NovelToon NovelToon
PENGGANTI 100 HARI

PENGGANTI 100 HARI

Status: sedang berlangsung
Genre:Duniahiburan / Pengantin Pengganti / Obsesi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:885
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Kalista putri

Amara yang tidak percaya pernikahan lagi, kini tiba-tiba ada seorang yang menawarkan pernikahan sebagai pengganti 100 hari tanpa iya duga ternyata dia adalah pria yang pernah menolong nya pria yang selalu dia anggap lemah dan bodoh.

Dalam pernikahan itu kedua nya saling membantu dalam karir dan kekeluargaan walaupun di penuhi dengan saling mengejek dan perdebatan, hingga tepat di hari ke 100, Amara yang di jebak oleh musuhnya meminum obat terlarang dan membuat mereka melakukan hubungan suami istri yang tidak ada dalam pikiran nya, rasa cinta yang baru mulai di sadari justru malah berakhir dengan rasa kecewa karena adiknya sadar dari koma nya.

konflik semakin banyak rahasia masa lalu mulai terungkap saat mantan suaminya mengejarnya, di tambah masalah tentang identitas Amara yang menjadi ancaman bagi nya, siapa kah sebenarnya Amara dan Rahasia Apa yang di sembunyikan mantan suaminya?

Apakah Amara akan memilih kembali dengan sang mantan atau justru malah memilih suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Kalista putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan yang belum usai

Amara yang sudah mendapatkan informasi dan melacak dalang tersebut merasa geram, karena pelaku nya adalah Laura, karena buktinya belum cukup banyak jadi keduanya memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu dan tetep biasa saja, walaupun sesekali harus waspada sampai bukti terkumpul, karena Laura gak mungkin nyerah gitu aja.

Siang itu Amara bekerja seperti biasanya, melupakan tentang kejadian semalam untuk sejenak. Namun di tengah pikiran yang menumpuk dengan pekerjaan, Adara gadis kecil itu tiba-tiba muncul dengan segala keceriaannya.

Amara yang melihat gadis itu langsung berjalan mendekat, lalu menyuruh nya untuk duduk karena kebetulan sudah jam istirahat.

"Kenapa kamu ke sini lagi?" tanya Amara menatap Adara dengan heran.

"Aku bawakan Tante makan siang, kebetulan Aku di bawain bekal, tapi sepertinya kebanyakan," jawab gadis Kecil itu beralasan, padahal itu semua ulah Arnav yang bersembunyi di balik pintu, Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain memantau mantan istrinya dari jauh, dan memanfaatkan kedekatan putri nya.

"Tapi.."

"Tante gak suka yah?" potong gadis kecil itu saat Amara hendak menolak, matanya berkaca-kaca.

"Baiklah,Tante makan, jangan menangis,Oke," putus Amara pada akhirnya,

"Gimana masakan Ayah ku?" tanya Adara dengan antusias, saat Amara menyuapkan makanan itu ke mulutnya.

Wanita itu terdiam sejenak, sambil mengingat masakan itu, itu adalah masakan yang dulu setiap hari iya makan, apa lagi saat hamil mantan suami nya pasti selalu memasakkan khusus untuk nya.

"Tante? Bagaimana tidak enak yah?" tanya Adara membuyarkan lamunan Amara.

"E-enak kok," jawab Amara dengan terbata-bata.

"Kalo enak, di habiskan yah," titah Adara dengan antusias.

"Tante, kejebak nih, harus nya Adara yang habisin, dong," kelakar Amara, sambil menyuapkan makanan ke mulut Adara membuat mulut Adara penuh.

lalu kedua nya makan dengan lahap, penuh senyum dan tawa, hal itu membuat Arnav ikut tersenyum di balik pintu.

Amera yang melihat itu menjadi geram sendiri, Dia merasa ada yang tidak beres, biasa nya Amira tidak sedekat itu dengan Adara dan gara-gara itu Adara jadi berubah sikap padanya, terutama Arnav yang semakin dingin.

Hingga sore hari nya Amera, yang merasa kesal langsung menyergap Amara, yang sedang berjalan ke arah parkiran mobil dan menarik nya ke lorong sepi.

"Apaaa sih? Kurang kerjaan banget narik-narik orang!" ketus Amara dengan kesal.

"Amira, kamu tahu kan? Aku mencintai kak Arnav, Aku sudah berusaha keras untuk mendapatkan hati Adara? Kenapa kamu dengan mudahnya merebut itu sih?" ucap Amera panjang lebar, menatap Amara dengan penuh peringatan.

"Karena hati mu itu busuk, penuh cara licik, apa yang bukan milik mu, gak akan bisa menjadi milik mu, sekalipun kau berusaha sekeras apapun," jawab Amara dengan dingin, sorot mata nya penuh dendam dan kebencian.

"Amira, kau biasa nya gak gini," Amara yang mendengar itu merasa tidak terima dengan ucapan sepupunya itu, Dia merasa heran karena Amira gak pernah berucap setajam itu.

"Rupanya sekarang, kau sudah berubah jadi bodoh yah. Amera, Aku tidak lupa dengan apa yang kau perbuat, hukum harus ditegakkan, suatu hari nanti, ku pastikan kau mendapatkan balasan nya," bisik Amara panjang lebar, dengan penuh peringatan, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Amera yang merasa terkejut.

"I-itu Dia, Amara sudah kembali," gumamnya dengan terbata-bata, mencoba untuk mencerna semua hal yang di bicarakan tadi, Dia merasa kehilangan berita, seolah lupa dengan semua nya karena dunia nya terlalu fokus dengan mengejar Arnav yang selalu gagal.

Sedangkan Amara yang sudah berada di parkiran mobil merasa terkejut, saat melihat Glen sudah berada di parkiran mobil.

"Kenapa di sini?" tanya Amara menatap Glen dengan heran.

"Tentu menjemput mu, kamu kan gak bawa mobil," jawab Glen sambil tercengir, membuat Amara menanggapi nya dengan dingin tanpa ekspresi seperti biasanya.

Amara pun langsung masuk ke dalam mobil Glen, lalu duduk di samping kemudi, begitu pula dengan Glen yang langsung masuk dan menyalahkan mesin mobil.

"Nanti mau makan apa?" tanya Glen mencairkan suasana.

"Pelayan di rumah lagi libur, gak ada orang di rumah, jadi nanti Aku mau masakin," lanjut Glen karena Amara diam saja.

"Terserah, asal jangan makanan laut," jawab Amara singkat.

"Kenapa dingin gitu sih? Padahal kalo senyum manis," Glen mendekat ke arah Amara, membuat wanita itu mendelik tajam.

"Lo, mau mati yah!" bentak Amara membuat Glen langsung fokus ke depan, karena tiba-tiba ada mobil yang hendak menabrak mobil nya, jika Glen tidak sigap menghindar terjadi kecelakaan.

"Hampir saja," ucap Glen menghela nafas panjang.

"Lo, sekarang lagi di incar, usahakan jangan ceroboh." Amara berucap tapi matanya fokus ke depan.

"Jadi tadi juga?" Tanya Glen yang merasa tidak percaya.

"Lo terlalu santai, Sedangkan Laura, terlalu licik dan penuh tipu muslihat, jadi secepatnya, kita harus bergerak cepat," jawab Amara santai, namun penuh peringatan.

"Mobil belakang, mengejar kita," lanjut nya yang membuat Glen menoleh ke belakang, benar saja mobil itu sengaja mengejarnya.

Dengan berusaha keras, Glen mengendarai mobil nya dengan cepat, namun mobil belakang nya lebih kalah cepat malah sengaja menabrak mobil nya.

"Mundur ke belakang, biar Gue ambil alih," ucap Amara yang melihat, tangan Glen sudah gemetar.

Pria itu langsung menurut, kemudian Amara langsung tancap gas gitu aja, namun mobil belakang tidak tinggal diam dia terus mengejar, kebetulan jalanan saat itu cukup sepi jadi tidak menggangu pengendara lain, seperti sudah di rencanakan.

"My Istri, Gue gak mau mati muda," teriak Glen sambil berpegangan pada atas mobil, Dia masih trauma dengan kecelakaan yang lalu, terlebih Amara mengendarai dengan ugal-ugalan.

"Plesetan dengan semua ini.Glen, tutup kepala dengan bantal, Gue mau melakukan sesuatu," perintah Amara yang merasa kesal, pada akhirnya Dia memilih untuk menabrakan mobil nya tepat di pohon besar.

"Haaaah, jangan nekat, jangan gila," teriak Glen yang sudah ketakutan sambil menutup kepalanya dengan bantal sesuai perintah Amara.

Braaaak..

Terdengar suara mobil menabrak, membuat Glen membuka mata perlahan, Dia mengintip ke sekeliling, bahwa dirinya masih hidup.

Sedangkan Amara buru-buru turun, lalu menatap mobil hitam yang tadi mengejarnya, mobil itu melesat begitu saja, membuat Amara langsung bergegas memotret plat mobil itu.

"Awas saja, kalau sampai ketahuan pelakunya, Laura lagi," geram Amara dengan penuh dendam.

"Turun Lo, banci bangeet jadi cowok," Geram Amara mengetuk kaca mobil, karena Glen tidak segera turun, karena kemungkinan mobil itu bisa saja meledak.

"Maaf, Aku takut banget tadi," jawab Glen sambil tercengir.

"Mobil baru ku, rusak lagi," keluh Glen melihat mobil yang baru di beli seminggu yang lalu sudah rusak begitu saja.

"Mobil bisa di beli berapapun , tapi nyawa gak bisa," ketus Amara yang langsung berjalan ke arah Taxi, membiarkan mobilnya nanti di urus oleh anak buahnya saja.

"Serius, Aku di tinggal," keluh Glen saat taxi itu melesat begitu saja.

"Cepet buruan naik, makanya," perintah Amara yang akhirnya menyuruh supir Taxi itu mundur, karena merasa tidak tega juga.

Glen pun segera naik, takut istri nya berubah pikiran, sepanjang perjalanan itu, kedua nya larut dalam pikiran nya masing-masing, hingga akhirnya mobil sudah sampai di depan Gerbang rumah Glen.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!