Satu like salah. Satu DM berantai. Satu hidup yang kacau.
Ardi cuma ingin menghilangkan bosannya. Kinan ingin hidupnya tetap aesthetic. Tapi ketika Ardi accidentally like foto lama Kinan yang memalukan, medsos mereka meledak, reputasi hancur, dan mereka terpaksa berkolaborasi dalam proyek paling absurd: menyelamatkan karir online dosen mereka yang jadi selebgram dadu.
#SalahFollow Bukan cinta pada like pertama, tapi malu pada like yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: PILIHAN, PANIK, DAN THREAD VIRAL
Disclaimer: Bab ini mengandung deskripsi tentang ketakutan, usaha menyelamatkan malam yang hampir gagal, dan satu momen kejujuran yang lebih menakutkan daripada menghadapi algoritma.
Pukul 16.55. Ardi berdiri di depan sebuah rumah sederhana di kompleks perumahan yang tenang, berkeringat dingin padahal cuaca mendung. Dia memegang dua plastik kresek: satu berisi martabak manis dan satu lagi berisi es campur. Bukan bunga. Bukan kue tart. Martabak dan es campur. Logikanya: siapa yang bisa menolak martabak dan es campur?
Dia menekan bel. Suara ding-dong yang riang terasa seperti sirine peringatan.
Yang membuka pintu adalah seorang gadis kecil, mungkin kelas 5 SD, dengan wajah mirip Kinan tapi dengan ekspresi yang jauh lebih kritis. Dia menyipitkan mata.
“Kamu Ardi?” tanyanya, tanpa basa-basi.
“Iya. Dan ini… untuk kamu,” ujar Ardi, mengacungkan plastik martabak seperti pedang.
“Kakak bilang kamu bakal bawa sesuatu yang nggak biasa.Tepat,” kata gadis kecil itu Rara lalu membuka pintu lebar-lebar. “Masuk. Kak Kinan lagi krisis di dapur.”
Suara panik terdengar dari dalam. “RA! APA YANG DIMAKSUD MINYAK GORENGNYA HABIS?!”
Ardi masuk ke ruang tamu yang rapi namun lived-in. Ada foto-foto keluarga, piagam sekolah Rara, dan sebuah rak berisi buku. Tidak ada tanda-tanda “aesthetic curation”. Ini adalah rumah, bukan set foto.
Dia menuju sumber suara. Kinan berdiri di depan kompor, memegang wajan seperti memegang musuh bebuyutan. Di atas kompor, beberapa potongan ayam tampak pucat dan sedih.
“Lo…”sapa Ardi.
Kinan menoleh.Wajahnya memerah, ada sedikit tepung di pipinya. Dia mengenakan apron bergambar karakter kartun yang sudah pudar. “Ardi! Jadinya gue masak ayam goreng. Tapi… ini adalah hari dimana minyak goreng memutuskan untuk pensiun.”
“Gue bawa martabak dan es campur,”
“Kamu pahlawan,”sahut Rara dari belakang, sudah menyendok es campur ke mangkuk.
Krisis diselamatkan oleh makanan takeaway. Mereka akhirnya makan malam di meja makan: martabak, es campur, dan telur dadar yang sempat Kinan buat sebelum minyaknya benar-benar habis. Suasana canggung perlahan cair karena Rara yang cerewet.
“Jadi,kamu yang bikin kakakku nangis-nangis nonton video pakai dadu itu?”
“Rara!”tegur Kinan.
“Iya,itu gue,” akui Ardi, malu tapi jujur. “Dan gue juga yang bikin kakak kamu salah like foto bowl cut-nya.”
Rara terkikik.“Aku lihat fotonya. Lucu banget. Kayak mushroom.”
“RARA!”
Tapi di balik keributan itu, Ardi melihat sesuatu. Kehidupan Kinan di sini adalah dunia yang berbeda sama sekali. Di sini, dia adalah kakak yang cerewet, anak yang membantu membiayai adiknya, seseorang yang berjuang membuat ayam goreng. Bukan influencer dengan feed yang sempurna. Ini lebih nyata. Dan lebih indah.
Setelah makan, Rara mengajak Ardi ke kamarnya untuk melihat koleksi stikernya sebuah ritual penerimaan. Kinan membereskan meja.
“Maaf,” bisik Kinan saat Ardi membantu membawa piring ke dapur. “Ini… nggak sebagus yang di feed-feed orang.”
“Ini lebih baik,” kata Ardi, tulus. “Gue lihat lo berantakan. Dan lo tetap bertahan. Itu keren.”
Saat Ardi hendak pulang, hujan turun. Rintik-rintik berubah menjadi deras.
“Nunggu dulu,” kata Kinan. “Atau lo mau pinjam payung?”
“Boleh numpang nunggu?” tanya Ardi.
Mereka duduk kembali di ruang tamu. Rara sudah tidur. Hanya ada suara hujan dan derak jam dinding.
“Jadi,” kata Kinan, memecah keheningan. “Ini gue. Lengkap dengan dapur yang nggak siap dan adik yang usil.”
“Dan gue suka,” jawab Ardi, spontan. Dia terkejut dengan ucapannya sendiri, tapi dia tidak menariknya kembali.
Kinan memandangnya. Cahaya lampu ruang tamu yang temaram menerangi sisi wajahnya. “Kenapa?”
“Karena…” Ardi mencari kata-kata. Ini lebih sulit daripada menulis lirik lagu. “Karena ini nggak ada di mana-mana. Nggak bisa di-google, nggak bisa di algorithm kan. Cuma… ada di sini. Dan lo mempercayakan ini ke gue. Itu… spesial.”
Hujan semakin deras. Genangan air mulai terbentuk di jalanan.
“Ardi,” panggil Kinan, suaranya hampir tenggelam oleh gemuruh hujan. “Gue takut lagi.”
“Takut apa?”
“Takut karena sekarang nggak ada lagi yang bisa disalahkan. Bukan algoritma. Bukan challenge. Bukan eksperimen. Kalau… kalau kita gagal sekarang, itu salah kita sepenuhnya. Karena pilihan kita sendiri.”
Itulah ketakutan terbesarnya. Ketika semua hambatan eksternal hilang, yang tersisa adalah kemungkinan bahwa mereka sendiri yang tidak cukup kuat. Itu lebih menakutkan daripada sensor tersembunyi atau kontrak yang memaksa.
Ardi menghela napas. Dia merasakan hal yang sama. Tapi dia ingat sesuatu.
“Waktu di silent hike,” kata Ardi. “Waktu lo tulis ‘Aku takut’ di tanah… gue nggak nulis ‘Jangan takut’. Gue nulis ‘Ayo coba aja’.”
“Iya.”
“Sekarang juga sama.Kita coba aja. Dengan semua risiko tanggung jawab penuhnya. Gue pilih untuk mencoba. Dengan lo.”
Dia tidak menyentuhnya. Tidak memegang tangannya. Hanya memberinya pilihan. Sebuah pilihan yang sadar, tanpa paksaan digital apapun.
Kinan menatapnya lama sekali. Air mata menggenang di matanya, tapi tidak jatuh.
“Gue juga,”akhirnya dia berbisik. “Gue pilih untuk mencoba. Dengan lo.”
Mereka duduk dalam diam, ditemani bunyi hujan. Tidak ada musik latar. Tidak ada efek slow motion. Hanya dua orang yang lelah, sedikit basah karena kehujanan tadi, dan memutuskan untuk memilih satu sama lain di ruang tamu yang berantakan sisa martabak.
Pukul 21.30. Hujan reda. Ardi harus pulang.
“Nanti lo sampai,vkasih tau,” kata Kinan di depan pintu.
“Iya.Via… SMS aja.”
Mereka tersenyum.Kembali ke teknologi paling primitif. Langsung, personal.
Saat Ardi melangkah keluar, Kinan memanggilnya. “Ardi!”
Ardi menoleh.
“Besok…ketemu lagi? Nggak perlu alasan. Nggak perlu konten.”
“Pukul lima?Warung Klotok?”
“Bawa dadu nggak?”
“Nggak.”
“Good.”
Ardi berjalan pulang. Jalanan basah berkilauan oleh lampu jalan. Ponselnya yang baru, murah, hanya untuk telpon dan SMS bergetar sekali. Sebuah SMS dari nomor yang tidak tersimpan: “Thanks for meeting my world. – K”
Dia membalas: “Thanks for letting me in. – A”
Mereka tidak memakai emoji. Tidak ada sticker. Hanya huruf-huruf yang jujur.
Pukul 16.30. Ardi sudah duduk di Warung Klotok, jari gemetar menyentuh gelas kopi susu yang masih penuh. Dia datang 30 menit lebih awal, seperti orang yang akan menghadapi sidang skripsi. Bedanya, dosen pengujinya kali ini adalah perasaannya sendiri.
Di mejanya, selain kopi, ada sebuah dadu karet warna merah pemberian Pak Suryo saat dia mampir ke kantor Dadu Champ tadi siang. "Buat pemecah kebuntuan kalau kamu bingung mau ngomong apa," katanya sambil ketawa. Dadu itu sekarang terasa seperti bom waktu.
HP nya yang baru (model lama, layarnya sudah ada retak) berdering. Sebuah notifikasi dari Twitter.
Trending in Indonesia:
#1: Pernyataan Resmi MatchMade
#2: Ekspose Dating App
#3: #SiBurungHantuDanSiAesthetic
Ardi membuka tagar ketiga dengan jantung berdebar kencang. Ternyata, dunia maya sedang mengapresiasi dengan cara mereka sendiri. Seorang threadmaker bernama @/digitalcupid telah membuat rangkaian tweet panjang:
"BREAKDOWN: Relationship Goals Era Baru dari #SiBurungHantuDanSiAesthetic 🧵
Mereka mulai dari 'salah like' yang memalukan. BUKAN dari swipe right yang sempurna. Ini penting: mereka mengajarkan bahwa vulnerability (kelemahan) bisa jadi awal koneksi yang otentik...
Mereka kolaborasi bukan karena matching algorithm, tapi karena saling butuh. Dia bantu tugas, dia bikin konten. Partnership dulu, chemistry belakangan. Ini mindset bisnis, gen!...
Puncaknya: mereka menolak tawaran uang gede untuk jadi 'wajah' MatchMade versi bersih. Mereka pilih bikin video eksposé yang bisa menghancurkan peluang endorsemen mereka. PRINCIPLES OVER PAYCHECK...
Kesimpulan: hubungan era baru nggak lagi tentang 'couple goals' yang sempurna. Tapi tentang 'accountability goals' berani bertanggung jawab atas kesalahan, berani melawan sistem yang memanfaatkanmu, berani memilih yang benar meski rugi...
Dan yang paling penting: mereka masih awkward sampai sekarang. Lihat interview radio mereka kemarin? Masih saling potong, masih salah sebut nama. They're not perfect. And that's the whole point.
/END THREAD"
Thread itu sudah di-retweet 15K kali. Ada yang setuju, ada yang bilang mereka cuma beruntung, ada yang menawarkan kolaborasi podcast. Tapi yang membuat Ardi tersenyum adalah satu komentar: "Mereka nggak kayak selebgram couple yang norak. Mereka kayak temen lo yang kebetulan viral."
Pukul 17.15. Kinan datang. Tapi tidak sendiri. Dia datang dengan sebuah tripod kecil dan HP nya. Ardi langsung tegang.
"Tenang," kata Kinan sebelum Ardi sempat protes. "Ini bukan buat konten. Ini buat... dokumentasi pribadi. Gue mau rekam momen kita. Tapi nggak untuk di-upload. Cuma buat kita."
Itu ide yang aneh, tapi sangat Gen Z. Di era dimana jika tidak didokumentasikan, seolah tidak pernah terjadi.
"Oke, tapi jangan sorot-sorot muka gue dari dekat. Jerawat gue lagi mekar," keluh Ardi.
"Deal."
Kinan mengatur kamera di sudut meja, mengaktifkan mode recording. Lampu merah kecil menyala. Kehadirannya mengubah dinamika tiba-tiba mereka sadar sedang "diawasi", meski oleh diri mereka sendiri.
"Jadi," mulai Kinan setelah pesan teh tariknya datang. "Kita trending lagi."
"Gue liat. Thread-nya dalem banget. Sampe bikin istilah baru 'accountability goals'," sahut Ardi.
"Pressure nya nambah nggak?"
"Banyak. Sekarang orang nungguin kita kayak series Netflix. Season 1: Salah Like. Season 2: Ekspos Algoritma. Sekarang Season 3: 'Lalu Apa?'."
"Dan kita belum nulis naskah Season 3," timpal Kinan, tersenyum getir.
Mereka membahas tawaran yang datang. Sebuah brand headphones menawarkan kolaborasi dengan konsep "Listen to your heart, not the algorithm". Sebuah platform streaming ingin mereka bikin mini series dokumenter. Bahkan kampus mereka mengajak jadi pembicara di seminar "Digital Ethics for Gen Z".
"Tiap tawaran itu bikin kita define hubungan kita lebih jauh," keluh Kinan. "Kalau kita terima headphone, kita jadi brand ambassador couple. Kalau kita terima mini series, kita harus ekspos lebih banyak privasi. Kalau kita jadi pembicara, kita jadi 'contoh'."
Ardi mengambil dadu merah, memutarnya di tangannya. "Nih, kita pakai dadu. Angka 1-2: kita ambil semua tawaran, jadi power couple influencer. Angka 3-4: kita tolak semua, hidup biasa aja. Angka 5-6: kita pilih satu yang paling sesuai nilai kita."
"Ardi, kita kan mau lepas dari keputusan dadu."
"Iya.Tapi... kadang kita butuh randomizer buat ngejernihin pikiran kita sendiri. Waktu dadu muter, di dalem hati kita biasanya udah ada jawaban yang kita pengin."
Dilemparlah dadu itu. Berputar-putar di atas meja kayu yang lengket, mendarat dengan sisi angka 2 mengarah ke atas.
"Ambil semua tawaran," baca Kinan.
Tapi mereka saling pandang. Dan tanpa bicara, mereka tahu: itu bukan yang mereka inginkan.
"Jadi jawaban kita 'nggak'," simpul Ardi.
"Gue nggak mau jadi produk," kata Kinan tegas. "Gue udah capek jadi produk. Produk MatchMade, produk algoritma, produk aesthetic. Gue mau... jadi manusia. Yang pacaran (atau apalah ini) sama manusia lain."
Kata "pacaran" melayang di antara mereka untuk pertama kalinya. Tidak disengaja. Tapi sudah terucap.
Diam yang pekat.
"Gue..." Ardi bersuara, lalu berhenti. "Gue juga mau itu. Tapi gue nggak tahu gimana caranya. Selama ini semuanya punya template. Dating app punya template. Konten kolaborasi punya template. Sekarang nggak ada template. Gue... blank."
Kinan mematikan rekaman. Lampu merah kecil padam.
"Mungkin itu intinya.Nggak usah pakai template." Dia menarik napas. "Besok, gue ada acara kumpul-kumpul kecil temen SMP. Lo mau ikut? Bukan untuk konten. Bukan untuk dipamerin. Cuma... buat nemenin gue. Dan biar lo liat gue di lingkungan yang bener-bener nggak ada kaitannya dengan semua ini."
Itu adalah undangan yang lebih dalam dari sekadar ketemu keluarga. Ini adalah undangan ke masa lalu Kinan, ke identitasnya sebelum jadi "Kinan the Aesthetic Curator".
"Gue mau," jawab Ardi, tanpa ragu.
"Banyak yang nanya siapa lo.Mungkin mereka udah liat viral kita."
"Gue bilang apa? Temen? Kolaborator? Rekan eksperimen?"
Kinan tersenyum, sedikit malu. "Bilang aja... 'orang yang lagi gue kenalin'."
Ardi merasa dadanya hangat. Itu lebih baik daripada semua label.
Malam itu, di kosan Ardi, dia tidak bisa tidur. Dia membuka Twitter lagi, melihat tagar mereka. Ada satu tweet yang menarik perhatiannya:
@jomblopengenmoveon: Gue habis putus sama pacar karena doi lebih milih highlight reel di sosmed daripada realita. Nonton cerita #SiBurungHantuDanSiAesthetic, gue jadi berani unfollow mantan dan mulai bikin konten yang bener-bener gue suka, bukan yang dikasih algoritma. Thanks ya @ardinightowl @kinandcurates. Kalian nggak sendiri.
Ardi mem forward tweet itu ke Kinan.
Beberapa menit kemudian, balasan datang:
Kinan:Ini yang bikin semua worth it, ya nggak?
Ardi: Iya. Lebih worth it daripada duit endorsemen manapun.
Kinan: Besok jangan bawa kamera. Jangan bawa dadu. Bawa diri lo aja.
Ardi: Diri yang mana nih? Yang overthinker atau yang sok santuy?
Kinan: Yang bawa martabak waktu minyak goreng habis.
Ardi tertawa sendiri di kamarnya yang gelap. Dia melihat dadu merah di mejanya. Diambilnya, lalu dilempar ke dalam laci tidak untuk dipakai, tapi untuk diingat sebagai simbol era yang sudah berlalu.
LAST LINE: Di layar laptop nya yang masih menyala, tab Twitter memperlihatkan tagar mereka yang masih trending. Tapi Ardi sudah menutupnya. Dia lebih memilih membuka notes kosong dan mulai menulis bukan lirik lagu, bukan konten, hanya pemikiran yang berantakan tentang seorang perempuan yang mengajaknya ke acara kumpul-kumpul SMP, dan tentang betapa menakutkan sekaligus mengasyikkannya menjadi manusia biasa yang sedang jatuh cinta dengan manusia biasa lainnya, tanpa ada algoritma yang bisa disalahkan jika nanti semuanya berantakan