NovelToon NovelToon
Titisan Darah Biru

Titisan Darah Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Dendam Kesumat / Ilmu Kanuragan
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.


Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.


Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.


Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertarungan di Tepi Kali Bugul ( bagian 1 )

Bunyi ranting-ranting kering yang patah terinjak oleh sesuatu, terdengar semakin mendekat dari arah utara. Cahaya bulan separuh temaram di langit malam nan gelap, tak mampu membuat pandangan mata jelas melihat apa yang sebenarnya sedang mendekat.

Tumenggung Dandang Pengaron diam-diam mencabut keris di pinggangnya sedangkan Rara Larasati beringsut di belakang Mahesa Sura penuh ketakutan.

Mantri Mpu Teja meskipun sedang sakit karena luka dalam nya, meraih potongan kayu di sampingnya untuk senjata pertahanan. Cuma Si Tunggak yang diam diam memuntir kaki depan menjangan panggang itu lalu mulai mengunyah.

'Tegang sih tegang tapi perut aku yang keroncongan tak bisa menunggu lagi', batin Tunggak sambil terus mengunyah daging menjangan panggang.

Dari arah kegelapan malam utara, sepasang mata menyala dalam gelap. Begitu dia menunjukkan sosok nya, semua orang langsung bergidik ngeri. Seekor harimau besar dengan gigi taring panjang dan mulut mengeluarkan air liur. Sepertinya hewan buas ini sedang lapar.

Melihat harimau besar ini, dengkul kaki Rara Larasati langsung lemas saking takutnya. Sementara Tunggak malah meraih tongkat penusuk menjangan panggang dan cepat mencari pijakan untuk memanjat pohon angsana.

Haaaauuuuuuuuummmmm!!!

Auman harimau besar itu terdengar sebelum melompat ke arah Mantri Mpu Teja. Mahesa Sura tak membiarkan hal itu terjadi dan langsung menyambar sepotong kayu api unggun yang ujungnya masih mengeluarkan api. Dengan cepat ia memapak pergerakan kucing besar itu dan menusukkan kayu berapi itu ke perutnya.

Harimau besar itu langsung mengaum karena kesakitan tetapi dia masih belum mau menyerah. Kali ini ia memutar tubuhnya dan mengincar ke arah Rara Larasati. Dia segera melompat untuk menerkam putri Lodaya itu.

Tetapi Mahesa Sura kembali mendahului gerakan nya dan menusukkan kayu berapi di tangannya ke perut sang raja hutan.

Chreeeeeessss.. Haaauuummmm!!!

Bau sangit seperti bulu terbakar tercium dari tubuh harimau besar ini. Rupanya serangan Mahesa Sura yang kedua ini membuat hewan buas ini sadar bahwa ia bukan lawan yang seimbang dengan orang-orang ini. Dia segera berbalik arah dan masuk di kegelapan malam yang gelap gulita.

Semua orang menghela nafas lega. Mahesa Sura menatap sekitar nya dan melihat Tunggak menghilang.

"Nggak Tunggak, dimana kau? ", panggil Mahesa Sura segera.

" D-d-disini Sura disini... "

Suara Tunggak terdengar dari atas pohon angsana. Semua orang langsung kaget karenanya.

"Apa yang kau lakukan disitu? Cepat turun! ", teriak Mahesa Sura keras. Mendengar perintah dari Mahesa Sura, terdengar suara berisik dari rimbun dedaunan pohon angsana. Tetapi sekejap kemudian..

Krroosssaaakkkkk... bruuaaaakkkk!!!

"Aduh biyung....!!! ", rintihan Tunggak terdengar setelah ranting pohon angsana patah dan ia terjatuh dari atas dahan pohon. Meskipun begitu, daging menjangan panggang masih tetap dia pegang dengan kedua tangan hingga tidak sampai kotor terkena tanah.

Bukannya prihatin dengan apa yang menimpa Tunggak, semua orang langsung tertawa terpingkal-pingkal. Mahesa Sura langsung mengambil daging menjangan panggang dan dengan meringis kesakitan, Tunggak bangkit sambil menggerutu.

"Bukannya di tolong orang nya eh malah makanan nya yang di dahulukan. Dasar tidak setia kawan"

"Salah mu sendiri kenapa harus panjat pohon begitu? Apa kau pikir aku tak bisa mengusir harimau itu? ", ujar Mahesa Sura enteng.

" Aku kan cuma jaga-jaga menyelamatkan makanan", Tunggak keukeuh tak mau disalahkan.

"Menyelamatkan? Kalau memang menyelamatkan, kemana dua kaki depan menjangan panggang ini?", mendengar pertanyaan Mahesa Sura ini, Tunggak langsung menggaruk kepalanya sambil tersenyum kecut.

" Sudah masuk kesini.. hehehehe... "

Huuuuuuuu....

"Dasar gentong nasi, bilang saja kau makan duluan. Jatah mu sudah habis, ini kami bagi berempat", Mahesa Sura dengan cepat memotong sisa daging menjangan panggang itu menjadi 4 bagian dan diserahkan kepada Rara Larasati, Tumenggung Dandang Pengaron dan Mantri Mpu Teja.

"Tapi tapi aku... "

"Tidak ada tapi-tapian. Ini karena kau makan duluan tidak ingat kawan-kawan mu", Tunggak langsung lemas mendengar jawaban Mahesa Sura ini. Perutnya masih berbunyi menandakan bahwa ia belum kenyang.

Tak tega melihat wajah memelas Tunggak, Rara Larasati memotong separuh bagian nya dan memberikan nya pada Tunggak.

"Makanlah. Aku sudah cukup makan yang ini", ucap Rara Larasati sambil tersenyum.

" Wah matur nuwun Gusti Putri. Tahu saja kalau saya masih lapar ", jawab Tunggak sambil langsung mengganyang daging menjangan panggang di tangannya. Mahesa Sura hanya melirik saja tanpa bicara apa-apa.

Waktu berjalan cepat. Malam merangkak naik ke puncak nya, menciptakan hawa dingin yang menusuk tulang. Cahaya bulan separuh yang lembut perlahan-lahan bergeser ke arah barat, seolah sedang mengawasi seisi dunia yang tengah terlelap dalam peraduan dengan mimpi indah.

Suara cericit burung-burung kutilang bersahut-sahutan di ranting pohon angsana mengiringi kokok ayam jantan sayup-sayup di kejauhan seolah-olah bersaing untuk memperebutkan suara terindah , menandai pagi hari telah tiba.

Mahesa Sura menggeliat sambil menguap lebar. Hampir semalam suntuk ia berjaga, membuatnya matanya terlelap beberapa saat. Dia buru-buru bangkit menuju ke sebuah sungai kecil tak jauh dari tempat mereka beristirahat. Dinginnya air sungai kecil ini seketika menghilangkan rasa kantuk yang masih ia rasakan karena kurang tidur.

Pagi itu, setelah semua selesai membereskan barang bawaannya, rombongan kecil ini meninggalkan pinggiran hutan angsana menuju ke arah timur. Sesuai dengan pengetahuan Tumenggung Dandang Pengaron, saat matahari sepenggal naik ke langit, mereka sampai di perkampungan kecil yang bernama Sruti.

Di kampung ini ada dermaga penyeberangan yang bisa mereka gunakan untuk ke menyeberangi Sungai Kapulungan menuju wilayah Kerajaan Lodaya.

Dengan bantuan kapal penyeberangan, mereka akhirnya bisa masuk ke dalam wilayah Kerajaan Lodaya. Begitu turun dari kapal penyeberangan, Tumenggung Dandang Pengaron segera mendekati Mahesa Sura.

"Pendekar, waspadalah.. Kita harus siap siaga selama perjalanan", bisik lirih Tumenggung Dandang Pengaron segera.

" Apa maksud mu? Bukankah ini wilayah kekuasaan kerajaan Lodaya? Kenapa harus takut di wilayah sendiri? ", tanya Mahesa Sura sambil mengernyit heran. Mendengar omongan ini, Tumenggung Dandang Pengaron menghela nafas panjang.

" Sebenarnya alasan Gusti Putri Rara Larasati keluar dari istana adalah untuk menemui kakeknya Suraprabhawa Bhre Kertabhumi karena tengah terjadi pergolakan politik di Lodaya. Tujuannya adalah untuk meminta bantuan Yang Mulia Bhre Kertabhumi dan beliau sudah setuju untuk membantu. Pasukan Bhre Kertabhumi akan datang sekitar satu pekan lagi.

Singhakerta, adik sepupu Bhre Lodaya diam-diam mengatur barisan pemberontak dari wilayah Kalang. Untungnya pihak istana segera mengetahui pengkhianatan ini dan berperang dengan mereka. Tetapi kedua belah pihak sama-sama kuat hingga tak bisa mengalahkan satu sama lain. Pasukan Singhakerta bertahan di Simping, tak bisa melanjutkan penyerbuan ke Lodaya karena pasukan Lodaya membentuk suatu pertahanan di barat hutan jati.

Tetapi kabar terakhir mereka menyusupkan beberapa pendekar dan prajurit terbaiknya untuk mengacak-acak pertahanan Lodaya dari dalam. Maka dari itu, kita harus waspada terhadap orang-orang yang tidak kita kenal disini saat ini. Takutnya mereka adalah orang-orang Singhakerta", terang Tumenggung Dandang Pengaron panjang lebar.

Hemmmmmmmmm...

"Aku tidak ada urusan dengan Singhakerta atau siapalah itu. Jika mereka berani mengganggu urusan ku, akan ku habisi mereka tanpa pandang bulu", jawab Mahesa Sura dingin.

Mendengar jawaban ini, Tumenggung Dandang Pengaron terdiam sejenak. Meskipun ia tahu bahwa Mahesa Sura bukan berasal dari golongan pendekar putih tetapi kadang kala kekejaman terhadap musuh juga diperlukan untuk mengatasi masalah yang berlarut-larut. Dan ia mengakui hal ini.

Rombongan kecil Mahesa Sura bergerak menyusuri pinggiran Sungai Kapulungan menuju ke arah timur. Sebelum memasuki Kotaraja Lodaya, sebuah sungai kecil nampak melintang. Jembatan kayu yang ada di atas nya menjadi satu-satunya jalan penghubung antara Kotaraja Lodaya ke arah barat. Sungai kecil ini bernama Kali Bugul.

Tepat sebelum mereka memasuki jembatan di atas Kali Bugul ini, tiba-tiba sekelebat bayangan melesat dan berdiri memunggungi mereka. Pakaian orang ini sedikit aneh karena pada kedua lengannya ada kain menjuntai sampai ke tanah.

Tumenggung Dandang Pengaron langsung tahu siapa orang ini. Dengan lantang ia bertanya,

"Lowo Ijo, mau apa kau? "

1
Kurniawan Sudrajat
mantap kang ebez
Windy Veriyanti
keberhasilan menumpas pemberontak 👊👊👊
Tarun Tarun
up
pendekar angin barat
selamat hari raya idul Fitri...maaf lahir dan batin
Batsa Pamungkas Surya
menang menang menaaaa@ng
saniscara patriawuha.
gasssssd polllllll maningggg manggg eebbEEzzzzzz....
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Nah gitu baru pejantan namanya Singhakerta klo berani duel satu lawan satu 👍
𝒯ℳ: kalo sultan pejantann apa nih
total 1 replies
Ali Khadafy
penasaran ama tawaran Larasati
Ali Khadafy
sekali-kai bikin cerita yg MC nya kocak to kang ebez biar ga tegang trs
🦋⃟ℛ⭐Wangky Tirtakusumah⭐🦋ᴬ∙ᴴ
Kapayunan ka Kang Ebez sareng para wargi sobat penggemar karya-karya Kang Ebez, abdi ngahaturan wilujeung boboran Iedul Fitri 1446H.
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
🦋⃟ℛ⭐Wangky Tirtakusumah⭐🦋ᴬ∙ᴴ: Sami-sami Kang Ebez. 🙏
Ebez: aamiin ya rabbal alamin Kang Wangky 🙏🙏
Nuhun nya 😁😁
total 2 replies
Windy Veriyanti
tinggal dua racun lagi yang ditumpas...
Ebez: hehehe assiiiaaaappp kak Windy 🙏🙏😁😁
total 1 replies
pendekar angin barat
selamat hari raya idul Fitri Thor dan semua pembaca
Ebez: hehehe terimakasih bang Pendekar 😁😁🙏🙏
total 1 replies
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Yang jelas bukan Dewi Sambi yang ngajarin Ajian Tapak Wisa 😁
Ebez: hehehe itu jelas bang Joe 🙏🙏😁😁
total 1 replies
saniscara patriawuha.
dengannnn tulisan yangg samaaa manggg eeBbezzzzz,,,
Ebez: apa itu kang Saniscara? 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Tarun Tarun
slmt idul Fitri jg kg ebez minal aidin wal fa idzin jg.
SMG upnya jgn di tunda trs
Ebez: hehehe iya bang Tarun 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
rasakan pendeitaamu sisa murid dewi upas
Ebez: hehehe assiiiaaaappp bang Batsa 😁😁🙏🙏
total 1 replies
Windy Veriyanti
Dipati Kalang...kabut...musnah dari peredaran
Ebez: hehehe iya tuh kak Windy 🙏🙏😁😁
total 1 replies
pendekar angin barat
makasi kang
Ebez: sama-sama kang Pendekar 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Ali Khadafy
penasaran ama gunung pegat,,,apa bener gunung pegat tu nama aslinya sejak dulu..ato nama baru karena di belah di jadikan jalan.
Ali Khadafy
waaahhh ini berarti Mahesa kakak seperguruannya si pincang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!