Dewi ingat janji-janji manis Arif saat menikah: melindungi dan membuatnya bahagia. Tapi kekeras kepala dan kecanduan judi membuat janji itu hilang – Arif selalu sibuk di meja taruhan, tak mau mendengar nasihat.
Arif punya kakak laki-laki dan adik perempuan, tapi ia dan adik perempuannya paling dicintai ibunya, Bu Siti. Setiap masalah akibat judi, Bu Siti selalu menyalahkan Dewi.
Dewi merasa harapannya hancur oleh kekeras kepala Arif dan sikap mertuanya. Akhirnya, ia harus memutuskan: tetap menunggu atau melarikan diri dari perlakuan tidak adil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Niluh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Pelukan yang Menenangkan Hati"
Dewi menatap nama yang muncul di layar teleponnya dengan mata yang sedikit mengembang—“Ibu” tulisannya jelas terlihat di antara daftar kontak yang tidak banyak. Dia melihat ke arah Arif yang masih berdiri dengan wajah penuh rasa penasaran, kemudian menjawab panggilan dengan suara yang sedikit lebih lembut dari biasanya. “Ibu… apa ada masalah?”
Suara Ibu Dewi yang tenang namun penuh perhatian terdengar dari sisi lain telepon. “Hai sayangku Dewi… tidak ada masalah apa-apa. Cuma aku merindukanmu saja. Sudah lama kamu tidak pulang ke rumah. Bolehkah kamu datang kesini sebentar? Aku ingin melihatmu dan berbicara denganmu tentang beberapa hal.”
Dewi terdiam sejenak, melihat sekeliling rumah kecil yang sudah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa tahun terakhir. Dia merasa ada sesuatu yang membuat hati nya sedikit terasa hangat—rasa rindu yang sudah lama tidak terasa terhadap rumah asalnya, terhadap pelukan ibunya yang selalu membuatnya merasa aman. “Baiklah, Ibu. Aku akan pergi sekarang saja.”
Setelah mengakhiri panggilan, Dewi menoleh ke arah Arif yang masih menatapnya dengan pandangan yang tidak jelas. “Itu Ibu saya,” ucapnya dengan suara yang kembali tenang. “Dia ingin saya pulang ke rumah sebentar.”
Arif mengangguk perlahan, kemudian menghela napas. “Baiklah… kamu pergi saja ya. Jangan terlalu lama di sana. Jika ada yang perlu, hubungi aku ya.”
Dewi hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa. Dia masuk ke kamar untuk mengambil baju ganti yang lebih rapi—sebuah baju batik warna biru muda yang pernah dibelikan oleh ibunya—kemudian menyusun tas kecil berisi beberapa peralatan pribadi. Dalam waktu singkat, dia sudah siap untuk pergi. Arif pun mengantar Dewi dengan motor supranya.
Perjalanan pulang ke rumah ibunya tidak terlalu lama. Sebelum Dewi turun dari motor, Arif terdiam sejenak. Rasa kosong yang tiba-tiba menghampiri hatinya membuat dirinya sedikit menggigil, meskipun dia tahu bahwa keputusan mereka sudah pasti. Dia tidak bisa menyembunyikan rasa kehilangan yang mulai meresap di dalam dada, lalu berkata dengan suara yang lembut namun jelas: “Nanti kabari aku kalau sudah selesai ya, Dewi. Aku akan menjemputmu.”
Dewi hanya mengangguk perlahan, kemudian turun dari motor dan menoleh ke arah rumah yang sudah ia kenal sejak kecil. Di halaman yang rapi dan ditumbuhi tanaman bunga kamboja, dia melihat ibunya sudah berdiri menunggunya dengan pandangan penuh harapan. Ibu Dewi mengenakan daster warna merah bata dengan motif bunga mawar yang mencolok, rambutnya yang sudah mulai berpucat rapi disanggul di belakang kepala. Wajahnya yang sudah mulai menunjukkan garis-garis usia akibat usia dan kerja keras tetap terlihat hangat dan penuh kasih sayang.
“Dewi sayang… kamu sudah datang ya!” ucap Ibu Dewi dengan suara yang penuh kebahagiaan, segera mendekati dan membungkus Dewi dengan pelukan hangat. Dewi merasakan bagaimana tubuhnya yang dulu sering merasa kaku dan tegang kini mulai rileks di pelukan ibunya. Ia menutup mata sejenak, menikmati rasa aman yang hanya bisa ia dapatkan dari ibunya.
Mereka masuk ke dalam rumah yang nyaman dan penuh dengan aroma khas rumahnya dan bunga kamboja yang tumbuh di halaman belakang. Ibu Dewi segera memasangkan secangkir teh jahe hangat dengan kue pukis yang sudah ia buat sendiri. Mereka duduk di teras rumah yang teduh, di mana angin sepoi-sepoi terus menerpa wajah mereka.
“Bagaimana kabarmu, sayang?” tanya Ibu Dewi dengan pandangan yang penuh perhatian, menatap wajah Dewi yang tetap terlihat tenang namun sedikit pucat. “Aku sudah lama tidak melihatmu. Kamu kurus ya. Apakah kamu makan dengan teratur di sana?”
Dewi mengangguk perlahan sambil mengambil secangkir teh jahe dan meminumnya dengan pelan. “Aku baik-baik saja, Ibu. Makan juga teratur. Cuma kadang-kadang aku lebih sibuk membuat kue untuk dijual agar bisa menutupi kebutuhan harian.”
Ibu Dewi menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan ekspresi kesedihan yang dalam. “Aku tahu kamu selalu kuat dan mandiri, Dewi. Tapi kamu juga harus merawat dirimu sendiri ya. Aku sudah dengar kabar dari beberapa orang tentang apa yang terjadi di rumah mertuamu. Ada isu yang beredar di luar—bahwa kamu ingin bercerai dengan Arif dan mertuamu tidak menyetujuinya dengan cara yang cukup ekstrem.”
Dewi terdiam sejenak, kemudian mulai menceritakan semua kejadian dengan sangat jelas dan detail—mulai dari pertemuan di rumah Bu Siti, bagaimana Bu Siti mengangkat bicara tentang perceraian, pertengkaran yang terjadi, hingga ketika Bu Siti mengambil pisau dan mengancam untuk bunuh diri. Ia juga menjelaskan bagaimana Arif sering menyembunyikan uang dari permainan kartu dengan mengatakan itu bonus kerja, bagaimana ia sering tidak memberikan nafkah yang cukup, dan bagaimana Bu Siti selalu membela anaknya tanpa pernah mendengar sisi cerita Dewi.
Selama mendengarkan cerita Dewi, wajah Ibu Dewi mulai menunjukkan ekspresi kemarahan yang jelas. Kedua tangannya yang diletakkan di atas meja mulai menggenggam erat. “Betapa tidak adilnya mereka padamu, sayang!” ucapnya dengan suara yang sedikit meninggi namun tetap terkendali. “Kamu sudah menjadi istri yang baik dan sabar, namun mereka tidak menghargainya sama sekali. Bahkan sampai melakukan hal yang ekstrem seperti itu hanya untuk menghalangi kamu untuk mendapatkan kebebasan yang kamu inginkan!”
“Tidak apa-apa, Ibu,” ucap Dewi dengan suara yang tenang, menjemput tangan ibunya dan memegangnya dengan lembut. “Aku sudah terbiasa dengan semua itu. Untukku, semua itu hanya bagian dari hidup yang harus aku lalui.”
Ibu Dewi menggelengkan kepalanya, kemudian mengusap-usap tangan Dewi dengan penuh kasih sayang. “Aku tahu kamu kuat, Dewi. Tapi kamu juga harus tahu bahwa kamu tidak sendirian dalam menghadapi semua ini. Meskipun aku tidak setuju dengan keputusanmu untuk bercerai pada awalnya—karena aku selalu berharap kamu bisa hidup bahagia dengan suamimu—tapi sekarang aku mengerti mengapa kamu harus membuat keputusan itu.”
Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum melanjutkan berbicara dengan nada yang lebih tenang dan penuh kebijaksanaan. “Namun sayang, meskipun mereka telah melakukan banyak hal yang tidak benar padamu, aku ingin kamu tetap menjadi orang yang baik dan sopan. Jangan biarkan kemarahan dan rasa tidak adil membuat hatimu menjadi kotor. Jadilah orang yang baik bukan karena mereka layak mendapatkan kebaikan itu, tapi karena itu adalah sifat yang sudah ada dalam dirimu.”
Dewi mengangguk perlahan, matanya mulai terisi oleh air mata yang menetes perlahan di pipinya. Ini adalah pertama kalinya dia menunjukkan emosi yang jelas setelah sekian lama menyembunyikannya di balik wajah yang kosong. “Aku akan coba, Ibu. Aku akan tetap menjadi orang yang baik seperti yang Ibu ajarkan padaku.”
Ibu Dewi segera membungkus Dewi dengan pelukan yang erat dan hangat. Dia mencium dahi Dewi dengan penuh kasih sayang, sementara air mata juga mulai mengalir di pipinya. “Aku bangga padamu, sayangku. Kamu adalah anak yang kuat dan baik hati. Tidak peduli apa yang terjadi nanti, rumah ini akan selalu menjadi tempat kembali bagimu. Aku akan selalu ada di sini untukmu, tidak peduli apa yang terjadi.”
Dewi mengangguk dengan erat, merasakan bagaimana semua beban yang telah ia pikul selama ini mulai sedikit terangkat dari pundaknya. Di pelukan ibunya, dia merasa seperti anak kecil yang lagi-lagi merasa aman dan terlindungi. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, dia merasa bahwa hidupnya tidak selalu harus penuh dengan kesusahan dan kelelahan—bahwa ada orang yang benar-benar mencintainya dan menghargainya apa adanya.
Mereka tetap saling berpelukan di teras rumah itu selama beberapa saat, menikmati keheningan yang penuh dengan cinta dan kedamaian. Sinar matahari yang mulai meredup menyinari mereka dengan lembut, seolah memberikan penghiburan dan harapan bahwa masa depan yang lebih baik sedang menantinya di kejauhan.