Berawal dari pertemuan tidak sengaja dengan seorang gadis yang disangka adalah seorang wanita malam malah membuat Letnan Rico semakin terjebak masalah karena ternyata gadis tersebut adalah anak gadis seorang Panglima hingga membuat Panglima marah karena pengaduan fiktif sang putri.
Panglima memutasi Letnan Rico ke sebuah pelosok negeri sebagai hukumannya setelah menikahkan sang putri dengan Letnan Rico namun tidak ada yang mengira putri Panglima masih menjalin hubungan dengan kekasihnya yang notebene adalah sahabat Letnan Rico.
Mampukah Letnan Rico mendidik sang istri yang masih sangat labil. Bagaimana nasih sahabat Letnan Rico selanjutnya??? Apakah hatinya sanggup merelakan sang kekasih?? Siapakah dia??
Konflik, Skip jika tidak sanggup..!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Tidak terduga.
Nindy tidak bisa memejamkan mata karena menunggu saat-saat cuti yang begitu langka. Nindy yang tidak pernah tau bagaimana indahnya tanah Jawa terus memikirkan kapan waktu akan berganti dan membawanya melihat dimana lingkungan Bang Danar di besarkan.
"Kenapa belum tidur?? Lapar?? Abang masak nasi goreng ya?" Tanya Bang Danar karena istrinya memang tidak mau makan sejak dua hari ini. Wajahnya sudah pucat tapi bersikeras tidak mau makan.
"Kapan paginya?"
Bang Danar melihat jam dinding masih menunjukan pukul setengah dua pagi waktu bagian tengah.
"Ini sudah pagi tapi masih terlalu pagi. Sabar, nanti jam delapan kita berangkat." Janji Bang Danar.
"Sekarang saja yuk, Bang..!!" Ajak Nindy.
"Kamu mau ngepel bandara dulu?"
Nindy tak bisa menjawab, yang terdengar hanya suara nafas dari dengkuran kecil Bang Danar yang setengah sadar namun ikut terjaga pula kemudian.
-_-_-_-_-
Tak sulit bagi Bang Danar untuk mendapatkan waktu cuti. Setelah memastikan 'jam kosong', ia pun mengambil masa cuti yang memang nyaris tidak pernah di ambilnya kecuali di hari tertentu. Jiwanya yang gila kerja menjadi faktor utamanya.
"Mana pesawatnya."
"Sabar, masih parkir." Kata Bang Danar akhirnya lumayan mengantuk karena terpaksa menemani Nindy yang tidak bisa tidur.
"Isi bensin ya, Bang?" Tanya Nindy.
"Pesawat tidak pakai bensin, tapi avtur." Jawab Bang Danar.
Nindy mengangguk, beberapa detik kemudian pesawat yang akan di tumpanginya tiba di bandara.
...
Tak di sangka Nindy begitu tegang dengan pengalaman pertamanya sedangkan Bang Danar santai apalagi dirinya adalah peterjun tempur yang sudah terbiasa dengan penerbangan seperti ini.
"Nindy nggak kuat, Bang."
Ucap Nindy itu membuat pipi Bang Danar tersipu malu. Istri cantiknya menyentuh lengannya.
"Nanti lah, Neng. Masa mau di pesawat begini." Ujar Bang Danar kemudian melirik Nindy dari balik kacamatanya.
Sungguh Bang Danar terkejut, tiba-tiba Nindy mencengkeram lengannya dengan keringat dingin, wajahnya sungguh pucat.
"Eehh.. kamu kenapa, dek? Telingamu sakit?? Atau mabuk?" Tanya Bang Danar.
Tapi bukan main paniknya Bang Danar melihat Nindy semakin erat mencengkeram tangannya.
Bang Danar pun menyadari ada ketegangan tersendiri dalam diri Nindy pasalnya ini adalah penerbangan pertama sang istri.
Dalam kepanikannya, ada seorang pramugari menawarkan bantuan.
"Ada yang bisa kami bantu?"
Bang Danar menoleh pada sumber suara tersebut dan melihat Celia. Celia dan Bang Danar saling menatap sejenak tapi Bang Danar segera membuang pandangan.
"Tidak ada, terima kasih." Jawab Bang Danar menolaknya.
Celia tersenyum kecut kemudian meninggalkan Bang Danar.
...
Setelah Pesawat mendarat tadi barulah Nindy mulai tenang. Bang Danar mengimbangi langkah Nindy perlahan sembari mendorong koper, tas jinjing dengan berbagai barang.
Tak jauh di belakang mereka ada Celia dan para crew pesawat yang tadi mereka tumpangi.
Di bandara, Papa dan Mama sudah menjemput Bang Danar dan Nindy.
"Mama.. Papa.. apa kabar?"
Celia tersenyum karena sambutan Mama dan Papa tidak berubah, masih ramah seperti yang dulu.
"Alhamdulillah, baik. Celia apa kabar?" Tanya Mama.
"Celi baik juga Ma." Celia sedikit melirik Bang Danar dan Nindy dengan wajah pucat. Bang Danar pun kembali membuang pandangan.
Paham akan situasi tersebut, Papa pun menarik menantunya. "Kenalkan, ini menantu Papa. Sekarang sedang hamil empat bulan."
Celia kembali tersenyum kecut, pandangannya juga mengarah pada perut Nindy yang mulai membesar. Celia mengulurkan tangannya tapi tidak sempat Nindy menyambutnya, istri Letnan Danar itu sudah merosot ambruk. Masih untung Bang Danar sempat menahannya dan segera membawanya ke kursi tunggu terdekat.
Banyak orang melihat tapi karena Mama adalah tenaga medis, suasana pun berangsur tenang, keramaian pun perlahan mulai kondusif.
"Mamaa.. bantu Nindy Maaaa..!!" Ujar Bang Danar panik.
Mama segera menangani menantunya sedangkan Papa menenangkan Bang Danar yang panik bukan main.
Setelah memeriksa kondisi Nindy, Mama melirik putranya tersebut. Bang Danar semakin syok apalagi tatapan Mama mengisyaratkan keadaan yang tidak biasa.
"Nindy dehidrasi, tidak makan. Apa saja kerjamu??" Tegur Mama.
Papa melotot seakan menghakimi Bang Danar. Disana Celia ikut kaget, pria sekaku dan sedingin Bang Danar bisa sepanik itu.
"Biar nanti Nindy yang cerita." Kata Bang Danar tidak ingin berdebat karena pastinya saat ini Papa menganggapnya salah.
"Angkat Nindy ke mobil, sekarang..!! Atau Papa yang angkat..!!" Ancam Papa sambil memelototi Bang Danar.
"Memang masih kuat??" Tanya Bang Danar tanpa sadar.
Papa mengangkat tangan dengan kesal tapi kemudian mengurungkan niatnya karena sedang berada pada public area.
Celia pun pamit dan menjauh dari keluarga tersebut namun saat mantan kekasih Bang Danar itu menoleh, tanpa sadar Bang Danar sedang menatapnya.
Papa yang menangkap pemandangan tersebut segera melangkah menghampiri security bandara sambil menginjak kaki Bang Danar sekuatnya.
"Paak, kami pinjam wheel chair..!!"
:
Di dalam mobil Mama membantu Nindy bernafas dengan oksigen sedangkan Papa sibuk 'menghakimi' putranya.
"Kalau sudah tau ada hal-hal yang akan menjadi petaka, kenapa harus kamu tatap terus? Jangan keterlaluan kamu ya..!! Sudah mau punya anak juga masih saja jelalatan." Ujar keras Papa Harso.
"Saya punya mata, Pa. Nggak sengaja, nggak ada niat juga untuk lihat Celi."
"Ya ampun, susah sekali bicara dengan Opa satu ini. Saya nggak lihat Celi."
"Bohong, Papa lihat sendiri..!!" Sampai saat ini pun Papa dan Bang Danar masih berdebat.
"Bisa diam atau tidaaak???? Yang berisik keluar..!!!!" Omel Mama.
"Yang nyetir siapa, Ma?" Jawab Papa.
.
.
.
.