NovelToon NovelToon
Berakhir Atau Bertahan

Berakhir Atau Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Scorpionzs

menceritakan sepasang kekasih yang mau menikah beberapa bulan lagi namun gagal karena suatu kesalahan pahaman , membuat pernikahan yang telah dinanti nanti hancur , membuat keduanya tidak seperti dulu .........

maukah Wanita itu Bertahan dengan sang pria atau Berakhir ................

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpionzs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#32

Langit Rusia – Jet Pribadi Altair

Altair duduk di kursi kulit berwarna hitam, matanya menatap peta holografik yang melayang di udara.

Selene berdiri di sampingnya, mengenakan setelan tempur berwarna gelap dengan lambang ZEROUN di bahu kirinya.

“Markas mereka terletak di bawah tanah,” jelas Selene.

“Sistem keamanan dilengkapi dengan senjata otomatis dan drone pengintai. Pintu masuk utama dijaga oleh setidaknya lima puluh orang bersenjata lengkap.”

Kieran menatap peta itu sambil bersandar di dinding kabin. “Jadi kita hanya perlu membunuh lima puluh orang?”

Selene melirik Kieran dengan tajam. “Dan menonaktifkan sistem pertahanan sebelum kita bisa menembus ruang pusat.”

Lucien menyeringai. “Kedengarannya menyenangkan.”

Altair mengusap gagang pedangnya yang tersarung di punggungnya. “Kita tidak perlu menonaktifkan sistem jika kita bisa menghancurkannya.”

“Masuk dengan kekuatan penuh?” tanya Selene.

“Masuk, bunuh, dan akhiri,” jawab Altair dingin.

Lucien menyeringai. “Aku suka rencana ini.”

Selene mengetik sesuatu di tablet di tangannya. “Aku akan mengatur jalur infiltrasi dan dukungan udara.”

“Bagus,” kata Altair. “Kita berangkat dalam lima belas menit.”

Selene mengangguk dan meninggalkan ruangan.

Kieran mendekat, berdiri di samping Altair. “Kau yakin kita bisa menghadapi ini tanpa masalah?”

Altair menoleh ke arahnya, senyum dingin menghiasi wajahnya. “Aku tidak yakin.”

Kieran mengerutkan dahi. “Lalu?”

Altair berdiri, menatap Kieran dengan tatapan yang begitu dalam hingga membuat napas Kieran tertahan.

“Aku hanya tahu satu hal,” ucap Altair pelan. “Vanya Kruger telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.”

Kieran menyeringai. “Kesalahan apa?”

Altair menarik pedangnya dari sarung. Bilah perak itu berkilauan di bawah cahaya redup kabin, memancarkan aura kematian.

“Menyinggung penguasa dunia.”

•••

Markas Viper’s Fang – Pintu Masuk Utama

Dua penjaga bersenjata berdiri di depan pintu baja raksasa, napas mereka terlihat di udara dingin malam Rusia.

“Merasa aneh?” tanya salah satu penjaga.

“Aneh bagaimana?”

“Sistem radar mendeteksi gerakan di udara, tapi tidak ada sinyal pesawat musuh.”

Penjaga lainnya menyipitkan mata. “Mungkin hanya burung”

BOOM!

Sebuah ledakan menghantam menara pengawas, menghancurkan struktur logam dan menewaskan tiga orang di dalamnya. Alarm berbunyi. Lampu merah berkelap-kelip di seluruh fasilitas.

“SERANGAN!” teriak salah satu penjaga.

Bayangan besar muncul dari dalam asap. Altair melangkah ke depan dengan pedang di tangan, diikuti oleh Kieran dan Lucien yang bersiap dengan senjata terhunus.

Tatapan Altair yang tajam menembus kegelapan, matanya bersinar biru dan merah, kontras yang mematikan.

“Buka pintunya,” perintah Altair.

Penjaga yang tersisa berusaha mengangkat senjata mereka, tetapi dalam sekejap Altair telah bergerak.

Pedangnya menebas udara dan kepala mereka terlepas dari tubuh sebelum sempat menarik pelatuk.

Pintu baja mulai terbuka. Di baliknya, puluhan pasukan Viper’s Fang sudah bersiap dengan senjata terangkat.

Altair memutar pedangnya, darah menetes dari ujung bilahnya ke lantai beton.

“Kita akan menghabisi mereka semua,” ucap Altair dingin.

Lucien menyeringai. “Mari kita mulai.”

Tanpa peringatan, Altair melompat ke depan dan neraka pun dimulai.

•••

Markas Viper’s Fang – Ruang Utama

Darah bercipratan di dinding beton yang dingin. Tubuh-tubuh berseragam hitam tergeletak di lantai, beberapa masih menggeliat dalam sisa-sisa nyawa yang tersisa.

Altair melangkah di antara mayat-mayat itu, bilah pedangnya yang berkilauan meneteskan darah segar. Setiap langkahnya memancarkan aura kematian yang dingin dan mematikan.

Lucien menyeka darah dari wajahnya dengan punggung tangannya, sembari tersenyum liar. “Ini jauh lebih mudah daripada yang kubayangkan.”

“Jangan lengah.” Suara Altair terdengar dingin dan tajam. “Vanya belum muncul.”

Selene muncul dari lorong samping, diikuti oleh Kieran yang masih memegang senapan serbu dengan tenang.

“Aku sudah menonaktifkan sistem keamanan pusat,” lapor Selene. “Tapi ada masalah.”

“Mereka memanggil bantuan?” tanya Kieran.

Selene mengangguk. “Lima helikopter serbu sedang dalam perjalanan ke sini. Kurang dari lima menit.”

Lucien bersiul pelan. “Kita bisa menyelesaikan ini dalam lima menit, bukan?”

Altair tidak menjawab. Tatapannya beralih ke pintu baja besar di ujung ruangan. “Vanya ada di dalam.”

Selene menatap pintu itu dengan serius. “Sistem penguncinya berlapis, butuh waktu untuk membukanya.”

Altair menyarungkan pedangnya di punggung. “Kalau begitu, kita akan membukanya dengan cara lain.”

Kieran mengangkat alis. “Dengan cara apa?”

Altair melangkah ke depan, meletakkan telapak tangannya di permukaan baja dingin itu. Otot-otot di lengannya mengencang, dan dalam sekejap…

CRAAACK!

Pintu baja setebal satu meter itu mulai bergetar. Retakan-retakan muncul di permukaannya, suara logam yang melengking menusuk telinga. Dengan satu dorongan keras, Altair meninju pintu itu.

BOOM!

Pintu baja raksasa itu terlempar ke dalam, menghantam dinding di belakangnya dengan kekuatan dahsyat hingga membentuk kawah.

Asap dan debu memenuhi ruangan. Dari balik bayangan, Vanya Kruger muncul dengan senyum licik di bibirnya.

“Altair Akhtara,” Vanya berbisik, suaranya dipenuhi nada kekaguman yang bercampur penghinaan. “Kau benar-benar datang.”

Altair berjalan masuk dengan langkah pelan. Matanya yang heterochromia menatap Vanya seperti elang yang mengamati mangsanya.

“Aku datang,” jawab Altair pelan. “Untuk menghancurkanmu.”

Vanya menyeringai. Dia mengenakan baju tempur hitam yang diselimuti lapisan pelindung titanium. Di tangannya, dua pisau berlapis titanium berkilat tajam.

“Kalau begitu…” Vanya berbalik, dan di belakangnya muncul puluhan tentara Viper’s Fang dengan senjata terangkat. “Ayo kita lihat siapa yang akan hancur.”

Kieran mengangkat senapannya. “Bersihkan mereka?”

Altair menghunus pedangnya. Tatapannya menajam.

“Bersihkan.”

BOOM!

Lucien bergerak lebih dulu, tubuhnya seperti bayangan yang berkelebat di antara rentetan tembakan. Senapan otomatis di tangannya menyalak, peluru-peluru menghantam kepala dan dada musuh dengan presisi mematikan.

Selene menutup matanya sejenak, lalu dalam hitungan detik, dia bergerak dengan kecepatan mengerikan.

Pisau kembarnya berkilat di bawah cahaya lampu neon, menyayat leher dan tendon musuh dengan gerakan yang halus namun brutal.

Kieran menembakkan granat ke arah kumpulan musuh, menghancurkan mereka dalam ledakan yang mengguncang ruangan.

Dan di tengah kekacauan itu, Altair berjalan lurus ke arah Vanya.

Vanya berlari ke depan, pisaunya terangkat tinggi. Dalam sekejap, dia menyerang dengan kecepatan luar biasa.

CLANG!

Pedang Altair menahan serangan itu dengan mudah. Percikan api meledak saat bilah mereka bertemu.

Vanya menendang ke arah perut Altair, tetapi Altair menangkisnya dengan lutut. Vanya berputar, pisaunya menyapu ke arah leher Altair namun Altair melangkah ke samping dan membalas dengan tebasan cepat.

Vanya nyaris tertusuk, tetapi dia mundur tepat waktu. Nafasnya terengah-engah.

“Cepat sekali,” gumam Vanya.

Altair tidak menjawab. Dia hanya mengangkat pedangnya dan bergerak maju.

Serangan Altair berikutnya begitu cepat hingga Vanya nyaris tak bisa mengikuti. Pisau Vanya terlempar ke udara saat Altair menebas pergelangan tangannya. Vanya memekik kesakitan, darah mengucur dari lukanya.

Altair mencengkeram leher Vanya dan mengangkatnya ke udara. Vanya berusaha meronta, tetapi cengkeraman Altair seperti baja.

“Kau salah karena mencoba menyentuh wilayahku,” bisik Altair dingin. “Sekarang… kau akan membayar harga untuk itu.”

“Silakan,” Vanya terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. “Tapi kau tahu ini belum selesai, bukan?”

Altair menyipitkan mata. “Maksudmu?”

Vanya tertawa pelan. “Kami bukan satu-satunya ancaman. Ada kekuatan yang lebih besar di balik semua ini.”

Tatapan Altair mengeras. “Siapa?”

Vanya tersenyum lemah. “Kau akan tahu… pada waktunya.”

Altair menyipitkan mata. Kemudian, tanpa ragu, dia menghunjamkan pedangnya ke dada Vanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!