NovelToon NovelToon
Gadis Manja Yang Dibuang

Gadis Manja Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Putri asli/palsu
Popularitas:159.5k
Nilai: 5
Nama Author: Reinon

Siapa sangka putri tertua perdana menteri yang sangat disayang dan dimanja oleh perdana menteri malah membuat aib bagi keluarga Bai.

Bai Yu Jie, gadis manja yang dibuang oleh ayah kandungnya sendiri atas perbuatan yang tidak dia lakukan. Dalam keadaan kritis, Yu Jie menyimpan dendam.

"Aku akan membalas semua perbuatan kalian. Sabarlah untuk menunggu pembalasanku, ibu dan adikku tersayang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32

Wajar jika Dai Lu menaruh curiga pada Cai Hong karena selama ini mereka melakukan semua pekerjaan bersama-sama. Tak pernah sekalipun mereka melakukan pekerjaan sendiri, tapi sekarang mengapa malah Cai Hong ingin melakukan pekerjaan secara terpisah.

Cai Hong menghela napas lelah, "Kau lihat saja waktunya. Hari mulai redup. Apakah akan terburu jika kita melakukan pekerjaan bersama-sama. Lima kamar yang harus kita persiapkan air mandinya. Apa waktunya cukup? Aku hanya memberi saran saja. Agar tidak dimarahi oleh bibi Ji Heng," jelas Cai Hong.

Dai Lu diam sejenak sambil menatap langit. Benar yang dikatakan Cai Hong. Bayangan sudah berada di sebelah timur. Tidak akan terburu jika mengerjakan pekerjaan bersama-sama.

"Kau benar. Kalau begitu kita berpisah di sini," ucap Dai Lu sambil berlalu pergi.

Dai Lu bergegas karena tidak ingin melakukan kesalahan saat melayani tamu-tamu nyonya Bai.

Cai Hong menghela napas lega. Akhirnya, Dai Lu pergi darinya. Setelah merasa yakin Dai Lu menjauh, Cai Hong bergegas menuju kamar utama. Pelayan itu berlari agar segera tiba di kamar utama sebelum pelayan lain yang akan membantu mereka mandi tiba.

"Tabib Lin, gawat!" teriak Cai Hong sambil membuka pintu kamar utama.

Semua mata tertuju pada Cai Hong.

"Ada apa?" tanya Lin Lian.

"Mengapa kau berlari?" tanya Fang Hua.

"Kau berkeringat!" seru Fang Ling.

Giliran Fang Ling yang mendapat tatapan tajam dari kakak tertuanya.

"Hehehe!" Fang Ling terkekeh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Cai Hong masuk lalu menutup pintu.

"Tabib Lin, nyonya meminta aku dan Dai Lu memasukkan obat tidur ke dalam makanan ringan tabib Lin sekeluarga," lapor Cai Hong.

"Apa? Berani sekali dia!" seru Fang Li setengah berteriak.

Fang Hua langsung menatap kakak pertamanya lalu menepuk pelan pundaknya, "Sabar kakak. Jangan berteriak!"

Fang Li balas menatap tajam adik keduanya itu. Fang Hua hanya tersenyum mengejek.

"Aku hanya mengingat peringatan yang kakak katakan padaku dan Fang Ling tadi," timpal Fang Hua sambil tersenyum.

Fang Ling mengacungkan dua jempolnya ke udara tanda setuju. Baru saja kakak pertama mereka memperingatkan untuk tidak berteriak selama tinggal di kediaman Bai. Justru sekarang dia sendiri yang berteriak.

Seolah tak memperdulikan keributan kecil antara adik kakak itu, Cai Hong tetap melanjutkan informasi yang dia dapat.

"Nyonya Bai melakukan hal itu karena ada alasannya. Nyonya Bai akan mengirim beberapa orang untuk mengecek wajah tabib Lin, nyonya Lin beserta ketiga saudari tabib Lin," jelas Cai Hong.

"Ah, kemungkinan pelayan pribadi anda juga akan diperiksa!" timpal Cai Hong.

Hampir saja dia lupa ada seorang pelayan setia keluarga Lin. Dari tadi pelayan itu tidak banyak bicara. Jadi, saat sudut mata Cai Hong menangkap bayangannya, dia baru teringat dengan Li Jing.

"Mengapa aku juga diperiksa?" tanya Li Jing bingung.

"Maaf, kak Li Jing. Aku kurang tahu," jawab Cai Hong.

"Adik, apa yang harus kita lakukan?" tanya Fang Li.

Yu Jie menyesap teh perlahan. Gerakannya sangat anggun seolah tak ada ketakutan di sana.

"Cai Hong, lakukan saja seperti yang diperintahkan oleh nyonya Bai!" seru Yu Jie.

"Tapi kak ..."

Fang Ling melirik Cai Hong. Dia tidak berani melanjutkan kalimat berikutnya karena ada Cai Hong di sana. Pelayan itu tidak tahu bahwa bekas luka, tanda lahir hitam serta bercak hitam yang mereka miliki memang palsu.

Bagaimana jika nanti di saat mereka tertidur lelap, para suruhan nyonya Bai mendapati kebohongan mereka? Fang Ling khawatir bukan main. Yu Jie menangkap kegelisahan adik bungsunya.

Bukan hanya Fang Ling. Fang Hua, Fang Li, dan nyonya Bai sangat khawatir akan penyamaran mereka. Baru saja mereka mendapat seorang pion, sekarang malah harus berhadapan dengan masalah lain.

"Cai Hong, kau boleh pergi," ucap Yu Jie.

"Maaf tabib Lin, hamba tidak bisa pergi," ucap Cai Hong.

"Hamba harus menyiapkan air mandi untuk tabib Lin beserta keluarga anda," timpal Cai Hong.

Lin Lian melihat keluar jendela. Benar saja, matahari mulai menuju peraduannya.

"Kalau begitu kau siapkan air mandi untuk kamar ibu dan Fang Hua. Oh ya, kau bertugas untuk menemani adik bungsuku tidur setiap malam! Ibu ku akan sekamar dengan kakak kedua. Jadi, cukup empat kamar saja yang disediakan untuk kami," jelas Yu Jie.

"Baik tabib Lin. Hamba akan memberitahu Dai Lu setelah ini," jawab Cai Hong.

"Kalau begitu kau siapkan air mandi untuk ibu dan kakak keduaku lebih dulu," ujar Yu Jie.

"Baik tabib Lin," ucap Cai Hong sambil undur diri.

Sepeninggal Cai Hong, Fang Ling langsung melanjutkan kalimat yang tadi tertunda "Kakak, bagaimana jika nanti kita ketahuan?"

"Bukankah kakak pertama sudah mengajari kita ilmu bela diri," ujar Yu Jie santai.

"Aish, kakak! Aku belum pernah berhadapan dengan seorang penjahat. Apalagi dalam kondisi tertidur. Bisa-bisa belum sempat aku membela diri, penjahat itu sudah melakukan aksinya," balas Fang Ling.

"Nah, untuk itu kita bisa menguji sampai di mana keahlian bela diri yang sudah susah payah kakak pertama ajarkan," balas Yu Jie santai.

"Kakak!" rengek Fang Ling.

"Ling'er turuti saja ucapan kakak ketiga mu!" seru Lin Lian.

Fang Ling mengangguk setuju sambil menggembungkan mulutnya.

"Jie'er, ibu akan melihat kamar ibu dan Fang Hua. Sekaligus bersiap untuk nanti malam," ucap Lin Lian.

"Baik ibu," jawab Yu Jie.

"Kita nikmati saja jamuan makan malam ini. Biarkan musuh bermain lebih dulu," ujar Yu Jie.

Mereka mengangguk setuju. Meski di dalam hati mereka merasa khawatir. Mereka berjalan meninggalkan kamar Yu Jie dalam perasaan bimbang.

Kamar utama milik Yu Jie menjadi hening. Yu Jie bangkit lalu berjalan menuju jendela. Udara di sore hari memang sangat baik untuk ruangan. Yu Jie menatap langit sore dari balik jendela kamarnya.

"Ibu, aku kembali. Bantu aku untuk mengambil kembali semua milik kita," lirih Yu Jie.

Setetes cairan bening luruh dari mata indahnya. Hanya setetes untuk meluapkan rasa rindu pada mendiang ibunya. Yu Jie sudah berjanji tidak akan menjadi gadis manja lagi. Dia harus menjadi wanita kuat agar dapat melewati semua rintangan ini.

"Huang Fang Yin, permainan baru saja dimulai. Aku senang kau selalu memulainya lebih dulu," ucap Yu Jie pelan.

Malam harinya, semua orang berkumpul di aula utama kediaman bagian barat. Fang Yin sengaja memilih aula bagian barat sebagai tempat makan malam mereka.

Alasannya sangat klasik. Hanya karena sudah lama tidak menerima tamu dan kebetulan kediaman bagian barat sudah lama tidak ditempati. Jadi, untuk merayakannya tidak ada salahnya makan malam di aula bagian barat.

Aula itu berubah menjadi tempat makan yang cukup besar. Muat untuk beberapa kepala keluarga. Terlihat nyonya Bai ini sengaja menyombongkan diri. Padahal makan malam hanya di hadiri dua kepala keluarga saja.

Secara kebetulan pula tuan Bai malam ini pulang ke kediamannya. Dua tahun lalu, setelah dia membuang putri kandungnya, Bai Hui Fen selalu menghabiskan waktu di istana.

Alasannya karena banyaknya urusan pemerintahan yang harus dia selesaikan tepat waktu. Tak jarang Bai Hui Fen memilih tinggal di ruang kerjanya di istana. Mengapa Bai Hui Fen bisa mendapat hak istimewa?

Tentu saja karena putri satu-satunya akan menikahi pangeran keempat. Hal ini membuat hubungannya dengan kaisar semakin baik. Pejabat-pejabat di istana juga tidak berani memandang rendah dirinya.

"Apa semua sudah siap?" tanya Fang Yin pada Ji Heng yang mengurus makan malam kali ini.

"Nyonya tenang saja. Semua sudah siap termasuk perintah nyonya," jawab Ji Heng.

"Bagus."

Fang Yin duduk di salah satu meja yang cukup besar. Permukaan meja itu penuh dengan aneka makanan lezat. Dia sengaja duduk di meja yang sama dengan tabib Lin dan keluarganya agar rencananya berjalan lancar.

1
Arbaati
permisi Thor, aku mampir bawa vote
Raudah Anis
thor tambah kan lagi dong up nya
Lismawati
ceritanya semakin seru , dan membuat penasaran lanjuuuuut thor 👍💪💪💪❤️❤️
Maizuki Bintang
lanjut thor
Sianny Lin
Luar biasa
Lismawati
siapakah kedua org itu, apakah yu jie akan mengingatnya ,lanjuuuuut thor semakin penasaran , coba thor tambah satu bab lagi ,beramal di bln Ramadan menyenangkan pembaca
Maizuki Bintang
lanjut thor
Aisyah Suyuti
menarik
diara
ditunggu up nya
kaylla salsabella
lanjut thor 🥰🥰
Lismawati
makasih thor upnya ,lanjuuuut 💪💪💪
Maizuki Bintang
lagi thor
Murni Dewita
double up thor
Nay
👍👍👍
kaylla salsabella
lanjut thor 🥰🥰
Lismawati
makasih upnya thor ,ceritanya semakin seru , semangaaat berkarya 👍💪💪💪💪💪❤️
lisna
lnjut took,mkin seru ceritanya/Kiss//Kiss//Kiss//Rose//Rose/
kaylla salsabella
gak keburu Jiang he
Osie
udah terlambat kaleeee..ji heng ji heng
Hikam Sairi
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!