NovelToon NovelToon
CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / One Night Stand / Duniahiburan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

Di Shannonbridge, satu-satunya hal yang tidak bisa direncanakan adalah jatuh cinta.
​Elara O'Connell membangun hidupnya dengan ketelitian seorang perencana kota. Baginya, perasaan hanyalah sebuah variabel yang harus selalu berada di bawah kendali. Namun, Shannonbridge bukan sekadar desa yang indah; desa ini adalah ujian bagi tembok pertahanan yang ia bangun.
​Di balik uap kopi dan aroma kayu bakar, ada Fionn Gallagher. Pria itu adalah lawan dari semua logika Elara. Fionn menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan kesuksesan di London. Kini, di tengah putihnya salju Irlandia, Elara terperangkap di antara dua pilihan.
​Apakah ia akan mengejar masa depan gemilang yang sudah direncanakan, atau berani berhenti berlari demi pria yang mengajarkannya bahwa kekacauan terkadang adalah tempat ia menemukan rumah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 28 : Bayang-Bayang dari Masa Lalu

Harapan yang baru saja mekar di tepi sungai Shannon saat fajar menyingsing, tiba-tiba terasa layu. Elara dan Fionn baru saja melangkah masuk ke dalam kedai The Crooked Spoon, masih dengan aroma wol "Biru Shannon" yang melekat di pakaian mereka, ketika mereka menemukan pemandangan yang membuat darah mereka membeku.

Di tengah ruangan, duduk seorang pria dengan setelan jas desainer yang terlalu mahal untuk ukuran desa, menyilangkan kaki dengan angkuh sambil menyesap kopi yang jelas-jelas tidak ia pesan. Di sampingnya, seorang pria paruh baya dengan tas jinjing kulit yang kaku menatap jam tangannya dengan raut bosan.

"Cillian," desis Fionn. Tangannya spontan mengepal di samping tubuhnya.

Cillian—pria kaya lokal yang hampir merusak hidup Elara di Malam Natal—mendongak. Senyum simpul yang menjijikkan tersungging di bibirnya. "Selamat pagi, Fionn. Elara. Kalian terlihat... lelah. Apa kalian baru saja menghabiskan malam dengan mencoba menyelamatkan pabrik wol yang sudah mati itu?"

"Apa yang kau lakukan di sini, Cillian? Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menginjakkan kaki di kedaiku lagi," suara Fionn rendah, penuh ancaman yang tertahan.

Cillian berdiri perlahan, merapikan lengan jasnya. "Oh, aku di sini bukan sebagai pelanggan. Aku di sini sebagai korban. Dan ini," ia menunjuk pria di sampingnya, "adalah Tuan Barnaby, pengacara keluarga kami dari Dublin. Kami di sini untuk menyerahkan surat gugatan resmi atas penganiayaan berat yang kau lakukan padaku di Malam Natal."

Elara melangkah maju, menghalangi Fionn yang tampak siap menerjang. "Penganiayaan? Kau yang mencoba melecehkanku, Cillian! Fionn hanya melindungiku!"

Tuan Barnaby, sang pengacara, mengeluarkan sebuah map dari tasnya dan membukanya di atas meja. "Secara hukum, Nona O’Connell, klien saya menderita cedera pada rahang dan trauma psikologis akibat tindakan brutal Tuan Gallagher. Kami menuntut ganti rugi sebesar dua ratus ribu Euro, atau... penutupan segera usaha ini sebagai jaminan sita."

"Dua ratus ribu Euro?!" Elara terpekik. "Itu pemerasan! Kau tahu betul Fionn tidak memiliki uang sebanyak itu!"

Cillian tertawa, suara tawa yang kering dan tajam. "Itulah intinya, Sayang. Karena keluarga Gallagher tidak mampu membayar, maka kedai ini, lahan di belakangnya, dan seluruh hak atas dermaga itu akan beralih ke tangan keluargaku sebagai kompensasi. Dan tebak siapa yang sudah bekerja sama denganku? Julian O’Neill."

Dunia seolah berputar bagi Elara. Ini adalah strategi penjepit. Julian menyerang dari sisi perusahaan, dan Cillian menyerang dari sisi hukum pribadi menggunakan kekayaan orang tuanya.

"Kau licik, Cillian," desis Elara, matanya berkilat penuh amarah. "Kau menggunakan uang orang tuamu untuk menghancurkan hidup orang lain karena kau tidak bisa menerima penolakan."

"Sebut saja ini cara orang kaya bermain, Elara," Cillian mendekat, suaranya merendah agar hanya Elara yang mendengar. "Jika kau meninggalkan Barista miskin ini sekarang dan kembali ke Dublin denganku, aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membatalkan gugatan ini. Fionn akan tetap punya kedainya, dan kau akan tetap memiliki kariermu. Bagaimana, Nona?"

Fionn merangsek maju, mencengkeram kerah baju Cillian hingga pria itu terjungkit dari lantai. "Jangan pernah berani membisikkan racunmu padanya, brengsek!"

"Fionn, jangan! Itu yang dia inginkan!" teriak Elara, mencoba menarik lengan Fionn.

"Tuan Gallagher, lepaskan klien saya sekarang atau saya akan menambahkan pasal percobaan pembunuhan dalam gugatan ini!" ancam Tuan Barnaby sambil mengeluarkan ponsel untuk merekam.

Fionn melepaskan Cillian dengan kasar hingga pria itu tersungkur ke kursi. Dada Fionn naik-turun karena napas yang memburu. "Keluar dari sini. Sekarang. Sebelum aku benar-benar memberikan trauma psikologis yang nyata padamu."

Cillian berdiri, memperbaiki dasinya dengan tangan gemetar namun tetap dengan wajah angkuh. "Satu minggu, Fionn. Jika uang itu tidak ada di meja pengacaraku dalam tujuh hari, ucapkan selamat tinggal pada kenangan ayahmu di dermaga itu. Dan Elara... investor yang kau cari itu? Jangan harap mereka mau menanam modal di tempat yang sedang dalam sengketa hukum pidana."

Mereka berdua melangkah keluar, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam kedai.

Moira, yang sejak tadi mendengarkan dari dapur, keluar dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Ia langsung memeluk Fionn. "Fionn, apa yang harus kita lakukan? Kita tidak punya uang sebanyak itu."

Fionn menggeleng, matanya menatap kosong ke lantai. "Aku tidak tahu, Ibu. Aku pikir kita sudah mulai menang, tapi ternyata mereka menyerang dari lubang yang tidak bisa kututup dengan kopi."

Elara merasa bersalah yang teramat dalam. Semua ini dimulai karena Fionn membelanya. "Ini salahku, Fionn. Jika aku tidak datang ke desa ini, Cillian tidak akan punya alasan untuk menghancurkanmu."

Fionn menoleh pada Elara, ekspresinya melunak. Ia memegang kedua tangan Elara dan menciumnya. "Jangan pernah katakan itu. Menyelamatkanmu dari pria itu adalah hal terbaik yang pernah kulakukan dalam hidupku. Aku lebih baik kehilangan kedai ini daripada membiarkan dia menyentuhmu."

"Tapi kita tidak bisa menyerah begitu saja!" Elara berseru, matanya mulai berapi-api lagi. "Cillian pikir dia bisa menggunakan hukum untuk menindas kita. Tapi dia lupa bahwa aku adalah seorang perencana. Dan seorang perencana tidak hanya menyiapkan satu strategi."

"Apa rencanamu, Elara?" tanya Moira penuh harap.

"Cillian punya pengacara mahal, tapi dia punya satu kelemahan: kesombongan. Dia baru saja mengakui di depan kita bahwa dia bekerja sama dengan Julian. Itu adalah kolusi untuk merugikan kepentingan publik desa. Dan aku... aku akan mencari bukti bahwa perkelahian Malam Natal itu diawali oleh tindakannya yang melecehkanku. Pasti ada saksi. Pasti ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menyerang balik."

...****************...

Malam harinya, suasana di pondok terasa lebih gelap. Fionn duduk di teras, menatap sungai Shannon yang hitam pekat. Biscotti meringkuk di dekat kakinya, seolah merasakan kegelisahan tuannya.

Elara keluar membawa selimut dan menyampirkannya di bahu Fionn, lalu duduk di sampingnya.

"Fionn, aku tidak akan membiarkan mereka mengambil tempat ini darimu," bisik Elara.

Fionn menarik Elara ke dalam pelukannya. "Elara, jika pada akhirnya kita harus kehilangan semua ini... apa kau akan tetap di sini? Tanpa kedai, tanpa proyek besar, hanya bersamaku?"

Elara mendongak, menatap mata biru Fionn yang kini tampak rapuh namun penuh cinta. "Fionn Gallagher, aku tidak mencintai kedai ini karena bangunannya. Aku mencintainya karena ada kau di dalamnya. Kita bisa membangun kedai lain. Kita bisa membangun hidup di mana saja. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka menang hanya karena mereka punya uang."

Fionn mencium bibir Elara dengan penuh kelembutan, sebuah ciuman yang terasa seperti sumpah setia di tengah badai. "Kau adalah keberanianku, Elara. Selama kau ada di sampingku, Julian O’Neill, Cillian dan pengacaranya bisa membawa seluruh pasukan Dublin, aku tidak akan takut."

Namun, di dalam hati, Elara tahu bahwa waktu mereka semakin sempit. Dengan gugatan hukum yang menggantung dan ancaman Julian yang semakin nyata, ia harus segera mewujudkan "Strategi Penyelamatan Pabrik" sebelum segalanya benar-benar runtuh.

Kekayaan Cillian mungkin besar, namun ia belum tahu bahwa seorang wanita yang sedang melindungi cintanya bisa menjadi jauh lebih berbahaya daripada ribuan Euro di bank. Perang hukum telah dimulai, dan Shannonbridge akan menjadi saksi bahwa keadilan tidak selalu bisa dibeli dengan jas mahal dan tas kulit kaku.

...****************...

Di sebuah villa pribadi milik keluarga Cillian yang menghadap ke arah sungai, suasana begitu kontras dengan kedinginan yang dirasakan warga desa. Botol wiski single malt seharga ribuan Euro terbuka di atas meja kaca, berdampingan dengan tumpukan dokumen gugatan terhadap Fionn.

​Cillian menyandarkan tubuhnya di sofa kulit, menyeringai puas ke arah Julian. "Gugatan itu akan mengunci kaki si tukang kopi itu, Julian. Dua ratus ribu Euro? Dia tidak akan bisa mengumpulkannya bahkan jika dia menjual ginjalnya sendiri."

​Julian menyesap wiskinya, matanya menatap tajam ke arah dokumen itu. "Pastikan pengacaramu bekerja dengan bersih, Cillian. Aku butuh sengketa hukum ini tetap panas agar investor Elara mundur teratur. Begitu mereka menarik diri, dermaga itu milik perusahaanku, dan lahan di belakangnya... milikmu."

​"Kesepakatan yang indah," Cillian tertawa, lalu menepuk bahu Julian. "Tapi kau terlihat sangat tegang, sobat. Kau terlalu banyak menghabiskan waktu dengan cetak biru dan ancaman Elara. Sekarang, waktunya untuk sedikit hadiah."

​Cillian menjentikkan jarinya ke arah pintu yang tertutup. Pintu itu terbuka, dan Sinead masuk dengan gaun Jingga ketat yang nyaris tidak menyisakan ruang bagi imajinasi. Wajahnya dipoles sempurna, matanya berkilat penuh ambisi saat melihat dua pria berkuasa di depannya.

​"Julian, perkenalkan Sinead. Dia tahu cara memberikan pelayanan yang... jauh lebih memuaskan daripada segelas wiski," Cillian mengedipkan mata.

​Sinead melangkah mendekat, menuangkan kembali wiski ke gelas Julian dengan gerakan yang sengaja membuat jemarinya menyentuh tangan pria Dublin itu. "Tuan O’Neill terlihat sangat terbebani. Padahal, di Shannonbridge, kami tahu cara membuat pria kota merasa seperti raja," bisik Sinead dengan suara serak yang menggoda.

​Julian merasakan gejolak risih di perutnya. Di matanya, Sinead tak lebih dari sekadar wanita desa yang haus status, jauh dari standar kelas sosialnya. Namun, tekanan dari Tuan Doherty dan perlawanan nekat Elara selama beberapa hari terakhir telah menguras kewarasannya. Ia butuh pelarian. Ia butuh mematikan otaknya sejenak dari angka-angka dan ancaman.

​"Kau sangat percaya diri, Nona," kata Julian dingin, namun ia tidak menarik tangannya saat Sinead mulai membelai pundaknya.

​"Percaya diri adalah keahlianku," sahut Sinead sambil duduk di lengan sofa Julian, napasnya yang beraroma mint menerpa leher Julian. "Lupakan sejenak tentang dermaga dan birokrasi. Biarkan aku membantumu melepaskan ketegangan itu."

​Cillian berdiri sambil membawa gelasnya, memberikan privasi bagi mereka. "Nikmati malammu, Julian. Anggap saja ini investasi awal dari kerja sama kita."

​Julian menatap Sinead—wanita yang rela melakukan apa saja demi berada di lingkaran kekuasaan. Meski hatinya merasa mual karena sebenarnya ia tak sudi menyentuh wanita yang ia anggap "murahan", rasa lelah yang luar biasa akhirnya meruntuhkan pertahanan harga dirinya.

​"Jangan banyak bicara, Sinead," gumam Julian parau sambil menarik pinggang wanita itu mendekat. "Cukup buat aku lupa bahwa tempat ini pernah ada dalam rencanaku."

​Sinead tersenyum penuh kemenangan, merasa telah berhasil menaklukkan pria paling berkuasa yang pernah menginjakkan kaki di desanya, sementara Julian menyerah pada godaan itu hanya sebagai bentuk pelarian dari badai yang ia ciptakan sendiri.

1
Alnayra
👍🏻👍🏻👍🏻 top
d_midah (Hiatus)
ceilah bergantung gak tuh🤭🤭☺️
d_midah (Hiatus): kaya yang lebih ke 'sedikit demi sedikit saling mengenal, tanpa terasa gitu' 🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!