,” kata Cantika akhirnya. “Tapi aku ikut, ya. Aku nggak mau kamu tinggal di sana sendirian.”

Rava tersenyum lega. “Iya, aku juga pengin kamu ikut.”

Pagi berikutnya, Rama datang menjemput ke rumah Rava. Ia membantu anaknya masuk ke mobil, sementara Cantika membawa beberapa koper kecil.

“Papa beneran udah ngomong sama Citra?” tanya Rava dengan raut penasaran.

Rama tersenyum samar. “Udah. Dia setuju, tapi… dengan beberapa syarat.”

Rava menatapnya curiga. “Syarat?”

“Nanti kamu dengar sendiri,” jawab Rama singkat.

Begitu mobil meluncur masuk ke gerbang rumah besar itu, Cantika tertegun. Ia baru pertama kali melihat rumah Rama secara langsung—halamannya luas, taman depan rapi, dan kaca jendela besar berkilau memantulkan cahaya pagi. Dalam hati ia kagum, tapi bibirnya hanya mengulas senyum sopan.

“Rumah Papa besar banget, Va…” bisiknya pelan.

Rama menoleh dengan senyum hangat. “Kalian berdua nanti tinggal di lantai bawah. Di sana ada dua kamar besar dan ruang tamu kecil. Semua udah disiapkan.”

Rava mengangguk, tapi begitu mendengar lanjutannya, wajahnya berubah.

“Lantai atas jadi area pribadi Mama Citra. Papa sama Mama udah sepakat, kalian nggak perlu ke sana. Kalau butuh apa pun, tinggal panggil pembantu.”

Rava terdiam. Ada sedikit kecewa di matanya, tapi ia paham batas yang harus dijaga. “Baik, Pa. Aku ngerti.”

Cantika menepuk tangan suaminya pelan. “Nggak apa-apa, Va. Yang penting kita nyaman di sini.”

Rama tersenyum puas melihat sikap keduanya. “Kalau gitu, Papa ke kantor dulu, ya. Kalian istirahat.”

Begitu mobil Rama meninggalkan halaman, rumah itu terasa hening. Cantika berjalan mengelilingi ruang bawah dengan mata berbinar. “Bagus banget rumahnya, Va… kaya vila,” gumamnya kagum.

Rava hanya tersenyum tipis. “Iya… memang indah.”

Namun di balik senyumnya, hatinya berdebar. Ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan—perasaan ingin tahu apakah Citra masih sama seperti dulu.

Menjelang siang, suara pintu depan terbuka. Citra baru pulang dari kampus dengan tas di tangan. Ia tidak menyangka mendengar suara dari arah ruang bawah.

1
partini
ku kira suaminya lani tegas ehh melohoyyy,dah tau lihat pula istri nya kaya gitu
Rahmawati
selamat ya citra dan Rama, akhirnya Rama akan punya darah daging sendiri
Rahmawati
kayaknya fadli nih yg bunuh daud
Rahmawati
penasaran siapa yg ngomong sama Daud tadi itu,
Rahmawati
lani ketakutan gitu, berarti bener rava buka anak biologis rama
Rahmawati
nah nah, apa rava bukan anak Rama ya
Rahmawati
opo meneh to, nenek peyot😂
Rahmawati
setres bu lani ini, gagal move on padahal udah punya suami
Rahmawati
makanya belajar sopan santun km cantika
Rahmawati
ke PD an km lani😂
Rahmawati
enaknya punya mertua kayak bu lilis
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
anak ku lahir Oktober 2011
meninggal Juni 2012
Dhita💋🄳🄾🅄🄱🄻🄴'🄰👻ᴸᴷ
ya allah cerita ini sama seperti aku yang kehilangan anakku di usia 7 bulan sedih
😭😭
tenny
suaminya lani namanya rubah2 kadang Fahri kadang Fadli entah mana yg bener 😄
tenny: semangat Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
Rahmawati
cantika gk tau diri bgt
Rahmawati
syukurin km rava, siapa suruh tinggal dirumah rama
Ma Em
Innalillahi wainnailaihi rojiun Cinta anak yg blm punya dosa pasti akan masuk sorga , semoga Cantika dan Rava diberikan kesabaran menghadapi cobaan ini manusia hanya berusaha tapi nasib Allah yg menentukan .
Rahmawati
gk boleh dong, nanti rava gangguin citra lagi
Rahmawati
beruntung bgt pak Rama dapet gadis ting ting
Rahmawati
dih si pak Bram cuma numpang beol😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!