Siapa sangka tulisan dongengnya yang ia tulis diblog, menjadi penolong seorang remaja yang tengah putus asa. Sejak saat itu Jiva Arunika menjadi sahabat online Kai Gentala Bhalendra, akankah hubungan keduanya berlanjut hingga ke dunia nyata?
Cerita selengkapnya hanya di novel Sang Pendongeng ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32 - Ternyata Dia...?
Satu tangan Kai menggenggam erat jemari Cempaka, sementara tangan yang lainnya memegang stir kemudi. Kai begitu lega setelah berziarah ke makam ayahnya, sudah lama sekali ia menantikan hari ini.
Kai memutar lagu Fur Elise karya Beethoven untuk menemani perjalannya bersama Cempaka, lagu kesukaan almarhum ayahnya. "Nenek masih ingat lagu ini?" tanyanya.
"Tentu saja. Mana mungkin Nenek lupa, Ayahmu paling sangat suka dengan lagu ini dari semua karya Beethoven. Dia sangat suka sekali jika Gita memainkan lagu ini," ujar Cempaka.
"Jadi piano itu milik Gita?" Sejak kemarin Kai sudah penasaran dengan keberadaan piano di kediaman eyangnya, rupanya piano tersebut milik Gita.
Cempaka mengangguk. "Itu adalah hobbynya sejak kecil. Dia bahkan sering jadi pengiring dalam acara-acara pernikahan atau pesta lainnya, dari penampilannya itu dia mengumpulkan uang sedikit demi sedikit sampai kita bisa pindah di tempat yang sekarang. Anak itu sungguh pekerja keras dan sangat berbakti," puji Cempaka yang begitu menyayangi dan mengagumi Gita.
"Hobby?" gumam Kai, seingatnya Sang Pendongeng tak menceritakan kemeran lainnya selain menulis cerita. "Apa Nenek tahu jika Gita suka menulis, bahkan dia punya blog yang memuat seluruh tulisannya?"
"Tidak. Anak itu tidak pernah menulis apapun..." Cempaka langsung menutup mulutnya ketika teringat akan cerita Gita bahwa dia menggantikan peran Jiva Sang Pendongeng. "Maksud Nenek. Nenek tidak pernah membuka internet jadi Nenek tidak tahu jika dia menulis di internet. Tapi Nenek pernah melihat dia mengetik di laptopnya..." Yang kemungkinan tulisan itu hanyalah tugas kuliah atau laporan pekerjaan Gita.
"Ngomong-ngomong kita mau kemana?" Cempaka langsung mengalihkan pembicaraan, ia menoleh ke kanan dan kekiri melihat jalanan yang bukan mengarah ke kediamannya.
"Kerumahku. Aku ingin Nenek mengunjungi tempat tinggalku, nanti aku akan buatkan sup hangat untuk Nenek."
"Tidak!" tolak Cempaka. "Nenek tidak ingin bertemu ibumu, apalagi pria yang telah menghancurkan keluargamu."
Kai tersenyum menatap Cempaka sekilas sembari menepuk ringan lengan neneknya. "Tenanglah, Nek. Aku sudah tidak tinggal dengan mereka, sekarang aku tinggal di apartemen sendiri. Jadi Nenek dan Gita bisa main kapanpun kalian mau."
"Benarkah?" Cempaka senang karena akhirnya cucunya bisa lepas dari Mutiara, si wanita paling jahat menurutnya.
Kai mengangguk meyakinkan jika ia sudah tidak tinggal dengan ibu dan ayah sambungnya. Di tengah perjalanan mereka menuju apartemen, tiba-tiba saja clientnya menghubunginya. Kai langsung mengenakan earphone dan mengangkat panggilan itu.
Hening sejenak, Kai mendengarkan lawan bicaranya sembari mengerutkan keningnya. "Saya sudah meminta Roy menggantikan saya meeting di perusahaan Bapak. Seharusnya dia sudah datang satu jam yang lalu," ujar Kai sambil melihat jam di pergelangan tangannya. "Saya akan menghubunginya untuk mencari tahu, nanti Saya akan kabari lagi. Maaf atas keterlambatannya." Kai pun mengakhiri pembicaraan, lalu menghubungi staffnya.
"Dimana kau?" tanya Kai.
"Maaf Pak Gema, saya masih ada di depan kantor, tadi ada dokumen yang ketinggalan jadi putar arah kembali ke kantor. Tapi begitu sampai di kantor, saya tidak bisa masuk karena ada baku hantam antara pendemo dan tim keamanan. Masa semakin banyak berdatangan, pintu utama dan pintu samping di penuhi masa dan para wartawan," terang Roy dari sebrang telepon.
"Pendemo? Ada masalah apa memangnya?" tanya Kai penasaran.
"Dari yang saya dengar mereka menuntut soal ganti rugi tanah, dan masalah pekerja yang berhentikan."
"Terima kasih atas informasinya. Aku akan cari cara untuk segera mengatasinya," Kai mematikan sambungan teleponnya.
"Apa ada masalah?" tanya Cempaka yang ikut merasa cemas mendengar percakapan Kai.
Kai berusaha tenang dan tersenyum pada neneknya. "Ada pendemo di depan kantorku, tapi aku sendiri belum tahu pasti apa akar masalahnya." ia menggenggam erat tangan Cempaka. "Nenek tak perlu ikut cemas, kita akan tetap ke apartemenku."
"Lalu bagaimana dengan orang-orang yang berdemo di kantormu?"
"Aku akan suruh orang untuk menyelesaikannya," jawab Kai santai.
Cempaka langsung memukul lengan cucunya. "Mana bisa begitu. Kau pimpinannya kan?" tanyanya kesal. "Kau harus bertanggung jawab menyelesaikannya, datang dan hadapi mereka, jangan seenaknya nyuruh-nyuruh bawahanmu!!"
"Tapi Nek."
"Turunkan Nenek di sini!!" pinta Cempaka dengan nada tinggi.
"Mana bisa aku menurunkan Nenek di jalan."
"Turunkan Nenek," Cempaka berteriak lebih kencang. "Nenek bisa pulang naik angkot, kantormu lebih membutuhkanmu dari pada Nenek. Cepat turunkan Nenek sekarang."
Dengan sangat terpaksa Kai menuruti permintaan neneknya, ia menepikan kendaraannya di pinggir jalan kemudian mencarikan taxi untuknya. Setelah membayar dan memastikan neneknya pergi dengan aman, barulah ia kembali ke kendaraannya dan bergegas menuju kantor.
***
Suasana terlihat tidak kondusif ketika Kai tiba di Maharaja Group, ia berusaha keras menerobos kerumunan, menghindari serangan dari berbagai pihak. Saat hampir berada di depan barisan, Kai reflek menangkap tubuh seorang gadis yang hampir saja terjatuh.
Mata mereka bertemu, keduanya saling menatap satu sama lain. "Gita..." ujar Kai terkejut.
"Kai..." Gita pun tak kalah terkejutnya tiba-tiba saja Kai berada di sana dan menolongnya.
"Gita kau tidak apa-apa?" Gala menghampiri mereka dan mengulurkan tangannya. Seketika Kai melepaskan tubuh Gita, kemudian ia kembali berjalan ke depan pendemo, sembari merebut alat pengeras suara.
"BERHENTI SEMUANYA!!" teriak Kai dengan lantang, para staf kemanan kantornya langsung menoleh kearah Kai dan menghentikan perkelahian mereka begitu mendengar perintah atasannya.
"Siapa dia? Siapa dia?" para pendemo banyak yang mempertanyakan siapa sebenarnya Kai.
"Saya Gema Maharaja, Direktur Utama di perusahaan ini," lanjut Kai dengan tegas. "Perwakilan dari kalian dua sampai tiga orang, saya persilahkan untuk masuk. Mari kita selesaikan masalah ini di dalam!" Kai mengembalikan pengeras suara tersebut ke sembarang orang, kemudian ia berbalik menuju lobby kantornya.
Gita begitu terkejut mendengar pengakuan Kai. "Jadi dia..." ia hampir tak percaya, tapi sekelilingnya langsung senyap begitu Kai berbicara, seluruh staf keamanan berhenti memerangi pendemo.
"Gita, kau mau ikut masuk?" pertanyaan Gala membuyarkan lamunan Gita.
Ia, Gala, dan satu orang perwakilan pemilik tanah mengikuti staf kantor yang mengarahkan mereka menuju ruang meeting.
Disana Kai sudah menunggu mereka dengan wajah serius. Gita kembali terkejut ketika memasuki ruangan, ia melihat sebuah foto keluarga terpajang di sana. Kai bersama sepasang suami istri dan satu anak laki-laki yang usianya tidak jauh dari Kai. Gita pernah melihat mereka bertiga di pesta relasi, saat ia menjadi pengiring dalam acara tersebut. "Jadi Direktur Utama yang waktu itu tidak datang adalah Kai? Dia sudah tidak lagi menggunakan nama Bhalendra di namanya." Gita menatap sedih dan penuh kecewa.
galaa semoga kamu cepat balik pulang
kasihan banget kamu kiranaa
di mata Jiva, kamu tetep ibu yang terbaik untuknya
paling gak, dengan foto tersebut Gita dan juga Jiva bisa membayangkan wajah Sarah di kala rindu