Agil membawa Laila tinggal di rumah besar Baskoro. Baskoro mulai menunjukkan ketertarikan yang tidak wajar pada Laila, melalui bantuan finansial yang menjerat.
Disaat Agil perlahan menemukan keganjalan, Baskoro bermain trik dengan...
Simak selengkapnya, hanya dalam novel berikut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Serigala Di Negeri Orang
London di musim dingin terasa seperti penjara terbuka bagi Agil. Langit abu-abu dan suhu di bawah nol derajat seolah mencerminkan kekakuan hatinya. Namun, Agil tidak menghabiskan waktunya hanya di perpustakaan kampus atau di kantor perwakilan Baskoro Group di Canary Wharf. Dia tahu, setiap langkahnya di London diawasi oleh dua orang "pengawal" yang dikirim langsung oleh ayahnya—pria-pria tegap yang secara resmi disebut asisten pribadi, namun secara fungsional adalah sipir penjara.
"Pak Agil, Tuan Besar meminta laporan kunjungan ke Barclays sore ini segera dikirim," ucap salah satu pengawal bernama Hendra, yang selalu berdiri di sudut ruangan apartemen Agil.
Agil mengangguk tanpa menoleh. "Sudah kukirim lewat email sepuluh menit lalu. Aku mau tidur, jangan ganggu aku sampai besok pagi."
Namun, begitu pintu kamarnya tertutup dan ia memastikan lampu dimatikan, Agil tidak tidur. Ia merayap menuju jendela balkon, menggunakan tali pendaki yang ia sembunyikan di balik lemari, dan turun melalui celah belakang gedung yang tidak terjangkau CCTV. Di bawah sana, sebuah taksi tua sudah menunggu.
Taksi itu membawa Agil ke sebuah bar kumuh di pinggiran London, tempat ia bertemu dengan seorang pria paruh baya bernama Andy, seorang mantan auditor internal yang dipecat secara tidak hormat oleh Baskoro Group lima tahun lalu, karena menemukan aliran dana gelap ke rekening pribadi di Panama.
"Kau mengambil risiko besar, Anak Muda," bisik Andy sambil menyodorkan sebuah flashdisk di bawah meja. "Ayahmu punya telinga di setiap bank besar di Eropa. Jika dia tahu kita bertemu, aku akan kehilangan sisa hidupku, dan kau akan kehilangan segalanya."
"Aku sudah kehilangan segalanya, tuan Andy," jawab Agil dengan suara serak. "Aku hanya butuh pintu masuk ke rekening bayangan proyek 'Icarus' yang dia jalankan di Singapura dan Swiss. Aku tahu itu adalah sumber kekuatan utamanya."
Andy menatap Agil dengan ragu. "Proyek Icarus adalah fondasi kekuasaan Baskoro. Itu adalah skema pencucian uang, dari para pejabat korup yang ia kelola. Jika kau menarik satu benang saja, seluruh kekuatannya akan goyang, tapi kau juga bisa ikut terseret ke dalam lubang hitam."
"Aku tidak peduli. Berikan kodenya," tuntut Agil.
Malam-malam Agil di London berubah menjadi perburuan data yang melelahkan. Ia bekerja dengan peretas anonim yang direkomendasikan Gito dari Jakarta. Agil mulai memindahkan aset-aset kecil milik ayahnya secara perlahan, menciptakan kekacauan administratif yang terlihat seperti kesalahan sistem. Ia sedang membangun sebuah "bom waktu" finansial yang akan meledak tepat saat ia kembali ke Jakarta.
Namun, perjuangan Agil tidak semudah itu. Di minggu kedua bulan ketiga, Agil hampir tertangkap. Hendra, salah satu pengawalnya, menemukan sebuah laptop rahasia yang disembunyikan Agil di bawah lantai kayu apartemen.
Saat Agil pulang dari kampus, ia mendapati Hendra sedang memegang laptop itu dengan senyum sinis.
"Ternyata macan muda ini sedang mencoba mencakar ayahnya sendiri," ujar Hendra sambil menodongkan senjata api ke arah Agil. "Tuan Besar pasti akan sangat kecewa. Tapi mungkin beliau akan lebih senang jika aku membawa kepalamu saja kembali ke Jakarta."
Jantung Agil berdegup kencang. Ia menyadari bahwa di London pun, Baskoro telah menyiapkan rencana cadangan untuk menghabisinya jika ia mulai memberontak. Namun, Agil sudah mempersiapkan ini.
"Hendra, kau pikir kau satu-satunya orang yang dibayar Papa?" Agil mencoba tetap tenang. "Tanya pada dirimu sendiri, kenapa istrimu di Jakarta tiba-tiba mendapatkan operasi jantung gratis minggu lalu? Siapa yang membayarnya?"
Hendra terpaku. Tangannya yang memegang pistol sedikit gemetar. "Apa maksudmu?"
"Gito, orangku di Jakarta, yang mengatur semuanya. Aku tahu adikmu terlilit utang judi dan ibumu sakit sakitan. Papa hanya memberimu gaji kecil untuk risiko sebesar ini. Bergabunglah denganku, atau istrimu tidak akan pernah bangun dari meja operasi itu," ancam Agil.
Ini adalah sisi gelap Agil yang baru. Ia mulai belajar menggunakan metode ayahnya—menggunakan kelemahan orang lain untuk kendali. Setelah ketegangan selama beberapa menit, Hendra menurunkan senjatanya. Ia berlutut di depan Agil. Sejak malam itu, Agil memiliki mata-mata ganda di dalam lingkaran dalam Baskoro.
Sementara Agil bertarung dengan nyawa di London, Laila di Jakarta sedang menghadapi cobaan yang tak kalah berat. Baskoro mulai kehilangan kesabaran. Tiga bulan hampir usai, dan ia merasa belum "memiliki" Laila sepenuhnya secara batin.
Suatu sore, Baskoro membawa Laila ke sebuah rumah sakit jiwa swasta yang ia miliki. Di sana, ia menunjukkan sebuah ruangan isolasi yang gelap dan sempit.
"Kau lihat ruangan itu, Laila?" tanya Baskoro sambil mencengkeram lengan Laila yang kini sangat kurus. "Jika kau tidak berhenti menangis dan mulai menunjukkan 'cinta' padaku, aku akan mengirim ibumu ke sini. Aku akan membuat seluruh dunia percaya bahwa ibumu sudah gila karena depresi melihat kemiskinan keluargamu."
Laila jatuh terduduk di lantai rumah sakit yang dingin. "Papa... tolong... jangan Ibu..."
"Pilihan ada di tanganmu. Malam ini, aku ingin kau datang ke kamarku tanpa dipanggil. Dan ingat, jangan gunakan pakaian yang menutupi kecantikanmu," perintah Baskoro sebelum meninggalkan Laila yang terisak di koridor rumah sakit.
Laila merasa sudah tidak ada jalan keluar lagi. Agil tidak bisa dihubungi secara pribadi. Gito pun mulai jarang memberikan kabar karena pengawasan di rumah semakin ketat. Laila menatap jendela di lantai tiga rumah sakit itu, terlintas di pikirannya untuk mengakhiri segalanya dengan melompat. Namun, bayangan wajah ibunya dan harapan kecil akan kepulangan Agil menahannya.
Di London, Agil menerima pesan singkat dari Hendra yang kini berpihak padanya: "Tuan Besar sudah mulai menyentuh keluarga Laila secara fisik. Kita harus bergerak sekarang."
Agil menutup laptopnya. Ia telah berhasil mengumpulkan cukup bukti dan mengamankan dukungan dari beberapa musuh bisnis Baskoro di Eropa. Namun, ia tahu ia tidak bisa pulang lewat jalur resmi. Baskoro pasti sudah menyiagakan orang di bandara untuk menangkapnya sebelum ia sampai ke rumah.
"Pak Andy, aku butuh jalur tikus untuk kembali ke Indonesia. Lewat kargo atau kapal laut, aku tidak peduli," ucap Agil.
"Kau akan menempuh perjalanan yang sangat berbahaya, Agil. Kau bisa mati di tengah laut atau tertangkap di pelabuhan kecil," peringat Andy.
"Lebih baik aku mati mencoba menyelamatkan Laila daripada hidup sebagai budak dari pria yang memanggilku anak," jawab Agil tegas.
Dengan bantuan jaringan Gito dan pembelotan Hendra, Agil merencanakan kepulangan "bayangan". Ia memalsukan keberadaannya di London dengan meminta seseorang untuk tetap menggunakan ponselnya dan berpura-pura menjadi dirinya selama beberapa hari ke depan, sementara ia sendiri menyelinap masuk ke sebuah kapal kontainer menuju Singapura.
Lika-liku perjuangan Agil baru saja dimulai. Ia bukan lagi pangeran yang pulang dengan mahkota, melainkan gerilya yang menyelinap dalam kegelapan, bersiap untuk menyerang jantung kekuasaan ayahnya saat semua orang merasa paling aman.