NovelToon NovelToon
Misi Terlarang Sang Mayor

Misi Terlarang Sang Mayor

Status: tamat
Genre:Kehidupan Tentara / Tamat
Popularitas:263
Nilai: 5
Nama Author: Rhiy Navya

Mayor Elara Vanya, seorang agen elit yang terpaksa menggunakan daya tarik dan kecerdasannya sebagai aset, dikirim dalam misi penyusupan ke Unit Komando Khusus yang dipimpin oleh Kolonel Zian Arkana, pria dingin yang dicurigai terlibat dalam jaringan pengkhianatan tingkat tinggi. Elara harus memilih antara menyelesaikan misi dan mengikuti kata hatinya, yang semakin terjerat oleh Kolonel Zian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Sang Pengkhianat

​Langit ibu kota tampak abu-abu di bawah selimut polusi dan penjagaan ketat. Di pelabuhan peti kemas yang sepi, sebuah kapal penangkap ikan tua bersandar di dermaga paling ujung. Tiga sosok bayangan keluar dari palka kapal, bergerak dengan efisiensi militer yang tak terbantahkan.

​Elara Vanya menarik tudung jaketnya lebih dalam. Dia tidak lagi mengenakan seragam tempur yang mencolok, melainkan pakaian sipil serba hitam yang memudahkannya berbaur dengan bayangan. Di sampingnya, Zian Arkana memegang tas berisi data digital paling berbahaya di dunia. Dan di belakang mereka, ayah Elara berjalan dengan langkah yang mulai mantap kembali.

​"Selamat datang di rumah, jika kau masih bisa menyebutnya begitu," bisik Zian, matanya waspada memperhatikan patroli drone yang menyapu area pelabuhan dengan lampu sensor merah.

​"Tempat ini terasa seperti penjara raksasa," jawab Elara. Dia melihat poster-poster besar di dinding pelabuhan yang menampilkan wajahnya dan Zian dengan tulisan: TERORIS PALING DICARI - HIDUP ATAU MATI.

​Kael, yang kini beroperasi dari sebuah van kusam yang diparkir di pinggiran kota, berbicara melalui komunikator baru yang terenkripsi. "Hati-hati, kawan-kawan. Pemerintah baru telah memasang sistem pengenalan wajah di setiap sudut jalan. Kalian dianggap sebagai ancaman nasional nomor satu. Aku sudah menyiapkan 'jalur tikus' melalui terowongan kereta bawah tanah yang sudah tidak terpakai."

​Mereka bergerak menembus labirin kota. Elara merasakan kepedihan melihat kota kelahirannya kini penuh dengan barikade dan tentara yang berpatroli dengan wajah dingin. Ini bukan lagi negara yang ia sumpah untuk lindungi; ini adalah kerajaan yang dibangun di atas kebohongan Gedeon.

​"Kita harus menuju stasiun penyiaran nasional," kata Elara saat mereka bersembunyi di dalam terowongan kereta yang gelap. "Data ini tidak akan berguna jika hanya kita yang tahu. Rakyat harus melihat wajah asli para pemimpin mereka."

​"Stasiun itu dijaga oleh resimen elit," Zian mengingatkan. "Dan jangan lupa, Tristan pasti sudah ada di sana. Dia tahu kita akan kembali ke satu-satunya tempat di mana kita bisa membalikkan keadaan."

​Ayah Elara memegang bahu putrinya. "Elara, aku tahu kode akses darurat untuk pemancar utama. Aku yang mendesain sistem keamanannya dua puluh tahun lalu sebelum mereka menggantiku. Mereka mungkin sudah memperbaruinya, tapi arsitektur dasarnya tidak akan berubah."

​Rencana mulai disusun. Mereka tidak akan menyerang dengan kekuatan penuh, melainkan dengan strategi "Kuda Troya".

​Saat malam mencapai puncaknya, sebuah truk pengangkut logistik militer dicegat di pinggiran kota. Zian dan Elara melumpuhkan para penjaga tanpa suara. Mereka mengenakan seragam tentara patroli, menutupi identitas mereka di balik helm full-face. Ayah Elara disembunyikan di bawah tumpukan kotak amunisi di bagian belakang truk.

​Truk itu melaju menuju Stasiun Penyiaran Nasional, sebuah gedung pencakar langit yang dijaga seperti benteng.

​"Identitas?" tanya seorang penjaga di gerbang utama, mengarahkan pemindai ke arah Zian.

​Zian menyerahkan kartu identitas palsu yang telah disiapkan Kael dengan tingkat presisi tinggi. "Pengiriman rutin amunisi untuk Sektor 4. Perintah langsung dari Komando Pusat."

​Penjaga itu ragu sejenak, namun Kael berhasil meretas sistem internal stasiun dan memunculkan notifikasi pengiriman di layar monitor penjaga tersebut. "Silakan masuk, Sersan."

​Truk itu masuk ke area parkir bawah tanah. Begitu pintu tertutup, Elara dan Zian segera bergerak. Mereka melumpuhkan tim keamanan di ruang kontrol parkir dan mematikan kamera di jalur menuju lift servis.

​"Kita punya waktu lima belas menit sebelum mereka menyadari ada yang salah," bisik Elara.

​Mereka naik ke lantai 40, tempat studio siaran utama berada. Namun, saat pintu lift terbuka, mereka tidak disambut oleh koridor kosong.

​Tristan berdiri di sana, dikelilingi oleh sepuluh tentara elit dengan senapan laser terbaru. Wajahnya yang hancur kini setengah tertutup oleh topeng logam yang menyatu dengan saraf wajahnya.

​"Aku sudah menunggumu, Elara," suara Tristan terdengar seperti distorsi elektronik. "Kau selalu bisa diprediksi. Selalu ingin menjadi pahlawan yang mengungkap kebenaran."

​Tristan mengangkat tangannya, dan anak buahnya segera menodongkan senjata.

​"Lepaskan ayahku dan Zian. Ini urusan antara kita, Tristan," kata Elara, langkahnya tetap tenang meskipun ia dikepung.

​"Tidak ada lagi negosiasi, Elara. Kali ini, tidak akan ada siaran langsung, tidak ada drama. Hanya ada eksekusi," Tristan memberi aba-aba untuk menembak.

​DUM!

​Tiba-tiba, seluruh lantai berguncang. Kael telah meledakkan pipa gas di lantai bawah sebagai pengalihan. Asap tebal mulai memenuhi koridor.

​"Sekarang!" teriak Zian.

​Dalam kekacauan asap, Elara melakukan gerakan akrobatik, meluncur di lantai dan menembak kaki dua penjaga terdekat. Zian menggunakan tubuhnya sebagai perisai bagi ayah Elara sambil membalas tembakan dengan akurasi luar biasa.

​Pertarungan jarak dekat pecah. Elara berhadapan langsung dengan Tristan. Tristan menggunakan kekuatan tangan sibernetikanya untuk menghantam Elara, namun Elara lebih lincah. Dia menggunakan pisau vibrasi untuk memotong kabel daya di topeng Tristan.

​"AAARGH!" Tristan berteriak saat arus pendek menyengat saraf wajahnya.

​"Ayah, cepat ke ruang pemancar!" Elara berteriak sambil menahan serangan dari penjaga lain.

​Ayahnya berlari menuju konsol utama, jari-jarinya yang gemetar mulai mengetik kode akses kuno. "Hampir... sedikit lagi!"

​Tristan, yang menahan sakit, menerjang Elara dengan kemarahan buta. "Kau tidak akan pernah menyiarkan apa pun!"

​Tristan berhasil mencengkeram leher Elara dan mengangkatnya ke udara. Elara berjuang untuk bernapas, kakinya menendang udara. Zian mencoba mendekat, namun ia tertahan oleh hujan peluru dari sisa tentara elit.

​"Matilah... bersama kebenaranmu!" desis Tristan.

​Tepat saat kesadaran Elara mulai memudar, suara ayahnya bergema di seluruh gedung melalui pengeras suara internal. "Transmisi dimulai! Rakyat negaraku, lihatlah kebenaran yang mereka sembunyikan!"

​Layar-layar raksasa di seluruh kota, mulai dari alun-alun hingga televisi di rumah-rumah warga, tiba-tiba menampilkan dokumen digital Iron Sight, rekaman rahasia Gedeon, dan bukti keterlibatan para menteri saat ini dalam rencana Protokol Lazarus.

​Tristan tertegun melihat layar di koridor. Genggamannya pada leher Elara melemah.

​Elara menggunakan kesempatan itu untuk mengambil pistol cadangan di pergelangan kakinya dan menembak bahu sibernetika Tristan. Tristan terlempar ke belakang, menghantam kaca jendela gedung yang tebal hingga retak.

​"Sudah berakhir, Tristan," Elara terengah-engah, berdiri dengan susah payah. "Seluruh dunia sudah melihat siapa kalian."

​Di luar gedung, suara riuh mulai terdengar. Rakyat yang marah mulai berkumpul di jalanan, melihat bukti penghianatan pemimpin mereka di layar-layar besar. Militer di tingkat bawah mulai ragu-ragu untuk menuruti perintah atasan mereka yang kini terbukti sebagai penjahat perang.

​Zian mendekati Elara, merangkul bahunya. "Kita berhasil melakukannya. Mereka tidak bisa lagi bersembunyi."

​Namun, di tengah kemenangan itu, Kael berteriak di radio. "Zian! Elara! Ada serangan udara! Pemerintah mengirim jet tempur untuk menghancurkan gedung ini demi menghentikan transmisi! Kalian harus keluar dari sana SEKARANG!"

​Elara menatap ayahnya dan Zian. Mereka berada di puncak gedung pencakar langit, dikepung oleh pasukan darat, dan kini menjadi target serangan udara.

​"Ini bukan akhirnya," kata Elara, matanya berkilat penuh tekad. "Ini baru awal dari pembersihan yang sesungguhnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!