NovelToon NovelToon
Jadi Budak Karena Hutang

Jadi Budak Karena Hutang

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Paksa / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang
Popularitas:23.4k
Nilai: 5
Nama Author: Arish_girl

Fitri terpaksa bersedia ikut tuan Tama sebagai jaminan hutang kedua orang tuanya yang tak mampu mwmbayar 100 juta. Dia rela meski bandit tua itu membawanya ke kota asalkan kedua orang tuanya terbebas dari jeratan hutang, dan bahkan pak Hasan di berikan uang lebih dari nominal hutang yang di pinjam, jika mereka bersedia menyerahkan Fitri kepada sang tuan tanah, si bandit tua yang beristri tiga. apakah Fitri di bawa ke kota untuk di jadikan istri yang ke 4 atau justru ada motif lain yang di inginkan oleh tuan Tama? yuk kepoin...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arish_girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

calon istri ke-4 juragan Wira

              Sehari telah berlalu, pagi telah tiba. Suasana pagi yang begitu cerah dengan pancaran sinar matahari di ufuk timur, nampak indah dan memesona. Namun, semua pemandangan itu tak seindah hati yang saat ini Fitri rasakan. Hati gadis itu tampak letih dan murung. Gairah dan semangatnya seakan terenggut paksa dari hidupnya.

                Ditengah lamunan itu, tiba-tiba pintu kamar terbuka, menampakkan beberapa orang wanita masuk dengan membawa tas ransel yang cukup besar.

               "halo nona cantik... bagaimana kabarnya hari ini?" sapa seorang wanita yang sepertinya pimpinan dari mereka. Mereka adalah rombongan MUA yang di tugaskan oleh juragan Wira untuk merias wajah Fitri sebelum ia di bawa ke kampung halamannya untuk melakukan ijab qabul di sana.

                  " Siapa kalian tanya Fitri mengerutkan kening saat beberapa rombongan wanita datang mendekatinya.

                   "Kami adalah orang-orang yang ditugaskan oleh juragan Wira untuk merias nona." sahut salah satu dari mereka.

                 Fitri menatap mereka dalam diam, ia sudah mengerti bahwa apa yang dikatakan oleh juragan Wira tidak main-main, hari ini dia akan di bawah ke kampung halamannya untuk melakukan pernikahan di sana.

                 Sementara di ruangan lain juragan Wira mengumpulkan para istrinya di ruang tengah. Ia akan berbicara serius mengenai agenda hari ini yang akan ia lakukan bersama Fitri.

                "Dimana Arumi?" tanya juragan Wira kepada kedua istrinya, Hera dan Tasya.

                            "seperti biasa lah honey, mbak Arumi sepagi ini pasti dia disibukan dengan cucumu yang tak berguna itu. Hani kan tahu, Biasanya beberapa hari terakhir ini, si Fitri yang selalu sibuk merawat Devan. Semenjak Fitri sakit, jadi Mbak Arumi lah yang mengurus si lumpuh itu." kata Tasya.

              "ada apa Mas Wira membawa kami ke sini ?" tanya Hera penasaran.

             "Baiklah, aku tidak akan berbasa basi lagi, ada sesuatu hal yang penting yang ingin ku sampaikan pada kalian berdua." Hera dan Tasya mendengarkan dengan seksama, Ada hal penting apa Sang suami sampai memintanya untuk berkumpul dengan begitu serius.

            "ini mengenai Rencanaku untuk membawa istri keempat ke rumah ini. Aku akan menikah lagi." kata juragan Wira dengan mantap, tak ada keraguan lagi dalam pikiran hatinya untuk menambah satu istri lagi.

             "tapi, mas. Bukankah kamu sudah berjanji akan memberiku waktu sebulan lagi untuk memberimu keturunan?" protes Hera. Bagaimana bisa sang suami mengabaikan ucapannya sendiri yang akan memberikan waktu sebulan untuk para istrinya agar mereka bisa mengandung keturunannya, sedangkan waktu yang sebulan itu masih tinggal 3 minggu tersisa, sungguh karena itu Hera merasa tidak adil.

              "Ya, aku masih ingat dengan kata-kataku itu, tapi ini benar-benar mendesak, aku tidak punya waktu banyak untuk menunda ini, atau apa yang aku inginkan tidak akan pernah terjadi." kata juragan Wira, perkataannya membuat teka-teki dalam pikiran kedua istrinya itu.

              "Apa maksudmu, Hany?" tanya Tasya tak mengerti.

              "ini semua gara-gara kamu, Tasya."

               "gara-gara aku? memangnya apa salahku? Aku tidak merasa membuat kesalahan." protes Tasya.

                "tentu saja ini gara-gara kamu. Kalian tahu siapa calon istri keempatku?" Hera dan Tasya Saling berpandangan, kedua wanita itu memang tidak pernah tahu siapa calon adik madunya yang terakhir.

                   "siapa?" tanya Hera dan Tasya hampir bersamaan.

                  "Fitri!" sahut juragan Wira dengan mantap.

                 "apa? Fitri?" Hera dan Tasya kembali saling berpandangan, merasa ragu dengan apa yang saat ini mereka dengarkan.

              "cckk, apa tidak salah, Hani? kamu mau menikahi Fitri?" Tasya berdecak kesal ia memutar bola matanya malas.

               "Kenapa tidak? sengaja aku memilih Gadis itu untuk menjadi istri keempatku, karena aku pikir gadis seperti Fitri itu adalah gadis yang masih suci dan polos dan satu hal lagi yang paling penting, rahimnya masih bersih tak tersentuh. Kupikir dia akan bisa dengan mudah melahirkan keturunan untukku." kata juragan Wira, di setiap kata yang terucap seakan menjadi harapan terbesarnya untuk segera memiliki keturunan.

              "Mas Wira, kamu sadar nggak sih? Fitri itu masih bau kencur dan dia masih sangat labil, apa Mas tega mau menikahi gadis sekecil itu. Ingat Mas, Mas Wira itu sudah tua, Mas Wira sudah tidak pantas lagi menikahi gadis sekecil Fitri." Hera memprotes sembari berdiri. Penolakan itu Hera lakukan bukan karena dia cemburu sang suami akan kembali menikah lagi, akan tetapi Hera tahu usia Fitri masih sangatlah muda, sebagai seorang wanita, tentu Hera bisa merasakan bagaimana sakitnya Fitri jika harus menerima pernikahan dengan suaminya yang usianya terlampau jauh dengan Fitri, bahkan Hera merasa Fitri itu seperti anaknya sendiri yang seusia Angel yang menjadi anak angkatnya.

                   "aku tidak butuh persetujuanmu, Hera. bahkan tanpa persetujuanmu, Tasya maupun Arumi, aku akan tetap menikahi Fitri. Tidak ada larangan dalam agama kita menikahi seorang perempuan dengan syarat usia berbeda jauh. yang penting aku bisa berlaku adil kepada kalian semua. Hartaku banyak, tidak akan habis hanya untuk menghidupi empat orang istri sekaligus kata juragan Wira dengan angkuhnya. Dia berdiri dengan merentangkan kedua tangan mengekspresikan seberapa banyak harta yang ia miliki di depan kedua istrinya.

                 "tapi, mas. Masalahnya itu, Fitri masih kecil, Tasya ikut berkomentar.

                  "Lalu? kenapa kalau dia masih kecil? apa ada masalah?" tanya juragan Wira dengan tatapan sengit.

                Hera dan Tasya terdiam, mereka kehabisan kata-kata untuk menentang keinginan suaminya.

                 "dan Teruntuk kamu, Tasya. Aku peringatkan jangan sekali-kali mengganggu Fitri lagi, nasehati adikmu itu yang tidak tahu diri dan tidak tahu berterima kasih. Aku sudah bersedia menampung Adikmu di rumah ini secara gratis, jadi jangan coba-coba membuat ulah dan mencari masalah denganku atau aku akan mengusirnya dari rumah ini." kata juragan Wira dengan kata-kata penuh ketegasan memberi peringatan agar Tio Tidak sembarangan mendekati Fitri.

                Tasya hanya terdiam, kalau sudah menyangkut keputusan sang suami, tentu ia tidak akan bisa lagi berbicara, yang harus ia lakukan hanyalah bersiap diri untuk diabaikan sang suami karena adanya istri barunya.

"pagi ini juga aku akan membawa Fitri pulang ke kampungnya, aku akan menikahinya di kampung halamannya. Jangan coba coba untuk menghalangi apa yang sudah menjadi keputusanku. Atau kalian akan tau akibatnya." Juragan Wira berkata dengan tegas, memperingati kedua istrinya agar tidak berulah, atau dia bisa bertindak kasar dan memberi pelajaran pada siapapun yang berani merusak rencananya.

Di kamarnya, Fitri sudah di rias dengan mak up sederhana, menampilkan kesan natural yang alami di bawah balutan hijab yang ia kenakan, namun meski demikian, kecantikan Fitri benar-benar memukau membuat siapapun memandangnya akan terpesona. Alis yang lentik dan hidung yang mancung, serta bulatan mata yang lebar dengan manik mata berwarna agak kebiruan membuat kecantikan itu terlihat sempurna.

"nona, riasanmu sudah selesai, kau sangat cantik sekali. Juragan Wira pasti akan takjub saat melihatmu." kata pimpinan perias itu memandangi hasil riasan nya di wajah Fitri yang terlihat cantik dan anggun.

Namun, Meski pujian terlontar di bibir para MUA itu, hati Fitri tak sedikitpun tergerak untuk merasa berbunga-bunga, akan tetapi, ia justru merasa jijik pada dirinya sendiri, karena dengan kecantikan yang ia miliki justru telah berhasil memikat hati juragan tua itu. Padahal, di kampung halamannya, sejak Fitri berusia enam belas tahun, semenjak ia baru saja masuk ke pesantren, sudah banyak para pemuda yang terpikat padanya, dan tak sedikit pula yang datang untuk meminang, maklum, kalau di kampung halaman, usia gadis 15 tahun ke atas sudah banyak dipinang, dan bahkan sudah tak sedikit dari teman teman Fitri yang sudah menikah, kecuali Fitri yang menolak menikah, dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk nyantri di sebuah pondok pesantren di pedalaman yang tak jauh dari rumahnya. Itu di lakukan oleh kedua orang tua Fitri, untuk menghindari Fitri agar tidak banyak di ketahui oleh para pemuda dan menghindari lamaran yang datang untuk Fitri.

"jangan murung, dong nyonya, tersenyumlah. anda jangan takut, percayalah, setelah ini seluruh harta dan seluruh isi istana ini akan menjadi milikmu. Seharusnya kau bahagia mendapatkan pinangan dari juragan Wira." kata pimpinan mua itu.

"iya, betul, nona. Jika anda takut, itu sudah biasa dan lumrah. Kamu masih gadis dan belum tau rasanya di sentuh. Tapi, percayalah, jika kamu sudah merasakan sentuhan seorang pria, maka kamu akan ketagihan." sahut yang lain, membuat Fitri merasa muak dan ingin muntah saat mendengarkan ocehan mereka.

"uwek... uwek....!!" Tiba-tiba saja perut Fitri beneran merasa mual saat mendengar celotehan para pekerja mua itu. Kepalanya pun tiba-tiba menjadi pening.

"wah, nona sakit?" pimpinan mua itu tanpak panik.

"jangan jangan pengantinnya hamil, ya?" duga yang lain.

1
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
bukan hamil tapi mual ngebayangin malam pertama ketemu yang kisut😂
mince
terlalu pusing terus muntah
Galih Galvin
bagus Thor ceritanya tp masa iya harus nikah sama pak tua gak seru Thor
Akhmad Soimun: malah jadinya seru Kak,bikin penasaran bgt.. ini tuh si Fitri dibuat nggak bisa menjelaskan ke siapapun..jdi kita yg baca makin penasaran kira² kejadian apa yg bikin Fitri nggak jd istri Kakek Wira😃❤️❤️
Arish_girl: di simak aja kaka, pasti nanti akan seru
total 2 replies
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
kenapa gak jujur aja Fitri biar tuh aki2 ga jadi nikahin kamu
mince
semoga fitri gak jadi menikah sama juragan wira
Arish_girl: iya kaka
total 1 replies
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
astaga tuh kakek tua kapan ngacanya ya. cari istri ko ABG🙄
Yani Aulia
lanjut...mkin seru
Galih Galvin
dari pada Fitri nikah sama pak tua mending Fitri nikah sama cucunya yang lumpuh itu Thor
Akhmad Soimun
Fitri itu bwt cucu Anda Kakek, Anda gak pantas di bilang baik karna matanya terlalu jelalatan
mince: fitri jangan sampai menikah dg juragan tama mendingan sama devan aja yg seumuran biarpun lumpuh kan masih bisa srmbuh
total 1 replies
⸙ᵍᵏTitian 𝐙⃝🦜pirman🦈
bagus ceritanya
Yani Aulia
ayooo lnjutt,seru. semangat
Ibrahim Efendi
sejauh ini, saya suka ceritanya. gak bertele-tele dan gak mendramatisir yang gak perlu. alur cerita mengalir normal. pemilihan kata/bahasa juga cukup baik.
mince
lanjut kak ceritanya bagus
Arish_girl
bagaimana karya ini menurut pendapat anda? silakan tinggalkan jejak di kolom komentar dan bagikan ulasan anda agar author tambah semangat dalam berkarya. Jangan lupa rekomendasikan karya ini pada orang lain
mince: karyanya bagus kak
total 1 replies
Yani Aulia
semangat kk
Yani Aulia
ya
Yani Aulia
lanjutkan
Yani Aulia
ayoo
Yani Aulia
kasihan
Yani Aulia
next
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!