"Saat KKN di desa terpencil, Puri Retno Mutia dan Rendra Adi Wardana diserang kesurupan misterius. Puri merasakan sakit keguguran dan dendam seorang gadis bernama Srikanti yang dulu jatuh cinta dan hamil oleh Abi Manyu, tapi difitnah dan ditinggalkan hingga meninggal. Sementara Rendra merasakan rasa bersalah yang tak terjangkau dari masa lalu. Ternyata, mereka adalah reinkarnasi Srikanti dan Abi Manyu. Akankah sumpah dendam Srikanti terwujud di zaman sekarang? Atau bisakah mereka putus rantai tragedi yang terulang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri di Balik Dinding
Rio yang tadinya sok berani mulai meremas lengan Dina dengan erat, wajahnya pucat pasi. "Apa maksud Mbah?" tanyanya dengan suara yang bergetar.
"Pada zaman penjajahan, bale itu pernah menjadi tempat tahanan rahasia. Banyak nyawa yang hilang di sana, tanpa jejak. Kadang-kadang, mereka yang tersesat masih mencari jalan pulang, merindukan kebebasan yang telah direnggut," ujar Mbah Sastro dengan tatapan menerawang, seolah melihat kejadian-kejadian mengerikan di masa lalu. Kucing hitam di pangkuannya mendengkur pelan, seolah ikut merasakan kesedihan yang mendalam. "Suara bisikan yang kamu dengar, Nak Puri... itu bukan sekadar imajinasimu semata."
Suasana di sekitar api unggun semakin mencekam. Angin bertiup lebih kencang, menerbangkan debu dan dedaunan kering. Api unggun bergoyang-goyang tidak karuan, menciptakan bayangan aneh yang menari-nari di dinding bale pasanggrahan, membuat bangunan itu tampak semakin angker dan menakutkan.
"Kalau begitu, kenapa Mbah mengizinkan kami tinggal di sana?" tanya Ayu dengan nada lirih, ketakutan terpancar jelas di matanya.
"Karena masa depan desa ini ada di tangan kalian," jawab Mbah Sastro dengan nada serius, pandangannya menembus langsung ke dalam hati mereka. "Ada sesuatu yang tersembunyi di dalam bale itu, sesuatu yang harus diungkap sebelum terlambat. Dan kamu, Nak Puri... kamu yang terpilih untuk mengungkapnya."
Puri merasakan jantungnya berdebar semakin kencang, keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya. Kenapa harus dia? Apa hubungannya dengan masa lalu bale pasanggrahan ini?
Sebelum Puri sempat mengajukan pertanyaan, Mbah Sastro berdiri perlahan, tubuhnya yang renta tampak tegap dan berwibawa di bawah cahaya rembulan. "Aku sudah menyampaikan apa yang perlu kalian ketahui. Sekarang, beristirahatlah. Malam ini akan terasa panjang, dan esok hari akan ada banyak hal yang harus kalian hadapi," ujarnya dengan nada misterius. Tanpa menunggu jawaban, Mbah Sastro berbalik dan berjalan pergi, ditemani kucing hitamnya yang setia. Cahaya yang dibawanya menghilang perlahan di telan kegelapan, meninggalkan mereka dengan pikiran yang berkecamuk dan hati yang dipenuhi dengan kegelisahan.
"Bagaimana ini? Apa kita tetap akan tinggal di sini?" tanya Dina dengan suara bergetar, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia memeluk lengannya sendiri, mencoba menghalau rasa takut yang mencengkeram hatinya.
Puri menatap teman-temannya satu per satu. Rio tampak pucat pasi dan ketakutan, Ayu memeluk dirinya sendiri sambil terisak pelan, Fahri menunduk dalam diam seolah sedang menimbang-nimbang sesuatu, dan Rendra... Rendra menatap Puri dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah memberikan dukungan sekaligus peringatan. Ia tahu, mereka semua mengharapkan keputusannya.
"Kita tetap tinggal," ujar Puri dengan nada tegas, berusaha menyembunyikan kegugupan yang ia rasakan. "Mbah Sastro bilang ada sesuatu yang harus kita ungkap di bale pasanggrahan ini. Kalau itu memang tugas kita, maka kita harus melakukannya bersama-sama."
Meskipun dengan wajah yang masih diliputi kecemasan, teman-temannya mengangguk setuju. Mereka memutuskan untuk kembali ke dalam bale pasanggrahan dan mencoba untuk beristirahat, meskipun pikiran mereka dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan dan ketakutan.
Namun, ketika mereka memasuki kamar tidur yang telah mereka bersihkan siang tadi, mereka dikejutkan oleh pemandangan yang membuat mata mereka terbelalak.
Di dinding kamar yang tadinya kosong, tiba-tiba muncul sebuah tulisan yang terbuat dari debu tebal: "Jangan cari aku."
Rio menjerit histeris dan langsung berlari keluar kamar, diikuti oleh Dina yang menangis tersedu-sedu. Puri mendekat dengan hati-hati, mengamati tulisan itu dengan seksama. Tangannya gemetar, namun ia tidak merasakan takut yang berlebihan. Sebaliknya, rasa penasaran dan keinginan untuk mengungkap misteri ini semakin membuncah di dalam dirinya. Siapa yang menulis pesan ini? Dan siapa "aku" yang dimaksud dalam tulisan itu?
Di luar, angin bertiup semakin kencang, suaranya terdengar seperti ratapan yang memilukan. Suara bisikan yang tadi ia dengar di siang hari kini terdengar semakin jelas dan nyata, seolah-olah ada seseorang yang sedang berbisik tepat di telinganya: "Tolong aku... bantu aku pulang..."
Puri memejamkan matanya sejenak, mengumpulkan keberanian dan kekuatan yang tersisa di dalam dirinya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa lari dari takdir yang telah menantinya. Ia harus menghadapi misteri Desa Sidomukti dan mengungkap rahasia yang tersembunyi di dalam bale pasanggrahan peninggalan zaman kolonial itu. Karena ia yakin, ini bukan hanya tentang tugas KKN semata. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih besar, sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.
Di tengah kegelapan yang semakin pekat dan suara-suara aneh yang terus menghantui, Puri Retno Mutia membuka matanya kembali. Tatapannya penuh dengan tekad dan keberanian. Ia siap menghadapi apapun yang akan terjadi esok hari, meskipun ia tidak tahu apa yang menantinya di balik tabir misteri yang menyelimuti desa ini.
Rendra berdiri di ambang pintu kamar, menatap Puri dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia tidak mengatakan apa pun, namun Puri merasakan seolah Rendra ingin menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang penting.
"Kamu nggak takut, Puri?" tanya Rendra akhirnya, memecah kesunyian.
Puri menoleh ke arah Rendra dan tersenyum tipis. "Takut sih pasti ada. Tapi aku lebih penasaran," jawabnya jujur.
Rendra mengangguk pelan. "Hati-hati. Jangan terlalu percaya sama siapapun," pesannya singkat, lalu berbalik dan menghilang di balik kegelapan lorong.
Puri terdiam sejenak, mencerna perkataan Rendra. Kenapa dia mengatakan itu? Apakah ada seseorang yang tidak bisa dipercaya di desa ini? Atau... apakah ada seseorang di antara mereka, anggota kelompok KKN, yang menyembunyikan sesuatu?
Puri menghela napas panjang. Ia tidak ingin mencurigai siapapun, namun ia juga tidak bisa mengabaikan firasat buruk yang terus menghantuinya. Ia harus lebih waspada dan berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan.
Dengan tekad yang semakin membara, Puri melangkah keluar kamar dan menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan menuju pendopo, tempat api unggun masih menyala redup. Ia duduk di dekat api unggun, mencoba menghangatkan tubuhnya yang menggigil kedinginan.
Ia menatap langit malam yang bertaburan bintang. Bintang-bintang itu tampak begitu jauh dan dingin, namun juga begitu indah dan mempesona. Ia merasa seolah bintang-bintang itu sedang mengawasinya, memberikan petunjuk dan harapan di tengah kegelapan.
Ia mengeluarkan buku catatannya dari tas ranselnya dan mulai menuliskan semua yang telah terjadi hari ini. Ia mencatat semua yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Ia menuliskan tentang keindahan Desa Sidomukti, tentang keramahan warga desanya, tentang aura mistis yang menyelimuti bale pasanggrahan, tentang kedatangan Mbah Sastro, dan tentang tulisan misterius di dinding kamar tidurnya.
Ia menuliskan semua itu dengan harapan, suatu saat nanti, ia bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang berkecamuk di benaknya, dan mengungkap misteri yang tersembunyi di balik keindahan Desa Sidomukti.
Ia menuliskan semua itu dengan harapan, suatu saat nanti, ia bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang berkecamuk di benaknya, dan mengungkap misteri yang tersembunyi di balik keindahan Desa Sidomukti.
Rendra berdiri di ambang pintu kamar, menatap Puri dengan ekspresi yang sulit dibaca. Ia tidak mengatakan apa pun, namun Puri merasakan seolah Rendra ingin menyampaikan sesuatu. Sesuatu yang penting.
"Kamu nggak takut, Puri?" tanya Rendra akhirnya, memecah kesunyian.
Puri menoleh ke arah Rendra dan tersenyum tipis. "Takut sih pasti ada. Tapi aku lebih penasaran," jawabnya jujur.
Rendra mengangguk pelan. "Hati-hati. Jangan terlalu percaya sama siapapun," pesannya singkat, lalu berbalik dan menghilang di balik kegelapan lorong.
Puri terdiam sejenak, mencerna perkataan Rendra. Kenapa dia mengatakan itu? Apakah ada seseorang yang tidak bisa dipercaya di desa ini? Atau... apakah ada seseorang di antara mereka, anggota kelompok KKN, yang menyembunyikan sesuatu?
Puri menghela napas panjang. Ia tidak ingin mencurigai siapapun, namun ia juga tidak bisa mengabaikan firasat buruk yang terus menghantuinya. Ia harus lebih waspada dan berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan.
Dengan tekad yang semakin membara, Puri melangkah keluar kamar dan menutup pintu di belakangnya. Ia berjalan menuju pendopo, tempat api unggun masih menyala redup. Ia duduk di dekat api unggun, mencoba menghangatkan tubuhnya yang menggigil kedinginan.
Ia menatap langit malam yang bertaburan bintang. Bintang-bintang itu tampak begitu jauh dan dingin, namun juga begitu indah dan mempesona. Ia merasa seolah bintang-bintang itu sedang mengawasinya, memberikan petunjuk dan harapan di tengah kegelapan.
Ia mengeluarkan buku catatannya dari tas ranselnya dan mulai menuliskan semua yang telah terjadi hari ini. Ia mencatat semua yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Ia menuliskan tentang keindahan Desa Sidomukti, tentang keramahan warga desanya, tentang aura mistis yang menyelimuti bale pasanggrahan, tentang kedatangan Mbah Sastro, dan tentang tulisan misterius di dinding kamar tidurnya.
Ia menuliskan semua itu dengan harapan, suatu saat nanti, ia bisa menemukan jawaban atas semua pertanyaan yang berkecamuk di benaknya, dan mengungkap misteri yang tersembunyi di balik keindahan Desa Sidomukti.
Malam semakin larut, dan satu per satu anggota kelompok KKN mulai terlelap dalam tidur mereka. Namun, Puri masih terjaga, pikirannya dipenuhi dengan berbagai macam pertanyaan dan kekhawatiran. Akhirnya, rasa lelah mengalahkan rasa penasarannya, dan Puri pun tertidur lelap di dekat api unggun.
Namun, tidurnya tidak tenang. Ia bermimpi...
Ia berdiri di tengah sebuah ruangan yang asing. Ruangan itu tampak kosong dan suram, hanya diterangi oleh cahaya redup yang berasal dari sebuah lentera yang tergantung di langit-langit. Udara di ruangan itu terasa dingin dan pengap, dipenuhi dengan aroma lembap dan busuk.
Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki mendekat. Ia menoleh dan melihat seorang wanita muda berjalan ke arahnya. Wanita itu mengenakan gaun putih panjang yang tampak lusuh dan kotor. Wajahnya pucat pasi dan matanya kosong, seolah tidak memiliki jiwa.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*