Citra tak pernah menduga akan terjerat asmara dengan mantan kakak iparnya, Bima. Bima adalah kakak tiri Bayu, mantan suami Citra.
Rumah tangga Citra dan Bayu hanya bertahan selama dua tahun. Campur tangan Arini, ibu kandung Bayu membuat keharmonisan rumah tangga mereka kandas di tengah jalan.
Akankah Citra menerima Bima dan kembali masuk dalam lingkungan keluarga mantan suaminya dulu? Bagaimana juga reaksi Bayu juga Arini ketika mengetahui Bima menjalin asmara dengan Citra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon REZ Zha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Save Nomer Saya!
Citra tak menyangka akan bertemu dengan Bima. Mantan kakak iparnya itu memang jarang bertemu dengannya dulu. Selama menikah dengan Bayu, bisa dihitung dengan jari beberapa kali mereka bertemu dan dia sendiri tak terlalu akrab dengan Bima.
Menurutnya, Bima terlalu introvert dan terkesan dingin. Sehingga ia jarang berinteraksi dengan kakak tiri dari mantan suaminya itu.
"Kamu sudah lama bekerja di PT Vista Ceramics?" tanya Bima pada Citra ketika mereka sudah sama-sama duduk.
"Sudah delapan tahun," jawab Citra. Citra memaklumi Bima tidak tahu dirinya bekerja di perusahaan itu karena mereka jarang bertemu dan berinteraksi.
"Sebelum menikah dengan Bayu?" tanya Bima terkejut, "Saya tidak tahu kalau kamu bekerja di sana," sambungnya.
"Iya, Mas. Ummm, maaf, Pak." Merasa canggung, Citra mengganti panggilan pada Bima.
"Panggil saja seperti biasa." Namun, Bima menolak Citra memanggilnya 'Pak'.
Citra menunduk malu dan mengangguk pelan. Dia tak berani menatap Bima apalagi Liza, karena atasannya itu pasti sedang tersenyum meledeknya.
"Pak Arga baru tahu Citra kerja di Vista Ceramics? Kalau tahu dari dulu, mungkin saya akan ajak Citra bukan Erwin." Liza ikut nimbrung dalam percakapan antara Citra dan Bima.
Bima menarik tipis sudut bibirnya merespon ucapan Liza tadi. Namun, tatapannya masih mengarah pada orang yang sedang dia ajak bicara.
"Apa kamu sudah menikah lagi?" Tiba-tiba saja Bima menanyakan hal privasi pada Citra.
Citra mengangkat kedua alisnya hingga kedua bola mata indahnya melebar. Tak menyangka akan ditanya seperti itu oleh Bima, padahal selama dia mengenal Bima, pria itu adalah orang yang sangat irit bicara. Apalagi hal itu ditanyakan Bima bukan di tempat dan waktu yang tidak tepat, karena mereka sedang mengadakan pertemuan untuk membahas masalah pekerjaan.
"Ummm, saya belum berpikir ke sana. Ingin fokus cari uang untuk membiayai ibu dan kuliah adik saya." Citra menjelaskan keputusan yang tak pernah berubah, sama seperti ketika ia menikah dengan Bayu dulu. Secara tidak langsung dia ingin menyindir Bima, karena Bima adalah keluarga Bayu. Citra kesal, dia dilarang bekerja tapi Bayu dilarang menafkahi orang tua serta adik Citra oleh Arini, mama tiri Bima.
"Sambil cari-cari jodoh, Pak Arga. Mungkin Pak Arga punya kenalan yang sedang cari pendamping, bisa dikenalkan sama Citra, siapa tahu berjodoh." Liza melontarkan ucapan yang membuat semburat merah seketika mewarnai pipi Citra, karena malu.
"Ibu ..." Citra mendelik dan menegur atasannya karena dirinya ditawarkan-tawarkan seperti tadi.
"Eh, siapa tahu, Cit." Liza tertawa kecil tak merasa bersalah dengan ucapannya itu.
"Apa kamu menyimpan nomer saya?" tanya Bima seraya meraih ponselnya yang ia taruh di meja.
Citra menggelengkan kepala pelan. Dia malu karena telah menghapus nomer orang-orang yang berhubungan dengan mantan suaminya, termasuk Bima. Lagi pula dia jarang berinteraksi dengan Bima, untuk apa juga dia simpan nomer pria itu.
"Ketik nomermu!" Bima menyodorkan ponselnya pada Citra, menyuruh Citra menyimpan nomer ponsel di selularnya.
Citra terperanjat dengan sikap Bima yang memintanya menyimpan nomer HP-nya di ponsel Bima, sampai dia menoleh bingung pada Liza. Dia tidak tahu untuk apa Bima meminta nomer ponselnya? Dia sudah memutuskan tak ingin menjalin komunikasi dengan keluarga mantan suaminya. Jika urusan pekerjaan, dia hanya sementara menggantikan Erwin menemani Liza. Lagipula Bima pasti menyimpan nomer Erwin dan Liza.
"Save saja nomer kamu, Cit! Siapa tahu Pak Arga ada perlu sama kamu." Liza mendukung Citra memberi nomer ponsel pada Bima, karena ia menganggap itu hal yang menguntungkan untuk kerjasama kantornya dengan kantor Bima.
Citra akhirnya meraih ponsel Bima dan mengetik nomer yang ia gunakan selama ini dan menyerahkannya kembali pada Bima.
"Saya misscall di nomer kamu. Save nomer saya!" Kalimat yang diucapkan Bima bagaikan perintah yang wajib dijalankan oleh Citra, hingga membuat wanita itu mengambil ponselnya yang berdering dalam tas dan menyimpan nomer Bima yang masuk ke dalam ponselnya.
Setelah berbasa-basi cukup lama, mereka kini fokus membicarakan kerja sama antara dua perusahaan.
Bima bekerja sebagai kepala bagian pemasaran di perusahaan development dan perusahaan Vista Ceramics menawarkan produknya agar digunakan dalam bangunan yang akan dikerjakan oleh perusahaan development Bima.
***
Kurang lebih satu setengah jam pertemuan Citra dan Liza bersama Bima berlangsung. Setelah dirasa semuanya sudah mencapai kesepakatan, mereka berdua berpamitan pada Bima dan kembali ke kantor.
"Hubungan kamu dengan Pak Arga dulu gimana, Cit? Dia sampai nggak tahu kamu kerja di Vista?" Dalam perjalanan kembali ke kantor, Liza menanyakan kedekatan Citra dengan mantan iparnya, karena Bima sampai tidak tahu di mana Citra bekerja, padahal pernah menjadi adik iparnya. Begitupula sebaliknya. Citra tidak tahu kalau Arga, Chief Marketing Officer yang menjadi relasi bisnis Vista Ceramics adalah kakak tiri dari Bayu.
"Saya jarang bertemu dan berkomunikasi dengan Pak Arga, Bu," jawab Citra.
"Mas Bima, Cit! Pak Arga 'kan nggak mau dipanggil Pak sama kamu. Maunya dipanggil Mas, Mas Bima. Ouww ..." Liza meledek Citra kembali. Dia pun tertawa lepas mengingat moment ketika Bima meminta Citra tetap memanggilnya dengan sebutan Mas.
"Apaan, sih, Bu!?" Sungguh, rasanya malu sekali diledek atasannya itu.
"Eh, kayaknya Pak Arga itu tertarik sama kamu, lho, Cit. Saya perhatikan tadi, beberapa kali Pak Arga curi-curi pandang sama kamu. Wah, kayaknya bakalan ada asmara dengan mantan ipar, nih." Liza memang beberapa kali menangkap tatapan mata Bima yang memperhatikan Citra secara diam-diam ketika mereka menikmati makan siang.
"Ibu ada-ada aja, deh! Mana mungkinlah, Bu. Masa balik lagi sama mama mertua itu? Kayak nggak ada mama mertua yang lain saja." Citra akhirnya ikut tertawa menanggapi dugaan Liza.
"Tapi, apa benar kalian jarang berkomunikasi?" Liza makin penasaran.
"Ummm, ya memang begitu, Bu. Pak Arga itu kakak tiri Bayu dan nggak tinggal di rumah papanya. Jadi jarang datang ke rumah. Pak Arga juga jarang bicara saat kami bertemu. Saya pikir dia itu orang yang introvert. Banyak bicara dengan adik perempuannya saja, hasil pernikahan papanya dengan mamanya Bayu." Citra menjelaskan, mengapa dia tak banyak berkomunikasi dengan Bima.
"Oh, jadi dari pernikahan papanya Pak Arga dengan mamanya Bayu itu ada anak?" Liza makin tertarik mengetahui soal keluarga Bima.
"Iya, Bu. Anak perempuan. Sekarang ini udah kuliah kayaknya, soalnya terakhir sebelum saya bercerai dia kelas sebelas," sahut Citra.
"Kelas sebelas itu kelas berapa?" tanya Liza yang tak paham dengan penggunaan urutan kelas jaman sekarang.
"Kelas dua SMA, Bu," jawab Citra dengan tertawa, karena dia pun sering bingung sampai berhitung dulu jika ada yang menyebut urutan kelas SMP dan SMA
"Owalah, bikin bingung saja." Liza menggeleng-gelengkan kepala. "Jadi mamanya Bayu itu masih tinggal di rumah papanya Pak Arga karena ada anak, toh?" tanyanya kembali membahas soal hubungan antara Bima dan Bayu.
"Iya, Bu," balas Citra.
"Hubungan Pak Bima dengan mama tirinya itu gimana, Cit? Baik kah atau selalu bersitegang kah?" Liza sudah seperti wartawan merangkap detektif saat bertanya-tanya.
"Biasa saja sih, Bu. Nggak terlalu akrab, tapi juga nggak musuhan," sahut Citra menjelaskan yang ia ketahui selama menjadi istri Bayu.
"Kalau gitu, seandainya kamu sama Pak Arga, berarti mama tirinya itu nggak akan banyak ikut campur, dong!? Aman dong kalau gitu, Cit. Saya dukung, deh. Kalau Pak Arga suka sama kamu, Cit." Liza bersemangat sekali ingin menjodohkan Citra dengan Bima.
"Ibu, iiihh ..." Citra mendelik, tanpa dia sadari rona merah mulai menghiasi wajahnya saat ini.
♥️♥️♥️
Bersambung ....
woooooy kamu itu udah mantaaan yaah
mantan buang pada tempatnya
tempat nya tong sampah
semoga bima sama citra tdk terpengaruh...
sepicik itu pikiran Arini terhadap Citra?
Ayo Bima lindungi Citra dari niat jahat Arini
kamu emang the best